Di Meja Makan

20150503_210003

Di meja makan hanya ada kepala yang bertanya

Robohnya kartu domino

Terungkapnya topeng yang membungkus kata

            Hidangan mulai dingin dan pertanyaan membiak

            Mereka yang semeja denganmu, tak lain yang paling mengetahui celahmu

            Menyadari aksi-reaksimu

            Mengetahui cara otakmu “memilih jalan”

Jangan kau cari di menara tinggi

Atau di negeri seberang

Ia datang di pekaranganmu dengan senyum terkulum

            Racun terbaik bekerja dengan madu kata-kata

            Hingga kau terdampar dan kehilangan pegangan, kompas persahabatan

Di meja makan, kau menatap menu harianmu

Itu dan itu lagi

Kau telah ditikam sempurna dengan segala nama

Pengkhianat selalu punya cara untuk mengheroikkan perbuatannya

            Di meja makan sirna kata-kata

            Kau kehilangan selera untuk menyantap atau berbincang dengan entah siapa

Advertisements

Proyek Menghanyutkan Lara

Di hari kematian puisi

Aku ingin membacakan kisah-kisah kita

Tentang cerita yang lewat dan berkarat

            Aku ingin menghanyutkan lara dalam perahu kertas

            Yang menuju jantung semesta

Kata-kata mati

Ilusi bertakhta

            Lenyapkan gulita dari aksara

Tidurlah, aku akan mengantarmu dalam ayunan cerita

Menimang, menimbang surut selaksa makna

            Jenguk esok hari dengan senyum tersisa

            Matilah kau mampus ketika telah tiba masanya

            Hiduplah dengan memanggul tanya

Habis Percaya

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Aku sudah habis percaya
Pada mereka yang berakrobat bersama kata & berselempang dusta
Karena mereka adalah singa yang akan menerkammu kala ada kesempatan
Karena mereka adalah rubah yang merunduk kala kuasa menerkam tidak di genggaman

Si Sulung Vaja, Si Bungsu Noiri

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Vaja

“Namaku Vaja. Aku adalah raja di keluarga ini.”

Dengan tubuh tambun, aku mengitari meja makan. Saatnya makan yang kelima kali hari ini. Bagi kalian itu masalah? Bagiku tidak. Hei aku harus berpikir lebih banyak dibandingkan kalian-kalian yang ada di dasar piramida, kalian yang dimangsa.

Aku harus menggunakan otakku banyak-banyak tiap kali. Aku harus berargumentasi. Mulai dari mengungkapkan fakta, hingga membungkus kebohongan dengan data dan pencitraan yang mengalihkan fokus utama.

 

Noiri

“Namaku Noiri. Aku adalah…”

Tak tahu sebagai apa aku dianggap. Si kurus yang terus dihisap. Mengepul siang dan malam untuk menghidupi keluarga. Keluarga? Aku si tertindas, lahir dan batin. Aku si bungsu yang baru bergabung belakangan di keluarga ini. Konon leluhurku perlu mengobarkan semangat dan pidato pentingnya aku masuk sebagai anggota keluarga.

Lalu apa? Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Tak hanya mereka yang bermata biru, tapi mereka yang dilahirkan dengan akte wilayah yang sama disini. Mereka yang memuja ‘Vaja, Vaja, Vaja’.

 

Disparitas adalah kata yang menghubungkan si sulung dengan si bungsu. Sementara Vaja terus membusuk dalam obesitasnya, si Noiri meranggas kekurangan nutrisi. Keadilan adalah ilusi. Nasionalisme adalah kata slogan untuk menyembunyikan penindasan.

Dari mana roda ekonomi keluarga ini berasal? Dari kerukan yang terus dikipas dari Noiri.

 

“Aku capek,” kata Noiri di suatu waktu.

“Jangan begitu bungsu,” ujar Vaja membujuk dengan manis.

Ia menggenggam tangannya, membelai punggungnya.

“Kita hidup di keluarga ini bukan untuk kemarin, hari ini, atau esok. Ada jembatan emas yang kita perjuangkan bersama,” ungkap Vaja dengan aroma bawang bombai yang baru saja menjadi bagian makanannya.

“Baiklah,” jawab Noiri dengan bunyi perut mendecit.

 

Noiri

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana. Kami dirangkul, kami dipeluk, kami diguyur dengan insentif dan janji-janji.

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana.

 

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di: http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Menulis Membawa Saya Berkunjung ke Sejumlah Daerah

DSC_0159

Agustus 2015 ketika itu saya sedang meliput event Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Palembang, Sumatera Selatan. Sebagai pemateri dalam pembekalan peserta FLS2N tingkat SMP yakni Ahmad Fuadi penulis buku best seller ‘Negeri 5 Menara’. Salah satu perkataan dari Ahmad Fuadi yang berkesan adalah menulis membawanya jalan-jalan ke berbagai negara dan berbagai daerah.

Kalimat tersebut saat itu masuk dan mencantel saja di ingatan. Untuk kemudian saya baru menemukan relevansi kalimat itu di penggalan waktu kemudian. Ya, sebelumnya ketika masih bekerja sebagai ghost writer dan editor, ‘jalan-jalan’ ke sejumlah tempat pun saya lakoni. Saya bertemu dengan beberapa orang politikus baik itu di gedung parlemen ataupun di rumahnya. Banyak kenangan dan pengalaman yang saya dapatkan kala itu. Mulai dari cerita off the record hingga terkagumkan dengan lukisan karya Raden Saleh di rumah salah seorang politikus.

Lalu ketika saya menjadi jurnalis, kesempatan untuk berkunjung ke sejumlah daerah di Indonesia saya dapatkan. Kantor tempat saya bekerja istilah kerennya menjadi media partner dari pemberitaan di Direktorat Pembinaan SMP dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus. Irisannya bertemu dengan entitas pendidikan baik itu di jajaran SMP dan Anak Berkebutuhan Khusus.

IMG_0685

Dengan bekal kemampuan menulis, saya pun meliput berbagai event yang buat saya worth banget dan membangkitkan optimisme. Ada event Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), FLS2N, Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN), Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN), Festival dan Lomba Literasi PKLK, dan lain sebagainya.

Berbagai kota pun saya kunjungi sebagai konsekuensi logis liputan ragam event tersebut antara lain Palembang, Medan, Pekanbaru, Bali, Jakarta. Saya pun menyelami tekstur sebuah kota, dan merasakan langsung Indonesia.

Menyenangkan, melakukan sesuatu yang saya gemari: menulis. Ditambah lagi bertemu dengan anak-anak bangsa dengan segala keunikannya. Menelusuri daerah di Indonesia yang memiliki pola tersendiri. Ya, menulis telah membawa saya ke berbagai kesempatan dan pertemuan. Bagaimana dengan Anda?

Bawa Aku ke Duniamu

20150502_204616

Bawa aku ke duniamu

Tempat mimpi-mimpi bermekaran

Tempat cahaya jadi nyala

            Langitnya biru, awannya putih

            Hujannya menenangkan jiwa

Bukan kota yang dibekuk senja

Umpatan bertukaran

Menahan beban yang tak seimbang antara jumlah penduduk dan luas wilayah

            Ceritanya membosankan

            Tentang puisi 5 hari yang direngkuh jarak

            Terkutuklah waktu yang tercecer di kemacetan, menunggu, dan bertele-tele

Bawa aku ke duniamu

Tanpa rencana

Tanpa promosi propaganda berlebih tentang zona nyaman

Pejamkan mata,

Rasakan suara,

Alam yang menyapamu,

Membelaimu sebagai warga semesta

            Duniaku dilalui kelu

            Lelah menghinggapi nadi

            Gurat-gurat waktu di wajah kota

Duniaku, sepetak wilayah yang rapuh & rikuh diterpa turbulensi alam

            Duniamu, tempat mimpi & realitas berada di satu garis lurus

Duniaku, yang berebut ruang dan bergelut kata tiap kali

            Duniamu, tempat lapang dimana wacana menjadi kata kerja

Bawa aku ke duniamu

Yang eskapisme di kepala atau nyata ada?

Mereka Mendongeng Abjad Ilusi

P1010714

Akan kuceritakan padamu

Tentang mereka yang tinggal di benteng

Gerendel,

Paranoid di kepala,

Jaring laba-laba memintal mangsa,

Energi negatif menguarkan

            Di meja makan mereka bicara tentang kebajikan harian

            Kerakusan tanpa kata memenuhi orbit pikiran mereka

            Tenggelam dalam lautan api yang membakar nurani

Sulut, ketika ada yang mengusik status quo

Perompak,

Perampok,

Tak tahu diri,

Kalian hanya para sudra yang tak layak menginjakkan kaki di kastil kembang gula

Manis, tapi keropos

Manis, tapi diabetes

Mengidap racun bersama tarikan nafasnya

            Sini, mari kemari

            Mereka mendongeng abjad ilusi

            Tenun fantasi

            Mereka diktekan kebohongan bertabur gula

Bawang merah,

Joker,

Lex Luthor,

Kesemuanya adalah protagonis utama, kata mereka sembari menghidangkan makan malam untuk semesta