Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Humor

Apa yang bisa dijangkau oleh humor? Sekilas humor nampak sederhana. Namun sesungguhnya humor memiliki kerumitan tersendiri. Humor dapat menjadi barometer pertanda sehat atau tidaknya suatu entitas. Katakanlah entitas itu negara atau entitas itu adalah organisasi. Dalam beberapa organisasi yang pernah saya geluti ada sejumlah orang yang dalam istilah saya ‘memakruhkan humor’. Humor dianggap perbuatan sia-sia, pertanda ketidakseriusan dari sang pelontar humor.

Dalam skala negara, humor merupakan sinyalemen daya sensor dan sensitifitas dari penguasa. Pada periode 1990-an saya tergelitik dengan humor-humor dari Bagito Show. Dalam humor-humornya sejumlah lawakan dari acara Bagito Show menyindir pemerintahan yang berkuasa saat itu. Di era reformasi sejumlah laku humor lebih bebas mengartikulasikan diri. Butet Kertaradjasa diantaranya yang mendapat ruang lebih leluasa untuk meniru suara Soeharto dalam sejumlah humornya.

vakansi

Humor juga menandakan kehidupan sosial masyarakat. Apa yang membuatmu tertawa menunjukkan siapa dirimu. Maka ketika sejumlah laku lawakan yang mempertontonkan “kekerasan” dengan mendorong, memukul (sekalipun terdapat keterangan bahwa bahan-bahan tersebut aman, tidak membahayakan), namun yang perlu ditelaah adalah secara psikologis. Jangan-jangan budaya kekerasan tidak masuk dalam negative list perilaku. Malahan sesuatu yang layak untuk ditertawakan dan dihumorkan.

Humor juga dapat bertemali dengan bully. Bagaimana ada sosok yang dijadikan sasaran bully dalam bentuk candaan-candaan. Perlu ditelusuri apakah objek candaan itu menerima, ataukah itu menimbulkan beban baginya. Terlebih bagi yang dalam masa pertumbuhan dan pencarian jati diri. Bully dalam bentuk lelucon dapat menjadikan sosok seseorang menjadi krisis kepercayaan diri.

cat minyak

Humor dalam bentuk stand-up comedy yang semakin mengemuka juga menjanjikan hal tertentu. Ketika comic menjadikan dirinya pribadi sebagai objek lelucon. Hal tersebut menandakan ada kegembiraan dalam melihat diri. Bahwasanya diri sendiri bukanlah sosok superior yang selalu berada di kutub kebenaran. Stand-up comedy juga pada beberapa comic mampu menarasikan kritikan secara cerdas mengenai kehidupan politik, sosial budaya, dan ragam lini lainnya. Mengkritik dengan senyum terkulum bagi penikmat stand-up comedy, begitulah kiranya.

Hidup tak usah serius-serius amatlah. Mari menebar humor. Mari tertawa dengan kadar yang tepat. Seperti diungkap oleh Joker: Why so serious?

Posted in Aku, Essai

Kepompong Intelektual

Bersukaria dengan liburan, itulah kiranya yang dialami dengan jatuhnya hari libur  tanggal 25 Desember 2014 pada hari Kamis. Durasi liburan yang lumayan lama itu bagi saya justru adalah kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Inilah kiranya yang mungkin menyebabkan dibutuhkan deadline. Dikarenakan ada kecenderungan dari manusia untuk bermanja-manja bersama waktu. Dan boleh dibilang saya adalah tipikal orang deadliners. Dikarenakan sumbu waktu kian menipis dengan deadline, maka saya pun memutuskan untuk menggunakan waktu liburan untuk maraton menulis.

baca 1

Untuk maraton menulis saya membutuhkan berada dalam kepompong intelektual. Kepompong intelektual dalam artian saya membutuhkan waktu yang panjang untuk maraton menulis. Ada kesendirian di dalam kepompong intelektual ketika saya bergulat dengan ragam ide, bacaan, dan pilihan artikulasi. Kepompong intelektual juga upaya untuk fokus menyelesaikan tulisan secara intens. Dengan demikian terjadi penyingkiran hal-hal yang tiada penting. Bahkan terkadang saya mematikan ponsel untuk mendapatkan konsentrasi yang utuh. Strategi kepompong intelektual ini kiranya memiliki basis sejarah dalam tulisan saya sebelum-sebelumnya. Ketika waktu telah menipis, sedangkan jatah tulisan yang harus diselesaikan masih banyak, maka saya menggunakan strategi kepompong intelektual.

Saya percaya adanya bahwa ragam pekerjaan memiliki kekhasannya tersendiri. Seperti menulis. Bagi saya menulis memiliki titik ruang sunyi. Di sana penulis membutuhkan penggalian dari dirinya sendiri. Di sana penulis perlu berdialog dengan diri sendiri. Menulis bagi saya bukanlah perkara yang dapat dicakapkan dan dibincangkan dengan riuh dan hiruk pikuk. Menulis adalah kesunyian tersendiri. Oleh karena itu saya kerap mendapatkan power dan speed lebih ketika sunyi bertautan dengan nuansa alam, yakni pada malam hari dan dini hari.

school a

Berada dalam kepompong intelektual memungkinkan untuk terjadinya fokus dan selektif dalam hal pembacaan. Mana kiranya referensi yang dapat menguatkan. Maka mungkin apabila Anda mengalami kebuntuan, kegagalan dalam penyelesaian cerita dalam bentuk tulisan, karya tulis, mungkin Anda perlu kiranya untuk memfokuskan waktu benar-benar untuk menulis. Berada dalam kepompong intelektual. Tak ada salahnya bukan menyelesaikan segala karya tulis yang belum terselesaikan dengan menyediakan waktu yang panjang untuk secara intens mengerjakannya? Mari berada di kepompong intelektual untuk beberapa lama, lalu kemudian keluar dari kepompong dengan perasaan gembira dimana sejumlah karya tulis telah terselesaikan.

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Storyteller

Manusia selalu berusaha untuk beradaptasi antara equilibrium yang satu dengan equilibrium yang lain. Dan itulah kiranya yang saya alami. Nyatanya untuk rutin menulis dan membaca secara tekun dibutuhkan kebulatan tekad dan alokasi waktu tertentu. Sudah sekian lamanya saya tiada membuat esai yang baru. Saya lebih banyak mengeluarkan narasi dalam bentuk puisi. Jika boleh menyatakan apologi dengan sekian lamanya absennya esai adalah adaptasi terhadap equilibrium yang baru. Dan dengan esai ini saya berharap esai-esai baru lainnya akan kembali mentas dan mengalir. Ada banyak hal yang ingin saya utarakan dalam bentuk kata. Dan saya harap dapat kembali berkomitmen untuk melukiskan cerita dalam narasi kata.

school a

Menulis nyatanya seperti bercerita. Dan kita dapat mengambil sumbu idenya darimana saja. Kita dapat membagi cerita mengenai serunya suatu buku, film yang memancing otak untuk berpikir, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Selama dalam masa hibernasi menulis esai, saya menyempatkan diri untuk membaca blog lainnya. Adalah pada storyteller yang menjadi jiwa utama. Sesederhana itu. Namun itulah yang menggerakkan lusinan waktu untuk dihabiskan dalam dunia blog. Dalam hibernasi, saya pun membaca sejumlah tulisan lawas saya. Betapa saya memiliki energi untuk mencatat, merangkai kalimat dengan referensi pustaka. Ada kegembiraan tersendiri ketika cerita itu telah tersaji rapi di ranah blog. Dan energi itulah kiranya yang bergerak di pusat kesadaran saya. Untuk kembali menekuni dunia blog. Untuk kembali menuliskan apa saja yang saya pandang menarik.

pen 2

Melalui karya tulis itulah maka kita dapat menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’. Bukankah melalui ranah blog menjadi medium yang tepat bagi diseminasi gagasan demokrasi. Kita dapat mendefinisikan diri kita. Kita tahu apa yang kita mau. Kita akan diuji oleh sidang pembaca mengenai segala ragam tulisan yang telah kita hasilkan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa negatifisme bahwasanya tulisan kita itu mengecewakan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa seleksi, entah itu dari media mainstream ataupun penerbit. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itulah kiranya yang dapat membuat daya tutur tersumbat. Alangkah banyaknya informasi, pengetahuan yang batal beredar dikarenakan buah dari ‘tirani di kepala masing-masing’. ‘Tirani di kepala masing-masing’ dapat menyebabkan digantungnya pena, laptop yang tiada menjadi wadah dapur karya, pikiran yang termampatkan dan tidak terbebaskan untuk bercerita.

pen 1

Kita mengenal istilah citizen journalism. Kita mengenal blog. Dan kedua hal tersebut dapat menjadi kanal untuk bercerita. Dapat menjadi kanal untuk mendiseminasi gagasan. Semuanya berpulang pada diri kita. Akankah akan menggunakan momentum demokrasi di Indonesia ini untuk berkembang melalui tulisan ataukah tidak. Dan kita beruntung berada pada kombinasi antara demokrasi dan kemajuan teknologi informasi. Kita dapat lebih utuh menjadi warga negara. Mengungkapkan isi kepala sembari menyebarkannya ke khalayak ramai.

books

Budaya membaca dari negeri ini saya percaya akan meningkat apabila masing-masing dari kita mulai bergiat dalam berbagai skala untuk menulis. Bayangkan banyaknya sebaran ilmu, cerita yang terkodifikasi dengan ragam latar belakang pengalaman, budaya, pendidikan. Saya percaya budaya menulis akan bertalian kuat dengan budaya membaca. Dan tak perlu menunjuk siapa-siapa untuk menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’ itu. Setiap dari kita dapat menggagas perbaikan dengan menulis dan berbagi kepada dunia. Selamat menjadi storyteller..

Posted in puisi, sastra

Hari Ini adalah Masa Depan

Pagi harus berjalan lagi

Entah untuk siapa hati ini mengikatkan tali

write

Mentari harus berpijar lagi

Menyinari relung kelam jiwa

snow

Pendulum waktu tak bisa berpaling ke purnama yang sama,

Tempat kita mengayun mimpi dan bercerita tentang luka sembari tertawa

up

Ada masanya kita bercerita di bawah teduh hujan

Tentang mimpi yang belum selesai

Tentang mereka-reka dunia

embun

Ikat tali sepatu

Tatap angkasa

Hari ini adalah masa depan

Posted in Politik, puisi, sastra

Para Perompak

Tangis tanpa suara

Perlawanan sunyi

school a

Dulu pernah ada mimpi kemerdekaan

Gemah ripah

Makmur sejahtera

Bebas mengartikulasikan pikiran

chess

Lalu berdesakanlah para perompak berdasi ke panggung negeri

Mereka menjarah secara sistemik,

Terstruktur, masif

troy b

Penuh perhitungan mereka memetakan oposisi

Oposisi boleh pergi ke pulau eskapisme

Di sana dikunci harapan-harapan perbaikan

kalfa b

Perompak berdasi itu punya struktur logika yang intelek

Kalimat penuh taburan gula

Lalu lumpuh patahlah nalar pemberontakan

Posted in Politik, puisi, sastra

Selamat Datang..

Mari kita datang ke menu hidangan

Negeri ini dibelek

Dikocorkan kekayaannya

roti prata

Kekayaan tidak mengalir sampai jauh

Hanya di para elite

Hanya di para konglomerat

teh tarik

Anggur dihidangkan

Beberapa tamu mabuk dan bicara macam-macam

Rahasia-rahasia gelap diikatkan ke udara bebas

chess

Permadani merah untuk para penjarah

Selamat datang..

Posted in Politik, puisi, sastra

Kawula

Dan aku tertawa melihat mereka yang memuja tokohnya dengan berbagai cara

Bahkan mungkin ke lubang biawak pun mereka akan turut

kalfa a

Ah mungkin rakyat sudah terlampau lelah dengan sengkarut masalah keseharian

Lalu kawula titipkan harapan kepada para tokoh itu

Kawula harapkan mereka membenahi segala genangan derita

kalfa b

Tanpa diminta mereka menghantam siapa-siapa yang berani mengkritisi sang tokoh

Sang tokoh adalah kebenaran

Sang tokoh jelas berada di sisi putih

Begitu kiranya pemetaan dari kawula pecinta tokoh hingga ke ubun-ubun

chess

Mereka ternakkan ide-ide dari tokoh ke ruang publik

Mereka menjadi juru bicara cuma-cuma

imajinasi

Mungkin kawula itu lupa bahwa sang tokoh adalah manusia

Yang bisa salah

Yang bisa lupa

Yang bisa tergelincir menjadi pendosa

kompetisi

Hantam, hantam lagi

Sulut, sulut lagi

Tak penting obyektivitas

Tak penting tata kelola rasionalitas

Nalar disetel off

Kawula adalah perpanjangan lidah sang tokoh

Percaya?