Posted in Maciyo, puisi, sastra

Kau yang Membacaku, Tanpa Aku Harus Bicara

Aku rindu caramu mencintaiku

Menyirami aku dalam tatapan matamu

Kau yang membacaku, tanpa aku harus bicara

            Aku rindu dengan perbincangan kita

            Sayap-sayap pemikiran segala ranah

            Kita kupas, ulas dunia dengan narasi dialog

Aku rindu,

Bahkan ketika kau marah

Kau yang terdiam

Hening saja

Lalu ketika gemuruh di dadamu telah surut

Perlahan bermekaran pertukaran kata antara kita

            Aku rindu dengan genggaman kita,

            Seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi di dunia yang kita pertanyakan ini

            Apa pun cuaca, kita akan selalu bersama

Aku rindu kala kita bercanda

Cerdas nian kau menjahit logika humor

Kita tertawa begitu lepas,

Begitu bebas

            Aku rindu dengan petualangan tanpa rencana

            Kita berdebat

            Kita berargumen

            Kita merajuk

            Kita pun tertawa dalam cangkir kehangatan

Di perjalanan kita saling mengintip dan menitipkan pesan

Tersirat dan tersurat

Aku dan kau cinta seutuhnya,

Selengkapnya

            Cinta telah tiba

            Di beranda hati kita

            Dan kita menuainya dengan hati gembira

            Seperti petualang yang menatap rajutan konstelasi bintang di Bosscha sana

Cinta telah tiba

Dan sejak kala itu hingga selamanya kita tahu bagaimana cinta bekerja

Advertisements

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s