Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Kepompong Intelektual

Menulis memerlukan keheningan tersendiri. Itulah terkadang saya harus berada dalam ‘kepompong intelektual’. Saya terkadang mematikan ponsel. Karena kerap ponsel menjadi distraksi tersendiri dalam menulis. Mungkin itulah salah satu rahasia dalam menulis, yakni fokus. Menulis merupakan lakon yang sulit untuk dilakukan secara multitasking. Fokus saja pada satu segi dalam satu waktu yakni menulis.

Kepompong intelektual merupakan negasi dari perbincangan yang tiada perlu. Kalau mau jujur berapa persen sebenarnya dari perbincangan kita yang bermanfaat? Ada waktu yang tercecer percuma dari perbincangan yang tiada perlu. Maka ketatkan diri, disiplinkan diri untuk berbincang dengan orang-orang yang kiranya dapat menjadi inspirasi dan menghadirkan manfaat. Saya terkadang mengurangi takaran waktu untuk berbincang yang saya sudah tahu isi kepalanya tong kosong. Berbicara ngalor-ngidul tanpa ilmu. Berbicara ngalor-ngidul tapi tiada ikatan substansi ilmu.

school a

Kepompong intelektual juga bermakna pemanfaatan waktu. Cobalah sediakan waktu yang hening, sendiri. Benar-benar fokus pada penulisan. Menggali ide dari diri sendiri, melakukan studi pustaka. Maka setelah sekian waktu lihatlah hasil yang tercapai. Ada output yang nyata-nyata terjadi. Jadikan itu sebagai menu keseharian. Maka ritme produktif akan melekat pada diri.

Kepompong intelektual juga memungkinkan untuk berlindung dari kecepatan teknologi. Sosial media, televisi, internet, seakan menjejalkan informasi yang begitu merentang. Tiada semuanya kita perlu lahap. Lebih baik lahap yang kita butuhkan. Cari kiranya yang konstruktif dalam menyusun intelektualitas dan karya tulis yang sedang dibuat.

Kepompong intelektual merupakan ranah kreativitas. Ada diskusi dengan diri sendiri. Dengan begitu maka diri akan terkokohkan. Memiliki kedalaman pemikiran. Memiliki karya yang terus menerus dihasilkan. Saya percaya sebelum orang memberikan ilmu, maka diperlukan internalisasi dan dialog dengan diri sendiri.

baca 1

Kepompong intelektual memungkinkan untuk melakukan revisi secara tenang. Karya yang disusun setelah melakukan penyempurnaan. Itulah kiranya saya tiada begitu tertarik pada berita-berita yang berseliweran di internet yang mengandalkan pada kecepatan. Bisa jadi terjadi kesalahan disana sini. Bersabarlah. Dalam menerima informasi. Dalam menghasilkan karya.

Kepompong intelektual kiranya berguna untuk mengasah intelektualitas. Diperlukan pematangan intelektualitas. Mematangkan, merenungkan dari apa yang dibaca. Merenungkan dari ide-ide yang bertebaran ataupun menjembatani antaride tersebut. Merenungkan tentang pilihan kata.

Mari menarik diri dari bising yang ada. Berangkat ke kepompong intelektual dan menghasilkan karya demi karya.

Advertisements
Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis, Lamunan, dan Waktu Tertentu

Saya selalu percaya bahwa menulis membutuhkan lamunan dan waktu tertentu. Lamunan itu untuk menghasilkan tema dan menakar perspektif yang digunakan. Itulah kiranya yang membedakan penulis dengan mesin kata-kata. Terdapat sentuhan kemanusiaan. Ini bukan sekadar menggelar data. Namun bagaimana mengolah data, menafsirkannya. Ini juga tentang kemampuan untuk memilah dan memilih data. Ini juga tentang memilah dan memilih artikulasi, diksi, kata, ataupun kalimat.

Menulis yang membutuhkan lamunan juga tiada terlepas dari pertanyaan internal dalam diri. Untuk menyusun tulisan misalnya kadang diperlukan percakapan internal mengenai aneka sudut yang dapat dikupas dari tulisan. Lamunan juga dibutuhkan untuk menyusun peta akan dibawa kemana tulisan tersebut. Oleh karena itu saya percaya menulis adalah momentum personal. Biarkan penulis tenggelam dalam lamunannya. Bercakap-cakap dengan pikirannya. Diperlukan keheningan tertentu, terlepas dari kebisingan perbincangan ataupun distraksi macam-macam.

baca 2

Menulis yang membutuhkan lamunan juga dikarenakan menulis merupakan ranah kerja imajinasi. Menulis bukan sekadar menjejalkan fakta, memuntahkan pengetahuan yang diketahui. Melainkan juga menempatkan “nyawa“ pada fakta dan pengetahuan yang diketahui. Misalnya dalam novel gubahan dari Jonathan Stroud seperti The Bartimaeus Trilogy terdapat sejumlah fakta yang dikemas dalam balutan imajinasi. Pun begitu yang dilakukan oleh J.K.Rowling dalam kisah Harry Potter yang mendedah sejumlah hal terkait mitologi. Bukan sekadar dalam kisah fiksi-fantasi, dalam buku Pemikiran Politik Barat karangan Ahmad Suhelmi misalnya, sidang pembaca diajak untuk melakukan tamasya intelektual ke pemikiran para filsuf dari berbagai era. Kiranya lamunan itulah yang membuat hasil tulisan bukan sekadar aksara yang berderet, melainkan memiliki kemampuan tutur yang memikat.

Saya percaya bahwa menulis membutuhkan waktu tertentu dikarenakan diperlukan cross check, validasi. Dalam menghasilkan tulisan, dari pengalaman saya bukanlah proses yang sekali jadi. Diperlukan pencocokan data, penelaahan mengenai typo, dan segalanya agar hasil tulisan itu sesempurna dan sebaik mungkin. Itulah kiranya saya kerap senewen kalau ada yang menggampangkan tulisan. Baik itu dalam waktu dan kualitas. Pada hakikatnya tulisan adalah menyusun bukti yang sifatnya tertulis, terdokumentasi. Dan bilangan waktu mendatang dapat dicek mengenai segalanya dari hasil tulisan tersebut. Maka adalah sebuah kebodohan besar manakala menulis secara serampangan. Ibaratnya eksebisionis teledor yang menceplokkan bukti otentik dan dapat diverifikasi di masa mendatang.

school a

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu juga untuk mematangkan gagasan. Tulisan perlu untuk “dibiarkan” beberapa lama. Untuk kemudian setelah berbilang waktu ditengok kembali. Dengan demikian sudut pandang, kemungkinan pendalaman juga akan lebih kaya secara pengayaan.

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu dapat dikaitkan dengan jam menulis. Jules Verne misalnya menulis setiap habis Subuh. Raditya Dika yang memiliki jam menulis setiap harinya. Haruki Murakami yang memiliki 5-6 jam setiap harinya untuk menulis. Dalam menulis di ceruk waktu tertentu dibutuhkan kepompong perlindungan. Kepompong perlindungan dalam artian terhindar dari segala distraksi yang ada. Disinilah kemajuan teknologi dapat menjadi distraksi tertentu. Kemampuan untuk terhubung kapan saja, dimana saja, waktu kapan saja, dapat menjadi distraksi yang menggoda untuk menulis. Mungkin teramat mungkin ketika daya tulis Anda terlampau lamban, begitu-begitu saja dikarenakan Anda tiada disiplin dalam waktu tertentu untuk menulis. Jika serius untuk menekuni tulisan menurut hemat saya alokasikan waktu tertentu untuk menulis. Buat disiplin waktu tertentu yang digunakan untuk menulis. Singkirkan segala distraksi. Dan saya percaya jika disiplin itu diterapkan maka output berupa tulisan juga akan terlihat.

pen 2

Sejumlah tempat misalnya dapat menyokong lamunan dan waktu tertentu. Keponakan saya misalnya ketika mengerjakan tugas memilih tempat di salah satu gerai kopi terkemuka. Ia biasanya memesan green tea latte, lalu dalam waktu tertentu mengerjakan tugas sekolahnya. View yang bagus, pemandangan yang nyaman, akses internet, membuat waktu tertentu dapat menjadi produktif.

Tentu masih banyak tempat untuk memasok lamunan dan waktu tertentu dalam menulis. Tergantung selera masing-masing. Saya misalnya memilih untuk menulis di rumah. Diantara tumpukan buku, kenyamanan rumah, daya lamunan dan waktu tertentu saya dapat lebih teroptimalkan.

Demikianlah sekelumit tulisan saya. Semoga bermanfaat adanya dalam ranah penulisan. Selamat melamun dan menyediakan waktu tertentu untuk menulis.

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Belajar dari Fantasi

Why so serious? Begitulah kiranya nukilan kalimat dari Joker. Nyatanya apa yang dikatakan oleh Joker itu dapat tepat adanya. Saya selalu teringat dan berusaha didoktrinasi oleh berbagai pihak bahwasanya belajar adalah perkara yang serius. Maka belajar seolah menafikan unsur main-main. Tentunya sebagai manusia yang skeptis dan kritis, tesis utama tersebut layak untuk dipertanyakan. Benarkah? Validkah? Saya teringat ketika SD terjadi pemisahan yang serius dilakukan oleh ibu saya antara bermain dan belajar. Jam bermain saya dibatasi. Sementara belajar menjadi kadung kokoh dengan stempel ‘serius’ dalam pikiran saya.

Apa yang kemudian terjadi adalah ada resistensi tertentu yang saya lakukan. Misalnya saya tiada menyukai membaca buku pelajaran. Itu perkara yang serius (membaca buku pelajaran). Alhasil saya berada pada satu titik sempat tiada menyukai membaca buku pelajaran. Sampai sebuah bifurkasi menghampiri saya. Ketika itu kakak saya membelikan buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone (Harry Potter dan Batu Bertuah). Belum pernah dalam hidup saya ketika itu, bagaimana saya terpesona, terpikat membaca halaman demi halaman dari buku. Semenjak buku Harry Potter dan Batu Bertuah tersebut, saya pun mulai menjadi pencinta buku. Buku pelajaran pun yang semula “berat dan serius” saya lahap. Dengan demikian karier akademik saya tercerahkan dikarenakan novel fantasi. Novel yang menurut sejumlah pihak sebagai main-main, tidak serius.

money

Sampel mengenai karya fantasi dengan pembelajaran tiada berhenti sampai di situ. Saya juga mendengarkan kisah dari seorang teman. Semenjak kecil dia adalah seorang gamer. Sebagai seorang gamer tentu banyak tantangan dalam berbagai level permainan. Dan tantangan tersebut membutuhkan pengetahuan bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris. Alhasil semenjak belia, dia telah belajar bahasa Inggris dengan semangat, ceria. Dikarenakan itu merupakan bagian dari upayanya untuk merampungkan berbagai macam game yang dia mainkan. Sekali lagi bagaimana fantasi yang dianggap main-main, tidak serius, menimbulkan efek positif bagi kehidupan.

Belajar yang mesti serius juga menemukan antidotnya. Misalnya dengan karya Adam Khoo dalam buku I Am Gifted, So Are You!. Bagaimana mind mapping dapat dijadikan sebagai metode pembelajaran. Dan boleh dibilang mind mapping mengikutsertakan fantasi dalam metode pembelajaran. Ada visualisasi, asosiasi, absurditas dan humor, emosi, sinestesia, warna, dan sebagainya. Dalam mind mapping juga dijelaskan untuk mengaktifkan otak kanan dan otak kiri dalam belajar.

creativity

Dalam acara Kick Andy, CEO Agate diwawancara. Agate sendiri memiliki motto Live the fun way. Arief Widhiyasa sang CEO Agate mengkomparasikan antara membuat PR dan bermain game. Mengapa kiranya membuat PR dihindari oleh sebagian besar anak didik dan mengapa lebih memilih untuk bermain. Saya pikir itu adalah hal yang klasik dan masih berlaku hingga kini. Apa pasal? Ternyata menyelesaikan game lebih menantang dibandingkan dengan membuat PR. Beranjak dari pendapat tersebut, maka metode pembelajaran juga layak dipertanyakan dan dievaluasi. Metode selama ini bisa jadi membuat anak didik antipati dan tidak menyukai pelajaran di sekolah. Pelajaran sekolah adalah beban. Pelajaran sekolah adalah tidak menyenangkan.

Maka adalah tugas berbagai elemen di negeri ini untuk merumuskan ulang mengenai metode pembelajaran yang tepat. Masukkanlah unsur fantasi, game dalam permainan. Unsur fantasi, permainan, tidak hanya dibutuhkan oleh anak usia TK. Sayangnya bahkan kini usia TK malah telah dibebani dengan kurikulum yang memberatkan. Alangkah menyedihkannya semenjak usia dini telah dituntut untuk bisa ini-itu. Atas nama persaingan di masa mendatang yang semakin berat. Atas nama untuk bekal anak di masa mendatang.

school b

Bahkan belakangan muncul kontroversi bahwa untuk masuk SD harus melalui ujian calistung (baca, tulis, hitung). Kiranya jika benar akan diterapkan, maka sungguh semenjak belia tuntutan belajar akan berat dan menjadi beban tersendiri.

Padahal sejatinya metode pembelajaran tiada perlu “serius-serius amat”, menegangkan, dan menimbulkan horor bagi anak didik. Menurut penelitian yang dilakukan bahwa mode otak yang paling baik untuk berada adalah ketika berada di posisi alpha. Posisi alpha ini dapat tercapai hadir dalam situasi menyenangkan dan tiada tertekan.

Beban dan kebencian terhadap kata ‘belajar’ menurut hemat saya dapat menimbulkan masalah serius bagi negeri ini. Akan ada “pemberontakan” tersendiri dari pelajar manakala pola pembelajaran tiada menyenangkan dan menggairahkan. Bayangkan beban dari ujian, ruang terbuka hijau yang kurang, tekanan sosial ekonomi, hormon yang bergejolak, masa pencarian jati diri. Satukan itu semua dalam satu wadah. Maka dapatlah terjadi erupsi emosi. Dapat terjadi letupan-letupan yang sifatnya destruktif. Kaum muda negeri dapat menjadi kaum muda yang frustasi.

school a

Saya percaya bahwa kata ‘belajar’ dapat dipadukan dengan fantasi. Ambil contoh dengan metode pembelajaran di Amerika Serikat yang memberikan siswanya untuk membaca sejumlah karya sastra yang bertemakan fantasi. Keponakan saya misalnya pada liburan musim panas yang lalu mendapatkan tugas untuk membaca novel 1984 karangan George Orwell. Metode pembelajaran lainnya ialah dengan mengakses game, permainan dalam pembelajaran. Game edukasi misalnya dapat menjadi jalan tengah. Developer game misalnya layak untuk melirik pangsa pasar membuat game seperti ini. Pemerintah juga misalnya dapat menyokong dengan memberikan bantuan ataupun mendanai game edukasi. Ada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang dapat aktif untuk memajukan game edukasi sebagai metode pembelajaran bagi anak usia sekolah.

Begitulah kiranya. Semoga kata ‘belajar’ di masa mendatang akan bertalian dengan kegembiraan, semangat, menyenangkan, dan gairah. Bukan lagi menjadi beban, malas, membosankan. Tentu saja untuk menuju harapan tersebut dibutuhkan usaha-usaha kekinian. Bukankah masa depan direbut hari ini?

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Minat Membaca

Dunia literasi erat kaitannya dengan buku. Untuk mengukur daya baca dan daya tulis dari suatu negeri salah satu parameternya ialah dengan melihat buku yang diterbitkan dalam setahun. Indonesia hanya menerbitkan sekitar 24.000 judul buku per tahun dengan rata-rata cetak 3.000 eksemplar per judul. Maka dalam setahun, Indonesia hanya menghasilkan sekitar 72 juta buku. Jika dibuat komparasi maka jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa, berarti satu buku rata-rata dibaca 3-4 orang. Apabila menilik standar UNESCO, maka idealnya satu orang membaca tujuh judul buku per tahun. Hitung-hitungan tersebut menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih rendah.

Upaya untuk meningkatkan minat baca di era sekarang ini menemui hambatan berupa era digital. Era digital dapat menjadi distraksi dari minat membaca. Di negara maju, era digital terjadi ketika masyarakatnya sudah hobi membaca. Sedangkan di Indonesia memasuki era digital ketika minat bacanya masih rendah. Era digital yang bertalian dengan minat baca masih rendah dapat berhilir pada budaya copy paste. Era digital memudahkan untuk terjadinya penjiplakan dan pencuplikan sana-sini. Orisinalitas ide, koherensi gagasan menjadi tanda tanya. Memang boleh dibilang jika ingin memiliki daya tulis yang mumpuni maka harus ditopang oleh daya baca yang baik. Jika meminjam istilah Helvy Tiana Rosa dengan menjadi predator buku.

child

Bagaimana kiranya solusi untuk meningkatkan minat baca? Untuk meningkatkan minat baca harus ada program membaca di level pendidikan dasar. Siswa diwajibkan membaca dan menulis. Dengan begitu masyarakatnya meminjam istilah Taufiq Ismail tidak lagi mengalami rabun membaca dan pincang menulis. Taufiq Ismail sendiri memandang bahwa sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa bangsa yang hebat ternyata masyarakatnya memiliki minat baca yang tinggi. Masyarakatnya sejak dini sudah terlatih dan terbiasa membaca.

Mari menengok ke masa penjajahan Belanda untuk sejenak mengambil pembelajaran. Pada masa penjajahan Belanda, misalnya siswa AMS-B (setingkat SMA) diwajibkan membaca 15 judul karya sastra per tahun, sedangkan siswa AMS-A membaca 25 karya sastra setahun. Siswa AMS wajib membuat 1 karangan per minggu, 18 karangan per semester, atau 36 karangan per tahun.

school a

Bagaimana kiranya dengan siswa SMA di masa kini? Nyatanya tidak ada kewajiban membaca buku. Sehingga diistilahkan oleh Taufiq Ismail sebagai generasi 0 buku. Padahal, di belahan dunia lainnya sebagai komparasi, siswanya diwajibkan membaca buku. Siswa SMA di Amerika Serikat diwajibkan membaca 32 judul karya sastra dalam setahun, siswa Jepang 15 judul, Brunei 7 judul, Singapura dan Malaysia 6 judul, serta Thailand 5 judul. Data kewajiban membaca sejumlah judul tersebut diungkapkan oleh budayawan Taufiq Ismail. Saya pun mencoba untuk men-cross check dengan keponakan saya yang menempuh pendidikan SMA di Amerika Serikat. Keponakan saya berkata bahwa kewajiban membaca buku sastra tidak sebanyak 32 judul karya sastra. Namun memang benar bahwa ada kewajiban untuk membaca karya sastra dan membuat esai. Jika ingin mendapatkan nilai bagus menurut keponakan saya, maka harus membaca secara utuh karya sastra yang ditugaskan. Tentu saja ini jauh berbeda dengan pelajaran mengenai karya sastra di Indonesia. Lebih sibuk dengan angkatan sastra, EYD, sedangkan pembacaan karya sastra dan penugasan menulis tiada dikerjakan secara optimal.

Minat baca yang masih rendah ini tentunya akan berimplikasi pada permintaan dan penawaran buku. Tak bisa dipungkiri bahwa buku adalah sebuah bisnis. Untuk terbitnya satu buku maka digunakan kalkulasi bisnis. Tentunya jika minat baca masyarakat Indonesia meningkat maka akan menggerakkan dan menaikkan bisnis buku. Ragam penawaran dari berbagai jenis buku akan semakin variatif dikarenakan ada pasar yang akan menyerap buku yang dilepas ke pasaran.

imajinasi

Untuk meningkatkan minat baca, jika meminjam ide dari Raisa (penyanyi) adalah dengan menimbulkan rasa keingintahuan. Seperti keluarga Raisa yang merupakan pencinta buku. Dikisahkan oleh Raisa bahwa apabila dirinya diliputi oleh pertanyaan, maka ayahnya akan menjawab bahwa jawaban pertanyaan itu ada di buku ini. Hal itu membuat Raisa tergerak untuk membaca dan mencari jawabannya di buku.

Untuk meningkatkan minat baca menurut hemat saya dapat dilakukan dengan pelajaran menulis. Saya percaya bahwa tugas menulis akan membuat seseorang membaca. Tugas menulis akan membawa pada pencarian literatur. Ditambah lagi revisi tulisan akan membuat ada persesuaian antara apa yang ditulis dengan apa yang dibaca. Untuk menghasilkan satu tulisan misalnya, maka sejumlah literatur terkadang harus dibaca untuk menemukan logika pemikiran dan memperkuat argumen.

Pelajaran menulis saya percaya akan menumbuhkan penulis-penulis handal. Dikarenakan untuk mahir menulis maka dibutuhkan pelatihan. Dan pelatihannya adalah dengan menulis. Menulis bukan pelajaran doktriner yang harus dihafal, melainkan dipraktikkan. Dengan pelajaran menulis maka akan berusaha untuk belajar dari gaya penulisan penulis lainnya, daya logika yang disajikan, dan lain sebagainya.

Minat membaca negeri ini yang masih rendah bukan berarti vonis mati dan tidak bisa diubah. Ada ragam cara, solusi yang dapat dikerjakan untuk mengakselerasi, meningkatkan minat membaca dari rakyat Indonesia. Semoga di hari-hari mendatang bangsa ini tiada lagi menjadi bangsa yang rabun membaca dan pincang menulis.

^^Penulisan esai ini harus berterima kasih pada data yang saya dapatkan dari harian Kompas edisi Kamis, 16 Januari 2014.

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sosial Budaya

Ilmu Kaldera

Pada hari Senin 24 Februari 2014 saya bertemu dengan senior saya sewaktu kuliah di Fisip UI dahulu. Saya terus terang agak kaget ketika dia mengucapkan 2 lema. Lema pertama adalah ‘ardova’. Lema kedua adalah ‘kaldera’. Saya dan senior saya ini berkawan di facebook. Meski begitu sejauh ini ia jarang mengomentari aktivitas saya di sosial media dan begitu juga sebaliknya. Maka terkagetkan saya akan lema ‘ardova’ dan ‘kaldera’ itu mungkin menemukan relevansinya bahwa apa pun yang kita kerjakan memiliki implikasi enigma.

Implikasi enigma dalam artian kita tiada tahu kejutan apa yang akan kita terima dari karya yang telah dihasilkan. Kita tiada pernah tahu hilir dari sebuah karya. Maka yang terpenting adalah berkarya dan berkarya. Kembali ke pembahasan lema, pada poin pertama adalah ‘ardova’. ‘Ardova’ merupakan nama dari blog saya (https://ardova.wordpress.com/). Dan di sosial media saya berusaha untuk rajin men-share tulisan dari blog saya tersebut. Ternyata hal tersebut menimbulkan brand awareness tersendiri.

kalfa b

Pada poin lema kedua adalah ‘kaldera’. Senior saya tersebut bertanya tentang kaldera. Semacam meminta konfirmasi lebih akurat mengenai ‘kaldera’. Saya pun bilang bahwa kaldera adalah komunitas fiksi fantasi untuk menyalurkan hobi. Lalu saya kaitkan antara ‘kaldera’ dengan ‘ardova’, dimana saya berusaha untuk menurunkan banyak ulasan yang terkait dengan fiksi fantasi. Saya katakan bahwa saya tiada ingin fiksi fantasi dianggap underestimate. Padahal jika dikupas secara keilmuan akan banyak hal yang dapat diambil dari fiksi fantasi. Saya contohkan misalnya dari fiksi fantasi kita dapat belajar mengenai politik, pers, ilmu-ilmu sosial.

Senior saya mengangguk tanda setuju. Ia menambahkan bahwa fiksi fantasi memang dapat dimaknai bukan sekadar sebagai hiburan belaka. Fiksi fantasi diantaranya dapat menjadi media propaganda seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Perbincangan selintasan dengan senior saya tersebut seakan mengingatkan saya akan salah satu raison d’etre dari Kaldera Fantasi (Kalfa). Sejak semula memang saya berhasrat untuk mengubah persepsi masyarakat yang minor dan meremehkan mengenai fantasi. Orang dewasa yang menonton anime dianggap kekanak-kanakan; orang dewasa yang bermain game dianggap kekanak-kanakan; hal-hal stereotipe macam itulah yang merupakan salah satu tujuan dari komunitas ini untuk meluruskan. Basisnya adalah landasan ilmiah. Maka dengan pembedahan secara ilmiah saya berharap agar fiksi fantasi tiada lagi dipandang underestimate.

chess

Melalui fiksi fantasi misalnya dapat menjadi medium pembelajaran. Semisal mengenai politik. Beberapa tulisan yang saya turunkan seperti Sisi Politik Voldemort (https://ardova.wordpress.com/2012/07/24/sisi-politik-voldemort/), Sisi Politik Dari Kisah Petruk jadi Raja (https://ardova.wordpress.com/2012/05/28/sisi-politik-dari-kisah-petruk-jadi-raja/), Sejarah Dibentuk Para Penguasa (https://ardova.wordpress.com/2014/01/29/sejarah-dibentuk-para-penguasa/), Bima, Hanoman dan Tokoh Bangsa (https://ardova.wordpress.com/2012/05/15/bima-hanoman-dan-tokoh-bangsa/), Perang Troya (https://ardova.wordpress.com/2012/05/09/perang-troya/), merupakan contoh hibrida antara ilmu politik dengan materi fiksi fantasi. Bayangkan adanya apabila kelas-kelas, baik itu di sekolah ataupun kampus dengan meng-insert fiksi fantasi dalam metode dan materi pembelajarannya. Saya percaya belajar akan menjadi lebih menyenangkan dan dapat lebih menguasai substansi pembelajaran.

Kisah fiksi fantasi juga dapat diteropong secara multifaset. Misalnya saya banyak membedah berbagai macam hal dari kisah Harry Potter dan The Bartimaeus Trilogy. Beberapa contoh judulnya adalah sebagai berikut: Pers dan Kisah Harry Potter (1) (https://ardova.wordpress.com/2012/02/09/pers-dan-kisah-harry-potter-1/), Murni (https://ardova.wordpress.com/2012/03/09/murni/), Hikayat Nama Nathaniel (The Bartimaeus Trilogy) (https://ardova.wordpress.com/2012/04/12/hikayat-nama-nathaniel-the-bartimaeus-trilogy/), Politik dalam Kisah The Bartimaeus Trilogy (https://ardova.wordpress.com/2012/03/21/politik-dalam-kisah-the-bartimaeus-trilogy/).

kalfa a

Hal tersebut menunjukkan kompleksnya dan banyak segi keilmuan yang dapat direguk dari kisah fantasi. Dan mungkin semisal saya adalah seorang dosen di bidang ilmu politik, maka saya akan menugaskan mahasiswa untuk menonton dan membaca serial Harry Potter. Ada begitu banyak sisi politik yang termaktub dalam kisah Harry Potter. Baik yang tersirat ataupun yang tersurat. Pun begitu dengan novel The Bartimaeus Trilogy. Saya menemukan relevansi keilmuan antara novel tersebut dengan sejumlah konsep, teori, dan peristiwa politik.

Saya percaya bahwa kisah fiksi fantasi dapat ditafsirkan dengan berbagai medan ilmu. Dan menggaungkan bahwa fiksi fantasi itu koheren dengan ilmu sosial ataupun ilmu alam menurut hemat saya akan meluruhkan pendapat dan sinisme dari orang-orang terhadap fiksi fantasi. Tiap dari kita dapat menjadi agen untuk melakukan inseminasi gagasan bahwa ilmu pengetahuan dan fiksi fantasi dapat berada dalam satu keranjang yang sama.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Membaca di Mana-Mana

Bagaimana kiranya ketika Anda berada di ruang publik, adakah ditemui banyak orang yang membaca? Ketika berada di transportasi publik, banyakkah orang yang Anda temui membaca? Terkait dengan transportasi publik dan budaya baca, mungkin sebelum jauh ke sana ada baiknya bagi pemerintah untuk menyediakan transportasi yang nyaman. Dengan moda transportasi yang nyaman maka turut mendorong budaya membaca di transportasi publik.

Membaca memang merupakan medium untuk memperoleh pengetahuan. Sayangnya di negeri ini budaya membaca belum tumbuh dengan kuat, maka di mana-mana akan sukar Anda temui masyarakat yang sedang tekun membaca. Membaca menurut hemat saya merupakan teman perjalanan yang baik. Apabila bepergian jauh, saya pribadi menyisakan space dalam barang bawaan yakni buku bacaan. Saya ingin tetap menjaga koneksi dengan pengetahuan serta menjaga ritme membaca keseharian.

Dan yang kita temui adalah budaya lisan, orang tidur, sibuk dengan perangkat elektronik, dalam sejumlah perjalanan. Saya pikir dengan perangkat teknologi mutakhir cukup membantu bagi para travel lounge untuk keep in touch dengan bahan bacaan. Ada buku digital misalnya yang membuat koneksi dengan literasi dapat terus terjaga.

Membaca di perjalanan dalam hemat saya juga memberikan impresi berbeda dalam membaca. Seperti berada di “arena yang berbeda” dalam membaca. Jika dalam keseharian mungkin telah terpolakan untuk membaca di rumah, maka membaca di perjalanan akan terdapat selingan berupa pemandangan perjalanan.

Membaca di perjalanan juga merupakan siasat untuk tetap mereguk ilmu di tengah kemacetan yang menimpa ibukota negeri ini. Dibanding melamun melantur tak tentu, bukankah lebih baik meningkatkan daya baca dengan membawa bahan bacaan?

Membaca di mana-mana juga menuturkan rasa lapar akan ilmu. Karena sejatinya buku adalah makanan bagi pikiran. Maka menempuh perjalanan tanpa nutrisi intelektual akan dapat mendegradasi daya analisa.

Membawa buku bacaan dalam perjalanan mungkin dapat menularkan dan membudayakan agar membaca di mana-mana. Segala aktivitas baik dapat kiranya tersebar, terdiasporakan, tercontohkan. Maka mari menjadi teladan yang baik dengan membaca di ragam tempat. Selamat membaca dan menempuh perjalanan.

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Resensi Buku, Sosial Budaya

Filosofi Lima Jari

Judul Buku: Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan
Penulis: Agun Gunandjar Sudarsa
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: II-2014
Tebal: 156 halaman + Xiii

Hidup Sukses 5 Jari

Malam itu hujan menderas, kilat memecut udara, dingin merambati sumsum tulang saya, gelap menyelubungi. Bahkan saking gelapnya saat itu, saya tidak tahu bahwa baju yang saya kenakan tidak hanya basah oleh air hujan, namun juga oleh darah yang mengucur deras dari hidung. Saya tidak menyadari bahwa telah mimisan dan sebelumnya hanya mengira air hujan yang membasahi baju. Di saat itulah saya tetap menjalankan dengan ikhlas dan tetap berdoa “Ya Allah, hidup kok susah amat dan sulit-sulit amat. Berikanlah kami kemudahan, kesejahteraan hidup”. Saat itu saya tetap mencoba menjalankan pekerjaan dengan pikiran positif. Di saat itulah saya mendapatkan filosofi “hidup sulit, jangan dipersulit” (Agun Gunandjar Sudarsa, Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan, hlm. 35).

Buku Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan ini merupakan ide praktis yang dirumuskan dari pengalaman hidup Agun Gunandjar Sudarsa. Inilah contoh orang yang menulis dan bertutur kata bukan sekadar dengan teori, tetapi bertutur tentang apa yang secara nyata telah ia lakukan dalam kehidupan. Buku tentang motivasi ini menjadi unik adanya dikarenakan ditulis oleh seorang politisi yang kini menjadi Ketua Komisi II DPR RI.

Apa saja kiranya langkah untuk meraih hidup sukses yang ditawarkan oleh Agun Gunandjar? Langkah pertama adalah: “Hidup Sulit, Jangan Dipersulit”. Jadi untuk tidak mempersulit hidup dibutuhkan kearifan dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Filosofi hidup berikutnya, yaitu “Tembok Tinggi, Rezeki Tinggi”. Artinya untuk mencapai sesuatu yang tinggi atau berharga itu, maka temboknya (tantangan) pasti akan semakin tinggi. Filosofi hidup berikutnya adalah “Tiada Hari Tanpa Aktivitas”. Lalu aktivitas seperti apa? Jawabannya adalah aktivitas sehari-hari yang bermakna. Jadi aktivitas itu adalah peran yang harus kita jalankan di manapun kita berada.

Menurut Agun, filosofi kelima jari tangan ini mengandung makna yang dalam sebagai prinsip kita dalam meraih masa depan yang sukses dan bahagia. Kelima jari dari jempol hingga kelingking itu mengandung makna. Jari jempol menunjukkan sesuatu yang bagus, disukai orang, dan terpuji, yang itu semua terangkum dalam istilah prestasi.

Setelah kita mendapatkan prestasi terpuji dari segala tindakan kita, maka pada akhirnya kita akan memperoleh pengakuan (jari telunjuk) dari orang lain dan masyarakat.

Untuk menggapai sukses dan bahagia, kita juga perlu melakukan pendekatan elegan dengan prinsip jari tengah. Kita bisa lihat bagaimana posisi jari tengah, letaknya di tengah. Begitu juga kita dalam melakukan pendekatan dan komunikasi, perlu menggunakan prinsip jari tengah, sehingga mudah ke kiri dan ke kanan, ke atas dan bawah. Kita mampu ke segala arah dalam menjalani komunikasi dan pendekatan yang baik terhadap atasan, bawahan dan teman selevel.

Selanjutnya jika prestasi, pengakuan dan komunikasi yang elegan sudah diperoleh, maka dengan sendirinya akan diperoleh janji manis yaitu pendapatan. Pendapatan ini berwujud dalam beberapa hal seperti kedudukan, pendapatan, dukungan, kepercayaan, pekerjaan, pangkat dan jabatan.

Pada akhirnya kita memerlukan prinsip terakhir yaitu jari kelingking. Walaupun ukurannya kecil, jari ini bisa mematikan jika tidak dimanfaatkan. Jari kelingking menggambarkan simbol perawatan. Sesuatu yang tidak dirawat maka akan hilang. Perawatan tidak bisa juga berjalan sendiri. Kita tidak akan bisa merawat apa yang dimiliki tanpa terlebih dahulu memiliki prestasi yang berdampak pengakuan, komunikasi, dan pendapatan.

Setelah menjalankan prinsip terakhir, yaitu jari kelingking maka sudah seharusnya kembali lagi pada filosofi hidup pertama yaitu “Hidup Sulit, Jangan Dipersulit”; “Tembok Tinggi, Rezeki Tinggi”; “Tiada Hari Tanpa Aktivitas”, dan pada akhirnya kembali ke prinsip lima jari.

Filosofi lima jari yang digagas ini kiranya merupakan upaya untuk memanfaatkan semaksimal mungkin segala anugerah yang telah diberikan kepada kita. Segala potensi yang ada itu hendaknya tidak tersia-siakan. Dan sukses hidup pun terengkuh dalam kenyataan bukan sekadar angan-angan kosong.