Bis dan Pop Mie

Ada banyak cara untuk menggenangkanmu pada sebuah kenangan. Dan kali ini cara itu melalui seorang sosok di tokoh novel yang sedang melakoni perjalanan menggunakan bis. Dan kenangan saya pun terpantik kepada istri saya, Dede Indrawati.

Saya pun teringat dengan satu momentum dimana kami menikmati pop mie di dalam bis. Perjalanan ke kampung halamannya sebagian besar kami lalui dengan menggunakan bis. Dan peran Dede begitu besar dalam perjalanan. Mulai dari menawar harga tiket bis yang bisa berfluktuatif (dia menawarnya dengan menggunakan bahasa Jawa dan kesewotan secukupnya) hingga urusan makanan dan minuman.

Sepanjang perjalanan menuju Indramayu, lagu yang dihentakkan di speaker adalah lagu-lagu dangdut. Para pedagang pun naik di beberapa titik dengan menawarkan varian barang. Ada yang dengan taktik membagikan barangnya terlebih dahulu, lalu mulailah berpidato mengenai keunggulan dari barang dagangannya.

Perjalanan bukan hanya menempuh jarak, melainkan dengan siapa engkau melakoninya. Nyaris seluruh perjalanan saya dengan rute tempuh Jakarta dan Indramayu beserta Dede Indrawati. Normalnya 4 jam perjalanan menjadi sesuatu yang worth it bersamanya. Segala atmosfer yang melingkupi perjalanan bersamanya menjadi fine-fine saja.

Dan saya akan merindukan dengan cara saksama suatu penggalan waktu itu. Di saat kami kelaparan dan makan pop mie bersama lagi dan lagi. Serangkaian kisah sederhana di bis yang menyingkap jarak antara Jakarta-Indramayu.

12 Oktober 2016

Layar televisi ketika saya membuka bidak kata penulisan adalah film ‘Dragonball: Evolution’. Tentu film tersebut berantakan dan kacau adanya. Namun, film itu memantik memori saya pada kata ‘Dragonball’. Di Januari 2016, istri saya (Dede Indrawati) pernah bertanya, “Kalau kamu punya Dragonball mau digunakan untuk apa?” Tanpa pikir panjang saya pun menjawab, “Saya mau minta kamu sembuh.”

Asa itu memang tidak sejalan dengan kenyataan pada akhirnya. Januari 2016 kondisi istri saya, Dede Indrawati memang semakin terasakan sakitnya. Dan ketetapan Allah SWT mentakdirkan 13 Maret 2016 sebagai perpisahan di dunia ini. Istri saya meninggal muda. Umurnya baru 25 tahun ketika itu.

Saya teringat dengan perbincangan di masa lalu. Saya dan Dede sama-sama tahu, kanker usus stadium IIIB merupakan sesuatu yang serius. Kami benar-benar memaknai waktu kebersamaan kami. Dan saya pun terpagut pada kalimat Achilles berikut:

The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again. 

Di perbincangan masa lalu tersebut, istri saya pernah membayangkan jika dirinya meninggal lebih dulu, akankah saya menuliskan banyak hal tentangnya?

Meski secara legal formal pekerjaan saya adalah wartawan, namun untuk menulis hal tersebut membutuhkan jarak dan jeda waktu. Ada banyak perasaan yang bertumpuk setelah istri saya meninggal. Saya butuh waktu untuk menertibkan pikiran, menata emosi, serta mengatur ritme hidup lagi.

Seperti layaknya tulisan sejarah, saya pun harus menggali segala arsip. Baik itu yang sifatnya digital, tulisan tangan, ataupun yang tersimpan di ingatan dan menghangat di perasaan. Maka di 12 Oktober 2016 ini, saya pun bertekad untuk memulai kisah itu. Saya percaya dari Dede Indrawati banyak hal yang bisa diteladani dan dipelajari.

12 Oktober 1990, istri saya, Dede Indrawati terlahir di dunia. Saya berterima kasih di antara milyaran manusia, dapat menemukannya sebagai pasangan hidup.

12 Oktober 2016, saya akan mencoba memulai kisah tentang Dede Indrawati dari sudut pandang saya.

Ramadhan, Lebaran, Kesendirian, dan Kebersamaan

Mungkin Lebaran 1437 Hijriah adalah momentum Hari Raya paling sepi yang pernah saya alami. Sepanjang Ramadhan ini relatif saya benar-benar sendiri. Terutama ketika waktu sahur, kesendirian itu menyengat. Untungnya terdapat Piala Eropa 2016 yang membantu dan memotivasi saya untuk bangun sahur. Soal menu, bagi seorang yang belum punya kemampuan masak, maka segala ‘makanan jadi’ menjadi pilihan.

Sekejap memutar roda waktu, saya pun terkenang dengan ragam bulan puasa ataupun Lebaran yang saya alami. Musim lalu tentunya saya berpuasa dan berlebaran bersama istri tercinta. Sebuah momentum untuk pertama kalinya sebagai kepala keluarga. Tentu banyak kenangan, keriangan yang masih bersenandung di ingatan pada musim 1436 Hijriah. Bagaimana kami sahur bersama ataupun ada hari yang terlewat tanpa sahur. Bagaimana kami berbuka puasa dengan sanak famili ataupun sobat.

Lalu putaran purnama itu bergerak. Dan kenyataan pun berdetak. Segala rona kehangatan, kebahagiaan, kebersamaan yang relatif menguap pada musim ini semestinya menjadi bahan baku kontemplasi. Tentu saya bersyukur sangat dengan apa yang dialami dan dilakoni musim lalu. Maka ketika kesendirian itu datang, seperti diingatkan pada hakikat diri. Bukankah pada akhirnya akan berpulang ke negeri akhirat sendiri dengan membawa catatan amal?

Kesendirian juga merogoh ingatan pada ragam ilmu sosial yang pernah saya pelajari. Ya, manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Manusia butuh interaksi. Manusia butuh yang lainnya. Chuck Noland dalam film Cast Away menjadikan bola voli sebagai temannya. Pi Patel dalam film Life of Pi menjadikan Richard Parker sang binatang buas sebagai sobatnya. Rangga yang pulang ke Yogyakarta menemukan kehangatan kebersamaan bersama keluarga dari ibunya.

Maka bulan puasa ini, Lebaran yang akan menjelang, membawa saya pada lapisan kenangan dan pertanyaan itu. Tentang kesendirian, tentang hangatnya kebersamaan serta pertanyaan transendental dan eksistensial.

Seratus Kurawa & Iri Hati

‘Kurawa’ memiliki arti ‘Keturunan Suku Bangsa Kuru’. Dalam kisah Mahabharata, Kurawa merujuk pada seratus bersaudara yang menjadi musuh bebuyutan Pandawa Lima. Ayah Kurawa adalah Drestarastra, Raja Astina yang buta sejak lahir. Kelahiran Kurawa melalui proses yang ajaib, dilahirkan dalam bentuk gumpalan daging yang merupakan perwujudan iri hati Ratu Gundari terhadap Kunti (Ibu Pandawa). Gumpalan tersebut terpecah menjadi 100 potong, yang akhirnya tumbuh menjadi seratus orang bersaudara. – Garudayana Saga III

Apa yang bisa dihasilkan oleh iri hati? Sengkarut angkara? Iri hati bisa jadi muncul dikarenakan sistem yang dikreasi oleh manusia. Ada ketimpangan yang memang telah disusun secara sistemik. Sebut saja dalam relasi pekerjaan. Adalah ironis melihat begitu besarnya gap pendapatan antara yang satu dengan yang lain. Lalu hal tersebut seolah mendapatkan pembenarannya.

Di kantor saya yang lama, sistem lama yang dibangun memasok iri hati sistemik macam begitu. Bagaimana kue kesejahteraan begitu besar untuk para marketing yang mendatangkan klien untuk dituliskan bukunya. Sedangkan jatah penulis mendapatkan kue kesejahteraan yang relatif jauh hitung-hitungan ekonomisnya dibandingkan porsi marketing.

Lalu “pembenaran-pembenaran” pun disusun. Bahwa marketing-lah yang mendatangkan arus uang masuk. Marketing-lah yang memasok keuntungan bagi perusahaan. Beruntung di kemudian hari, sistem agak terperbaiki dengan adanya porsi tambahan bagi penulis dengan titel uang redaksi.

Meski begitu pengalaman tersebut terpatri erat-erat. Apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?

Lalu terhenyaklah saya dengan situasi di sebuah kantor yang membanderol gaji para marketing-nya dengan kisaran hingga belasan juta. Sedangkan di kantor yang sama gaji para wartawan benar-benar berada dalam taraf minimalis.

Lagi-lagi saya dihadapkan dengan pertanyaan ‘apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?’

Penghargaan, apresiasi, keadilan. Mungkin perkara iri hati bersumbu dari ketiga kata tersebut diantaranya. Bagaimana iri hati bukan tumbuh dari ruang hampa. Melainkan dibentuk secara sistemik oleh sistem yang timpang.

Di negeri para pengolah ini, para penjaja proyek menempati kasta teratas. Sedangkan para profesional yang bergelut dengan kapasitas hanya mendapatkan porsi kue kesejahteraan yang kesekian.

Ah, mungkin telah beternak secara eksponensial para Kurawa dikarenakan sengkarut ketidakadilan sistemik macam begini.

Meniup Debu & Menulis Kembali

Sudah lama kiranya saya tiada berselancar di kanal blog pribadi? Apologi? Mungkin keseimbangan baru dimana saya masih mencoba untuk merangkainya. Ada unsur-unsur yang memenuhi komponen waktu dan disana saya berusaha menyesuaikan keseimbangan yang baru. Namun kiranya setelah sekian purnama tidak mempublikasi tulisan baru di blog ada kehampaan tersendiri. Maka saya pun memilih untuk kembali mengaktifkan blog.

Menulis di blog ternyata merupakan kemerdekaan tersendiri. Alangkah bahagianya memiliki kanal dimana dapat mengartikulasikan pikiran secara independen. Menulis apa saja yang menurut diri ini penting. Berbagi apa yang bisa dibagi.

Semoga saya dapat konsisten untuk kembali melalui kanal blog ini. Apa saja. Dengan ragam artikulasinya.

Hmm..saking lamanya saya tidak menulis di blog hingga untuk judul saya tidak menemukan caranya. Saya akan mencari tahu bagaimana caranya.

Adalah kegembiraan teramat besar dapat berselancar kembali. Tetap asah pena dan terus berbagi pengetahuan.

Salam hormat.

Posted in Aku, Essai

Kepompong Intelektual

Bersukaria dengan liburan, itulah kiranya yang dialami dengan jatuhnya hari libur  tanggal 25 Desember 2014 pada hari Kamis. Durasi liburan yang lumayan lama itu bagi saya justru adalah kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Inilah kiranya yang mungkin menyebabkan dibutuhkan deadline. Dikarenakan ada kecenderungan dari manusia untuk bermanja-manja bersama waktu. Dan boleh dibilang saya adalah tipikal orang deadliners. Dikarenakan sumbu waktu kian menipis dengan deadline, maka saya pun memutuskan untuk menggunakan waktu liburan untuk maraton menulis.

baca 1

Untuk maraton menulis saya membutuhkan berada dalam kepompong intelektual. Kepompong intelektual dalam artian saya membutuhkan waktu yang panjang untuk maraton menulis. Ada kesendirian di dalam kepompong intelektual ketika saya bergulat dengan ragam ide, bacaan, dan pilihan artikulasi. Kepompong intelektual juga upaya untuk fokus menyelesaikan tulisan secara intens. Dengan demikian terjadi penyingkiran hal-hal yang tiada penting. Bahkan terkadang saya mematikan ponsel untuk mendapatkan konsentrasi yang utuh. Strategi kepompong intelektual ini kiranya memiliki basis sejarah dalam tulisan saya sebelum-sebelumnya. Ketika waktu telah menipis, sedangkan jatah tulisan yang harus diselesaikan masih banyak, maka saya menggunakan strategi kepompong intelektual.

Saya percaya adanya bahwa ragam pekerjaan memiliki kekhasannya tersendiri. Seperti menulis. Bagi saya menulis memiliki titik ruang sunyi. Di sana penulis membutuhkan penggalian dari dirinya sendiri. Di sana penulis perlu berdialog dengan diri sendiri. Menulis bagi saya bukanlah perkara yang dapat dicakapkan dan dibincangkan dengan riuh dan hiruk pikuk. Menulis adalah kesunyian tersendiri. Oleh karena itu saya kerap mendapatkan power dan speed lebih ketika sunyi bertautan dengan nuansa alam, yakni pada malam hari dan dini hari.

school a

Berada dalam kepompong intelektual memungkinkan untuk terjadinya fokus dan selektif dalam hal pembacaan. Mana kiranya referensi yang dapat menguatkan. Maka mungkin apabila Anda mengalami kebuntuan, kegagalan dalam penyelesaian cerita dalam bentuk tulisan, karya tulis, mungkin Anda perlu kiranya untuk memfokuskan waktu benar-benar untuk menulis. Berada dalam kepompong intelektual. Tak ada salahnya bukan menyelesaikan segala karya tulis yang belum terselesaikan dengan menyediakan waktu yang panjang untuk secara intens mengerjakannya? Mari berada di kepompong intelektual untuk beberapa lama, lalu kemudian keluar dari kepompong dengan perasaan gembira dimana sejumlah karya tulis telah terselesaikan.

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Storyteller

Manusia selalu berusaha untuk beradaptasi antara equilibrium yang satu dengan equilibrium yang lain. Dan itulah kiranya yang saya alami. Nyatanya untuk rutin menulis dan membaca secara tekun dibutuhkan kebulatan tekad dan alokasi waktu tertentu. Sudah sekian lamanya saya tiada membuat esai yang baru. Saya lebih banyak mengeluarkan narasi dalam bentuk puisi. Jika boleh menyatakan apologi dengan sekian lamanya absennya esai adalah adaptasi terhadap equilibrium yang baru. Dan dengan esai ini saya berharap esai-esai baru lainnya akan kembali mentas dan mengalir. Ada banyak hal yang ingin saya utarakan dalam bentuk kata. Dan saya harap dapat kembali berkomitmen untuk melukiskan cerita dalam narasi kata.

school a

Menulis nyatanya seperti bercerita. Dan kita dapat mengambil sumbu idenya darimana saja. Kita dapat membagi cerita mengenai serunya suatu buku, film yang memancing otak untuk berpikir, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Selama dalam masa hibernasi menulis esai, saya menyempatkan diri untuk membaca blog lainnya. Adalah pada storyteller yang menjadi jiwa utama. Sesederhana itu. Namun itulah yang menggerakkan lusinan waktu untuk dihabiskan dalam dunia blog. Dalam hibernasi, saya pun membaca sejumlah tulisan lawas saya. Betapa saya memiliki energi untuk mencatat, merangkai kalimat dengan referensi pustaka. Ada kegembiraan tersendiri ketika cerita itu telah tersaji rapi di ranah blog. Dan energi itulah kiranya yang bergerak di pusat kesadaran saya. Untuk kembali menekuni dunia blog. Untuk kembali menuliskan apa saja yang saya pandang menarik.

pen 2

Melalui karya tulis itulah maka kita dapat menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’. Bukankah melalui ranah blog menjadi medium yang tepat bagi diseminasi gagasan demokrasi. Kita dapat mendefinisikan diri kita. Kita tahu apa yang kita mau. Kita akan diuji oleh sidang pembaca mengenai segala ragam tulisan yang telah kita hasilkan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa negatifisme bahwasanya tulisan kita itu mengecewakan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa seleksi, entah itu dari media mainstream ataupun penerbit. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itulah kiranya yang dapat membuat daya tutur tersumbat. Alangkah banyaknya informasi, pengetahuan yang batal beredar dikarenakan buah dari ‘tirani di kepala masing-masing’. ‘Tirani di kepala masing-masing’ dapat menyebabkan digantungnya pena, laptop yang tiada menjadi wadah dapur karya, pikiran yang termampatkan dan tidak terbebaskan untuk bercerita.

pen 1

Kita mengenal istilah citizen journalism. Kita mengenal blog. Dan kedua hal tersebut dapat menjadi kanal untuk bercerita. Dapat menjadi kanal untuk mendiseminasi gagasan. Semuanya berpulang pada diri kita. Akankah akan menggunakan momentum demokrasi di Indonesia ini untuk berkembang melalui tulisan ataukah tidak. Dan kita beruntung berada pada kombinasi antara demokrasi dan kemajuan teknologi informasi. Kita dapat lebih utuh menjadi warga negara. Mengungkapkan isi kepala sembari menyebarkannya ke khalayak ramai.

books

Budaya membaca dari negeri ini saya percaya akan meningkat apabila masing-masing dari kita mulai bergiat dalam berbagai skala untuk menulis. Bayangkan banyaknya sebaran ilmu, cerita yang terkodifikasi dengan ragam latar belakang pengalaman, budaya, pendidikan. Saya percaya budaya menulis akan bertalian kuat dengan budaya membaca. Dan tak perlu menunjuk siapa-siapa untuk menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’ itu. Setiap dari kita dapat menggagas perbaikan dengan menulis dan berbagi kepada dunia. Selamat menjadi storyteller..