Posted in Aku, Essai, Maciyo, puisi, sastra

Terenggut

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dia pasti meninggalkan jejak tulisan ini. Kau tahu ketika seseorang yang kau kasihi dan cintai telah meninggal dunia, maka segenap benda, jejak yang terkait dengannya akan coba kau genggam dan tafsirkan erat-erat. Pun begitu ketika 13 Maret 2016 ketika secara raga, saya berpisah dengan Dede Indrawati.

Saya merasakan kehampaan yang begitu berat. Lalu ponsel LG berwarna putih itu tak sekadar menyimpan rangkaian foto kami. Terdapat memo yang menyimpan puisi karya Dede Indrawati. Tarikh di ponsel bertanggal 28 Januari 2016. Secara skema waktu itu berarti setelah operasi ketiga dari istri saya, Dede Indrawati. Operasi ketiga dilakoni tanggal 20 Januari 2016 dan tanggal 28 Januari adalah masa pemulihan di rumah sakit Dharmais.

Operasi ketiga adalah sesi yang berat. Di tengah operasi, Dr.Ajoedi mendatangi saya dan ibunda Dede (Ibu Sariah). Dr.Ajoedi hingga memanggil seorang dokter lainnya. Seorang dokter perempuan. Bersama Dr.Ajoedi dan dokter perempuan itu penjelasan pun datang. Dari kanker usus telah menyebar ke rahim. Sehingga tindakan mengambil salah satu rahim menjadi opsi yang ditanyakan kepada saya dan ibu Sariah.

Tangis dan syok pun menghampiri kami. Keputusan harus diambil dalam hitungan menit. Dan kami bersepakat untuk menyetujui opsi yang diajukan Dr.Ajoedi. Operasi tersebut juga menjelaskan bahwa kanker yang menerpa istri saya telah naik secara stadiumnya, dari IIIB menjadi IV.

Sewaktu divonis menderita kanker usus stadium IIIB secara persentase diungkapkan ada peluang 60%. Probabilitas tentu telah menyusut dengan fakta yang diungkap kala operasi ketiga. Meski begitu bukankah kita mengharapkan keajaiban dan sederet data kuantitatif tersebut menjadi remah fakta yang terenyahkan.

Semenjak pertama kali bertemu kutahu Dede Indrawati adalah seorang yang cerdas. Ia pandai dalam memilah dan memilih kata. Dan puisi ini adalah salah satu bukti nyata kecerdasannya. Aku akan selalu merindukanmu, Dede Indrawati. Dan berikut adalah puisi dari Dede Indrawati seperti tertera di memo ponselnya.

 

Kesehatanku terenggut, dia masih disini.

Kerajinanku terenggut, dan dia masih disini.

Emosi dan amarahku tersulut, dia masih disini.

 

Kini,

Satu rahimku telah terenggut, 50 persen kemungkinan hidupku dalam 5 tahun terenggut, dan dia masih disini.

Karenanya, aku percaya cinta sejati itu ada.

Di saat aku tak punya apa2, aku tak bisa apa2, dan aku tak berpotensi apa2…dia yg selalu ada.

Apakah ketika aku tiada kamu akan selalu ada?

Advertisements

Author:

Suka menulis dan membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s