Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku, sastra

Bintang dan Konstelasinya

Judul Buku: The Fault in Our Stars

Penulis: John Green

Penerbit: qanita

Cetakan: VIII, September 2014

Tebal: 424 halaman

The Fault In Our Stars

Buku ini mendapatkan awal mula perhatian saya ketika keponakan saya membeli buku karangan John Green. Dia menyatakan salah satu buku karangan John Green yang direkomendasikannya adalah The Fault in Our Stars. John Green sendiri merupakan seorang penulis terlaris New York Times dan pemenang penghargaan, dengan banyak penghargaan antara lain Printz Medal, Prints Honor, dan Edgar Award. Lalu kemudian versi film dari buku The Fault in Our Stars pun muncul di bioskop pada tahun 2014.

Rekomendasi dari keponakan, versi filmnya yang telah muncul, belum juga mempertemukan saya untuk membaca ataupun menonton versi filmnya yang diperankan oleh Shailene Woodley (Hazel Grace) dan Ansel Elgort (Augustus Waters). Sampai istri saya membeli novel yang masuk dalam kategori New York Times Bestseller ini. Dan saya pun akhirnya membaca novel ini.

Secara sederhana The Fault in Our Stars diresumekan sebagai berikut:

Meski keajaiban medis mampu mengecilkan tumornya dan membuat Hazel bertahan hidup beberapa tahun lagi, Hazel Grace tetap putus asa. Hazel merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Namun, ketika nasib mempertemukannya dengan Augustus Waters di Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker, hidup Hazel berubah 180 derajat.

            Mencerahkan, berani, dan menggugah, The Fault in Our Stars dengan brilian mengeksplorasi kelucuan, ketegangan, juga tragisnya hidup dan cinta.

 Hazel Grace

Pada mulanya saya membaca buku ini dengan rasa ketertarikan yang normal. Kisah cinta remaja antara Hazel Grace dan Augustus Waters dengan latar penyakit yang mendera keduanya. Hazel Grace yang mulanya terkena kanker tiroid, lalu dengan koloni pendompleng kanker tersebut bermukim di paru-paru. Sedangkan Augustus Waters adalah penderita osteosarkoma (kanker tulang). Sekilasan saya mendapatkan sentuhan ala teenlit yang ringan. Namun di sisi lain terdapat kedalaman filosofis dan bertaburan kata-kata puitis. Saya pun teringat paralelisme dengan novel Fairish dalam hal kedalaman filosofis, taburan kalimat puitis yang dirangkai dalam tema besar teenlit.

Meski awalnya rasa ketertarikan saya terhadap buku ini normal, namun penulisnya John Green mampu menaikkan tempo dan memikat saya di bagian-bagian berikutnya. Saya pun tertawan untuk menelusuri halaman demi halaman.

Augustus Waters

Dari satu titik episentrum bernama kanker, rangkaian filosofi, kisah, dapat dipintal. Kita mendapatkan cinta yang tulus antara Hazel Grace dan Augustus Waters hingga maut memisahkan. Kita mendapatkan bagaimana kematian orang yang dicintai dapat menimbulkan efek menahun dan sistemik pada Peter van Houten. Kita mendapatkan bagaimana sokongan dari keluarga Hazel Grace dan keluarga Augustus Waters dalam mengasuh anaknya. Kita mendapatkan pertanyaan besar mengenai ‘meninggalkan tanda’ dan arti hadir kita di bumi.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s