Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Introvert

Dalam bukunya Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati Wahyu Aditya mengurai sejumlah keunggulan dari seorang bertipe introvert. Salah satunya adalah kebutuhan untuk mengerjakan segala sesuatu dengan sendiri, bukan dengan berkelompok. Saya memang belum pernah mengikuti test yang menunjukkan apakah saya adalah seorang introvert ataukah ekstrovert, namun dari segala ciri-ciri yang ada pada saya, maka rasa-rasanya saya orang bertipikal introvert. Maka saya pun menyambut dengan gembira bab 5 yang berjudul introvert is cool! di buku Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati. Saya seperti menemukan diri saya. Saya seperti menemukan segala tudingan yang mengepung sosok introvert.

Dalam lingkup pergaulan menjadi introvert terkadang disalahpahami. Dibilang tidak mau bergaullah, asyik dengan dunia sendirilah, dan lain sebagainya. Saya sendiri merasa bahwa saya bukanlah orang yang menyukai keramaian dan kebisingan. Dibandingkan perayaan tahun baru yang penuh bejibun dengan orang, terompet yang berlengkingan, saya pastinya lebih memilih untuk membaca buku sendirian.

Dengan ilmu saya percaya kita akan dapat lebih mengerti. Inilah kiranya pentingnya ilmu psikologi, untuk tidak memukul rata manusia. Untuk tidak memaksakan paham yang monolitik. Kita hidup dengan keragaman dan perbedaan. Jadi in my humble opinion jangan paksakan seseorang untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Biarlah introvert menjadi introvert. Biarlah ekstrovert menjadi ekstrovert. Yang kita butuhkan adalah jembatan ilmu untuk saling memahami dan mengerti.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s