Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis, Lamunan, dan Waktu Tertentu

Saya selalu percaya bahwa menulis membutuhkan lamunan dan waktu tertentu. Lamunan itu untuk menghasilkan tema dan menakar perspektif yang digunakan. Itulah kiranya yang membedakan penulis dengan mesin kata-kata. Terdapat sentuhan kemanusiaan. Ini bukan sekadar menggelar data. Namun bagaimana mengolah data, menafsirkannya. Ini juga tentang kemampuan untuk memilah dan memilih data. Ini juga tentang memilah dan memilih artikulasi, diksi, kata, ataupun kalimat.

Menulis yang membutuhkan lamunan juga tiada terlepas dari pertanyaan internal dalam diri. Untuk menyusun tulisan misalnya kadang diperlukan percakapan internal mengenai aneka sudut yang dapat dikupas dari tulisan. Lamunan juga dibutuhkan untuk menyusun peta akan dibawa kemana tulisan tersebut. Oleh karena itu saya percaya menulis adalah momentum personal. Biarkan penulis tenggelam dalam lamunannya. Bercakap-cakap dengan pikirannya. Diperlukan keheningan tertentu, terlepas dari kebisingan perbincangan ataupun distraksi macam-macam.

baca 2

Menulis yang membutuhkan lamunan juga dikarenakan menulis merupakan ranah kerja imajinasi. Menulis bukan sekadar menjejalkan fakta, memuntahkan pengetahuan yang diketahui. Melainkan juga menempatkan “nyawa“ pada fakta dan pengetahuan yang diketahui. Misalnya dalam novel gubahan dari Jonathan Stroud seperti The Bartimaeus Trilogy terdapat sejumlah fakta yang dikemas dalam balutan imajinasi. Pun begitu yang dilakukan oleh J.K.Rowling dalam kisah Harry Potter yang mendedah sejumlah hal terkait mitologi. Bukan sekadar dalam kisah fiksi-fantasi, dalam buku Pemikiran Politik Barat karangan Ahmad Suhelmi misalnya, sidang pembaca diajak untuk melakukan tamasya intelektual ke pemikiran para filsuf dari berbagai era. Kiranya lamunan itulah yang membuat hasil tulisan bukan sekadar aksara yang berderet, melainkan memiliki kemampuan tutur yang memikat.

Saya percaya bahwa menulis membutuhkan waktu tertentu dikarenakan diperlukan cross check, validasi. Dalam menghasilkan tulisan, dari pengalaman saya bukanlah proses yang sekali jadi. Diperlukan pencocokan data, penelaahan mengenai typo, dan segalanya agar hasil tulisan itu sesempurna dan sebaik mungkin. Itulah kiranya saya kerap senewen kalau ada yang menggampangkan tulisan. Baik itu dalam waktu dan kualitas. Pada hakikatnya tulisan adalah menyusun bukti yang sifatnya tertulis, terdokumentasi. Dan bilangan waktu mendatang dapat dicek mengenai segalanya dari hasil tulisan tersebut. Maka adalah sebuah kebodohan besar manakala menulis secara serampangan. Ibaratnya eksebisionis teledor yang menceplokkan bukti otentik dan dapat diverifikasi di masa mendatang.

school a

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu juga untuk mematangkan gagasan. Tulisan perlu untuk “dibiarkan” beberapa lama. Untuk kemudian setelah berbilang waktu ditengok kembali. Dengan demikian sudut pandang, kemungkinan pendalaman juga akan lebih kaya secara pengayaan.

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu dapat dikaitkan dengan jam menulis. Jules Verne misalnya menulis setiap habis Subuh. Raditya Dika yang memiliki jam menulis setiap harinya. Haruki Murakami yang memiliki 5-6 jam setiap harinya untuk menulis. Dalam menulis di ceruk waktu tertentu dibutuhkan kepompong perlindungan. Kepompong perlindungan dalam artian terhindar dari segala distraksi yang ada. Disinilah kemajuan teknologi dapat menjadi distraksi tertentu. Kemampuan untuk terhubung kapan saja, dimana saja, waktu kapan saja, dapat menjadi distraksi yang menggoda untuk menulis. Mungkin teramat mungkin ketika daya tulis Anda terlampau lamban, begitu-begitu saja dikarenakan Anda tiada disiplin dalam waktu tertentu untuk menulis. Jika serius untuk menekuni tulisan menurut hemat saya alokasikan waktu tertentu untuk menulis. Buat disiplin waktu tertentu yang digunakan untuk menulis. Singkirkan segala distraksi. Dan saya percaya jika disiplin itu diterapkan maka output berupa tulisan juga akan terlihat.

pen 2

Sejumlah tempat misalnya dapat menyokong lamunan dan waktu tertentu. Keponakan saya misalnya ketika mengerjakan tugas memilih tempat di salah satu gerai kopi terkemuka. Ia biasanya memesan green tea latte, lalu dalam waktu tertentu mengerjakan tugas sekolahnya. View yang bagus, pemandangan yang nyaman, akses internet, membuat waktu tertentu dapat menjadi produktif.

Tentu masih banyak tempat untuk memasok lamunan dan waktu tertentu dalam menulis. Tergantung selera masing-masing. Saya misalnya memilih untuk menulis di rumah. Diantara tumpukan buku, kenyamanan rumah, daya lamunan dan waktu tertentu saya dapat lebih teroptimalkan.

Demikianlah sekelumit tulisan saya. Semoga bermanfaat adanya dalam ranah penulisan. Selamat melamun dan menyediakan waktu tertentu untuk menulis.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s