Posted in Politik, puisi, sastra

Gigantisme Jiwa

Mereka sibuk memilin pencitraan

Segalanya dipoles

Diberikan imbuhan pemanis

Gigantisme jiwa

            Dan rakyat yang terkecoh memuja dengan sangat

            Berkobar amarah bila sang kesatria digugat pendapat

Sang gigantisme jiwa populis nian

Elektabilitasnya tinggi

Para pengamat menggadang-gadang sebagai pemimpin yang dibutuhkan di sengkarut zaman ini,

Pemimpin yang lahir dari rahim rakyat

watchover voodoo doll

            Sang gigantisme jiwa kerap mengulik ada jutaan rakyat di belakangnya

            Persetan dengan para politisi-politisi di parlemen

            Persetan dengan partai-partai

            Ia seolah menjadi anomali di limbah citra politisi yang dikukus, dilabeli buruk

Hati-hati wahai kawula

Hati-hati duhai pengamat

            Yang dipuja over dosis dapat menumpulkan karakter check and balances

            Yang disanjung, bisa saja mengecewakan, menyebalkan dalam kinerja nyata

snow

Tetap-tetaplah kritis

Tetap-tetaplah skeptis

Tetap-tetaplah mempertanyakan

            Bukankah yang kita butuhkan adalah manusia biasa dengan segala kekurangannya yang memimpin?

            Bukan sekadar eskapisme harapan, yang jangan-jangan layu di episode kesekian

Advertisements
Posted in Politik, puisi, sastra

Sangkar Pikiran

Dan pada malam yang berontak

Mereka tak tinggal diam

Mata-mata yang nyalang

Rapat-rapat diadakan

            Ini kami punya gelora

            Melihat, mendengar, merasakan: situasi dalam sangkar pikiran

klakson

Diktator akan menumpul manakala ada perlawanan

Yang berani bilang tidak

Yang berani bilang cukup untuk semua ini

Yang berani menyatakan berada di front yang berbeda dengan penguasa

            Ketika para diktator memanjangkan lengan kuasa,

            Akankah kau tertidur lelap?

Posted in puisi, sastra

Infus Keserakahan

Dan melalui pena saya bertutur

Tentang pemberontakan

Tentang revolusi

            Suara-suara kami yang diikat,

            Disumpal

            Seolah kami kambing-kambing tanpa daya

            Yang bebas kalian lahap sesuka hati

Para serigala itu membualkan banyak ocehan

Ini untuk kebaikan bersama,

Ini untuk kepentingan Anda sekalian

chess

            Omong kosong!

            Kalian hanya membonceng klaim

Para serigala itu menepuk dada sebagai pahlawan, hero

Mereka membungkus perilaku bengis jahat dengan kalimat pemanis berdosis secukupnya

            Ah mereka tiada pernah puas-puasnya

            Melahap menyergap

            Rakus luar biasa

            Lihatlah tambun proporsi dan perawakan mereka

            Badannya diinfus oleh keserakahan

chess

Dan melalui pena saya bertutur

Tentang pemberontakan terhadap serigala-serigala kedap hati nurani

Tentang revolusi untuk menyembelih binalnya kerakusan mereka