Mereka Mendongeng Abjad Ilusi

P1010714

Akan kuceritakan padamu

Tentang mereka yang tinggal di benteng

Gerendel,

Paranoid di kepala,

Jaring laba-laba memintal mangsa,

Energi negatif menguarkan

            Di meja makan mereka bicara tentang kebajikan harian

            Kerakusan tanpa kata memenuhi orbit pikiran mereka

            Tenggelam dalam lautan api yang membakar nurani

Sulut, ketika ada yang mengusik status quo

Perompak,

Perampok,

Tak tahu diri,

Kalian hanya para sudra yang tak layak menginjakkan kaki di kastil kembang gula

Manis, tapi keropos

Manis, tapi diabetes

Mengidap racun bersama tarikan nafasnya

            Sini, mari kemari

            Mereka mendongeng abjad ilusi

            Tenun fantasi

            Mereka diktekan kebohongan bertabur gula

Bawang merah,

Joker,

Lex Luthor,

Kesemuanya adalah protagonis utama, kata mereka sembari menghidangkan makan malam untuk semesta

Advertisements

Mulai Saja Dulu, Menulis (Lagi) di Blog

DSC_7411

Sudah terlalu lama saya tidak menuliskan esai di blog ini. Ya untuk rutinitas, saya menjangkaunya melalui puisi-puisi. Namun sudah saatnya bagi saya untuk menghidupkan kembali blog ini dengan ragam kemampuan literasi yang saya pikir dimiliki. Banyak cara pandang, artikulasi yang dapat diungkap untuk menyampaikan sebuah pesan. Dan saya akan memilih kembali cara esai, dan ragam cara untuk menjangkarkan hal itu.

Alasan? Ya, tentu beragam alasan dapat didedahkan untuk kegagalan dan kealpaan. Diantara alasan itu adalah equilibrium yang berbeda antara menulis buku dan menulis di media online. Keinginan saya untuk menulis kembali di blog pun tak terlepas dari rekam jejak tulisan yang ternyata telah begitu banyak di masa lalu. Betapa saya berusaha untuk menghidupkan kata. Lalu mengapa tidak meneruskannya?

Sebagai ghost writer di bawah naungan Rakyat Merdeka Books (Maret 2011-Januari 2015), itu adalah era dimana blog ini begitu hidup. Menulis buku ketika itu memberikan saya waktu pengaturan yang lebih leluasa. Dikarenakan saya bisa melakukan riset bacaan, ataupun menuliskannya sesuai skema waktu yang ada. Sedangkan ketika bekerja di media online (Januari 2015-sekarang), waktu seakan begitu cepat berdetak. Sekian menit dalam waktu kerja, diburu oleh tulisan yang siap saji. “Kemewahan” dengan waktu seakan meluruh. Selesai jam kerja pun saya merasa sudah terlampau lelah untuk menulis esai ataupun tulisan genre lainnya. Begitulah kira-kira “logika”, “pembenaran” yang bersemayam di pikiran saya mengenai kealpaan, kemandekan kanal esai, cerpen, novel dalam jejak literasi saya terhitung mulai bekerja di media online.

Namun manusia memiliki pikiran yang dapat menjebaknya sendiri. Dan mungkin itu juga dialami oleh saya dengan “logika” dan “pembenaran” itu. Seiring waktu, saya pun merindu untuk menulis esai, cerpen, novel, dan segala ranah literasi yang perlu dieksplorasi. Saya pun merasa belum optimal menancapkan pengukuhan diri sebagai sosok yang berkecimpung dengan literasi.

Maka disinilah saya, pada suatu dini hari. Mencoba untuk memupus segala mitos ketidakmampuan. Mulai saja dulu. Blog ini dapat diaktifkan kembali dengan rupa-rupa literasi. Bahan? Bukankah saya memiliki isi di kepala, hati, emosi, lapisan pengalaman. Belum lagi tumpukan buku, majalah, koran, penelusuran internet.

Mulai saja dulu. Dan saya pun percaya semangat berbagi memiliki muaranya tersendiri. Mari membuka bidak kata.

Krayon di Tangan

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kapan terakhir kalinya kau berkunjung ke gubuk imajinasi?

Dengan krayon di tangan

Dengan pena tergenggam

            Mewarnai kota dengan rupa-rupa warna

            Tak semuram hitam-putih dalam lencana hati

            Asyik bertekun dengan gambar

            Mengarsir imajinasi

Dengan mimpi yang kau ikatkan di aksara

Gugus kata-kata yang punya warna

            Terkubur di keterusikan waktu

            Kala jemu dengan orbit waktu

            Krayon, pena, serangkai eskapisme di petang yang membosankan

            Atau tentang mimpi-mimpi yang harus kau hidupkan lagi?

Sia-sia

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pernahkah kau merasa sia-sia?

Lembaran bab demi bab dalam hidupmu,

Keahlian, keterampilan yang dirimu miliki

            Ketika pensiun

            Ketika dipecat

            Ketika lamaran pekerjaan tak kunjung berbalas

            Sia-sia menjadi mantra yang kau gumamkan dalam sadar dan diam

Ada masanya ketika era, mengerkah kemampuan yang kau punya

Kau tak berkesesuaian dengan zaman

            Kerja, kerja, kerja

            Ya, orang-orang di sisi itu ingin betul

            Tapi kerja apa?

            Adakah kemampuan yang ada dibutuhkan di ekonomi yang melambat?

            Di era modernisme, kau menjadi homo sapiens tanpa argo waktu kerja

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia

Sia-sia

            Di hadapan cermin itu kau membenci dirimu

            “Sia-sia,” katamu beresonansi

Rumah Pikiran

Suatu Pagi di Bali

Dingin,

Hangat yang hilang dari jiwa

Terasing di bising

            Perayaan,

            Dan kau bertanya apa yang harus dirayakan

Confetti

Menghitung mundur menuju jam 12

Kau tahu ada yang kekal bersama waktu

            Setiap dari kita menyimpan bahayanya masing-masing

            Di ujung senja

            Kau nyalakan memori

            Dan kau tersesat,

            Kau terdampar,

            Kau tak bisa membedakan mana masa lalu, masa kini, dan masa mendatang

Di jalan tiada ujung

Kau terhempas dan terkuras

            Kau mengetuk-ngetuk pintu

            Kau masuki rumah pikiranmu

            Kau terasing dari pikiranmu sendiri