Posted in Buku, Ekonomi, Essai, Politik, Resensi Buku

Indonesia Sejahtera is Very Simple

Judul Buku: Membangun Indonesia Sejahtera: Langkah Nyata Menuju Visi Indonesia 2020
Penulis: Agun Gunandjar Sudarsa
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: 2013
Tebal: 278 halaman + X

Membangun Indonesia Sejahtera

Buku yang baik selalu datang dengan membawa gagasan-gagasan orisinil, begitulah kiranya yang pantas disematkan kepada buku yang berjudul “Membangun Indonesia Sejahtera: Langkah Nyata Menuju Visi Indonesia 2020” ini. Buku yang lahir dari seorang politisi sekaligus pemikir Agun Gunandjar Sudarsa ini, memang dipenuhi dengan gagasan-gagasan brilian dan orisinil untuk mewujudkan impian besar kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu mencapai kesejahteraan sebagaimana yang tercantum di dalam Visi Indonesia 2020 dan amanat konstitusi UUD 1945.

Untuk mewujudkan Indonesia sejahtera seperti yang diharapkan Visi Indonesia 2020 itu sendiri pada dasarnya merupakan hal yang sederhana. Hanya diperlukan political will pemerintah untuk mengubah struktur anggaran menuju bentuk piramida. Selama ini politik anggaran faktanya berbentuk piramida terbalik. Hal tersebut mengakibatkan pemerintah gagal melakukan distribusi kesejahteraan ke daerah. Kesejahteraan yang tidak terdistribusi dengan baik pada akhirnya berakibat pada sejumlah tindak korupsi, seperti terjadinya praktik mafia anggaran untuk menyalurkan anggaran ke daerah.

Politik anggaran seperti itu sebenarnya tidak sehat bagi pembangunan bangsa yang berkeadilan antara pusat dan daerah. Maka tidak heran jika terjadinya ketimpangan anggaran untuk pusat dan daerah itu terus menghasilkan pemerintahan yang bergaya Jakarta sentris. Silahkan cek hotel-hotel di Jakarta yang penuh dengan kegiatan para Gubernur, Bupati, Walikota, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota, sehingga DAU yang seharusnya diedarkan di daerah, malah kembali lagi beredar di Jakarta. Karena bimbingan teknis Kementerian semua di Jakarta, tender proyek semua di Jakarta, pengadaan komoditi semua di Jakarta, maka semua pengusaha berangkat ke Jakarta. “Gula-gulanya” sebagian besar berada di Jakarta.

Indonesia semestinya menerapkan politik anggaran berbentuk piramida. Dengan demikian maka pusat hanya melakukan supervisi, pengarahan dan pengawasan mengenai tata kelola pemerintahan. Hal itu untuk menegaskan prinsip structure follow function dan money follow function yang sebenarnya sudah mendapatkan payung hukum dalam Undang-Undang No.39 tahun 2008. Prinsip ini sesungguhnya yang efektif untuk otonomi daerah, dimana rakyat secara langsung dilayani oleh perangkat pemerintahannya di daerah. Sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan rakyat di wilayahnya seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan sebagainya.

Untuk menuju Indonesia sejahtera, langkah nyata mewujudkannya ialah dengan pembangunan sistem politik yang kuat. Demokrasi dengan demikian mesti kompatibel dengan sistem presidensial yang dianut negara Indonesia yang meletakkan kedaulatan berada di tangan rakyat. Sistem presidensial memang mengharuskan adanya sifat pemerintahan yang powerfull (kuat) dan tak bisa diberhentikan oleh parlemen. Dengan sistem politik yang kuat diharapkan pemerintahan berjalan efektif dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya.

Indonesia sejahtera juga dapat terealisasi dengan mewujudkan konsep manajemen pemerintahan yang modern melalui pelaksanaan prinsip-prinsip good governance seperti efisien, efektif, akuntabel, dan transparan. Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negeri ini semestinya bermuara pada sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sejumlah kemajuan positif yang sudah terlihat dalam perjalanan bangsa ini di era reformasi seperti pembangunan politik serta pertumbuhan ekonomi sudah seharusnya membuat kita optimis bahwa sebenarnya masa depan bangsa ini bisa menjadi cerah. Untuk itu kita harus terus optimis bahwa di era reformasi ini, mewujudkan Indonesia sejahtera itu tidak sulit bahkan bisa dibilang sangat mudah. Bisa sangat mudah apabila kita konsisten menjalankan salah satu amanat reformasi yang terdapat pada TAP MPR No VII Tahun 2001 tentang Visi Indonesia Sejahtera 2020 yaitu Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, makmur dan mandiri.

Penulis buku ini (Agun Gunandjar Sudarsa) percaya bahwa hari-hari ini perjalanan bangsa ini telah on the right track menuju Indonesia sejahtera. Pemantapan sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan kuncinya.

Posted in Ekonomi, Essai, Politik, Resensi Buku

Membongkar Republik Akal-Akalan

Judul Buku: Republik Akal-Akalan: Mengungkap Kebohongan Rezim di Atas Ketidakberdayaan Rakyat
Penulis: Dr.Fuad Bawazier
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: 2013
Tebal: 261 halaman + XV

Buku ‘Republik Akal-Akalan’ merupakan kumpulan artikel opini dari Fuad Bawazier yang pernah terbit di berbagai media sepanjang tahun 2006-2013. Judul ‘Republik Akal-Akalan’ itu tentu saja menggambarkan bagaimana pengelolaan negeri ini yang masih saja menggunakan kebijakan bersifat akal-akalan. Untuk memudahkan sidang pembaca memahami aneka pemikiran dari Mantan Dirjen Pajak ini, maka esai-esai tersebut dikelompokkan berdasarkan sub tema yang sama, sekaligus memiliki benang merah yang nyata.

Menerbitkan berbagai artikel yang berserak menjadi sebuah buku yang layak dibaca tentunya memiliki alasan yang kuat. Setidaknya terdapat dua alasan penting yang melatari. Pertama, setelah ditelusuri, berbagai tulisan tersebut, mengandung benang merah yang kuat sepanjang periode itu, terutama dalam menggambarkan pengelolaan negara oleh penguasa yang cenderung menipu rakyat melalui berbagai kebijakan akal-akalan. Kedua, banyak tulisan yang jika dibaca lagi ternyata masih menemukan relevansinya kembali dalam perkembangan aktual dewasa ini, terutama terkait dengan masih maraknya tindakan akal-akalan penguasa di tengah rakyat yang seakan tidak berdaya.

Analisa ekonomi politik menjadi warna utama dari sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan di saat-saat genting Orde Baru ini. Gaya bahasanya yang blak-blakan, apa adanya, serta dibingkai dengan nuansa akademik menjadikan esai dari Fuad Bawazier layak menjadi hidangan intelektual bagi sidang pembaca.

Cover Republik akal-akalan

Simaklah potongan fragmen ketika Fuad yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Keuangan berada dalam sengkarut krisis ekonomi yang melanda negeri (Fuad Bawazier, Republik Akal-Akalan, hlm. 213-214):

Dalam penyelesaian krisis, Mafia Berkeley dan IMF cuma memiliki waktu hingga Juni 1998. Itu adalah tenggat diam-diam yang diberikan Soeharto, kendati dirinya juga tidak yakin masalah ekonomi akan selesai pada tenggat tersebut. Sebagai new comer waktu itu, saya juga berpandangan dan menjelaskan hal yang sama kepada Soeharto. Masalah krisis tidak mungkin diselesaikan IMF dalam waktu singkat. Kenapa? Pertama, resep yang dijalankan IMF umumnya justru memperparah kondisi yang ada. Kedua, sekali IMF datang ke suatu negara khususnya Indonesia, kalau tidak dipaksa keluar, mereka tidak akan meninggalkan Indonesia. Mereka akan terus “memperkosa” kita. Seperti praktik dukun cabul, datang tidak mengobati, tapi malah ngerjain kita. Betul juga ternyata Soeharto dijatuhkan lebih cepat. Mei 1998, Soeharto jatuh. Padahal menurut rencana, IMF akan dibubarkan Soeharto seperti halnya dia membubarkan International Government on Group Indonesia (IGGI). Sejatinya, pemikiran Soeharto ada benarnya. Krisis tidak bakal selesai pada tenggat yang ditentukannya. Akhir Juni 1998, IMF tidak akan bisa menyelesaikan masalah di Indonesia. Artinya, pada titik ini, sebetulnya, Soeharto sudah memberi kesempatan IMF selama enam bulan sejak awal 1998. Ternyata, IMF memang tak dapat menyelesaikannya dan dengan alasan ini rencananya Soeharto akan melengserkan IMF.

Buku ‘Republik Akal-Akalan’ ini secara garis besar memotret dan mengupas tentang bagaimana kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah. Mulai dari dunia perbankan yang penuh dengan kebijakan kamuflase, distorsi politik anggaran, pembohongan publik terkait hutang yang dilakukan pemerintah, kebijakan ekonomi yang bukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, ironi negeri yang menjadi korban akal-akalan pihak asing, hingga sejumlah solusi untuk memecah sengkarut yang membelit negeri.

Akal-akalan para penguasa memang terlihat ketika perekonomian Indonesia diarahkan untuk selalu bergantung terhadap hutang luar negeri. Padahal, berbagai kajian ekonomi maupun pandangan kasat mata, dengan jelas menyimpulkan bahwa hutang luar negeri pada umumnya tidak diperlukan, karena banyak dikorup, tidak efisien dan tidak efektif. Singkatnya hutang ini hanya menguntungkan kreditor dan kaki tangannya tetapi merugikan Indonesia secara ekonomis maupun politis. Namun dengan berbagai alasan yang dibalut dengan kebijakan akal-akalan tentunya, kebijakan mencari hutang terus saja berlangsung sampai saat ini.

Melalui buku ini kita dicerdaskan untuk melihat permasalahan secara global dalam konteks-konteks kasus kekinian. Selamat membaca!

Posted in Aku, Ekonomi, Essai, Fiksi Fantasi, Jalan-Jalan, Sosial Budaya

Boneka Voodoo

Pada 7 Juli 2013 tempo hari saya berkesempatan pergi ke Popcon Asia. Bertempat di Jakarta Convention Centre pada tahun ini tema yang diangkat adalah Cross-Dicipline Success Story. Pergi ke suatu tempat dengan membawa buah tangan merupakan upaya terbaik untuk membekukan memori. Saya pun membeli Watchover Voodoo Doll. Apa yang terbetik di pikiran Anda ketika mendengar frasa “boneka voodoo”. Mungkin mistis, gelap, jahat, musuh, balas dendam, merupakan berbagai kata yang dapat memberikan penjelasan mengenai boneka voodoo.

Tentu saja Watchover Voodoo Doll tidak menjual boneka voodoo yang seperti lazim ada di benak kita sekalian untuk melakukan “tindakan” terhadap musuh. Saya kutipkan dari keterangan mainannya: Watchover Voodoo is for fun and if by keeping one of these dolls with you it helps with any aspect of your life then it is a good thing.

watchover voodoo doll

Persepsi, definisi memang dapat bergeser adanya. Semisal mengenai vampir yang menemukan definisi berbeda pada diri Edward Cullen. Singkirkan peti mati, terbakar karena sinar matahari, bawang putih, predator yang kejam. Edward Cullen menjadi sosok vampir yang begitu dicintai dengan sejumlah spesifikasi yang ok bagi kaum hawa. Ia tampan, berbudaya, “vegetarian”, pecinta musik Claude Debussy.

Begitu juga persepsi, definisi ketika melihat Watchover Voodoo Doll. Ada persepsi, definisi yang bergeser dari segala keangkeran, kekelaman, pembalasan dendam dari boneka voodoo yang seperti lazim terdengar. Yang hadir adalah boneka voodoo dalam tampilan yang simpatik, unyu, dan membawakan pesan kebaikan. Saya tidak perlu membayangkan untuk menusuk dengan jarum, mematahkan tangan atau kaki dari boneka voodoo ini. Melainkan menjadi koleksi mainan yang menarik adanya.

Pesan baik dari boneka voodoo yang saya beli adalah sebagai berikut: To help give you strenghth to fight for all the things you believe in. Boneka voodoo yang saya beli bertemakan gladiator. Pesan lainnya ialah dari boneka voodoo yang berwarna pink: To get rid of unwanted love interest and watchover my feelings. Demikianlah pada beberapa hal kita harus berterima kasih kepada kreativitas, kapitalisme yang mampu mengemas segala sesuatu menjadi menarik dan layak menjadi buah tangan.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.
Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Ekonomi, Essai, Kuliah, Politik

Bisnis dan Politik Pasca Orde Baru (2-Tamat)

Berkaitan dengan perkembangan teknologi yang memadai. Arah kebijakan teknologi Indonesia yang mengarah pada tingkat tinggi berupa pembuatan pesawat terbang, helikopter, namun abai terhadap teknologi pertanian, tekstil- menimbulkan ambivalensi ekonomi. Di satu sisi Indonesia terlihat maju dengan membangun industri dalam skala high cost, yang memerlukan keahlian tinggi dan modal besar; namun di sisi lain teknologi fundamental dan merakyat serta menyangga perekonomian bangsa tidak berkembang dengan optimal.

Orde Baru dalam kaitannya dengan korporat asing juga menerapkan pola rente. Pembangunan infrastrukur, pertambangan, listrik, dan teknologi tinggi lainnya membawa pemodal asing masuk ke Indonesia. Kontrak jangka panjang (seperti Kontrak Karya Pembangunan Freeport), dikarenakan besarnya modal dan diharapkan dapat terjadi alih teknologi di kemudian hari. Korporat asing di Orde baru pun menikmati pola bisnis- politik yang diterapkan. Model kolusi memungkinkan bagi pengabaian aspek lingkungan, corporate social responsibility, dan rendahnya upah buruh sebagai keunggulan komparatif Indonesia.

Pola ini yang membawa implikasi pada kronisnya krisis ekonomi yang menghantam Indonesia dan membawa implikasi sosial politik yang rumit. Pada bagian reformasi dapat dilihat bagaimana pola ini mengalami pergeseran.

Masa Reformasi

Masa reformasi menggenggam harapan bagi perbaikan Indonesia ke depannya dibanding era pendahulunya. Namun harapan terkadang bersebrangan dengan kenyataan. Melihat masa reformasi konsep korporatokrasi yang digagas John Perkins layak untuk diutarakan sebagai analisa. Korporatokrasi menunjukkan bahwa dalam rangka membangun imperium global, maka berbagai korporasi besar, bank, dan pemerintahan bergabung menyatukan kekuatan finansial dan politiknya untuk memaksa masyarakat dunia mengikuti kehendak mereka. Istilah korporatokrasi dapat digunakan untuk menunjukkan betapa korporasi atau perusahaan besar dalam kenyataannya dapat mendikte, bahkan kadang- kadang membeli pemerintahan untuk meloloskan keinginan mereka.

Meredupnya peran Negara dikarenakan sorotan publik yang begitu besar dan arus tuntutan reformasi yang menghendaki pembagian kekuasaan. Pemerintah yang berkuasa sepanjang era Reformasi merupakan aliansi koalisi sehingga dalam menjalankan kekuasaannya tidak bisa serta merta apa yang diinginkan itu yang dilakukan.Masa Habibie(era transisi-dengan dukungan dari Golkar & militer) Masa Abdurahman Wahid (poros tengah- kalangan partai Islam), Masa Susilo Bambang Yudhoyono (koalisi besar ;Demokrat-7,45% suara nasional, Golkar, PKS, PBB), memperlihatkan bagaimana pemerintah harus melakukan kompromi dalam menjalankan roda kekuasaannya.

Masa Reformasi memperlihatkan bagaimana kepentingan bisnis mampu mempengaruhi domain politik. Konglomerat yang dibesarkan oleh Orde Baru, tumbuh sendiri, ataupun korporat besar asing mampu mempengaruhi pemerintah yang memerlukan pilar ekonomi untuk menunjang kepemimpinannya. Contoh dari korporatokrasi dapat dilihat pada Peraturan Presiden No 77/ 2007 tentang kepemilikan modal, pihak asing diperbolehkan memiliki 95 % kepemilikan di bidang pembangkit tenaga listrik, jasa pengeboran minyak dan gas bumi, pengusahaan air minum. Peraturan ini memberi aturan legal bagi perusahaan asing untuk menguasai sendi- sendi vital bangsa.

Korporatokrasi ini jika ditilik dari bisnis dan politik merupakan konsep destruktif bagi keduanya. Dari sisi bisnis, korporat raksasa dengan bantuan economic hit man akan membuat ekuilibrium bisnis semakin timpang. Korporat- korporat besar akan semakin mengglobal dan menghegemonik dalam penguasaan modal, di samping itu ciri kapitalisme sejati berupa persaingan bebas tidak terjadi lagi. Dari sisi politik , kedaulatan pemerintah akan dipertanyakan, ataukah sekedar komprador korporat besar.

Menilik pola hubungan bisnis dan politik pada era Orde Baru dan masa Reformasi maka kita belum melihat tertujunya pola menuju kesejahteraan bersama. Kemakmuran hanya dinikmati segelintir saja dan gagal terdistribusi ke masyarakat secara keseluruhan. Masa reformasi terlebih menjelang pemilihan presiden memiliki momentum politik untuk melakukan sejumlah perbaikan dalam melihat pola bisnis- politik. Alternatif ekonomi kerakyatan, jalan ketiga Giddens, ekonomi syariah, merupakan sekian opsi yang tersedia untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Posted in Ekonomi, Essai, Kuliah, Politik

Bisnis dan Politik Pasca Orde Baru (1)

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada medio 1997- 1998 menimbulkan implikasi multidimensi. Pengunduran diri presiden Soeharto pada 21 Mei 1998, tidak hanya dimaknai sebagai momentum tabula rasa, melainkan momentum perubahan bagi banyak aspek di Indonesia. Bisnis dan politik pasca Orde Baru memperlihatkan perbedaan pola dibandingkan era Soeharto berkuasa. Bagaimanakah pergeseran pola hubungan bisnis dan politik pasca Orde Baru? Untuk menjawabnya menurut hemat saya dapat dilihat dengan melihat era orde Baru dan era Reformasi.

ORDE BARU

Orde Baru mewarisi kondisi ekonomi yang buruk dari Orde Lama, hal ini dapat dilihat pada sejumlah data sebagai berikut cadangan devisa menciut sampai nol(pada 1965), inflasi meningkat sampai 650%(pada 1966); daerah pedesaan Jawa tergolong sangat miskin, menyebabkan Nathan Keyfitz menggambarkannya sebagai “sesak napas karena kekurangan tanah”. Fokus di awal pemerintahan ialah menyelamatkan perekonomian nasional. Masa Orde Baru untuk kemudian menyusun blue print pembangunan melaui pembangunan lima tahun dan Pembangunan jangka panjang (25 tahun). Kalangan teknokrat yang dipimpin Widjojo Nitisastro memberikan landasan ilmiah dan merancang bangun perekonomian nasional.

Orde Baru menggunakan konsep stabilisasi politik dan pembangunan ekonomi. Konsep tersebut berimbas langsung pada bisnis dan politik. Pembangunan ekonomi yang dikembangkan mengandalkan pada pertumbuhan ekonomi, sedangkan stabilisasi politik berupa penguatan Negara dari segala bentuk oposisi. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada Orde Baru menurut Perkins tak bisa dilepaskan dari bias delusi yang dilakukan pihak barat untuk menopang keuntungan sejumlah korporat. Pertumbuhan ekonomi yang mengandalkan pada konglomerasi secara kritis dimaknai sebagai ersatz kapitalisme oleh Yoshihara Kunio.

Yoshihara Kunio menuturkan pola hubungan bisnis dan politik di Indonesia ialah ersatz capitalism. Secara asal kata ersatz (bahasa Jerman) berarti subtitusi atau pengganti, kata ini digunakan dalan bahasa Inggris berarti pengganti yang lebih inferior. Secara etimologis kapitalisme ersatz berarti bukan kapitalisme yang tulen. Ada dua hal yang menyebabkan kapitalisme menjadi ersatz; pertama campur tangan pemerintah terlalu banyak sehingga mengganggu prinsip persaingan bebas dan membuat kapitalisme menjadi tidak dinamis, kedua kapitalisme di Asia Tenggara tidak didasarkan perkembangan teknologi yang memadai.

Kapitalisme Asia Tenggara (termasuk Indonesia) disebut semu karena ia didominasi oleh para pemburu rente (rent seekers).Bersifat semu dikarenakan didominasi oleh kaum kapitalis Cina. Sebenarnya, terdapat jenis- jenis kapitalis yang janggal seperti kapitalis konco dan kapitalis birokrat. Di samping itu, ada pemimpin- pemimpin politik, anak- anak dan sanak keluarga mereka, dan keluarga keraton terlibat dalam bisnis. Apa yang mereka buru bukan hanya proteksi terhadap kompetisi asing, tetapi juga konsesi, lisensi,hak monopoli, dan subsidi pemerintah ( dalam bentuk pinjaman berbunga rendah dari lembaga- lembaga keuangan pemerintah). Sebagai akibatnya, telah tumbuh dengan subur segala macam penyelewengan.

Kapitalisme yang tumbuh berupa konglomerat yang dimanjakan dan dibesarkan oleh Negara. Negara dan pemerintah di era tersebut teramat menentukan dalam bidang ekonomi dan politik. Liddle bahkan menyebutkannya dengan Soeharto deterministik. Suatu istilah yang tidak berlebihan mengingat kalangan konglomerat yang tumbuh berkembang memperoleh rente dari kedekatannya dengan penghuni Cendana ini. Dalam buku Kunio dijelaskan di bagian lampiran mengenai profil singkat konglomerat yang tumbuh dari rahim penguasa seperti Sukamdani Sahid, Probosutedjo, Sudwikatmono, putera- puteri presiden, Ciputra, Bob Hasan, Sudono Salim, dan sebagainya.

Berkaitan dengan campur tangan pemerintah yang terlalu banyak dapat dilihat pada kasus mobil nasional pada tahun 1996. Campur tangan berlebihan dapat dilihat pada pembebasan bea berupa pajak barang mewah 35 %, PT Timor Putra Nasional (pemiliknya Tommy Soeharto) menjadi satu satunya perusahaan yang mendapat keistimewaan mobil nasional. Penyikapan seperti inilah yang menjadi potret dari pola hubungan bisnis- politik di era Orde Baru. Peraturan disesuaikan agar menguntungkan bagi kongsi yang sealiran dengan pemerintahan. Harapan melihat munculnya kelas menengah dan kalangan kapitalis tulen tereduksi secara serius. Kalangan kapitalis justru menjadi penikmat status quo dikarenakan pemburuan rente yang dilakukan, sehingga menjelaskan stabilisasi politik yang terjadi dengan merangkul kekuatan modal ke dalam pilar penyangga kekuasaan.

(Bersambung)

Posted in Ekonomi, Essai, Sosial Budaya

Kerakusan

Apakah ada plafon atas dari kerakusan? Kerakusan selalu memiliki alasan rasionalisasi. Lalu berlindung di bawah tudung rupa-rupa. Begitulah kiranya kerakusan dapat menggerogoti kehidupan. Kerakusan merupakan antitesa dari rasa syukur. Manusia dengan kerakusannya telah memiliki ragam hikayat sejarah ceritanya tersendiri. Apabila telah memiliki gunung emas, maka apabila ada peluang untuk memiliki gunung emas lainnya maka dengan spartan akan coba direngkuh gunung emas berikutnya. Seperti menengguk air laut yang tiada kunjung terpuaskan.

Kerakusan dapat berbiak dari keinginan. Dan itu dapat menjadi permasalahan. Manakala tiada paralelnya keinginan dengan kemampuan. Dengan kerakusan, jika Anda adalah seorang atasan, maka Anda dapat memeras, memerintahkan bawahan untuk memenuhi dahaga kerakusan. Karl Marx pun berbicara tentang nilai lebih. Bagaimana para pemilik modal mendapatkan nilai lebih dari suatu produk.

Kerakusan menjadikan pertentangan terhadap hukum alam. Maka segala kerusakan di darat dan laut merupakan manifestasi dari kerakusan. Hutan yang diterabas, laut yang dikeruk. Pekerja yang dititahkan untuk bekerja melebihi kuota jam kerja. Waktu apabila bisa lebih dari 24 jam. Kerakusan dapat menimbulkan ketergesaan, tidak bersabar, tiada mengikuti proses. Sungguh kerakusan dapat melalaikan manusia akan makna kehadirannya di bumi.

Kerakusan dapat menimbulkan tumpukan. Baik dalam bentuk fisik. Sebut saja perut yang membuncit bisa jadi merupakan monumen dari kerakusan dalam hal makanan dan minuman. Kerakusan dapat berbentuk dengan rangkaian koleksi yang berlebihan. Yang ada adalah tumpukan yang memenuhi ruangan. Sebut saja Imelda Marcos dengan koleksi sepatunya yang berjumlah ribuan. Kerakusan memang dapat berkorelasi pada besaran angka uang yang harus dikeluarkan. Maka para marketer dengan piawai memainkan sisi emosional para pembeli. Barang pun berpindah tangan. Barang pun menyesaki ruangan rumah.

Atau jangan-jangan potret kerakusan inilah yang membuat negeri ini menjadi seksi untuk dituju investasi. Jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Potensi pasar yang besar. Ditambah lagi kelas menengah yang semakin menggemuk proporsinya bersama waktu. Konsumsi menjadi roda penggerak ekonomi negeri ini. Jadi kerakusan adalah penyelamat dari perekonomian negeri ini?

Ah kerakusan memang punya banyak perwajahan.

Posted in Edukasi, Ekonomi, Essai, Fiksi Fantasi, Sosial Budaya

Karya dan Konsumsi

Darimana asalnya karya? Bagaimana kiranya seorang kreator berkarya? Saya percaya seorang kreator kreativitas merupakan mereka yang menyerap dari sumber yang berkualitas. Berarti ada konsumsi disini. Konsumsi yang untuk kemudian berbuah menjadi produksi. Indonesia merupakan negara yang mencatatkan dirinya pada pertumbuhan ekonomi di atas 6% di saat krisis keuangan melanda sejumlah negara Eropa. Apa pasal? Ternyata hal tersebut ditopang oleh konsumsi domestik yang lahap dari sekitar 240 juta penduduk negeri ini. Lalu kemana kiranya konsumsi itu? Apakah lantas menjadi hilang saja? Apakah tidak lantas menjadi rangkaian produksi dan karya yang terhadirkan. Inilah pertanyaan besarnya, konsumsi oke, namun apakah produksinya oke?

Menurut hemat saya perlu kiranya bagi setiap dari kita untuk mengarahkan pandangan pada output, karya, produksi yang bisa terjadi dari diri kita. Seberapa banyak dari ramainya penonton di bioskop yang lalu berbuah menjadi karya sineas Indonesia? Seberapa banyak dari ribuan buku yang terjual lalu berbuah menjadi karya buku dari si pembaca? Seberapa banyak dari musikalitas lagu yang didengarkan lalu berbuah menjadi satu buah lagu? Bagi saya sebuah negeri yang sekedar menyerap, melahap, sekadar akan menjadi bangsa konsumen. Bangsa yang akan dibanjiri dengan varian produk yang teramat mungkin tidak dibutuhkannya.

Berkaryalah, maka tunjukkan kepada dunia warnamu. Saya percaya individu, entitas, ataupun negara yang menghasilkan dari rahim internalnya sejumlah karya merupakan pihak yang berkarakter. Karakter itu akan terlihat dari portofolio karya yang dihasilkan. Maka kita mengenal Amerika dengan serbuan film hollywood-nya. Kita mengenal Jepang dengan kreativitasnya melalui jalur anime ataupun komiknya. Kita mengenal India melalui film Bollywood-nya yang bahkan menjadikan negara tersebut sebagai negeri yang paling produktif dalam menghasilkan film setiap tahunnya. Berkaryalah negeri ini, jangan sekadar menyanyikan Rayuan Pulau Kelapa gubahan Ismail Marzuki ataupun Kolam Susu dari Koes Ploes.

Apa pasal karya dan produksi dari negeri ini masih mandeg di tengah angkatan kerja yang begitu besar? Jika boleh mencari hulu alasan, menurut hemat saya tak dapat dilepaskan dari pola pendidikan yang ada. Negeri ini telah melatih dan membentuk pola konsumtif. Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) malahan dalam prakteknya menjadi Catat Buku Sampai Abis (CBSA). Sekadar mencatat, membeo dari ilmu yang telah terkodifikasi. Mengapat tidak ditumbuhkan semangat berkarya semenjak belia. Berkarya dalam berbagai varian ditumbuhkan dan dikembangkan. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, misalnya dibandingkan durasi mata pelajaran habis untuk menerangkan EYD, periodisasi novel serta puisi beserta angkatannya, lebih baik jika diisi dengan pelajaran mengarang. Pelajaran mengarang akan membuat siswa aktif. Bekerja di ranah tulisan. Membuat siswa tidak pincang dalam menulis, jika boleh meminjam frasa dari Taufiq Ismail. Dengan mengarang, maka siswa akan aktif mencari tentang mana kata dan kalimat yang telah sesuai dengan EYD dan akan menjadikan referensi dari novel terdahulu sebagai rujukan.

Melakukan shifting paradigm penting dilakukan oleh negeri ini jika ingin menaikkan level kemampuannya. Shifitng paradigm itu adalah dari bangsa konsumsi menjadi bangsa produksi. Konsumsi memang dapat memutar roda perekonomian nasional, menghasilkan pertumbuhan ekonomi, namun jika mampu menjadi bangsa produsen maka negeri ini akan memiliki daya yang luar biasa dalam konstelasi dunia. Kemampuan untuk mengolah dari konsumsi menjadi produksi misalnya diperlihatkan oleh seorang Ridwan Kamil yang merupakan seorang arsitek. Inspirasi dari desainnya menurutnya berasal dari film kartun dan perjalanan yang dilakukannya. Ini berarti konsumsi (menonton film kartun dan perjalanan) mampu diolah menjadi elemen kreativitas dalam menghasilkan desain tata ruang.

Dari konsumsi menjadi produksi juga diperlihatkan oleh penulis. Penulis melakukan konsumsi terhadap bacaan, perjalanan, menonton film; lalu dari konsumsi multi rupa tersebut terkreasilah tulisan. Anda dapat melihat misalnya pada karya tulis dari esais Goenawan Mohamad yang mampu memadukan antara kuatnya daya bacanya, muhibah di berbagai tempat yang dikunjunginya, dan film yang ditontonnya. Dengan demikian konsumsi merupakan amunisi untuk berkarya. Konsumsi bukan untuk konsumsi en sich, melainkan sebagai bahan untuk melakukan produksi. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang teramat berbeda. Mereka yang memproduksi akan mampu menyerap dari berbagai unsur, mendialogkan di internal dirinya, lalu menghasilkan buah karya. Mereka yang sekadar mengkonsumsi akan berhenti pada tingkat kenikmatan konsumsi.

Berkaryalah dan tunjukkan kepada dunia siapa dirimu. Benar kiranya ada mekanisme industri dan uang ketika bertalian dengan karya. Namun bagi mereka yang memiliki mental penghasil, saya percaya akan terus berkarya dan menghasilkan. Indie merupakan salah satu opsi. Maka bertebaranlah musik indie, film indie, novel indie. Saya sendiri mengapresiasi mereka yang konsisten berkarya melalui jalur indie. Amat mungkin secara finansial lewat jalur indie tidak tercapai break event point, malahan bisa tekor. Namun ada karya yang tercipta, ada produk yang terhasilkan. Contohnya ada sahabat saya yang membuat serial novel indie. Dia lalu menggratiskan novel indienya seri yang ketiga jikalau pembeli memiliki novel indienya yang seri kedua. Secara hitung-hitungan ekonomi, ada uang yang luput dari radar kantongnya. Namun saya mendapati bahwa melalui novel indienya dia menemukan kepuasan untuk berkarya, kepuasan untuk berbagi cerita, kebahagiaan untuk berdiskusi tentang buah penanya sekalipun hanya berada dalam radius lingkar persahabatannya. Menurut hemat saya, rekan saya ini jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka yang sekadar berangan-angan kosong dan stuck dalam upaya menembus penerbit besar.

Berkaryalah karena dengan buah cipta, karsa itu sesungguhnya Anda telah memberi. Dengan berkarya maka terbiasalah untuk memiliki abundance mentality bukan mental pengemis. Berkarya juga akan menguatkan keahlian dan memperpanjang portofolio yang dimiliki. Berkarya juga akan membuat Anda dikenal. Oh si A yang rajin menulis, oh si B yang jago menggambar, oh si C yang piawai menggubah lagu, dan sebagainya. Jangan sekadar menjadi manusia netral, nir, dan selintasan lewat di bumi tanpa meninggalkan jejak. Jejak manusia adalah karya. Di penghujung kata, mari bermenung sejenak, jadi ketika kini Anda sedang mengkonsumsi suatu produk, telahkah terpikir tentang apa yang bisa Anda kreasi dari konsumsi tersebut? Baiklah kiranya saya lepas Anda di gerbang dengan permenungan penutup tersebut.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa