Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Seratus Kurawa & Iri Hati

‘Kurawa’ memiliki arti ‘Keturunan Suku Bangsa Kuru’. Dalam kisah Mahabharata, Kurawa merujuk pada seratus bersaudara yang menjadi musuh bebuyutan Pandawa Lima. Ayah Kurawa adalah Drestarastra, Raja Astina yang buta sejak lahir. Kelahiran Kurawa melalui proses yang ajaib, dilahirkan dalam bentuk gumpalan daging yang merupakan perwujudan iri hati Ratu Gundari terhadap Kunti (Ibu Pandawa). Gumpalan tersebut terpecah menjadi 100 potong, yang akhirnya tumbuh menjadi seratus orang bersaudara. – Garudayana Saga III

Apa yang bisa dihasilkan oleh iri hati? Sengkarut angkara? Iri hati bisa jadi muncul dikarenakan sistem yang dikreasi oleh manusia. Ada ketimpangan yang memang telah disusun secara sistemik. Sebut saja dalam relasi pekerjaan. Adalah ironis melihat begitu besarnya gap pendapatan antara yang satu dengan yang lain. Lalu hal tersebut seolah mendapatkan pembenarannya.

Di kantor saya yang lama, sistem lama yang dibangun memasok iri hati sistemik macam begitu. Bagaimana kue kesejahteraan begitu besar untuk para marketing yang mendatangkan klien untuk dituliskan bukunya. Sedangkan jatah penulis mendapatkan kue kesejahteraan yang relatif jauh hitung-hitungan ekonomisnya dibandingkan porsi marketing.

Lalu “pembenaran-pembenaran” pun disusun. Bahwa marketing-lah yang mendatangkan arus uang masuk. Marketing-lah yang memasok keuntungan bagi perusahaan. Beruntung di kemudian hari, sistem agak terperbaiki dengan adanya porsi tambahan bagi penulis dengan titel uang redaksi.

Meski begitu pengalaman tersebut terpatri erat-erat. Apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?

Lalu terhenyaklah saya dengan situasi di sebuah kantor yang membanderol gaji para marketing-nya dengan kisaran hingga belasan juta. Sedangkan di kantor yang sama gaji para wartawan benar-benar berada dalam taraf minimalis.

Lagi-lagi saya dihadapkan dengan pertanyaan ‘apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?’

Penghargaan, apresiasi, keadilan. Mungkin perkara iri hati bersumbu dari ketiga kata tersebut diantaranya. Bagaimana iri hati bukan tumbuh dari ruang hampa. Melainkan dibentuk secara sistemik oleh sistem yang timpang.

Di negeri para pengolah ini, para penjaja proyek menempati kasta teratas. Sedangkan para profesional yang bergelut dengan kapasitas hanya mendapatkan porsi kue kesejahteraan yang kesekian.

Ah, mungkin telah beternak secara eksponensial para Kurawa dikarenakan sengkarut ketidakadilan sistemik macam begini.

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s