Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Storyteller

Manusia selalu berusaha untuk beradaptasi antara equilibrium yang satu dengan equilibrium yang lain. Dan itulah kiranya yang saya alami. Nyatanya untuk rutin menulis dan membaca secara tekun dibutuhkan kebulatan tekad dan alokasi waktu tertentu. Sudah sekian lamanya saya tiada membuat esai yang baru. Saya lebih banyak mengeluarkan narasi dalam bentuk puisi. Jika boleh menyatakan apologi dengan sekian lamanya absennya esai adalah adaptasi terhadap equilibrium yang baru. Dan dengan esai ini saya berharap esai-esai baru lainnya akan kembali mentas dan mengalir. Ada banyak hal yang ingin saya utarakan dalam bentuk kata. Dan saya harap dapat kembali berkomitmen untuk melukiskan cerita dalam narasi kata.

school a

Menulis nyatanya seperti bercerita. Dan kita dapat mengambil sumbu idenya darimana saja. Kita dapat membagi cerita mengenai serunya suatu buku, film yang memancing otak untuk berpikir, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Selama dalam masa hibernasi menulis esai, saya menyempatkan diri untuk membaca blog lainnya. Adalah pada storyteller yang menjadi jiwa utama. Sesederhana itu. Namun itulah yang menggerakkan lusinan waktu untuk dihabiskan dalam dunia blog. Dalam hibernasi, saya pun membaca sejumlah tulisan lawas saya. Betapa saya memiliki energi untuk mencatat, merangkai kalimat dengan referensi pustaka. Ada kegembiraan tersendiri ketika cerita itu telah tersaji rapi di ranah blog. Dan energi itulah kiranya yang bergerak di pusat kesadaran saya. Untuk kembali menekuni dunia blog. Untuk kembali menuliskan apa saja yang saya pandang menarik.

pen 2

Melalui karya tulis itulah maka kita dapat menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’. Bukankah melalui ranah blog menjadi medium yang tepat bagi diseminasi gagasan demokrasi. Kita dapat mendefinisikan diri kita. Kita tahu apa yang kita mau. Kita akan diuji oleh sidang pembaca mengenai segala ragam tulisan yang telah kita hasilkan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa negatifisme bahwasanya tulisan kita itu mengecewakan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa seleksi, entah itu dari media mainstream ataupun penerbit. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itulah kiranya yang dapat membuat daya tutur tersumbat. Alangkah banyaknya informasi, pengetahuan yang batal beredar dikarenakan buah dari ‘tirani di kepala masing-masing’. ‘Tirani di kepala masing-masing’ dapat menyebabkan digantungnya pena, laptop yang tiada menjadi wadah dapur karya, pikiran yang termampatkan dan tidak terbebaskan untuk bercerita.

pen 1

Kita mengenal istilah citizen journalism. Kita mengenal blog. Dan kedua hal tersebut dapat menjadi kanal untuk bercerita. Dapat menjadi kanal untuk mendiseminasi gagasan. Semuanya berpulang pada diri kita. Akankah akan menggunakan momentum demokrasi di Indonesia ini untuk berkembang melalui tulisan ataukah tidak. Dan kita beruntung berada pada kombinasi antara demokrasi dan kemajuan teknologi informasi. Kita dapat lebih utuh menjadi warga negara. Mengungkapkan isi kepala sembari menyebarkannya ke khalayak ramai.

books

Budaya membaca dari negeri ini saya percaya akan meningkat apabila masing-masing dari kita mulai bergiat dalam berbagai skala untuk menulis. Bayangkan banyaknya sebaran ilmu, cerita yang terkodifikasi dengan ragam latar belakang pengalaman, budaya, pendidikan. Saya percaya budaya menulis akan bertalian kuat dengan budaya membaca. Dan tak perlu menunjuk siapa-siapa untuk menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’ itu. Setiap dari kita dapat menggagas perbaikan dengan menulis dan berbagi kepada dunia. Selamat menjadi storyteller..

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s