Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sejarah

Soekarno Juga Manusia

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama Soekarno? Keberaniannya melawan pihak asing dengan mengatakan ‘go to hell with your aid’, nasionalisme dan internasionalismenya, proklamasi yang dilakukannya, orasi pidatonya yang menggelegar. Film Soekarno: Indonesia Merdeka yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo boleh dibilang menempatkan Soekarno sebagai seorang manusia. Selama ini mungkin pesona publik telah sampai pada taraf mengkultuskan sang putera fajar ini. Dari rangkaian spanduk, poster tentang Sukarno, dari salah satu partai besar di Indonesia apakah yang dijual adalah pemikirannya atau sekadar sosok mitologis agungnya?

Jika mendedah secara historis dan keilmuan akan didapatilah bahwa sang putera fajar pengagum tokoh Bima ini adalah manusia biasa. Sepanjang menonton film Soekarno: Indonesia Merdeka sejumlah literatur terkait beliau muncul di otak saya. Sebut saja mengenai hubungannya dengan Inggit Garnasih, maka saya terbetik ingatan pada buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno karya Ramadhan K.H. Ketika Soekarno muda belajar orasi, maka saya terbetik ingatan pada buku Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia. Ketika sejumlah wanita penghibur dilokalisasi untuk memenuhi nafsu para tentara Jepang, maka saya terbetik ingatan pada majalah Historia nomor 3 (halaman 35-66) yang membahas Perempuan dalam Cengkraman Jepang. Ketika Soekarno menyampaikan dasar-dasar negara yang dikenal dengan Pancasila, saya pun teringat pada buku Tudjuh Bahan2 Pokok Indoktrinasi.

soekarno

Jika meminjam kalimat dari Goenawan Mohamad maka “sang tokoh akan dianggap telah selesai, tinggal dipuja. Ada yang membeku dalam dirinya.” Maka dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ini maka sang proklamator ini “dihidangkan” kembali ke alam realitas kekinian dengan menghadirkan sisi kemanusiaannya. Soekarno dapat sakit seperti terserang malaria, Soekarno dapat galau terkait cintanya dengan Inggit dan Fatmawati, Soekarno yang berdebat dengan Sjahrir dan para pemuda, dan lain sebagainya.

Dalam kajian ilmu sejarah di luar negara merupakan sudah lazim untuk meneropong seorang tokoh sejarah secara lengkap. Bahkan hingga kisah ranjangnya diungkap. Sedangkan di negeri ini pembelajaran sejarah memang masih kerap terdistorsi. Rezim pemerintahan di masa lalu berkenan untuk menghegemoni makna dan wacana. Seperti diungkap oleh George Orwell dalam novelnya 1984 bahwa Who controls the past controls the future; who controls the present controls the past.

Masyarakat negeri ini juga seyogianya mulai membiasakan diri untuk menerima ragam versi dari sejarah. Masyarakat juga harus mulai menerapkan sikap ilmiah terhadap tokoh sejarah, bukan sekadar memperlakukannya sebagai tokoh yang beku, mitologis, dan tidak dapat diperdebatkan.

1984

Meneropong sosok Soekarno memang bukan merupakan hal yang mudah. Ada multifaset disana. Mana kiranya yang harus dipilah dan dipilih dari sisi kehidupan Presiden pertama Republik Indonesia ini. Maka dipilihlah mozaik ketika Soekarno kecil, Soekarno muda yang memberontak, dipenjara hingga menghasilkan pidato Indonesia Menggugat, masa pengasingan di Bengkulu, masa pendudukan Jepang, hingga mencapai kulminasi pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dibedah secara sisi humanis, Soekarno juga memiliki banyak sisi yang menarik untuk ditelusuri dan diangkat. Pembuat film ini bisa saja tergoda untuk mengulang resep sukses tokoh sejarah yang dipadukan dengan kisah cintanya. Film Habibie & Ainun merupakan contoh otentik dan generik yang merengkuh sukses luar biasa. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ada kisah cinta, namun rumit. Soekarno yang telah beristrikan Inggit Garnasih, untuk kemudian di masa pengasingannya di Bengkulu tertarik kepada Fatmawati.

Penyambung Lidah

Inggit yang dengan apik dimainkan oleh Maudy Kosnaedi ini memang merupakan sosok yang berperan besar bagi seorang Soekarno. Sebelumnya Soekarno pernah menikah dengan Oetari, lalu kemudian bercerai. Inggit semula adalah ibu kost dari tempat Soekarno bermukim. Perbedaan usia selama lebih dari 1 dekade tiada menjadi halangan bagi Soekarno dengan Inggit untuk memadu kasih. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka bagaimana dilema disajikan ketika Soekarno terpikat hati yang lainnya, problema dimadu, tiada memiliki keturunan.

Cinta ini rupanya berdampak sistemik bagi Soekarno. Namun hidup harus memilih, dan dengan berat hati Soekarno menceraikan Inggit dan menjemput takdir lainnya yakni bersama Fatmawati.

Bagian lainnya yang sarat kontroversi tentu saja ketika masa pendudukan Jepang. Perlu diingat pilihan Soekarno untuk bekerja sama dengan Jepang memang menuai kecaman dari beberapa kalangan. Kecaman itu digambarkan dengan pelemparan batu rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56, debat seru dengan Sjahrir.

soekarno-hatta

Soekarno juga terlihat “lemah” ketika harus berkompromi dengan memberikan alternatif dengan menghadirkan wanita-wanita penghibur untuk memuaskan hasrat seksual para tentara Jepang. Pun begitu dengan pengerahan kerja paksa dalam bentuk romusha. Bagaimana Soekarno digambarkan sebagai ikon propaganda dari kalangan pihak Jepang. Tentunya hal ini memerlukan kecermatan sejarah untuk menjawab mozaik masa pendudukan Jepang tersebut. Maka saran saya adalah silahkan sidang pembaca untuk membaca majalah Historia nomor 3 halaman 35-66 yang dimana akan memberikan pengetahuan mengenai para ianfu di masa pendudukan Jepang tersebut. Dengan pengetahuan sejarah tersebut maka akan menghindari penilaian, penghakiman yang tendensius. Seperti disarikan dari pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: “Aku percaya kalian tidak akan suka menjadi korban bangsa apapun. Juga tidak suka bila anak-anak gadis kalian mengalami nasib malang seperti itu. Artinya, kalian juga tidak akan suka bila ibu-ibu kalian –para perawan remaja pada 1943-1945- menderita semacam itu.”

Sisi lainnya yang menarik dari film Soekarno: Indonesia Merdeka ini dalam hemat saya adalah silang pendapat antara Soekarno-Hatta-Sjahrir. Sayangnya Sjahrir yang intelek, diperankan terlalu meledak-ledak, dan terlihat sekilasan sebagai “antagonis”. Meski ketika detik-detik menjelang proklamasi diperlihatkan bagaimana Sjahrir (diperankan Tata Ginting) turut menyokong Soekarno-Hatta, namun kesan meledak-ledak dan “antagonis” belum sepenuhnya luruh. Sedangkan Hatta (diperankan Lukman Sardi) mampu memperlihatkan ketenangan, kehati-hatian, visioner.

chess

Seperti dituturkan oleh Herbert Feith bahwa tipikal Hatta adalah administrator sedangkan Soekarno adalah pembentuk solidaritas. Hatta dengan cermat mengutarakan kekhawatirannya yang terbukti di kemudian hari. Mulai dari bentuk pemerintahan, otonomi daerah, ketimpangan antardaerah, dan sebagainya.

Adapun mengutip pendapat dari Goenawan Mohamad mengenai adminstrator dan pembentuk solidaritas dapat dilihat dalam paragraf berikut (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 479):

Soekarno menciptakan simbol dan menekankan kembali tuntutan mesianis serta janji-janji Revolusi. Hatta menyusun kebijakan administratif dan mendesakkan perlunya realisme. Seorang “administrator” menekankan perlunya legalitas dan terpeliharanya kontrol. Seorang “pembentuk solidaritas” bicara dengan hati bergelora tentang rakyat – tentu saja “rakyat” bukan sebagai kenyataan yang terbagi-bagi, melainkan suatu keutuhan, suatu daya, suatu gairah.

film Soekarno

Saya teringat dengan uraian sejarawan Asvi Warman Adam bahwa tujuan utama penulisan biografi adalah mencoba menangkap dan menguraikan jalan hidupnya dengan lingkungan sosial-historis yang mengitarinya. Tujuan kedua biografi adalah memberi baju “baru” kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari sang tokoh dalam sejarah. Apakah ia yang menentukan jalannya sejarah, atau ia tak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam kedudukan strategis (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah “Hidup atau Mati”, hlm. XI-XII).

Maka agar tiada membeku, menjadi kultus tanpa pemahaman, maka film Soekarno: Indonesia Merdeka ini menarik adanya untuk memantik kembali sosok dan pemikiran dari sang putera fajar ini.

Kita ogah – atau kita belum – menampilkan satu potret “antihero”, dalam sejarah kita. Pahlawan nasional bukanlah orang-orang lazim yang bisa dianalisa dengan pisau urai yang tajam. Bayangkan keributan yang terjadi jika seseorang berani menyajikan suatu risalah yang kritis tentang Bung Karno, atau Bung Hatta, Diponegoro, atau Pattimura. Mungkin itulah sebabnya kita terdiam (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm.47). Mungkin begitulah kiranya yang menyibak dan menyebabkan mengapa film Soekarno: Indonesia Merdeka menuai sejumlah kontroversi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Advertisements
Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Minat Membaca

Dunia literasi erat kaitannya dengan buku. Untuk mengukur daya baca dan daya tulis dari suatu negeri salah satu parameternya ialah dengan melihat buku yang diterbitkan dalam setahun. Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Maka dalam setahun, Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku. Jika dibuat komparasi maka jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca 3-4 orang. Apabila menilik standar UNESCO, maka idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Hitung-hitungan tersebut menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah.

Upaya untuk meningkatkan minat baca di era sekarang ini menemui hambatan berupa era digital. Era digital dapat menjadi distraksi dari minat membaca. Di negara maju, era digital terjadi ketika masyarakatnya sudah hobi membaca. Sedangkan di Indonesia memasuki era digital ketika minat bacanya masih rendah. Era digital yang bertalian dengan minat baca masih rendah dapat berhilir pada budaya copy paste. Era digital memudahkan untuk terjadinya penjiplakan dan pencuplikan sana-sini. Orisinalitas ide, koherensi gagasan menjadi tanda tanya. Memang boleh dibilang jika ingin memiliki daya tulis yang mumpuni maka harus ditopang oleh daya baca yang baik. Jika meminjam istilah Helvy Tiana Rosa dengan menjadi predator buku.

child

Bagaimana kiranya solusi untuk meningkatkan minat baca? Untuk meningkatkan minat baca harus ada program membaca di level pendidikan dasar. Siswa diwajibkan membaca dan menulis. Dengan begitu masyarakatnya meminjam istilah Taufiq Ismail tidak lagi mengalami rabun membaca dan pincang menulis. Taufiq Ismail sendiri memandang bahwa sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa bangsa yang hebat ternyata masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Masyarakatnya sejak dini sudah terlatih dan terbiasa membaca.

Mari menengok ke masa penjajahan Belanda untuk sejenak mengambil pembelajaran. Pada masa penjajahan Belanda, misalnya siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun.

school a

Bagaimana kiranya dengan siswa SMA di masa kini? Nyatanya tidak ada kewajiban membaca buku. Sehingga diistilahkan oleh Taufiq Ismail sebagai generasi 0 buku. Padahal, di belahan dunia lainnya sebagai komparasi, siswanya diwajibkan membaca buku. Siswa SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul. Data kewajiban membaca sejumlah judul tersebut diungkapkan oleh budayawan Taufiq Ismail. Saya pun mencoba untuk men-cross check dengan keponakan saya yang menempuh pendidikan SMA di Amerika Serikat. Keponakan saya berkata bahwa kewajiban membaca buku sastra tidak sebanyak 32 judul karya sastra. Namun memang benar bahwa ada kewajiban untuk membaca karya sastra dan membuat esai. Jika ingin mendapatkan nilai bagus menurut keponakan saya, maka harus membaca secara utuh karya sastra yang ditugaskan. Tentu saja ini jauh berbeda dengan pelajaran mengenai karya sastra di Indonesia. Lebih sibuk dengan angkatan sastra, EYD, sedangkan pembacaan karya sastra dan penugasan menulis tiada dikerjakan secara optimal.

Minat baca yang masih rendah ini tentunya akan berimplikasi pada permintaan dan penawaran buku. Tak bisa dipungkiri bahwa buku adalah sebuah bisnis. Untuk terbitnya satu buku maka digunakan kalkulasi bisnis. Tentunya jika minat baca masyarakat Indonesia meningkat maka akan menggerakkan dan menaikkan bisnis buku. Ragam penawaran dari berbagai jenis buku akan semakin variatif dikarenakan ada pasar yang akan menyerap buku yang dilepas ke pasaran.

imajinasi

Untuk meningkatkan minat baca, jika meminjam ide dari Raisa (penyanyi) adalah dengan menimbulkan rasa keingintahuan. Seperti keluarga Raisa yang merupakan pencinta buku. Dikisahkan oleh Raisa bahwa apabila dirinya diliputi oleh pertanyaan, maka ayahnya akan menjawab bahwa jawaban pertanyaan itu ada di buku ini. Hal itu membuat Raisa tergerak untuk membaca dan mencari jawabannya di buku.

Untuk meningkatkan minat baca menurut hemat saya dapat dilakukan dengan pelajaran menulis. Saya percaya bahwa tugas menulis akan membuat seseorang membaca. Tugas menulis akan membawa pada pencarian literatur. Ditambah lagi revisi tulisan akan membuat ada persesuaian antara apa yang ditulis dengan apa yang dibaca. Untuk menghasilkan satu tulisan misalnya, maka sejumlah literatur terkadang harus dibaca untuk menemukan logika pemikiran dan memperkuat argumen.

Pelajaran menulis saya percaya akan menumbuhkan penulis-penulis handal. Dikarenakan untuk mahir menulis maka dibutuhkan pelatihan. Dan pelatihannya adalah dengan menulis. Menulis bukan pelajaran doktriner yang harus dihafal, melainkan dipraktikkan. Dengan pelajaran menulis maka akan berusaha untuk belajar dari gaya penulisan penulis lainnya, daya logika yang disajikan, dan lain sebagainya.

Minat membaca negeri ini yang masih rendah bukan berarti vonis mati dan tidak bisa diubah. Ada ragam cara, solusi yang dapat dikerjakan untuk mengakselerasi, meningkatkan minat membaca dari rakyat Indonesia. Semoga di hari-hari mendatang bangsa ini tiada lagi menjadi bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis.

^^Penulisan esai ini harus berterima kasih pada data yang saya dapatkan dari harian Kompas edisi Kamis, 16 Januari 2014.

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sejarah

Sejarah Dibentuk Para Penguasa

Ada hal menarik dalam kisah The Bartimaeus Trilogy, yakni terkait dengan sejarah. Bagaimana sejarah dibentuk oleh para penguasa. Hal tersebut terkonfirmasi dalam 2 sampel. Sampel pertama ialah mengenai peralihan kekuasaan yang dilakukan oleh Gladstone. Simak apa yang diucapkan oleh guru sejarah dari Kitty Jones (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 66):

“Aku hanya dapat menjawab pertanyaan satu demi satu, Kitty; aku bukan penyihir! Inggris mujur, itu saja. Praha memang lamban dalam bertindak; si kaisar menghabiskan banyak waktu untuk minum bir dan pesta pora. Tapi dia pasti akan mengalihkan pandangan ke Inggris juga akhirnya, percayalah. Untung bagi kita, ada beberapa penyihir di London zaman itu, yang dimintai nasihat oleh para menteri malang yang tak memiliki kekuatan apa pun. Dan salah satunya adalah Mr.Gladstone. Dia melihat betapa berbahayanya situasi kala itu dan memutuskan menyerang terlebih dulu. Ada yang ingat apa yang dilakukannya, anak-anak? Ya—Sylvester?”

“Dia meyakinkan para menteri untuk mengalihkan kekuasaan kepada dirinya, Sir. Dia bertemu mereka suatu sore dan berbicara begitu pandainya sehingga mereka memilihnya sebagai Perdana Menteri saat itu juga.”

“Benar sekali, bagus, Sylvester, kau akan mendapatkan imbalan. Ya, itu Malam Perundingan Panjang. Setelah debat yang panjang di Parlemen, kefasihan lidah Gladstone memenangkan perdebatan dan para menteri dengan suara bulat bersedia mengundurkan diri. Dia mengatur penyerangan defensif ke Praha tahun berikutnya, dan menggulingkan Kekaisaran…”

Dalam kajian ilmu politik, apa yang dilakukan oleh Gladstone tersebut merupakan kudeta. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian memerintah. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian mempromosikan para penyihir untuk menempati level-level atas pemerintahan. Dan inilah sisi menarik dari kudeta. Jika gagal, maka pihak yang mengkudeta akan dicap sebagai pemberontak, pesakitan, dan bersalah. Sedangkan jika kudeta berhasil, maka pihak yang mengkudeta akan ditabalkan sebagai pahlawan, perbuatan kudetanya menjadi benar.

Kitty Jones yang merupakan seorang commoner memiliki perspektif tersendiri mengenai pelajaran sejarah. Seperti terungkap dalam nukilan berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 64):

Sejarah mata pelajaran yang juga penting; setiap hari, mereka menerima pelajaran mengenai kejayaan Kerajaan Inggris. Kitty menikmati pelajaran-pelajaran ini, yang berisi banyak cerita magis dan negeri-negeri jauh, namun ia merasakan adanya batasan tertentu dalam apa yang diajarkan kepada mereka. Ia sering mengangkat tangan.

Bagaimana Kitty menggugat bahwa pemerintahan akan baik-baik saja tanpa eksekutif harus dipegang oleh kaum penyihir. Seperti terlihat dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“Tolong, Sir, beritahu kami lagi tentang pemerintahan yang digulingkan Gladstone. Anda berkata pemerintahan kala itu telah memiliki parlemen. Kita punya parlemen sekarang. Jadi mengapa pemerintahan yang lama itu buruk?”

Well, Kitty, jika mendengarkan dengan baik, kau tentunya tahu aku berkata Parlemen Lama lemah. Parlemen itu dijalankan oleh orang-orang biasa, seperti kau dan aku, yang tak memiliki ilmu sihir sedikit pun. Bayangkan itu! Tentu saja, artinya mereka selalu dilecehkan negara-negara lain yang lebih kuat, dan tak ada yang dapat mereka lakukan untuk menghentikannya…”

Nyatanya dalam The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem terdapat stratifikasi yang jelas dimana kaum penyihir berada di lapis teratas. Sedangkan kaum commoner berada di lapis bawah. Hal tersebut terkonfirmasi dengan sikap kedua orang tua Kitty sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 60):

…Tapi tak lama Kitty bisa menentukan mana yang penyihir dari petunjuk lain: pancaran mata keras para pelanggan, pembawaan mereka yang tenang dan berkuasa; di atas segalanya, sikap ayahnya yang tiba-tiba menjadi tegang. Ayahnya selalu tampak canggung bila berbicara dengan para penyihir, pakaiannya segera kusut karena gelisah, dasinya miring. Ia mengangguk dan membungkuk setuju saat mereka berbicara. Tanda-tanda ini nyaris tak tampak, tapi cukup jelas bagi Kitty, dan ini membuatnya bingung bahkan gelisah, meskipun ia tak tahu mengapa.

Mata Golem

Sampel berikutnya yang menunjukkan bahwa sejarah dibentuk para penguasa ialah dalam melihat Kaisar Ceko. Peperangan antara Inggris dan Ceko pada tahun 1800-an dimenangkan oleh pihak Inggris. Bartimaeus yang pada tahun 1868 berada di pihak penyihir Ceko memberikan sudut pandangnya mengenai Kaisar Ceko (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 20):

Akhirnya kami tiba di teras tempat selama empat tahun ini sang Kaisar memelihara burung-burung dalam sangkar. Sangkar itu besar sekali, dibuat dengan amat halus dari perunggu berornamen, dilengkapi kubah, menara, dan birai tempat memberi makan, juga pintu-pintu tempat sang Kaisar dapat keluar-masuk. Interiornya dipenuhi pepohonan dan semak dalam pot, juga berbagai jenis nuri yang menakjubkan, yang nenek moyangnya dibawa ke Praha dari negeri-negeri jauh. Sang Kaisar tergila-gila pada burung-burung ini; akhir-akhir ini, saat kekuatan London meningkat dan kekuasaan Kekaisaran terenggut dari tangannya, ia suka duduk lama di dalam sangkar, berbicara dengan kawan-kawannya.

Namun lihatlah bagaimana dalam pelajaran sejarah yang diberikan di era modern. Jakob (sahabat Kitty) yang memiliki leluhur dari Ceko disudutkan oleh guru sejarahnya. Sedangkan opini yang dibentuk dan dikreasi adalah Kaisar Ceko merupakan pembunuh burung nan kejam. Simak dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“…Kaisar Ceko memimpin sebagian besar daratan Eropa dari istananya di Praha; dia begitu gemuk sehingga duduk di singgasana beroda dari besi dan emas dan ditarik-tarik di sepanjang koridor oleh seekor kerbau putih. Ketika dia berniat meninggalkan istana, mereka harus menurunkannya menggunakan katrol. Dia punya sangkar burung parkit besar dan menembak seekor, warnanya berbeda setiap malam, untuk makan malamnya. Ya, kalian boleh merasa jijik, anak-anak. Begitulah jenis pria yang memimpin Eropa zaman itu, dan Parlemen Lama kita tak berdaya melawannya. Ia memerintah segerombolan penyihir mengerikan yang amat kejam dan korup, dipimpin Hans Meyrink, diduga vampir…”

Sejarah sebagai kajian ilmu memang terkadang bias. Oleh karena itu ketika rezim berganti, berbagai hikayat sejarah yang berbeda dapat muncul. Hikayat sejarah yang berbeda dengan versi sejarah ala pemerintahan sebelumnya. Penguasa dalam hal ini memang berkepentingan untuk mengkreasi sejarah. Melakukan glorifikasi atas pencapaiannya, memburamkan segala catatan negatif. Disinilah diperlukan kearifan penyikapan dan studi literatur yang solid untuk membenderangkan kisah masa lalu yang terjadi. Dari 2 sampel yang saya kemukakan di atas dari kisah The Bartimaeus Trilogy menurut hemat saya memiliki kesamaan substansi dan makna dengan yang terjadi di dunia nyata. Bagaimana sejarah menjadi medan yang juga harus dimenangkan oleh penguasa. Untuk memenangkan memori kolektif dari publik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Sosial Budaya

Visual Memikat 99 Cahaya

Melihat film 99 Cahaya di Langit Eropa adalah melihat keindahan visual kota-kota di Eropa. Penonton dibawa untuk menelusuri kota Wina dan Paris. Paris yang tiada sekadar Menara Eiffel, museum Louvre. Film 99 Cahaya di Langit Eropa berangkat dari novel best seller karangan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.

Dalam versi novelnya sentral utama cerita adalah Hanum. Hanum yang menemukan cahaya dan kebesaran Islam justru ketika berada di benua Eropa. Hal yang tidak berlebihan dikarenakan seperti dituturkan oleh Ahmad Suhelmi bahwa ada tiga peradaban yang mempunyai peranan penting terhadap pembentukan tradisi keilmuan dan pemikiran politik Barat: Yunani-Romawi, Judeo-Kristiani dan Islam.

Menarik adanya jika menilik apa yang diungkap oleh Ahmad Suhelmi tentang pengaruh Islam dalam tradisi keilmuan dan pemikiran politik Barat (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 18-19):

Watak Islam yang demikian ini pulalah yang menyebabkan penaklukan-penaklukan Islam tidak diiringi oleh proses penghancuran peradaban-peradaban lokal negeri-negeri yang ditaklukkan. Islam membiarkan, bahkan dalam tingkat tertentu, memperkaya peradaban-peradaban negeri-negeri taklukan itu. Tidak seperti yang dilakukan para penakluk Cina, kaisar Hulagu misalnya, yang secara biadab menghancurkan kekayaan khazanah intelektual, membakar perpustakaan-perpustakaan dan warisan sejarah Islam ketika berhasil menaklukkan kota Baghdad. Watak Islam yang demikian itu juga yang secara gemilang berhasil menaklukkan, mempersatukan dan mensintesakan berbagai peradaban dunia yang tumbuh subur mulai dari kawasan Andalusia Spanyol hingga dataran Cina.

Umat Islam menerima secara kreatif warisan Yunani-Romawi, juga warisan peradaban negeri-negeri taklukan lainnya, karena watak mereka yang kosmopolis dan universalis. Mereka, seperti ditulis Nurcholis Majid, memandang diri mereka sebagai bagian dari seluruh kemanusiaan universal dan yang berada dalam lingkungan kewarganegaraan dunia. Dalam wujud historisnya sikap kosmopolitan dan universalis itu, menurut Nurcholish mengutip Halkin: “Adalah pujian untuk orang-orang Arab (baca: Muslim, pen.) bahwa meskipun mereka menjadi pemenang secara militer dan politik namun tidak memandang hina peradaban-peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan. Kekayaan budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka adaptasi ke bahasa Arab segera setelah mereka temukan. Para khalifah, gubernur dan lain-lain menjadi pelindung para sarjana yang melakukan kegiatan penerjemah, sehingga sangat luas ilmu bukan Islam dapat diperoleh dalam bahasa Arab.”

99 cahaya

Kembali ke ulasan film 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum (Acha Septriasa) yang ber-traveling bersama Fatma (Raline Shah) dan Ayse (Geccha Tavara) di kota Wina. Disanalah Hanum mendapatkan makna mengenai roti croissant, lukisan Kara Mustafa, restoran Der Wiener Deewan yang memiliki slogan “All You Can Eat. Pay As You Wish”. Hanum yang belajar dari Fatma perihal menjadi agen muslim yang baik seperti tecermin dari bagaimana penyikapan Fatma yang lebih memilih untuk membayari biaya makan dua orang bule yang mendiskreditkan Turki dan Islam melalui perlambangan roti croissant yang dimakan.

Sementara itu Rangga (Abimana Aryasatya) yang menempuh pendidikan S3 dihadapkan pada aplikasi Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari memilih makanan yang halal, menunaikan ibadah shalat wajib, shalat Jumat yang bertabrakan waktunya dengan waktu ujian, dan sebagainya. Rangga juga mendapatkan godaan dari Maarja (Marissa Nasution) dan bagaimana Rangga dengan cara elegan menghindar dan menampik godaan Maarja.

Rangga juga memiliki teman yakni Khan (Alex Abbad) dan Stefan (Nino Fernandes). Khan digambarkan sebagai Islam garis keras yang tanpa kompromi dalam bersikap. Sedangkan Stefan merupakan seorang skeptis yang terus mempertanyakan mengenai esensi dari ajaran Islam. Simaklah bagaimana perbincangan menarik antara Stefan dengan Rangga dalam hal makanan halal, shalat Jumat, pelaksanaan ibadah wajib yang dianalogikan dengan asuransi, dan sebagainya.

Rangga juga mampu menampilkan sisi romantis yang menghibur dengan sejumlah candaannya kepada istrinya Hanum. Bagaimana pasangan muda ini saling menguatkan dalam kata dan perbuatan.

Sisi drama dari film 99 Cahaya di Langit Eropa didapati ketika Ayse ternyata terkena penyakit kanker. Sejumlah jejak seperti rambut yang rontok, hidung yang mimisan, kiriman dari Marion terkonklusi dengan pengetahuan bahwa Ayse ternyata terkena penyakit kanker.

Menyaksikan film 99 Cahaya di Langit Eropa mengasyikkan secara visual. Mata kita dimanjakan dengan keindahan, kerapihan kota Wina dan Paris. Kita dibawa untuk mengunjungi Menara Eiffel, museum Louvre, Arc de Triomphe du Carrousel, museum Wina, Kahlenberg. Film ini boleh dibilang mampu memotret Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Bagaimana dahulunya Islam mampu merengkuhkan pengaruhnya hingga benua Eropa dan sejumlah peninggalannya masih jelas terlihat. Di samping itu para penganut Islam di benua Eropa menjadi duta-duta Islam yang menebarkan kebaikan dan pesan perdamaian.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sosial Budaya

Manga (2-Tamat)

Dalam hal membaca manga terdapat sejumlah serba-serbi yang menarik. Berikut uraiannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 521-526).

Supaya bisa membaca begitu banyak komik, orang Jepang harus menjadi pembaca cepat. Telah disebutkan tentang kecepatan membaca rata-rata, yakni 20 menit untuk komik 320 halaman yang berarti 16 halaman per menit atau 3,75 detik untuk tiap halaman. Dengan kata lain, terdapat suatu bentuk keterampilan membaca yang dikembangkan oleh generasi baru Jepang.

Ketebalan buku komik Jepang juga memungkinkan penggubah mengembangkan gambar-gambar sebagai efek visual. Komik Amerika bisa dianggap sangat terbatas dalam pemanfaatan ruang dibanding komik Jepang: di koran-koran, baris komik hanya menyediakan empat atau lima panel komik untuk bercerita, sedangkan untuk buku komik tiap penggubah hanya membuat tak lebih dari 20 halaman setiap bulan; bandingkan dengan 30 halaman setiap minggu oleh penggubah komik Jepang. Ketika dibukukan ini bisa menjadi sepuluh jilid atau lebih dari 2.000 halaman. Jika penggubah komik Amerika akan menggunakan satu bingkai yang penuh sesak untuk adegan superhero menghajar musuh, penggubah komik Jepang perlu banyak halaman untuk menggambarkan seorang samurai bertarung dengan lawannya, demi pelukisan dari berbagai sudut pandang kamera. Terdapatnya ruang eksperimen membuat para penggubah komik Jepang menjadi sangat ahli dalam perancangan halaman. Mereka harus membuat halaman itu mengalir; untuk membangun ketegangan dan membangkitkan gairah dengan melakukan variasi atas jumlah bingkai yang digunakan untuk menggambarkan suatu sekuen; selain menggunakan teknik sinematik seperti menghilang dan muncul (fade out-fade in), pengadukan (montage), dan penumpang-tindihan (superimposed).

Bahasa Jepang, melalui manga, memperlihatkan keajaiban dalam efek suara. Komik Amerika juga dikenal karena ciri khas efek suaranya, seperti ledakan (BAROOM!), tinju (POW!), atau senapan mesin (BUDABUDABUDABUDA); tetapi komik Jepang dalam hal representasi suara jauh lebih kaya, karena mereka juga menciptakan suara mulut menyedot mi (SURU SURU), beberapa jenis suara hujan (ZA, BOTSUN BOTSUN, PARA PARA), ataupun suara jres korek api yang menjadi SHUBO. Kemudian, situasi tanpa bunyi pun bisa mereka representasikan melalui bunyi, seperti FU, ketika ninja menghilang di balik kelam; HIRA HIRA, ketika daun berguguran dari pohon; PO, ketika wajah seseorang memerah karena malu; bahkan SHIIIN untuk keadaan tanpa suara sama sekali. Perhatian kepada perincian ini begitu tinggi, sehingga bunyi susu tertuang ke kopi juga diberi efek khusus, yakni SURON.

manga 2

Efek total dari semua itu adalah pembacaan cepat (speed reading). Berlawanan dengan komik Amerika, yang dibaca pelan untuk menikmati gambar serba rinci dan untuk menyerap informasi tercetak, komik Jepang itu hanya ditatap selintas saja (scanned). Artinya ini menuntut lebih dari pembaca, karena harus secara aktif mesti mencari simpulan-simpulan tiap halaman dan menafsirkannya dengan cepat. Pembaca muda Jepang menyapu halaman dengan matanya, bergerak maju-mundur, menyerap informasi dalam gambar dan menambahinya dengan informasi dari kata-kata tertulis. Menatap halaman sebagai keseluruhan mensyaratkan keterampilan, seperti menyedot mi panas dari sebuah mangkok dalam beberapa detik, tanpa mengunyahnya.

Demikian adanya ulasan secara ilmiah yang diungkapkan oleh Seno Gumira Ajidarma mengenai manga. Dalam buku Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan juga dapat kita temui kajian mengenai komik Panji Tengkorak tahun 1968, 1985, dan 1996. Bagaimana kajian tersebut mengulas mulai dari politik identitas sampai bias gender. Tentunya kajian terhadap komik ini diperlukan untuk membedah karya, mengungkap karya, dan meluruhkan skeptisme bahwa komik hanya sekadar main-main serta kekanak-kanakan. Komik nyatanya dapat diteropong dalam berbagai sisi dan multifaset.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sosial Budaya

Manga (1)

Manga tiada bisa dipungkiri merupakan bagian dari keseharian banyak manusia Indonesia saat ini. Bukan hanya segmentasi anak-anak, namun juga menyentuh berbagai lapisan umur. Lalu bagaimana kiranya manga jika dikupas secara ilmiah? Berikut ini akan saya sarikan dari tulisan Seno Gumira Ajidarma dari buku Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan. Selamat menikmati.

Kata manga dalam bahasa Jepang bisa berarti karikatur, kartun, strip komik, buku komik, atau animasi. Sejarah komik Jepang sudah dimulai sejak abad VII, tetapi fenomena manga yang menjadi sangat populer itu dimulai setelah Perang Dunia II usai, ketika Osamu Tezuka membuat komik dengan cara bercerita yang baru; yakni mengadopsi bahasa-bahasa film animasi Amerika, sehingga dikenal antara lain apa yang disebut gaya sinematik (cinematic style). Namun catatan atas manga bukanlah sekadar soal gaya, melainkan segenap aspek perbedaannya dengan fenomena komik Amerika, karena perbedaannya yang memang tajam. Perbedaan itu membuat manga bisa disebut sebagai bahasa komik yang baru. Bahasa komik baru ini terekspor ke mana-mana seiring dengan distribusi bisnisnya dan memberi pengaruh kepada perkembangan komik dunia (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 515).

Ada beberapa ciri yang membedakan antara manga dengan komik Amerika. Berikut tuturannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 516):

Pengenalan pertama adalah perbedaannya secara fisik, yakni (1) ukuran ketebalannya: buku komik Amerika biasa terdiri dari 30-50 halaman, berisi satu cerita bersambung yang terbit bulanan; di Jepang buku semacam terbit tiap minggu dengan 400 halaman dan berisi 20 cerita bersambung ataupun cerita yang selesai—beberapa majalah komik bahkan mencakup 1.000 halaman dengan 40 cerita. Ketika tiap cerita bersambung tamat dan diterbitkan tersendiri akan mencapai 50 jilid dan setiap jilid bisa mencapai 250 halaman. Dengan kemewahan halaman ini, terlihat perbedaan selanjutnya, yakni (2) harganya yang hanya 1/6 dari harga komik Amerika; selain karena perbedaan dalam skala ekonomi, juga karena murahnya jenis kertas yang digunakan di Jepang, yakni kertas daur ulang kualitas rendah dan umumnya cetak monokrom. Ini merupakan akibat perbedaan lain, yakni (3) status sang buku komik, yang siap untuk dibuang di Jepang, dan sebaliknya menjadi koleksi di Amerika; selain bahwa (4) warna merupakan kecenderungan komik Amerika dan hitam-putih sudah cukup bagus bagi orang Jepang.

Lalu bagaimana jika melihat manga secara tema dan pembaca. Berikut uraiannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 518-521).

Keberagaman manga berlanjut kepada tema. Komik Amerika dan Eropa sejak lama sudah berurusan dengan tema-tema yang sangat serius, yang kemudian akan berkembang dalam novel grafis. Meski begitu, walaupun banyak eksperimen menarik, bagian terbesar materi pokok soal dalam komik Amerika adalah untuk golongan pria muda dan dari jenis superhero. Di Jepang, betapapun, terdapat cerita untuk hampir seluruh persoalan yang bisa dibayangkan. Selain terdapat manga yang berkelas sastra, terdapat juga manga berkategori pornografi ringan ataupun berat, untuk pria ataupun wanita. Terdapat cerita tentang masalah hubungan hierarkis dalam pekerjaan kantor yang membosankan, atau kepuasan batin menjual kamera bekas di distrik Shinjuku, Tokyo. Sebagai media massa tulen, manga menyediakan sesuatu bagi pria ataupun wanita, untuk hampir setiap kelompok umur dan nyaris bagi selera apa pun.

manga 1

Kedahsyatan manga yang terpenting terletak dalam kenyataan bahwa mereka merayakan kehadiran orang-orang biasa. Disebutkan, dalam komik Amerika terlihat orang hebat melakukan hal-hal yang luar biasa; dalam komik Jepang bisa diikuti bagaimana orang-orang biasa melakukan kegiatan yang biasa-biasa saja. Tentu juga tidak dipungkiri betapa banyak sampah dalam industri komik Jepang ini. Bahkan cerita yang baik pun akan kehilangan daya pukau dalam kejar-terbit dari minggu ke minggu. Tekanan produksi massa kepada penggubah dan kerakusan penerbit yang berniat memeras sapi perahnya sampai kering, sering berakibat dengan menjadi terlalu panjangnya sebuah cerita.

Tema-tema komik Jepang sebetulnya jauh lebih bervariasi daripada pembacanya. Komik untuk anak laki-laki dengan sangat hati-hati menyeimbangkan ketegangan dengan humor: cerita dramatik tentang olahraga, petualangan, setan, fiksi ilmiah, dan kehidupan sekolah disambung dan diselipi lelucon dan guyon yang ganas. Majalah komik untuk remaja putri juga mencari keseimbangan tetapi terbedakan oleh usaha mereka atas cerita pemujaan cinta, dengan tokoh pria dan wanita yang tampak lebih Kaukasian daripada seperti orang Jepang. Majalah komik dewasa mempunyai tema-tema yang meliputi agama, ataupun yang mengganggu agama seperti para pemerang, penjudi, dan gigolo.

Dalam setiap kategori terdapat kecenderungan atas meningkatnya kecanggihan. Pembaca komik Jepang menuntut, dan penggubah memberikannya, tema yang bukan sekadar pemuda ketemu pemudi ataupun kemenangan yang baik terhadap yang jahat. Maka Osamu Tezuka selama bertahun-tahun menggubah kisah epik mengenai kehidupan Buddha, Reiji Matsumoto menggubah parodi tentang ronin atau calon mahasiswa yang tidak kunjung diterima oleh suatu perguruan tinggi, dan Kazuo Kamimura menggubah kisah tentang masalah kejiwaan pasangan muda yang hidup bersama tanpa menikah. Konsensus umum pembaca komik Jepang adalah bahwa komik harus mengungkap kehidupan sama seperti novel dan film. Namun bisa dipastikan bahwa mereka sangat terpuaskan oleh tema-tema tak terduga yang memberikan pesona visual seperti mah jongg, memotong sayur, bahkan juga ujian sekolah. Para penggubah melebih-lebihkan tindakan dan emosi sampai taraf melodrama dan dengan penuh cinta menghayati setiap perincian dari kehidupan sehari-hari. Dalam istilah Jepang sendiri, komik mereka adalah “basah”; tidak usah malu-malu menjadi manusiawi dan sentimental.

Siapa yang membaca komik di Jepang? Meskipun banyak penerbitan secara khusus ditujukan kepada pria, perempuan, dan kanak-kanak, terlihat pertukaran yang disadari antarpembaca. Dalam sebuah penelitian disebutkan, empat dari sepuluh majalah komik terpopuler di antara para mahasiswa adalah yang ditujukan untuk kanak-kanak. Di Jepang, tidaklah aneh bahwa di dalam kereta api atau bus umum seorang dewasa duduk bersebelahan dengan anak kecil dan keduanya membaca komik yang sama. Juga sering terdengar pengakuan bahwa banyak lelaki dewasa sangat menggemari komik yang ditujukan khusus untuk gadis remaja.

Lima puluh tahun sebelumnya, pola membaca di Jepang mirip dengan Amerika Serikat sekarang. Buku komik adalah untuk anak kecil dan remaja; orang dewasa mengisi diri mereka sendiri dengan karikatur di koran dan kadang-kadang baris komik (comic strip). Kemudian, seteleh perang, dengan berkembangnya struktur naratif yang kuat dalam kisah-kisah untuk majalah komik untuk anak, pada saat menjadi dewasa mereka menolak melepaskan jenis komik yang dibacanya, dan orang dewasa mulai membaca materi yang dirancang untuk anak. Lima penerbitan besar komik Jepang menjadikan kanak-kanak usia antara 10-11 tahun sebagai sasaran pembacanya, tetapi pembaca mereka ternyata meliputi anak yang lebih muda sampai lelaki dewasa paruh baya. Perubahan pola permintaan jadinya menghasilkan terciptanya jalur baru majalah komik bagi anak sekolah dasar, dan merangsang produksi komik yang ditujukan khusus untuk dewasa.

Statistik sirkulasi dan penjualan sulit menggambarkan jumlah pembaca yang sesungguhnya di Jepang, karena tidak mencerminkan jaringan pinjam-meminjam atau baca bersama komik yang disebut mawashiyomi. Setidaknya, satu milyar komik yang telah dipublikasikan pada 1984 saja menunjukkan bahwa terdapat sepuluh komik lelaki, perempuan, dan anak di Jepang, atau 27 komik untuk setiap keluarga. Artinya, buku dan majalah komik ada di mana-mana selama ada manusia. Di toko buku hampir separuh ruangan selalu dipersembahkan kepada komik, dengan tulisan Dilarang Mengkelebet (No Browsing) dan gang tempat buku komik selalu penuh sesak.

(Bersambung)

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Melakukan Hal Spontan

Permasalahan dari seorang pemikir adalah terlalu banyak berpikir. Saya teringat dengan seorang senior di kampus. Dalam lingkup organisasi dia adalah seorang penanggung jawab. Lalu dalam perjalanan waktu, saya pun menemui orang-orang macam senior saya di kampus adalah yang kerap memperrumit suatu pekerjaan. Ketika dulu bergerak di lingkup kampus maka analisa SWOT, data-data analisa dibuat dengan rigid, kaku, dan membosankan. Alhasil belum juga dikerjakan sudah jeri untuk bertindak.

Saya cukup beruntung mendapatkan senior lainnya yang lebih fokus pada activity-activity. Jadi yang dipikirkan adalah kegiatan dan sejumlah karya. Jika mendapatkan ide spontan ataupun menyikapi isu kontemporer maka kami pun bergerak. Alhasil kami menjadi tim yang selalu sibuk untuk berkarya, berkreativitas, dan aktif melakukan kegiatan macam-macam.

Kuncinya adalah pada kata: spontanitas. Jika Anda membaca buku ‘Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati’ karangan Wahyu Aditya maka ‘Lakukan Hal Spontan’ berada pada butir 4. Dalam buku tersebut diambil sampel bagaimana Wahyu Aditya dengan spontanitas membuat logo ‘free prita!’ Logo itu untuk kemudian berdiaspora hingga menjadi logo resmi untuk gerakan dukungan bagi Prita Mulyasari. Logo spontan itu digunakan untuk kampanye melalui T-shirt, stiker, box penggalangan dana, banner, backdrop press conference, hingga poster konser amal (Wahyu Aditya, Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati, hlm. 66).

free prita

Sampel lainnya adalah ketika Wahyu Aditya mendesai cover laptop limited edition untuk Lenovo yang bekerja sama dengan Coca Cola. Berikut saya kutipkan dari buku ‘Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati’:

Ternyata proses pembuatan desain yang saya buat tidak membutuhkan waktu yang lama. Tidak dalam hitungan minggu, cukup dalam satu hari saja. Menurut saya ini semua karena kekuatan spontan. Rasanya kita seperti kena kilatan petir yang berisi ide dan energi, nah tugas kita adalah meresponsnya dengan cepat. Jangan ditunda. Ingat…jangan ditunda!

Menurut saya, kilatan petir yang bernama spontan itu muncul karena kombinasi antara mood kita yang bagus ditambah dengan sesuatu yang menggerakkan kita, entah itu inspirasi atau sebuah peristiwa yang spesial.

Kita seperti seorang pelukis yang diberi kanvas kosong lalu tangan ini seolah mengalir menggoreskan warna demi warna hingga menjadi karya yang tidak diduga.

Dalam hal ini, kita bertemu pada kata kunci: ‘jangan ditunda’. Ide-ide spontan yang kreatif dan baik hendaknya dieksekusi. Tangkap dan ejawantahkan ide itu hingga benar-benar menjadi nyata. Mengapa demikian? Karena seiring waktu, ide spontan itu jika tiada dieksekusi dapat membusuk, terbengkalai, tidak dikerjakan. Maka mumpung ‘petir’-nya (meminjam istilah Wahyu Aditya) sedang didapat maka kerjakanlah dengan segera.

Ada kegembiraan, gairah, semangat, ketika ide spontan itu segera dieksekusi dalam ranah kenyataan. Di sisi yang lain Anda juga menjadi seorang yang beraksi, mengeksekusi, aktif bertindak. Bukan sekadar berwacana, berangan kosong.

Saya teringat dengan perkataan WS Rendra bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Maka segala ide yang terlintas spontan itu bisa jadi menjadi “kata-kata yang menjadi layu”, jika tiada segera dikerjakan. Maka perjuangkanlah “kata-kata”, eksekusi ide kreatif yang bersifat spontan. Rasakan gairah hidup yang sesungguhnya. Selamat mengeksekusi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa