Posted in puisi, sastra

Ada Tembok di Sekelilingku

Aku membangun tembok di sekelilingku

Kemarilah walau sejenak

Singgah di labirin pikiranku

            Tak sembarang orang yang kuberi enkripsi ini

            Mendengarkan, melihat hikayat masa laluku dan teropong masa depan

Apakah kau lihat badai pasir itu?

Badai yang mengerkahku dari dalam

Meruntuhkan nilai-nilai yang kupercaya

Setelah badai itu, pekat menyodorkan jubahnya

Apalagi yang tersisa dari diriku?

Keputusasaan yang menjenguk bersama cahaya matahari pagi pertama

            Aku membangun tembok di sekelilingku

            Karena manusia adalah homo homini lupus

            Mereka memangsamu saat kau lengah

            Ada yang dengan senyum madu, lalu menyusupkan racun di udara

            Ada yang dengan beringas seperti buldoser mengalirkan kata-kata

Aku menuliskan harapanku di kertas pasir

Terlihat abadi, namun meluruh nyatanya bersama waktu

            Celakanya menjadi pengingat yang ulung adalah mengingat

            Lalu kau dapati kata-kata yang ditaburi gula membusuk di hari kemudian

            Inflasi kata-kata

Karena itu semua, aku membangun tembok di sekelilingku

Untuk kamu sang penggenggam enkripsi

Bantu aku untuk percaya bahwa dunia tidak sepucat ini

Bahwa bumi masih memiliki embun pagi pertamanya yang layak dinanti

Advertisements

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s