Posted in Politik, puisi, sastra

Gigantisme Jiwa

Mereka sibuk memilin pencitraan

Segalanya dipoles

Diberikan imbuhan pemanis

Gigantisme jiwa

            Dan rakyat yang terkecoh memuja dengan sangat

            Berkobar amarah bila sang kesatria digugat pendapat

Sang gigantisme jiwa populis nian

Elektabilitasnya tinggi

Para pengamat menggadang-gadang sebagai pemimpin yang dibutuhkan di sengkarut zaman ini,

Pemimpin yang lahir dari rahim rakyat

watchover voodoo doll

            Sang gigantisme jiwa kerap mengulik ada jutaan rakyat di belakangnya

            Persetan dengan para politisi-politisi di parlemen

            Persetan dengan partai-partai

            Ia seolah menjadi anomali di limbah citra politisi yang dikukus, dilabeli buruk

Hati-hati wahai kawula

Hati-hati duhai pengamat

            Yang dipuja over dosis dapat menumpulkan karakter check and balances

            Yang disanjung, bisa saja mengecewakan, menyebalkan dalam kinerja nyata

snow

Tetap-tetaplah kritis

Tetap-tetaplah skeptis

Tetap-tetaplah mempertanyakan

            Bukankah yang kita butuhkan adalah manusia biasa dengan segala kekurangannya yang memimpin?

            Bukan sekadar eskapisme harapan, yang jangan-jangan layu di episode kesekian

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s