Merakit Kata

“Berhentilah merakit kata. Dengarkan ceritaku. Tatap mataku.” Itu deretan pinta yang sering ku dengar tiap kali dari adikku. Aku dan adikku adalah 180 derajat. Aku si introvert, dia si ekstrovert. Maka kala menemuiku dia selalu meluap-luap dengan cerita ini-itu. Terlebih dia perempuan yang konon harus “menghabiskan” argo 20.000 kata setiap hari. Jadilah aku telinga yang harus mendengar, mendengar, dan mendengar.

Sayangnya menurutku tidak semua ceritanya layak untuk didengarkan dengan saksama. Beberapa kisah terdengar receh, berulang, dan itu-itu lagi. Terlebih aku gemar membaca aneka pustaka, maka segenap bijak bestari dari berbagai penjuru bumi ku dekap erat-erat. Membaca dan menulis pun seolah melemparkanku di orbit yang lainnya.

“Susunan katamu aneh. Baik lisan dan tulisan. Kau berusaha keras untuk menunjukkan cerdasnya dirimu.” Begitu kata adikku suatu waktu mengkritisiku. Aku hanya menatapnya dan bergumam dalam hati bahwa diriku adalah bangsawan kata-kata. Aku intens bergelut, bersentuhan dengan aksara setiap harinya. Maka diksiku, jalur pikiranku akan terlihat dari asupan bacaan-bacaan bergizi dan berbobot itu.

“Kau menginginkan glorifikasi itu. Keabadian. Kejayaan yang melampaui umur biologismu. Kau tergelorakan dengan kalimat: menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kau sesungguhnya takut.” Di termin waktu yang lain adikku menyodorkan luncuran kalimat tersebut.

“Takut?” tanyaku.

Dia mengambil nafasnya, sejenak berpikir, mencari tekstur kata yang tepat untukku.

“Semua bisa musnah dan terlupakan. Itulah kehidupan. Tak selamanya patah harus dikenang dan disimpan dalam top of mind. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Terimalah kenyataan bahwa bisa jadi tak ada lagi yang akan mengingat kita lagi,” tutur adikku dengan muka seriusnya.

Adikku ini tak terlalu suka membaca. 1 genre favorit bacaannya adalah tulisanku.

Aku tertegun. Aku hanyalah penulis yang dapat diklasifikasikan sebagai berkarya, mencari makan, dengan tuntunan dan “tuntutan” klien. Aku bekerja sebagai wartawan di media online. Aku bekerja sebagai ghost writer. Aku belumlah menjadi penulis yang melegenda dan namaku dicetak besar-besar dengan karya yang ditunggu dan dinanti.

Perkataan adikku pada beberapa segi seakan mengkanvaskanku. Terlebih di era big data ini. Dimana ada keberlimpahan informasi, sengkarutnya topik tertentu dapat dibahas.

Beberapa hari aku “memutus” tali dengan membaca dan menulis. Aku mengambil cuti. Pernahkah kau merasa sia-sia? Apa yang kau lakukan tidak berguna? Pikiranku bertaut dengan pertanyaan-pertanyaan dari pikiranku sendiri.

“Disini ternyata dirimu. Hiatus ceritanya nih.” Cengir adikku yang menemukanku di kafe favoritku berlatarkan pemandangan alam.

“Ditelepon nggak bisa. Di-WA nggak respons. Maha hiatus.” Lalu adikku tertawa cekikikan.

“Apa sih yang sedang dikerjakan kak?” Tanyanya menceploskan kata.

“Merakit kata. Aku tak tahu lagi hal lain yang bisa ku kerjakan di bumi ini selain merakit kata,” ujarku yang menyerah pada keagungan aksara.

{fin}

Advertisements

Tarian Kemenangan di Pentas Monokrom

Di masyarakat dengan garis komando, kau akan tahu dibutuhkan keteraturan. Aku muak dengan segala komando yang menegasikan akal sehat. Ikuti, ikuti, ikuti, sementara otak ditanggalkan. Seolah-olah pengetahuan, pengalaman, hanya milik mereka kaum yang sudah-sudah.

Maka dengarlah talu pembebasan mereka yang enggan dirantai dalam garis komando. Ya, kami adalah lambang dari generasi baru. Generasi yang anti kemapanan dan enggan tunduk pada otoritas. Maka kalian dapat melihatnya dalam busana warna-warni yang kami kenakan. Kami enggan menggunakan pakaian hitam ataupun putih yang kalian doktrinkan. Berada di kubu kami, atau menjadi lawan kami. Maka kami merayakan aneka pikiran yang bermekaran.

Kaum yang sudah-sudah melabeli kami sebagai pembangkang. Kami dianggap bahaya, dekadensi, dan akan membawa degradasi pada standar kualitas rakyat negeri. Kami dianggap dimanjakan oleh kemakmuran sehingga lupa bagaimana kemakmuran itu diraih dengan kerja, kerja keras. Tapi kaum yang sudah-sudah juga lupa bahwasanya kemakmuran tak sekadar seberapa banyak makanan di bunkermu, seberapa tinggi atap rumahmu, seberapa bagus busanamu. Ada kebebasan untuk berpendapat, berpikir, dan mengemukakan pendapat – sebuah kemewahan yang tak dirasakan oleh kami yang pendapatan per kapitanya tergolong negara makmur.

Tiap negara pasti mengalami persimpangan sejarahnya. Akankah survive atau karam. Begitu juga dengan negara kami yang dilanda dengan pertentangan antargenerasi. Dari kami yang lahir di kitaran waktu dekade yang sama, tentu ada yang benar-benar ideologis atau sekadar ikut-ikutan. Sementara dari kaum yang sudah-sudah, tampak terlihat ada yang menunjukkan simpati dan keberpihakan terhadap pendapat kami.

Dan persimpangan sejarah itu akan terus dikenang, bagi pemenang dan “pecundang”. Kaum yang sudah-sudah mengambil tindakan radikal, untuk memusnahkan kami para pembangkang. Ragam cara dilakukan dari yang lunak hingga keras. Akhirnya beberapa dari kami menyerah dan berbalik arah. Sementara ikon-ikon perlawanan menjadi tahanan negara serta dialienasikan.

Maka kembalilah negara dalam warnanya yang kuasa: hitam-putih. Garis komando dimana-mana. Rancangan pembangunan jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, didiktekan kepada setiap rakyat yang ada. Menu kurikulum di sekolah memetakan tentang siapa pahlawan dalam pertentangan kaum yang sudah-sudah dan kaum pembangkang.

Kalahkah kami? Aku justru melihat tarian kemenangan di pentas monokrom. Kami kalah, tapi kami adalah meteor zaman. Suatu saat cuplikan sejarah dapat berbalik, dan kami akan didaulat menjadi pemenang.

Sang Pembebas Kata

Aku pernah dengar tentang writers block. Entah sudah berapa kali kudapati mengenai pedoman menulis cerita. Perkenalkan namaku Terata. Publik mengenalku sebagai penulis cerita yang andal. Puisi, cerita pendek, novel – merupakan area jelajah literasiku. Aku praktis menjaga diri dari publik. Aku menciptakan selubung misteri tentangku. Biarlah pengarang mati ketika karyanya telah terpublikasi – begitulah argumenku.

Jika penulis-penulis lain mencari tambahan finansial dengan mengisi kelas penulisan, aku belum pernah sekalipun mengisi sesi semacam itu. Itu karena aku punya 1 rahasia yang tak mungkin kubagi kepada publik mengenai caraku menulis, mengadon cerita.

Berapa banyak ide yang bisa muncul? Dijahit menjadi cerita yang make sense. Tapi ceritaku adalah nyata senyata-nyatanya. Aku melakukan riset mengenai orang yang ingin kutemui. Ku hampiri mereka, kuletakkan tanganku di kepala mereka, dan tersedotlah pikiran, memori, imajinasi, ketakutan mereka.

Dari “bahan” itulah aku dapat mengurai aksara demi aksara. Sedangkan orang yang menjadi targetku akan mengalami penyakit kemunduran ingatan. Jangan hakimi aku jahat, kejam. Hei karyaku menjangkau banyak orang. Kisah 1 orang dapat menginspirasi jutaan orang. Hebat bukan!

Bukankah selalu ada pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar?

Lalu kenapa kisah singkat ini harus tertera? Karena akhirnya, seperti rantai makanan, aku sang pemangsa, menjadi dimangsa. Di senja 3 hari yang lalu, di kafetaria. Anak berkacamata bening itu menghampiriku dengan buku karyaku. Tanpa pikir panjang kutandatangani buku itu.

Dia hanya tersenyum. Tipis saja. Dan berkata, “Putaran itu telah dimulai. Yang memangsa jadi dimangsa. Waktumu telah hampir habis. Aku sang pembebas kata yang baru.”

Dengan sigap dia menyergap kepalaku, sakit sekali rasanya. Seperti paku yang diungkitkan pada daging. Sementara bait-bait ingatanku mulai melompong. 2,5 hari terakhir aku hanya muntah-muntah dengan tubuh yang melemah. Jadi ini perasaan menjadi yang dimangsa.

Maka di sisa-sisa kekuatan, ingatan yang mulai meletih, aku menuliskan warta ini. Anggap saja ini sebagai “pengakuan dosaku” dan peringatan berhati-hatilah kalian terhadap Sang Pembebas Kata.

Revolusi & 2 Pengkhianat Itu

Terkutuklah dua orang itu. Seperti halnya ide-ide revolusi. Terlihat besar, gigantis, menjanjikan masa depan baru. Kau lihat mata-mata mereka yang mengadakan rapat di ruang klandestin. Ah, harusnya aku tahu dan mengerti. Bukankah kisah-kisah, buku-buku yang kubaca memiliki satu benang merah: tiap kali ide revolusi muncul, berhati-hatilah. Kau tak hanya harus berhati-hati dengan kekuatan besar yang siap menerkammu dengan segala daya kuasanya. Melainkan juga dengan mereka yang berbagi kopi denganmu di rapat-rapat di ruang klandestin.

Sederhana saja, pragmatisme. Mereka sekadar menaruh kuping di ide-ide revolusi. Lalu mereka menjual data-data kepada pihak yang berkuasa. Dan di sinilah kami, tertangkap, terciduk, bonyok dalam ruang-ruang gelap. Rekan-rekan revolusionerku pun tak kalah mengenaskannya. Hingga di suatu pagi kulihat duet bajingan pengkhianat itu hadir dengan senyumnya.

Sial betul. Kuberitahu orang yang pertama adalah sosok yang ku pikir mengalami keterbelakangan pengetahuan. Dia begitu banyak kedodoran tentang teori-teori revolusi, bahkan untuk pengertian-pengertian dasar saja dia banyak lubang. Aku yang tak sabaran ini, sering kesal dibuatnya.

“Hei bung, baca buku panduan kita di halaman 71, kau akan dapati mengenai daya kuasa para penguasa,” kataku menanggapi pertanyaannya yang tak krusial.

Tapi dia selalu bertanya soal ini-itu. Dia selalu bertanya tentang siapa-siapa saja yang terlibat dalam rapat-rapat di ruang klandestin. Sial betul, ternyata dia toh sang pengkhianatnya. Yang memang sejak semula tak punya bara revolusi. Hanya penumpang gelap yang menjual informasi kami kepada pihak berkuasa.

Kuberitahu orang yang kedua adalah sosok yang gelar akademiknya terlihat mentereng. Tapi ketika kami ajak olah pikiran, lubang pengetahuannya terlihat menganga. Pernah suatu kali kami coba memberi dia kesempatan untuk menuliskan pemikiran. Amboi, itu hanyalah copy paste di sana-sini dengan typo yang berjejeran. Tapi lihatlah lagak tengiknya yang seolah mengerti tentang ide-ide revolusi.

Maka ketika mereka berdua “menjenguk” kami di sel para pejuang revolusi; pahit menggelayuti kami. Kami melewatkan sisi yang tak terduga, pengkhianat dapat tampil begitu culun, tak menyakinkan. Namun lihatlah bagaimana ide-ide besar kami dikanvaskan.

Penguasa, penguasa yang memberi hambanya uang dan sejentik kuasa, selalu membidani lahirnya para pengkhianat. Dari sel pengap ini kukatakan, “Berhati-hatilah karena pragmatisme dan kekuasaan jangka pendek menjadi melodi yang merdu buat mereka dengan mimpi-mimpi rendah”.

Maka izinkan kami mati dengan mimpi-mimpi dan ide-ide besar revolusi.

Si Sulung Vaja, Si Bungsu Noiri

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Vaja

“Namaku Vaja. Aku adalah raja di keluarga ini.”

Dengan tubuh tambun, aku mengitari meja makan. Saatnya makan yang kelima kali hari ini. Bagi kalian itu masalah? Bagiku tidak. Hei aku harus berpikir lebih banyak dibandingkan kalian-kalian yang ada di dasar piramida, kalian yang dimangsa.

Aku harus menggunakan otakku banyak-banyak tiap kali. Aku harus berargumentasi. Mulai dari mengungkapkan fakta, hingga membungkus kebohongan dengan data dan pencitraan yang mengalihkan fokus utama.

 

Noiri

“Namaku Noiri. Aku adalah…”

Tak tahu sebagai apa aku dianggap. Si kurus yang terus dihisap. Mengepul siang dan malam untuk menghidupi keluarga. Keluarga? Aku si tertindas, lahir dan batin. Aku si bungsu yang baru bergabung belakangan di keluarga ini. Konon leluhurku perlu mengobarkan semangat dan pidato pentingnya aku masuk sebagai anggota keluarga.

Lalu apa? Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Tak hanya mereka yang bermata biru, tapi mereka yang dilahirkan dengan akte wilayah yang sama disini. Mereka yang memuja ‘Vaja, Vaja, Vaja’.

 

Disparitas adalah kata yang menghubungkan si sulung dengan si bungsu. Sementara Vaja terus membusuk dalam obesitasnya, si Noiri meranggas kekurangan nutrisi. Keadilan adalah ilusi. Nasionalisme adalah kata slogan untuk menyembunyikan penindasan.

Dari mana roda ekonomi keluarga ini berasal? Dari kerukan yang terus dikipas dari Noiri.

 

“Aku capek,” kata Noiri di suatu waktu.

“Jangan begitu bungsu,” ujar Vaja membujuk dengan manis.

Ia menggenggam tangannya, membelai punggungnya.

“Kita hidup di keluarga ini bukan untuk kemarin, hari ini, atau esok. Ada jembatan emas yang kita perjuangkan bersama,” ungkap Vaja dengan aroma bawang bombai yang baru saja menjadi bagian makanannya.

“Baiklah,” jawab Noiri dengan bunyi perut mendecit.

 

Noiri

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana. Kami dirangkul, kami dipeluk, kami diguyur dengan insentif dan janji-janji.

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana.

 

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di: http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Tubuhnya yang Kesepian

Dahulu kala aku adalah sendiri yang melebur dalam kebersamaan. Keluarga. Kami berbagi tawa dimana-mana. Ada canda yang menguar bersama kata. Kami mendongeng tentang kisah keseharian di meja makan. Kami adalah keluarga yang berbahagia. Aku sang sendiri dalam kebersaman.

Namun, hidup adalah sebuah roller coaster. Ia pasti menghadirkan badai yang meluluhlantahkan pertahanan diri dan membuatmu bertanya dan bertanya. Seperti halnya hidup, rona kematian menjatuhkan alamat pada sang kepala keluarga. Equilibrium pun berubah. Aku merasa asing ketika menatap wajahku. Aku merasa asing ketika melihat mereka yang bertalian darah. Badai mencicipi bahtera keluarga.

Seperti seorang petualang, aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempat yang kini telah menggerahkan pikiran. Aku tiba di suatu kota yang senantiasa bercumbu dengan hujan. Selamat membuka bab baru dalam hidupku.

Kesendirian dapat menggerogoti diriku. Hingga datanglah kehangatan itu. Aku bertemu dengan seseorang. Aku berhenti bermonolog, aku menemukan dialog.

Dia mengajakku ke rumahnya. Di meja makan bersama keluarganya, aku menemukan kehangatan kekeluargaan. Kami berbagi tawa. Ada canda yang menguar bersama kata. Mereka mendongeng tentang kisah keseharian di meja makan. Hujan di luar, hangat di dalam.

Aku pun teringat dengan petikan puisi Menikmati Akhir Pekan karya Aan Mansyur. Biar kukutipkan untukmu:

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

 

Ya, aku tahu dari diriku, ada sesuatu yang telah dicuri. Dan kuharap aku tahu apa yang kucari.

Di Depan Restoran Sushi Itu

Aku seperti menyusuri labirin ingatan di tempat ini. Kenangan, dan segala emosi yang membelitnya. Di suatu waktu yang berbeda, kita bisa mengalami slide emosi yang berbeda.

Seperti aku yang tertegun di depan restoran sushi itu. Segala kenangan kegembiraan bersamamu terputar kembali. Kau yang memilihkan menu; karena tentu saja dirimu yang lebih kompeten. Kau bilang tubuhku terlalu kurus dan perlu diisi dengan lebih banyak daging.

Kau tambahkan lagi dan lagi. Dan aku masih ingat senyummu itu.

Bagaimana kita bisa berada di tempat yang sama dengan rona yang berbeda. Dan kini aku terpaku di labirin kenangan tentangmu.

#

Berapa bulan kemudian..

Aku mencoba membuat kenangan baru di tempat ini. Menciptakan kenangan dan segala emosi yang membelitnya. Dia bagaikan fotokopi dari dirimu. Tak sebenderang dirimu, tapi cukuplah.

Aku yang memilihkan menu kali ini. Menu yang persis sama dengan yang kusantap berapa bulan yang lalu. Sosok di depanku membagi sushi jatahnya kepadaku.

“Kau terlalu kurus,” ujarnya singkat.

“Boleh?” tanyaku. Untuk kemudian mengambil sushinya lagi dan lagi.

Dia tersenyum dengan tingkah polahku.

Bagaimana kita bisa berada di tempat yang sama dengan rona yang sebangun. Dan kini kuciptakan kenangan baru beraroma lawas.

#

Seberapa banyak orang yang terbelenggu dengan masa lalu? Hingga kaburlah masa kini dan masa mendatang.

“Dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa,” ujarku berbilang bulan kemudian di depan restoran sushi itu.