Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Komunikasi Amarah Para Pemimpin

Acara bagi-bagi es krim di Taman Bungkul Surabaya, Jawa Timur memantik amarah Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Pasalnya taman yang pernah mendapatkan penghargaan dari PBB tersebut menjadi rusak parah.

“Kalian tidak punya izin ngadain ini, lihat semuanya rusak! Kami bangun ini nggak sebentar, biayanya juga nggak sedikit. Kalian seenaknya merusak. Saya akan tuntut kalian!” seru Risma sambil meninggalkan panitia dari perusahaan es krim yang terlihat kaget.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meluapkan amarahnya ketika menemukan praktik pungutan liar di UPT Jembatan Timbang Subah, Kabupaten Batang. Kedua fragmen peristiwa tersebut mengingatkan publik kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Basuki yang akrab disapa Ahok, memang dikenal sebagai sosok yang meledak-ledak bila menemukan tindakan janggal yang dilakukan anak buahnya di pemerintahan.

baca 1

Bila dikaji dalam dimensi keilmuan boleh dibilang terjadi peniruan pencitraan. Personal branding meledak-ledak, emosional, marah-marah telah kadung dilekatkan kepada sosok Ahok. Sama halnya dengan terminologi blusukan yang melekat pada sosok Jokowi. Sehingga jika ada yang memiliki pola serupa, maka akan dipersepsikan sebagai epigon, follower.

Politik memang masalah persepsi. Kita juga mengenal kata elektabilitas. Namun pertanyaan besarnya apakah politik akan sekadar apa yang dicitrakan dan ditampilkan di panggung? Kita mengenal teori dramaturgi Goffman yang menjelaskan kehidupan sebagai panggung teater, lengkap dengan setting panggung dan akting yang dilakukan oleh individu.

Sayangnya menurut hemat saya apa yang ditampilkan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kontraproduktif bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Mengapa pula adegan marah-marah yang dilakukan mereka harus disorot    oleh kamera dan layaknya laku acting sinetron. Pesan yang dinarasikan ke publik dapat bermuara bahwa kerja = marah-marah.

creativity b

Padahal pepatah kita mengatakan, “Berkata peliharalah lidah”, yang artinya dalam berbicara atau berkomunikasi kepada siapa pun, haruslah kita hati-hati karena akan menyinggung perasaan orang. Apa jadinya apabila para pucuk eksekutif justru secara eksebisionis mempertunjukkan perilaku yang tidak memelihara ucapan? Laku para pucuk eksekutif ini dapat ditiru oleh para pemimpin di level yang lebih rendah, serta dapat ditiru rakyat kebanyakan. Belum lagi efeknya dapat berimplikasi pada generasi muda yang akan menganggap bahwa hujatan kasar merupakan bagian dari mengelola kepemimpinan.

Bagi generasi muda yang terpapar dengan informasi serta disokong dengan kemajuan teknologi memungkinkan untuk lebih artikulatif dalam menyampaikan sesuatu. Generasi muda dapat lebih reaktif dalam berpolitik. Namun pertanyaan besarnya jangan-jangan generasi muda mendapatkan contoh yang salah dalam menyikapi politik. Mereka mengartikulasikan pendapatnya dengan kata-kata keras, kasar, menghujat sebagai bentuk copy paste dari apa yang mereka lihat, dengar dan saksikan.

Jangan lupakan pula echo yang ditimbulkan dari perilaku Ahok, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo kepada publik luas. Apa yang ditampilkan mereka diliput oleh televisi yang merupakan konsumsi utama dari rakyat Indonesia. Memang ada yang mengatakan bahwa hal yang mereka lakukan merupakan antitesa dari kemunafikan dan kepura-puraan yang ditunjukkan oleh para politisi kebanyakan. Namun saya merasa dan berpikir bahwa segala laku kemarahan yang diekspose tersebut tidak sesuai dengan karakter dasar bangsa Indonesia yang santun, ramah, dan tidak merendahkan orang lain.

school a

Karakter Dasar Bangsa Indonesia

Negeri ini memiliki etika mengucapkan atau menyampaikan sesuatu dengan arif yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Ucapan yang tidak langsung diungkapkan lewat pantun atau puisi yang bertalu-talu, indah dan mengandung makna. Konon, raja-raja di Indonesia dulu senang mengundang para cerdik pandai (pujangga) atau ulama untuk datang ke istana guna mengajar anak-anak mereka untuk bertutur kata yang sopan dengan orang lain.

Demokrasi yang berkembang dan mengokoh di negeri ini sudah selayaknya agar tidak identik dengan ketidak sopanan dalam bertutur kata. Demokrasi harus disertai kesopan-santunan dalam bertutur kata agar hubungan kita dengan orang lain bisa tetap terpelihara. Dengan demikian perilaku demokrasi yang berkembang adalah demokrasi yang sehat dan konstruktif.

chess

Kajian komunikasi juga memiliki paralelisme dengan sosial budaya serta politik. Ada kecenderungan orang lain akan menghindari seseorang yang kurang sopan dalam bertutur kata, tidak memelihara perasaan orang lain, apalagi sampai tersinggung dan perasaannya terluka karena ucapan yang tidak terkontrol dari seseorang. Hasil penelitian Alwi Dahlan (Cangara, 2013) menunjukkan bahwa orang Indonesia hampir semuanya tidak senang disinggung apalagi di depan orang lain (Cangara, 2013:218).

Komunikasi marah-marah yang dilakukan oleh eksekutif kepada bawahan menurut hemat saya seperti antibiotik. Dipakai bilamana perlu dan dosisnya harus tepat. Dan sakitnya sudah tahap yang cukup berat dan tidak boleh terlalu sering atau selalu dipakai karena nanti jadi imun.

Inilah kiranya sebuah timbang pemikiran bagi para politisi agar menjaga etika dan tata cara komunikasi. Kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja tanpa terkecuali para politisi untuk senantiasa harus eling dan waspada.

Perkataaan diibaratkan lebih tajam daripada sebilah pisau, oleh karena itu berhati-hatilah dalam berkomunikasi. Karena komunikasi para pemimpin dapat ditiru serta menimbulkan dampak sistemik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s