Ada Tembok di Sekelilingku

Aku membangun tembok di sekelilingku

Kemarilah walau sejenak

Singgah di labirin pikiranku

            Tak sembarang orang yang kuberi enkripsi ini

            Mendengarkan, melihat hikayat masa laluku dan teropong masa depan

Apakah kau lihat badai pasir itu?

Badai yang mengerkahku dari dalam

Meruntuhkan nilai-nilai yang kupercaya

Setelah badai itu, pekat menyodorkan jubahnya

Apalagi yang tersisa dari diriku?

Keputusasaan yang menjenguk bersama cahaya matahari pagi pertama

            Aku membangun tembok di sekelilingku

            Karena manusia adalah homo homini lupus

            Mereka memangsamu saat kau lengah

            Ada yang dengan senyum madu, lalu menyusupkan racun di udara

            Ada yang dengan beringas seperti buldoser mengalirkan kata-kata

Aku menuliskan harapanku di kertas pasir

Terlihat abadi, namun meluruh nyatanya bersama waktu

            Celakanya menjadi pengingat yang ulung adalah mengingat

            Lalu kau dapati kata-kata yang ditaburi gula membusuk di hari kemudian

            Inflasi kata-kata

Karena itu semua, aku membangun tembok di sekelilingku

Untuk kamu sang penggenggam enkripsi

Bantu aku untuk percaya bahwa dunia tidak sepucat ini

Bahwa bumi masih memiliki embun pagi pertamanya yang layak dinanti

Bis dan Pop Mie

Ada banyak cara untuk menggenangkanmu pada sebuah kenangan. Dan kali ini cara itu melalui seorang sosok di tokoh novel yang sedang melakoni perjalanan menggunakan bis. Dan kenangan saya pun terpantik kepada istri saya, Dede Indrawati.

Saya pun teringat dengan satu momentum dimana kami menikmati pop mie di dalam bis. Perjalanan ke kampung halamannya sebagian besar kami lalui dengan menggunakan bis. Dan peran Dede begitu besar dalam perjalanan. Mulai dari menawar harga tiket bis yang bisa berfluktuatif (dia menawarnya dengan menggunakan bahasa Jawa dan kesewotan secukupnya) hingga urusan makanan dan minuman.

Sepanjang perjalanan menuju Indramayu, lagu yang dihentakkan di speaker adalah lagu-lagu dangdut. Para pedagang pun naik di beberapa titik dengan menawarkan varian barang. Ada yang dengan taktik membagikan barangnya terlebih dahulu, lalu mulailah berpidato mengenai keunggulan dari barang dagangannya.

Perjalanan bukan hanya menempuh jarak, melainkan dengan siapa engkau melakoninya. Nyaris seluruh perjalanan saya dengan rute tempuh Jakarta dan Indramayu beserta Dede Indrawati. Normalnya 4 jam perjalanan menjadi sesuatu yang worth it bersamanya. Segala atmosfer yang melingkupi perjalanan bersamanya menjadi fine-fine saja.

Dan saya akan merindukan dengan cara saksama suatu penggalan waktu itu. Di saat kami kelaparan dan makan pop mie bersama lagi dan lagi. Serangkaian kisah sederhana di bis yang menyingkap jarak antara Jakarta-Indramayu.