Menulis Membawa Saya Berkunjung ke Sejumlah Daerah

DSC_0159

Agustus 2015 ketika itu saya sedang meliput event Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Palembang, Sumatera Selatan. Sebagai pemateri dalam pembekalan peserta FLS2N tingkat SMP yakni Ahmad Fuadi penulis buku best seller ‘Negeri 5 Menara’. Salah satu perkataan dari Ahmad Fuadi yang berkesan adalah menulis membawanya jalan-jalan ke berbagai negara dan berbagai daerah.

Kalimat tersebut saat itu masuk dan mencantel saja di ingatan. Untuk kemudian saya baru menemukan relevansi kalimat itu di penggalan waktu kemudian. Ya, sebelumnya ketika masih bekerja sebagai ghost writer dan editor, ‘jalan-jalan’ ke sejumlah tempat pun saya lakoni. Saya bertemu dengan beberapa orang politikus baik itu di gedung parlemen ataupun di rumahnya. Banyak kenangan dan pengalaman yang saya dapatkan kala itu. Mulai dari cerita off the record hingga terkagumkan dengan lukisan karya Raden Saleh di rumah salah seorang politikus.

Lalu ketika saya menjadi jurnalis, kesempatan untuk berkunjung ke sejumlah daerah di Indonesia saya dapatkan. Kantor tempat saya bekerja istilah kerennya menjadi media partner dari pemberitaan di Direktorat Pembinaan SMP dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus. Irisannya bertemu dengan entitas pendidikan baik itu di jajaran SMP dan Anak Berkebutuhan Khusus.

IMG_0685

Dengan bekal kemampuan menulis, saya pun meliput berbagai event yang buat saya worth banget dan membangkitkan optimisme. Ada event Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), FLS2N, Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN), Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN), Festival dan Lomba Literasi PKLK, dan lain sebagainya.

Berbagai kota pun saya kunjungi sebagai konsekuensi logis liputan ragam event tersebut antara lain Palembang, Medan, Pekanbaru, Bali, Jakarta. Saya pun menyelami tekstur sebuah kota, dan merasakan langsung Indonesia.

Menyenangkan, melakukan sesuatu yang saya gemari: menulis. Ditambah lagi bertemu dengan anak-anak bangsa dengan segala keunikannya. Menelusuri daerah di Indonesia yang memiliki pola tersendiri. Ya, menulis telah membawa saya ke berbagai kesempatan dan pertemuan. Bagaimana dengan Anda?

Advertisements

Mulai Saja Dulu, Menulis (Lagi) di Blog

DSC_7411

Sudah terlalu lama saya tidak menuliskan esai di blog ini. Ya untuk rutinitas, saya menjangkaunya melalui puisi-puisi. Namun sudah saatnya bagi saya untuk menghidupkan kembali blog ini dengan ragam kemampuan literasi yang saya pikir dimiliki. Banyak cara pandang, artikulasi yang dapat diungkap untuk menyampaikan sebuah pesan. Dan saya akan memilih kembali cara esai, dan ragam cara untuk menjangkarkan hal itu.

Alasan? Ya, tentu beragam alasan dapat didedahkan untuk kegagalan dan kealpaan. Diantara alasan itu adalah equilibrium yang berbeda antara menulis buku dan menulis di media online. Keinginan saya untuk menulis kembali di blog pun tak terlepas dari rekam jejak tulisan yang ternyata telah begitu banyak di masa lalu. Betapa saya berusaha untuk menghidupkan kata. Lalu mengapa tidak meneruskannya?

Sebagai ghost writer di bawah naungan Rakyat Merdeka Books (Maret 2011-Januari 2015), itu adalah era dimana blog ini begitu hidup. Menulis buku ketika itu memberikan saya waktu pengaturan yang lebih leluasa. Dikarenakan saya bisa melakukan riset bacaan, ataupun menuliskannya sesuai skema waktu yang ada. Sedangkan ketika bekerja di media online (Januari 2015-sekarang), waktu seakan begitu cepat berdetak. Sekian menit dalam waktu kerja, diburu oleh tulisan yang siap saji. “Kemewahan” dengan waktu seakan meluruh. Selesai jam kerja pun saya merasa sudah terlampau lelah untuk menulis esai ataupun tulisan genre lainnya. Begitulah kira-kira “logika”, “pembenaran” yang bersemayam di pikiran saya mengenai kealpaan, kemandekan kanal esai, cerpen, novel dalam jejak literasi saya terhitung mulai bekerja di media online.

Namun manusia memiliki pikiran yang dapat menjebaknya sendiri. Dan mungkin itu juga dialami oleh saya dengan “logika” dan “pembenaran” itu. Seiring waktu, saya pun merindu untuk menulis esai, cerpen, novel, dan segala ranah literasi yang perlu dieksplorasi. Saya pun merasa belum optimal menancapkan pengukuhan diri sebagai sosok yang berkecimpung dengan literasi.

Maka disinilah saya, pada suatu dini hari. Mencoba untuk memupus segala mitos ketidakmampuan. Mulai saja dulu. Blog ini dapat diaktifkan kembali dengan rupa-rupa literasi. Bahan? Bukankah saya memiliki isi di kepala, hati, emosi, lapisan pengalaman. Belum lagi tumpukan buku, majalah, koran, penelusuran internet.

Mulai saja dulu. Dan saya pun percaya semangat berbagi memiliki muaranya tersendiri. Mari membuka bidak kata.