Batas Antara Ilusi dan Kenyataan

Di atas ketinggian bangunan

Jiwa yang merapuh dan meluruh

Batas antara ilusi dan kenyataan

            Sekehendak rona membeku

            Dingin, sunyi di jantung kata-kata

Bara yang kini memeluk kaku

Lukisan perasaan monokrom

            Di taman keresahan, kata-kata tumbang

            Sayup-sayup sayap-sayap patah terdengar

Ada luka tanpa darah

Hanya kosong dan melompong di jam-jam hening

Advertisements

Prosa Tanpa Kata

Engkaulah yang memberi nyawa pada kata

Dan menyulam makna pada deru aksara

            Engkaulah purnama yang menghadirkan tawa seutuhnya

            Menaburkan jejak-jejak kegembiraan di udara

Engkaulah alasan untuk segala pertanyaan

Dan jawaban atas benak yang bertanya

            Engkaulah puisi

            Engkaulah prosa yang mengalunkan kata-kata

Ketika duniaku tanpa kamu

Aku kehilangan selera untuk memutar kata

Di Jantung Kata-kata

Selamat pagi, luka

Kini aku menjengukmu di embun pertama

Tangan yang kehilangan genggaman

Jiwa yang terhempas dan terkupas

            Luka selalu punya cara untuk menyusup

            Mencuri lamunanku

            Di jantung kata-kata

            Dan batas kesadaran

Merenggut pundi-pundi kegembiraan

Seolah terang susut terbaring

Di penutup hari kuujarkan,

            Selamat malam, luka