Tubuhnya yang Kesepian

Dahulu kala aku adalah sendiri yang melebur dalam kebersamaan. Keluarga. Kami berbagi tawa dimana-mana. Ada canda yang menguar bersama kata. Kami mendongeng tentang kisah keseharian di meja makan. Kami adalah keluarga yang berbahagia. Aku sang sendiri dalam kebersaman.

Namun, hidup adalah sebuah roller coaster. Ia pasti menghadirkan badai yang meluluhlantahkan pertahanan diri dan membuatmu bertanya dan bertanya. Seperti halnya hidup, rona kematian menjatuhkan alamat pada sang kepala keluarga. Equilibrium pun berubah. Aku merasa asing ketika menatap wajahku. Aku merasa asing ketika melihat mereka yang bertalian darah. Badai mencicipi bahtera keluarga.

Seperti seorang petualang, aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempat yang kini telah menggerahkan pikiran. Aku tiba di suatu kota yang senantiasa bercumbu dengan hujan. Selamat membuka bab baru dalam hidupku.

Kesendirian dapat menggerogoti diriku. Hingga datanglah kehangatan itu. Aku bertemu dengan seseorang. Aku berhenti bermonolog, aku menemukan dialog.

Dia mengajakku ke rumahnya. Di meja makan bersama keluarganya, aku menemukan kehangatan kekeluargaan. Kami berbagi tawa. Ada canda yang menguar bersama kata. Mereka mendongeng tentang kisah keseharian di meja makan. Hujan di luar, hangat di dalam.

Aku pun teringat dengan petikan puisi Menikmati Akhir Pekan karya Aan Mansyur. Biar kukutipkan untukmu:

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

 

Ya, aku tahu dari diriku, ada sesuatu yang telah dicuri. Dan kuharap aku tahu apa yang kucari.

Advertisements

Ada yang Tanggal Bersama Waktu

Ada yang tanggal bersama waktu

Harapan dan mimpi

Pada akhirnya kita sadar bahwa kita terlampau naïf

Menggantungkan harapan setinggi bintang-bintang di angkasa

Kita pun tahu bintang-bintang bisa mati dan memudar

Kita pun tahu jangkauan jemari kita terbatas

            Ada yang tanggal bersama waktu

            Dan kita menyurutkan ekspektasi

            Pada akhirnya kita menjadi sosok-sosok yang membosankan

            Sekadar menjalani hari demi hari

            Lalu bersorak ketika akhir pekan menjelang

            Kita terjebak dalam rutinitas pikiran

Tataplah cermin dan tanyakan pada diri: ada yang tanggal bersama waktu

Tidakkah kau membenci dirimu sendiri?