Dibuai Rindu

Dialamatkan rindu kepadanya

Untuk dia yang di sebrang lautan

Aku hanya dapat bertukar kata padanya

Memilinkan rindu yang bertakhta

Bukankah ini yang kadang kita butuhkan

Momen-momen keheningan

Bertanya pada diri sendiri

Berdialog dengan aku

Keterpisahan menyadarkan legitnya kebersamaan

Segala momen berwarna yang berputar

Titik-titik pelangi di arsitektur keseharian

Lalu, ketika cinta dipertanyakan

Tanyalah pada detak jantungku

Berapa banyak denyutku mengukirkan namamu

Tuan, Serigala?

Sudikah kau menjengukku setelah sekian lama

Mungkin kau terlalu sibuk dengan orbit harimu

Multitasking,

Proyek sana-sini

            Lalu aku tergilas bersama waktu

            Terkaburkan dari memori ingatan

            Terlupakan dari kamus keseharian

Aku hanyalah puing-puing berlubang di dalam memori

Yang rindu kau kunjungi walau setitik

            Ketika kau becermin, suaraku sayup terdengar

            Aku dibekap oleh realitas yang kau jejali 24 jam

Alangkah terkejutnya aku

Di suatu sore kau buka lapisan memorimu

Ah, mungkin akhirnya kau teringat akanku

Aku: mimpi-mimpi lugumu

            Alangkah terkejutnya aku ketika kau menemukanku di lapis memori berdebu

            Duhai masih manusiakah dirimu?

            Atau telah menjadi serigala?

            Dengan tetesan liurmu kau mangsa aku: mimpi-mimpi lugumu

Seratus Kurawa & Iri Hati

‘Kurawa’ memiliki arti ‘Keturunan Suku Bangsa Kuru’. Dalam kisah Mahabharata, Kurawa merujuk pada seratus bersaudara yang menjadi musuh bebuyutan Pandawa Lima. Ayah Kurawa adalah Drestarastra, Raja Astina yang buta sejak lahir. Kelahiran Kurawa melalui proses yang ajaib, dilahirkan dalam bentuk gumpalan daging yang merupakan perwujudan iri hati Ratu Gundari terhadap Kunti (Ibu Pandawa). Gumpalan tersebut terpecah menjadi 100 potong, yang akhirnya tumbuh menjadi seratus orang bersaudara. – Garudayana Saga III

Apa yang bisa dihasilkan oleh iri hati? Sengkarut angkara? Iri hati bisa jadi muncul dikarenakan sistem yang dikreasi oleh manusia. Ada ketimpangan yang memang telah disusun secara sistemik. Sebut saja dalam relasi pekerjaan. Adalah ironis melihat begitu besarnya gap pendapatan antara yang satu dengan yang lain. Lalu hal tersebut seolah mendapatkan pembenarannya.

Di kantor saya yang lama, sistem lama yang dibangun memasok iri hati sistemik macam begitu. Bagaimana kue kesejahteraan begitu besar untuk para marketing yang mendatangkan klien untuk dituliskan bukunya. Sedangkan jatah penulis mendapatkan kue kesejahteraan yang relatif jauh hitung-hitungan ekonomisnya dibandingkan porsi marketing.

Lalu “pembenaran-pembenaran” pun disusun. Bahwa marketing-lah yang mendatangkan arus uang masuk. Marketing-lah yang memasok keuntungan bagi perusahaan. Beruntung di kemudian hari, sistem agak terperbaiki dengan adanya porsi tambahan bagi penulis dengan titel uang redaksi.

Meski begitu pengalaman tersebut terpatri erat-erat. Apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?

Lalu terhenyaklah saya dengan situasi di sebuah kantor yang membanderol gaji para marketing-nya dengan kisaran hingga belasan juta. Sedangkan di kantor yang sama gaji para wartawan benar-benar berada dalam taraf minimalis.

Lagi-lagi saya dihadapkan dengan pertanyaan ‘apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?’

Penghargaan, apresiasi, keadilan. Mungkin perkara iri hati bersumbu dari ketiga kata tersebut diantaranya. Bagaimana iri hati bukan tumbuh dari ruang hampa. Melainkan dibentuk secara sistemik oleh sistem yang timpang.

Di negeri para pengolah ini, para penjaja proyek menempati kasta teratas. Sedangkan para profesional yang bergelut dengan kapasitas hanya mendapatkan porsi kue kesejahteraan yang kesekian.

Ah, mungkin telah beternak secara eksponensial para Kurawa dikarenakan sengkarut ketidakadilan sistemik macam begini.

Bukan Romeo

Kalian boleh sebut kami gila. Tapi inilah kami, pasangan yang akan mewujudkan romansa prestisius karya Shakespeare: Romeo & Juliet. Tentu kami telah membaca karya aslinya. Pun begitu kami telah menonton versi filmnya yang dimainkan oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes.

Bukankah kematian pasangan yang begitu indah. Mati dalam rasa cinta. Tapi siapakah kiranya yang berani untuk menjalani “jalan api” seperti itu? Yang banyak hanyalah kata-kata kosong, janji-janji membual.

Pada akhirnya cinta kalah dengan segala macam rupa. Materi, pekerjaan, keluarga, dan blablabla lainnya. Duhai Shakespeare kisahmu dipuja, namun siapa yang berani menjalankan hikayat kisahmu?

Apakah kami persis memiliki lika-liku kisah seperti Romeo & Juliet? Bagaimana kuldesak sehingga mereka memilih jalan seperti itu. Tiada. Kami hanyalah manusia yang dimabuk cinta serta kecanduan sastra.

Kami sudah menyepakati hari kematian kami. Segala persiapan telah disusun dengan cara saksama. Dapatkah kalian membayangkannya? Kami akan menjadi terkenal setelah kematian kami. Kami akan tersohor, setelah kami meninggal. Karena kami berani menempuh jalan kematian Romeo & Juliet.

Situs berita online akan memberitakan kami. Tentunya dengan metode viral. Ya beberapa situs online akan menduplikasi, mencaplok berita dari kanal berita besar. Kami akan “dikuliti” mengapa kami memilih jalan kematian ala Romeo & Juliet. Mungkin juga koran, stasiun televisi akan ikut “membedah” kisah kami.

Kami adalah martir yang akan mengingatkan kembali soal cinta yang bahkan dapat mengalahkan kematian. Sebegitunya cinta kami.

Tentu mudah saja bagi kami merangkai racun. Biar kami berdua penggila sastra, namun kami mengerti komposisi kimia. Latar belakang kami dari Ilmu Pengetahuan Alam. Tentu kau tahu betapa sengkarut sistem pendidikan negeri ini. Kami penggila sastra, namun harus masuk jurusan IPA di SMA demi peluang masuk universitas yang lebih besar.

Saatnya Menenggak Racun

Segalanya telah disiapkan. Surat pertanda alasan kami memilih jalan kematian ala Romeo & Juliet. Dan tentu saja racun yang akan memupus kehadiran kami di dunia.

Kutatap mata kekasihku erat-erat. Inilah mata kegilaan yang menembus segala rasio. Demi cinta, demi sastra, sayonara nyawa.

Kekasihku menenggak racun yang dia racik sendiri.

Kuhitung menit demi menit yang berlalu. Akan tibanya giliranku. Selamat tinggal dunia.

Oh betapa cantiknya raga kekasihku, bahkan setelah dirinya meminum racunnya.

Kulihat racunku sendiri. Kutimang-timang genangan cairan racun itu. Kematian, pernahkah kau benar-benar memikirkannya? Mati dengan rasa cinta? Mati bersama seseorang yang paling kau cintai?

Tanganku bergoyang. Keyakinanku goyah. Mungkin aku ingin hidup seribu tahun lagi. Mungkin aku tidak siap dengan kematian puitis macam begini. Persetan dengan segala kemegahan namaku setelah mati dengan cara ala Romeo & Juliet. Mati, tetaplah mati. Hidup, terasa lebih rasional.

Aku terlalu takut ketika harusnya aku menempuh cara ala Romeo.

Aku pun menangis dalam diam. Aku tak mau mati. Aku tak mau mati dengan cara sastrawi macam begini. Aku cuma mau hidup. Hidup saja, meski namaku hanyalah deretan tak berarti diantara 7 milyar penduduk bumi.

Tapi, sosok sang kekasihku. Aduh malang benar dia. Menyebrang ke “negeri seberang” dengan kepercayaan kematian premium ala Romeo & Juliet.

“Maaf Julietku, aku bukanlah Romeo yang kau harapkan,” ucapku di telinga sang kekasih.

Alangkah terkejutnya aku ketika Julietku bergerak perlahan. Matanya mengerjap. Dia seperti bangun dari tidur singkat di siang hari. Dia menatapku dan memelukku.

“Kita adalah Romeo & Juliet yang gagal,” ungkapnya. “Tapi tak mengapa. Kita masih punya hari-hari ke depan. Mungkin membosankan. Mungkin menyebalkan. Tapi dari unsur itulah hidup tersusun.”

Julietku menceritakan bahwa dia pun ragu akan jalan kematian ala Romeo & Juliet. Maka dia pun mengubah racikan racun yang seharusnya menceraikan nyawanya. Dia pun berniat untuk menggagalkan aku jikalau tetap berkeras menenggak racun buatanku.

“Jadi kita sama-sama pengecut?” tanyaku kepadanya.

“Mungkin ya, mungkin tidak,” jawabnya kepadaku. “Namun, dibutuhkan keberanian untuk tetap hidup di dunia yang sebenarnya.”

Kami pun akhirnya melewatkan malam dengan menatap kubah langit dengan bintang yang mengerjap-ngerjap.

Demikian kisah kami. Kisah dari bukan Romeo & bukan Juliet.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Meniup Debu & Menulis Kembali

Sudah lama kiranya saya tiada berselancar di kanal blog pribadi? Apologi? Mungkin keseimbangan baru dimana saya masih mencoba untuk merangkainya. Ada unsur-unsur yang memenuhi komponen waktu dan disana saya berusaha menyesuaikan keseimbangan yang baru. Namun kiranya setelah sekian purnama tidak mempublikasi tulisan baru di blog ada kehampaan tersendiri. Maka saya pun memilih untuk kembali mengaktifkan blog.

Menulis di blog ternyata merupakan kemerdekaan tersendiri. Alangkah bahagianya memiliki kanal dimana dapat mengartikulasikan pikiran secara independen. Menulis apa saja yang menurut diri ini penting. Berbagi apa yang bisa dibagi.

Semoga saya dapat konsisten untuk kembali melalui kanal blog ini. Apa saja. Dengan ragam artikulasinya.

Hmm..saking lamanya saya tidak menulis di blog hingga untuk judul saya tidak menemukan caranya. Saya akan mencari tahu bagaimana caranya.

Adalah kegembiraan teramat besar dapat berselancar kembali. Tetap asah pena dan terus berbagi pengetahuan.

Salam hormat.

Mimpi & Sejumlah Eskapismenya

Kapan terakhir kali kau bermimpi?

Menjadi muda sebenar-benar muda

Muda dalam jiwa

                   Bukan seperti hamster

                   Yang berputar pada orbit yang itu-itu lagi

Lalu tumpullah daya kreasimu

Lalu lumpuhlah daya juangmu

                   Kau hanya sekadar robot-robot yang memproduksi

                   Kau mematut-matutkan diri

                   Merangkai estafet alasan

                   Untuk menyakinkan dirimu sendiri

                   Untuk membohongi dirimu sendiri

Berdesakan di jalan raya yang menua

Eskapisme secuil yang tersisa

Lalu, kau lupa rasanya menjadi elang

Kau lupa rasanya menjadi perkasa

Kau hanyalah piramida terbawah dari rantai makanan

Yang disantap

Yang dizalimi, lagi, dan lagi

                   Kapan terakhir kali kau bermimpi?

                   Kapan terakhir kali kau melamun?

                   Sejenak berhenti dari putaran roda keparat yang membelenggumu

                   Merdekalah wahai jiwa

                   Merdekalah wahai nyawa

                   Hidup dengan sebenar-benar hidup

                   Bukan dengan separuh kesadaran,

                   Separuh nyawa,

                   Yang setengah mengutuk: mengapa aku di orbit ini.