Posted in Politik

Quotes Politik (5)

Saudara-saudara tentara, kalian adalah alatnya negara. Dan negara adalah alatnya rakyat. Jadi kalian adalah alatnya alat. – Soekarno

Manusia membuat sejarah, tapi bukan membuatnya semau mereka. Keadaan yang kita temui, ketika kita bergerak mengubah dunia, bukanlah keadaan yang kita pilih sendiri. Ia ada sebelum kita ada. Kita harus bernegosiasi dengan apa yang datang dari generasi yang telah mati yang memberat di pikiran generasi yang masih hidup bagaikan mimpi buruk. – Marx

Dalam demokrasi opini publik adalah yang berdaulat. – De Tocqueville

Kemiskinan adalah orang tua dari sebuah revolusi sosial dan tindak kejahatan. – Aristoteles

singapura

There is no worse heresy than that the office sanctifies the holder of it. – Lord Acton

Demokrasi semestinya merupakan pekerjaan dari perajin yang sabar, bukan sebagai produksi massal yang seragam, jika produk akhir yang dikehendaki adalah kualitas yang tahan lama. – David Cameron

Demokrasi lebih cocok bagi negara dengan surplus ekonomi dan kurang cocok bagi negara dengan defisit perekonomian. – David Morris Potter

Kematian demokrasi bukanlah karena tikaman oleh penyerangan, melainkan suatu kepunahan secara perlahan oleh apati, ketidakhirauan, dan kekuranggizian. – Robert Maynard Hutchins

Manusia baik belum tentu menjadi warga negara yang baik. Manusia baik hanya bisa menjadi warga negara yang baik bilamana negaranya juga baik. Sebab, di dalam negara yang buruk, manusia yang baik bisa saja menjadi warga negara yang buruk. – Aristoteles

Korupsi setiap pemerintahan selalu dimulai dengan korupsi terhadap prinsip dan aturan permainan. – Montesquieu

teh tarik

Di antara gugus manusia yang cenderung berbohong dan korup, kebebasan tak bisa bertahan lama. – Edmund Burke

Atas dasar perhubungan yang karena benda dunia dan rupa dunia tidaklah akan dapat ditumbuhkan sifat-sifat keutamaan yang perlu untuk mencapai kesempurnaan…. Dalam cinta Tanah Air, kita mesti menunjukkan cita-cita yang lebih tinggi daripada segala benda dan rupa dunia, yaitu kepada hak, keadilan, dan keutamaan yang batas dan ukurannya telah ditentukan oleh Allah SWT. – Agus Salim

Nasionalisme kita ialah nasionalisme ketimuran dan sekali-kali bukanlah nasionalisme kebaratan yang menurut perkataan CR Das adalah suatu nasionalisme yang menyerang- nyerang, suatu nasionalisme yang mengejar keperluannya sendiri. Suatu nasionalisme perdagangan yang untung atau rugi. Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi ’perkakasnya Tuhan’ dan membuat kita hidup dalam roh. – Soekarno

Cita-cita demokrasi kita lebih luas, tidak saja demokrasi politik, melainkan juga demokrasi ekonomi. – Bung Hatta

Aku sesungguhnya tidak suka pemilu, tetapi lewat berbagai pengalaman mengikutinya aku belajar mengetahui dan menghormati orang-orang di kepulauan ini. Mereka baik, dan lagi-lagi baik. – Winston Churchill

cable car

Bagi kami, Indonesia menyatakan suatu tujuan politik karena dia melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air pada masa depan dan untuk mewujudkannya, setiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya. – Bung Hatta

Corruptio optima pessima, pembusukan moral (korupsi) dari orang yang tertinggi kedudukannya adalah yang paling buruk. – Pepatah Latin

Pada diri manusia yang berkarakter tinggi dan kejeniusan luhur bersemayam kehendak kuat akan kehormatan, komando, kekuasaaan, dan kemenangan. – Cicereo

Tatkala kuasa mengarahkan orang pada kepongahan, puisi mengingatkan akan keterbatasannya. Tatkala kuasa menyempitkan ruang kepedulian orang, puisi mengingatkan akan kekayaan dan keragaman hidupnya. Tatkala kuasa korup, puisi membersihkannya. Karena seni membentuk dasar kebenaran manusia yang mesti menjadi landasan keputusan kita. – John F Kennedy

peta mrt

Jika modernitas bukan sekadar budaya efisiensi, dan jika demokrasi bukan hanya pesta pemilihan dan penjelimetan prosedur politik, akan selalu ada intelektual-sastrawan di seberang struktur politik—berhadapan dengan mereka yang memburu kekuasaan—di luar institusionalisasi akademik dan negara. Akan selalu ada intelektual-sastrawan yang melontarkan pertanyaan jenaka, menafsirkan kembali kontroversi dengan memunculkannya lagi, untuk menunjukkan bahwa hal-hal yang mungkin diabaikan agenda publik, atau digelapkan oleh media masih absah dipertanyakan. – Antonio Skármeta

Kontestasi politik sama bahayanya dengan peperangan, bahkan lebih berbahaya. Dalam peperangan, orang hanya mati satu kali; sedangkan dalam kontestasi politik, orang bisa saja mati berkali-kali. – Winston Churchill

Tetapi segala peperangan-peperangan dan pemberontakan dalam 350 tahun yang lalu itu selalulah berisi satu kemenangan, bahwa di atas segala kekalahan dan kegagalan itu, sampai sekarang bangsa Indonesia tetap menegakkan kepalanya, ingin berjuang untuk kemenangan akhir berupa Indonesia Merdeka, yang sebenar-benarnya berisi kemerdekaan yang sempurna. – Sukarno

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Kepompong Intelektual

Menulis memerlukan keheningan tersendiri. Itulah terkadang saya harus berada dalam ‘kepompong intelektual’. Saya terkadang mematikan ponsel. Karena kerap ponsel menjadi distraksi tersendiri dalam menulis. Mungkin itulah salah satu rahasia dalam menulis, yakni fokus. Menulis merupakan lakon yang sulit untuk dilakukan secara multitasking. Fokus saja pada satu segi dalam satu waktu yakni menulis.

Kepompong intelektual merupakan negasi dari perbincangan yang tiada perlu. Kalau mau jujur berapa persen sebenarnya dari perbincangan kita yang bermanfaat? Ada waktu yang tercecer percuma dari perbincangan yang tiada perlu. Maka ketatkan diri, disiplinkan diri untuk berbincang dengan orang-orang yang kiranya dapat menjadi inspirasi dan menghadirkan manfaat. Saya terkadang mengurangi takaran waktu untuk berbincang yang saya sudah tahu isi kepalanya tong kosong. Berbicara ngalor-ngidul tanpa ilmu. Berbicara ngalor-ngidul tapi tiada ikatan substansi ilmu.

school a

Kepompong intelektual juga bermakna pemanfaatan waktu. Cobalah sediakan waktu yang hening, sendiri. Benar-benar fokus pada penulisan. Menggali ide dari diri sendiri, melakukan studi pustaka. Maka setelah sekian waktu lihatlah hasil yang tercapai. Ada output yang nyata-nyata terjadi. Jadikan itu sebagai menu keseharian. Maka ritme produktif akan melekat pada diri.

Kepompong intelektual juga memungkinkan untuk berlindung dari kecepatan teknologi. Sosial media, televisi, internet, seakan menjejalkan informasi yang begitu merentang. Tiada semuanya kita perlu lahap. Lebih baik lahap yang kita butuhkan. Cari kiranya yang konstruktif dalam menyusun intelektualitas dan karya tulis yang sedang dibuat.

Kepompong intelektual merupakan ranah kreativitas. Ada diskusi dengan diri sendiri. Dengan begitu maka diri akan terkokohkan. Memiliki kedalaman pemikiran. Memiliki karya yang terus menerus dihasilkan. Saya percaya sebelum orang memberikan ilmu, maka diperlukan internalisasi dan dialog dengan diri sendiri.

baca 1

Kepompong intelektual memungkinkan untuk melakukan revisi secara tenang. Karya yang disusun setelah melakukan penyempurnaan. Itulah kiranya saya tiada begitu tertarik pada berita-berita yang berseliweran di internet yang mengandalkan pada kecepatan. Bisa jadi terjadi kesalahan disana sini. Bersabarlah. Dalam menerima informasi. Dalam menghasilkan karya.

Kepompong intelektual kiranya berguna untuk mengasah intelektualitas. Diperlukan pematangan intelektualitas. Mematangkan, merenungkan dari apa yang dibaca. Merenungkan dari ide-ide yang bertebaran ataupun menjembatani antaride tersebut. Merenungkan tentang pilihan kata.

Mari menarik diri dari bising yang ada. Berangkat ke kepompong intelektual dan menghasilkan karya demi karya.

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, Politik, sastra

Navigasi Kata

Aku melihat dari ketinggian. Di gedung pencakar langit ini. Bukankah kita selalu terhubung? Terhubung dengan berbagai cara. Berada di ketinggian, di gedung pencakar langit, bukan berarti aku tiada tahu mengenai suara kawula kebanyakan. Aku memiliki tim media yang memungkinkanku keep in touch dengan denyut netizen di dunia maya. Aku dapat memahami aksi-reaksi perbincangan, tone positif-negatif dari satu isu.

Hei perkenalkan namaku: Ardova Ranova. Aku adalah calon presiden dari suatu negeri yang dilewati oleh garis khatulistiwa.

Pemilihan presiden tahun ini menarik adanya. Hanya ada 2 kandidat. Masyarakat pun terbelah secara diametral. Itu diantaranya terlacak melalui cekcok kata di sosial media. Aku pun diserang. Mulai dari black campaign, negative campaign. Beberapa kujawab. Beberapa orang di lingkar terdekatku yang menjawab. Beberapa biarlah menjadi area abu-abu. Bukankah kalian suka area abu-abu, teka-teki, enigma, misteri tersembunyi.

cable car

Beberapa hal dari diriku dikulik, dibedah, diungkit-ungkit, dikorek-korek. Gaung dari masa lalu yang kini kembali mengintip di masa kini dan dapat menjadi unsur yang menentukan masa depanku. Aku tiada menyangka politik di negeri ini dapat menjadi begitu gahar dan keras. Hal-hal personal dan pribadi, arsip-arsip dari masa lalu, semuanya mengemuka silih berganti. Ada rekan-rekanku yang berkhianat dan “bernyanyi” macam-macam tentangku. Aku jadi tahu mana yang namanya kawan sejati. Seleksi itu bernama: waktu.

Sosial media juga mengajarkanku tentang pembentukan opini. Koalisi yang kulakukan dengan beberapa pengusaha media menguntungkanku. Pemberitaan positif kudapati dari grup yang dimiliki pengusaha-pengusaha media tersebut. Lalu ‘hidangan’ berita dari media mainstream tersebut tersebar ke sosial media. Ada yang memampangnya di facebook, ada yang me-retweet-nya di twitter. Pertikaian kata pun terjadi di sosial media dikarenakan pemberitaan dari media arus utama. Dahulu kala di suatu orde kekuasaan negeri ini, media jelas kelaminnya. Ada koran partai yang tentu saja menyuarakan suara partai. Beda dengan era ketika ku bertarung dalam election kini. Seolah-olah netral, tapi berpihak. Dan aku harus berdamai dengan kondisi yang ada ini.

creativity b

Aku melihat dari ketinggian. Di gedung pencakar langit ini. Aku merenung tentang pencitraan, elektabilitas. Elektabilitas menjadi kata sakti yang ikut menentukan majunya seorang kandidat. Aku pun menyewa konsultan politik. Mereka banyak memberikan saran dan strategi. Segalanya diperhitungkan. Pemetaan dukungan, tampilan busana, titik-titik kampanye, pilihan kata, kampanye sosial media. Beberapa saran mengusikku. Mereka menyakinkanku. Ini untuk citra yang baik. Ini untuk mengerek elektabilitas.

Kutatap pergerakan kata di sosial media. Tahukah kalian? Aku kerap sepi. Aku kerap sendiri. Terkadang aku iri dengan kawula kebanyakan. Mereka dapat begitu bebas melakukan ini-itu. Tanpa lampu sorot. Tanpa tepuk tangan berlebih. Tanpa cibiran berlebih. Tanpa penafsiran ini-itu. Ordinary people. Mereka yang di ruang televisi memperbincangkan aku. Mereka yang di sosial media mengutak-atik aku. Menjadi pemimpin adalah kesunyian tersendiri.

chess

Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Ketua tim pemenangan melongok dari pintu.

Aku tahu tatapan penuh kode dari ketua tim pemenanganku. Aku pun bersiap total. Dari gesture, dari pergerakan muka. Ada debat capres yang menantiku. Ada swing voters yang suaranya harus kupikat. Ada rakyat pendukung tim sana yang barangkali berpaling, move on, dan menjatuhkan pilihan kepadaku. Ada jutaan pendukungku yang perlu diteguhkan keyakinannya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa