Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Bukan Romeo

Kalian boleh sebut kami gila. Tapi inilah kami, pasangan yang akan mewujudkan romansa prestisius karya Shakespeare: Romeo & Juliet. Tentu kami telah membaca karya aslinya. Pun begitu kami telah menonton versi filmnya yang dimainkan oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes.

Bukankah kematian pasangan yang begitu indah. Mati dalam rasa cinta. Tapi siapakah kiranya yang berani untuk menjalani “jalan api” seperti itu? Yang banyak hanyalah kata-kata kosong, janji-janji membual.

Pada akhirnya cinta kalah dengan segala macam rupa. Materi, pekerjaan, keluarga, dan blablabla lainnya. Duhai Shakespeare kisahmu dipuja, namun siapa yang berani menjalankan hikayat kisahmu?

Apakah kami persis memiliki lika-liku kisah seperti Romeo & Juliet? Bagaimana kuldesak sehingga mereka memilih jalan seperti itu. Tiada. Kami hanyalah manusia yang dimabuk cinta serta kecanduan sastra.

Kami sudah menyepakati hari kematian kami. Segala persiapan telah disusun dengan cara saksama. Dapatkah kalian membayangkannya? Kami akan menjadi terkenal setelah kematian kami. Kami akan tersohor, setelah kami meninggal. Karena kami berani menempuh jalan kematian Romeo & Juliet.

Situs berita online akan memberitakan kami. Tentunya dengan metode viral. Ya beberapa situs online akan menduplikasi, mencaplok berita dari kanal berita besar. Kami akan “dikuliti” mengapa kami memilih jalan kematian ala Romeo & Juliet. Mungkin juga koran, stasiun televisi akan ikut “membedah” kisah kami.

Kami adalah martir yang akan mengingatkan kembali soal cinta yang bahkan dapat mengalahkan kematian. Sebegitunya cinta kami.

Tentu mudah saja bagi kami merangkai racun. Biar kami berdua penggila sastra, namun kami mengerti komposisi kimia. Latar belakang kami dari Ilmu Pengetahuan Alam. Tentu kau tahu betapa sengkarut sistem pendidikan negeri ini. Kami penggila sastra, namun harus masuk jurusan IPA di SMA demi peluang masuk universitas yang lebih besar.

Saatnya Menenggak Racun

Segalanya telah disiapkan. Surat pertanda alasan kami memilih jalan kematian ala Romeo & Juliet. Dan tentu saja racun yang akan memupus kehadiran kami di dunia.

Kutatap mata kekasihku erat-erat. Inilah mata kegilaan yang menembus segala rasio. Demi cinta, demi sastra, sayonara nyawa.

Kekasihku menenggak racun yang dia racik sendiri.

Kuhitung menit demi menit yang berlalu. Akan tibanya giliranku. Selamat tinggal dunia.

Oh betapa cantiknya raga kekasihku, bahkan setelah dirinya meminum racunnya.

Kulihat racunku sendiri. Kutimang-timang genangan cairan racun itu. Kematian, pernahkah kau benar-benar memikirkannya? Mati dengan rasa cinta? Mati bersama seseorang yang paling kau cintai?

Tanganku bergoyang. Keyakinanku goyah. Mungkin aku ingin hidup seribu tahun lagi. Mungkin aku tidak siap dengan kematian puitis macam begini. Persetan dengan segala kemegahan namaku setelah mati dengan cara ala Romeo & Juliet. Mati, tetaplah mati. Hidup, terasa lebih rasional.

Aku terlalu takut ketika harusnya aku menempuh cara ala Romeo.

Aku pun menangis dalam diam. Aku tak mau mati. Aku tak mau mati dengan cara sastrawi macam begini. Aku cuma mau hidup. Hidup saja, meski namaku hanyalah deretan tak berarti diantara 7 milyar penduduk bumi.

Tapi, sosok sang kekasihku. Aduh malang benar dia. Menyebrang ke “negeri seberang” dengan kepercayaan kematian premium ala Romeo & Juliet.

“Maaf Julietku, aku bukanlah Romeo yang kau harapkan,” ucapku di telinga sang kekasih.

Alangkah terkejutnya aku ketika Julietku bergerak perlahan. Matanya mengerjap. Dia seperti bangun dari tidur singkat di siang hari. Dia menatapku dan memelukku.

“Kita adalah Romeo & Juliet yang gagal,” ungkapnya. “Tapi tak mengapa. Kita masih punya hari-hari ke depan. Mungkin membosankan. Mungkin menyebalkan. Tapi dari unsur itulah hidup tersusun.”

Julietku menceritakan bahwa dia pun ragu akan jalan kematian ala Romeo & Juliet. Maka dia pun mengubah racikan racun yang seharusnya menceraikan nyawanya. Dia pun berniat untuk menggagalkan aku jikalau tetap berkeras menenggak racun buatanku.

“Jadi kita sama-sama pengecut?” tanyaku kepadanya.

“Mungkin ya, mungkin tidak,” jawabnya kepadaku. “Namun, dibutuhkan keberanian untuk tetap hidup di dunia yang sebenarnya.”

Kami pun akhirnya melewatkan malam dengan menatap kubah langit dengan bintang yang mengerjap-ngerjap.

Demikian kisah kami. Kisah dari bukan Romeo & bukan Juliet.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s