Ramadhan, Lebaran, Kesendirian, dan Kebersamaan

Mungkin Lebaran 1437 Hijriah adalah momentum Hari Raya paling sepi yang pernah saya alami. Sepanjang Ramadhan ini relatif saya benar-benar sendiri. Terutama ketika waktu sahur, kesendirian itu menyengat. Untungnya terdapat Piala Eropa 2016 yang membantu dan memotivasi saya untuk bangun sahur. Soal menu, bagi seorang yang belum punya kemampuan masak, maka segala ‘makanan jadi’ menjadi pilihan.

Sekejap memutar roda waktu, saya pun terkenang dengan ragam bulan puasa ataupun Lebaran yang saya alami. Musim lalu tentunya saya berpuasa dan berlebaran bersama istri tercinta. Sebuah momentum untuk pertama kalinya sebagai kepala keluarga. Tentu banyak kenangan, keriangan yang masih bersenandung di ingatan pada musim 1436 Hijriah. Bagaimana kami sahur bersama ataupun ada hari yang terlewat tanpa sahur. Bagaimana kami berbuka puasa dengan sanak famili ataupun sobat.

Lalu putaran purnama itu bergerak. Dan kenyataan pun berdetak. Segala rona kehangatan, kebahagiaan, kebersamaan yang relatif menguap pada musim ini semestinya menjadi bahan baku kontemplasi. Tentu saya bersyukur sangat dengan apa yang dialami dan dilakoni musim lalu. Maka ketika kesendirian itu datang, seperti diingatkan pada hakikat diri. Bukankah pada akhirnya akan berpulang ke negeri akhirat sendiri dengan membawa catatan amal?

Kesendirian juga merogoh ingatan pada ragam ilmu sosial yang pernah saya pelajari. Ya, manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Manusia butuh interaksi. Manusia butuh yang lainnya. Chuck Noland dalam film Cast Away menjadikan bola voli sebagai temannya. Pi Patel dalam film Life of Pi menjadikan Richard Parker sang binatang buas sebagai sobatnya. Rangga yang pulang ke Yogyakarta menemukan kehangatan kebersamaan bersama keluarga dari ibunya.

Maka bulan puasa ini, Lebaran yang akan menjelang, membawa saya pada lapisan kenangan dan pertanyaan itu. Tentang kesendirian, tentang hangatnya kebersamaan serta pertanyaan transendental dan eksistensial.

Seratus Kurawa & Iri Hati

‘Kurawa’ memiliki arti ‘Keturunan Suku Bangsa Kuru’. Dalam kisah Mahabharata, Kurawa merujuk pada seratus bersaudara yang menjadi musuh bebuyutan Pandawa Lima. Ayah Kurawa adalah Drestarastra, Raja Astina yang buta sejak lahir. Kelahiran Kurawa melalui proses yang ajaib, dilahirkan dalam bentuk gumpalan daging yang merupakan perwujudan iri hati Ratu Gundari terhadap Kunti (Ibu Pandawa). Gumpalan tersebut terpecah menjadi 100 potong, yang akhirnya tumbuh menjadi seratus orang bersaudara. – Garudayana Saga III

Apa yang bisa dihasilkan oleh iri hati? Sengkarut angkara? Iri hati bisa jadi muncul dikarenakan sistem yang dikreasi oleh manusia. Ada ketimpangan yang memang telah disusun secara sistemik. Sebut saja dalam relasi pekerjaan. Adalah ironis melihat begitu besarnya gap pendapatan antara yang satu dengan yang lain. Lalu hal tersebut seolah mendapatkan pembenarannya.

Di kantor saya yang lama, sistem lama yang dibangun memasok iri hati sistemik macam begitu. Bagaimana kue kesejahteraan begitu besar untuk para marketing yang mendatangkan klien untuk dituliskan bukunya. Sedangkan jatah penulis mendapatkan kue kesejahteraan yang relatif jauh hitung-hitungan ekonomisnya dibandingkan porsi marketing.

Lalu “pembenaran-pembenaran” pun disusun. Bahwa marketing-lah yang mendatangkan arus uang masuk. Marketing-lah yang memasok keuntungan bagi perusahaan. Beruntung di kemudian hari, sistem agak terperbaiki dengan adanya porsi tambahan bagi penulis dengan titel uang redaksi.

Meski begitu pengalaman tersebut terpatri erat-erat. Apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?

Lalu terhenyaklah saya dengan situasi di sebuah kantor yang membanderol gaji para marketing-nya dengan kisaran hingga belasan juta. Sedangkan di kantor yang sama gaji para wartawan benar-benar berada dalam taraf minimalis.

Lagi-lagi saya dihadapkan dengan pertanyaan ‘apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?’

Penghargaan, apresiasi, keadilan. Mungkin perkara iri hati bersumbu dari ketiga kata tersebut diantaranya. Bagaimana iri hati bukan tumbuh dari ruang hampa. Melainkan dibentuk secara sistemik oleh sistem yang timpang.

Di negeri para pengolah ini, para penjaja proyek menempati kasta teratas. Sedangkan para profesional yang bergelut dengan kapasitas hanya mendapatkan porsi kue kesejahteraan yang kesekian.

Ah, mungkin telah beternak secara eksponensial para Kurawa dikarenakan sengkarut ketidakadilan sistemik macam begini.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku, sastra

Bintang dan Konstelasinya

Judul Buku: The Fault in Our Stars

Penulis: John Green

Penerbit: qanita

Cetakan: VIII, September 2014

Tebal: 424 halaman

The Fault In Our Stars

Buku ini mendapatkan awal mula perhatian saya ketika keponakan saya membeli buku karangan John Green. Dia menyatakan salah satu buku karangan John Green yang direkomendasikannya adalah The Fault in Our Stars. John Green sendiri merupakan seorang penulis terlaris New York Times dan pemenang penghargaan, dengan banyak penghargaan antara lain Printz Medal, Prints Honor, dan Edgar Award. Lalu kemudian versi film dari buku The Fault in Our Stars pun muncul di bioskop pada tahun 2014.

Rekomendasi dari keponakan, versi filmnya yang telah muncul, belum juga mempertemukan saya untuk membaca ataupun menonton versi filmnya yang diperankan oleh Shailene Woodley (Hazel Grace) dan Ansel Elgort (Augustus Waters). Sampai istri saya membeli novel yang masuk dalam kategori New York Times Bestseller ini. Dan saya pun akhirnya membaca novel ini.

Secara sederhana The Fault in Our Stars diresumekan sebagai berikut:

Meski keajaiban medis mampu mengecilkan tumornya dan membuat Hazel bertahan hidup beberapa tahun lagi, Hazel Grace tetap putus asa. Hazel merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Namun, ketika nasib mempertemukannya dengan Augustus Waters di Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker, hidup Hazel berubah 180 derajat.

            Mencerahkan, berani, dan menggugah, The Fault in Our Stars dengan brilian mengeksplorasi kelucuan, ketegangan, juga tragisnya hidup dan cinta.

 Hazel Grace

Pada mulanya saya membaca buku ini dengan rasa ketertarikan yang normal. Kisah cinta remaja antara Hazel Grace dan Augustus Waters dengan latar penyakit yang mendera keduanya. Hazel Grace yang mulanya terkena kanker tiroid, lalu dengan koloni pendompleng kanker tersebut bermukim di paru-paru. Sedangkan Augustus Waters adalah penderita osteosarkoma (kanker tulang). Sekilasan saya mendapatkan sentuhan ala teenlit yang ringan. Namun di sisi lain terdapat kedalaman filosofis dan bertaburan kata-kata puitis. Saya pun teringat paralelisme dengan novel Fairish dalam hal kedalaman filosofis, taburan kalimat puitis yang dirangkai dalam tema besar teenlit.

Meski awalnya rasa ketertarikan saya terhadap buku ini normal, namun penulisnya John Green mampu menaikkan tempo dan memikat saya di bagian-bagian berikutnya. Saya pun tertawan untuk menelusuri halaman demi halaman.

Augustus Waters

Dari satu titik episentrum bernama kanker, rangkaian filosofi, kisah, dapat dipintal. Kita mendapatkan cinta yang tulus antara Hazel Grace dan Augustus Waters hingga maut memisahkan. Kita mendapatkan bagaimana kematian orang yang dicintai dapat menimbulkan efek menahun dan sistemik pada Peter van Houten. Kita mendapatkan bagaimana sokongan dari keluarga Hazel Grace dan keluarga Augustus Waters dalam mengasuh anaknya. Kita mendapatkan pertanyaan besar mengenai ‘meninggalkan tanda’ dan arti hadir kita di bumi.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Humor

Apa yang bisa dijangkau oleh humor? Sekilas humor nampak sederhana. Namun sesungguhnya humor memiliki kerumitan tersendiri. Humor dapat menjadi barometer pertanda sehat atau tidaknya suatu entitas. Katakanlah entitas itu negara atau entitas itu adalah organisasi. Dalam beberapa organisasi yang pernah saya geluti ada sejumlah orang yang dalam istilah saya ‘memakruhkan humor’. Humor dianggap perbuatan sia-sia, pertanda ketidakseriusan dari sang pelontar humor.

Dalam skala negara, humor merupakan sinyalemen daya sensor dan sensitifitas dari penguasa. Pada periode 1990-an saya tergelitik dengan humor-humor dari Bagito Show. Dalam humor-humornya sejumlah lawakan dari acara Bagito Show menyindir pemerintahan yang berkuasa saat itu. Di era reformasi sejumlah laku humor lebih bebas mengartikulasikan diri. Butet Kertaradjasa diantaranya yang mendapat ruang lebih leluasa untuk meniru suara Soeharto dalam sejumlah humornya.

vakansi

Humor juga menandakan kehidupan sosial masyarakat. Apa yang membuatmu tertawa menunjukkan siapa dirimu. Maka ketika sejumlah laku lawakan yang mempertontonkan “kekerasan” dengan mendorong, memukul (sekalipun terdapat keterangan bahwa bahan-bahan tersebut aman, tidak membahayakan), namun yang perlu ditelaah adalah secara psikologis. Jangan-jangan budaya kekerasan tidak masuk dalam negative list perilaku. Malahan sesuatu yang layak untuk ditertawakan dan dihumorkan.

Humor juga dapat bertemali dengan bully. Bagaimana ada sosok yang dijadikan sasaran bully dalam bentuk candaan-candaan. Perlu ditelusuri apakah objek candaan itu menerima, ataukah itu menimbulkan beban baginya. Terlebih bagi yang dalam masa pertumbuhan dan pencarian jati diri. Bully dalam bentuk lelucon dapat menjadikan sosok seseorang menjadi krisis kepercayaan diri.

cat minyak

Humor dalam bentuk stand-up comedy yang semakin mengemuka juga menjanjikan hal tertentu. Ketika comic menjadikan dirinya pribadi sebagai objek lelucon. Hal tersebut menandakan ada kegembiraan dalam melihat diri. Bahwasanya diri sendiri bukanlah sosok superior yang selalu berada di kutub kebenaran. Stand-up comedy juga pada beberapa comic mampu menarasikan kritikan secara cerdas mengenai kehidupan politik, sosial budaya, dan ragam lini lainnya. Mengkritik dengan senyum terkulum bagi penikmat stand-up comedy, begitulah kiranya.

Hidup tak usah serius-serius amatlah. Mari menebar humor. Mari tertawa dengan kadar yang tepat. Seperti diungkap oleh Joker: Why so serious?

Posted in Aku, Essai

Kepompong Intelektual

Bersukaria dengan liburan, itulah kiranya yang dialami dengan jatuhnya hari libur  tanggal 25 Desember 2014 pada hari Kamis. Durasi liburan yang lumayan lama itu bagi saya justru adalah kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Inilah kiranya yang mungkin menyebabkan dibutuhkan deadline. Dikarenakan ada kecenderungan dari manusia untuk bermanja-manja bersama waktu. Dan boleh dibilang saya adalah tipikal orang deadliners. Dikarenakan sumbu waktu kian menipis dengan deadline, maka saya pun memutuskan untuk menggunakan waktu liburan untuk maraton menulis.

baca 1

Untuk maraton menulis saya membutuhkan berada dalam kepompong intelektual. Kepompong intelektual dalam artian saya membutuhkan waktu yang panjang untuk maraton menulis. Ada kesendirian di dalam kepompong intelektual ketika saya bergulat dengan ragam ide, bacaan, dan pilihan artikulasi. Kepompong intelektual juga upaya untuk fokus menyelesaikan tulisan secara intens. Dengan demikian terjadi penyingkiran hal-hal yang tiada penting. Bahkan terkadang saya mematikan ponsel untuk mendapatkan konsentrasi yang utuh. Strategi kepompong intelektual ini kiranya memiliki basis sejarah dalam tulisan saya sebelum-sebelumnya. Ketika waktu telah menipis, sedangkan jatah tulisan yang harus diselesaikan masih banyak, maka saya menggunakan strategi kepompong intelektual.

Saya percaya adanya bahwa ragam pekerjaan memiliki kekhasannya tersendiri. Seperti menulis. Bagi saya menulis memiliki titik ruang sunyi. Di sana penulis membutuhkan penggalian dari dirinya sendiri. Di sana penulis perlu berdialog dengan diri sendiri. Menulis bagi saya bukanlah perkara yang dapat dicakapkan dan dibincangkan dengan riuh dan hiruk pikuk. Menulis adalah kesunyian tersendiri. Oleh karena itu saya kerap mendapatkan power dan speed lebih ketika sunyi bertautan dengan nuansa alam, yakni pada malam hari dan dini hari.

school a

Berada dalam kepompong intelektual memungkinkan untuk terjadinya fokus dan selektif dalam hal pembacaan. Mana kiranya referensi yang dapat menguatkan. Maka mungkin apabila Anda mengalami kebuntuan, kegagalan dalam penyelesaian cerita dalam bentuk tulisan, karya tulis, mungkin Anda perlu kiranya untuk memfokuskan waktu benar-benar untuk menulis. Berada dalam kepompong intelektual. Tak ada salahnya bukan menyelesaikan segala karya tulis yang belum terselesaikan dengan menyediakan waktu yang panjang untuk secara intens mengerjakannya? Mari berada di kepompong intelektual untuk beberapa lama, lalu kemudian keluar dari kepompong dengan perasaan gembira dimana sejumlah karya tulis telah terselesaikan.

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Storyteller

Manusia selalu berusaha untuk beradaptasi antara equilibrium yang satu dengan equilibrium yang lain. Dan itulah kiranya yang saya alami. Nyatanya untuk rutin menulis dan membaca secara tekun dibutuhkan kebulatan tekad dan alokasi waktu tertentu. Sudah sekian lamanya saya tiada membuat esai yang baru. Saya lebih banyak mengeluarkan narasi dalam bentuk puisi. Jika boleh menyatakan apologi dengan sekian lamanya absennya esai adalah adaptasi terhadap equilibrium yang baru. Dan dengan esai ini saya berharap esai-esai baru lainnya akan kembali mentas dan mengalir. Ada banyak hal yang ingin saya utarakan dalam bentuk kata. Dan saya harap dapat kembali berkomitmen untuk melukiskan cerita dalam narasi kata.

school a

Menulis nyatanya seperti bercerita. Dan kita dapat mengambil sumbu idenya darimana saja. Kita dapat membagi cerita mengenai serunya suatu buku, film yang memancing otak untuk berpikir, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Selama dalam masa hibernasi menulis esai, saya menyempatkan diri untuk membaca blog lainnya. Adalah pada storyteller yang menjadi jiwa utama. Sesederhana itu. Namun itulah yang menggerakkan lusinan waktu untuk dihabiskan dalam dunia blog. Dalam hibernasi, saya pun membaca sejumlah tulisan lawas saya. Betapa saya memiliki energi untuk mencatat, merangkai kalimat dengan referensi pustaka. Ada kegembiraan tersendiri ketika cerita itu telah tersaji rapi di ranah blog. Dan energi itulah kiranya yang bergerak di pusat kesadaran saya. Untuk kembali menekuni dunia blog. Untuk kembali menuliskan apa saja yang saya pandang menarik.

pen 2

Melalui karya tulis itulah maka kita dapat menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’. Bukankah melalui ranah blog menjadi medium yang tepat bagi diseminasi gagasan demokrasi. Kita dapat mendefinisikan diri kita. Kita tahu apa yang kita mau. Kita akan diuji oleh sidang pembaca mengenai segala ragam tulisan yang telah kita hasilkan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa negatifisme bahwasanya tulisan kita itu mengecewakan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa seleksi, entah itu dari media mainstream ataupun penerbit. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itulah kiranya yang dapat membuat daya tutur tersumbat. Alangkah banyaknya informasi, pengetahuan yang batal beredar dikarenakan buah dari ‘tirani di kepala masing-masing’. ‘Tirani di kepala masing-masing’ dapat menyebabkan digantungnya pena, laptop yang tiada menjadi wadah dapur karya, pikiran yang termampatkan dan tidak terbebaskan untuk bercerita.

pen 1

Kita mengenal istilah citizen journalism. Kita mengenal blog. Dan kedua hal tersebut dapat menjadi kanal untuk bercerita. Dapat menjadi kanal untuk mendiseminasi gagasan. Semuanya berpulang pada diri kita. Akankah akan menggunakan momentum demokrasi di Indonesia ini untuk berkembang melalui tulisan ataukah tidak. Dan kita beruntung berada pada kombinasi antara demokrasi dan kemajuan teknologi informasi. Kita dapat lebih utuh menjadi warga negara. Mengungkapkan isi kepala sembari menyebarkannya ke khalayak ramai.

books

Budaya membaca dari negeri ini saya percaya akan meningkat apabila masing-masing dari kita mulai bergiat dalam berbagai skala untuk menulis. Bayangkan banyaknya sebaran ilmu, cerita yang terkodifikasi dengan ragam latar belakang pengalaman, budaya, pendidikan. Saya percaya budaya menulis akan bertalian kuat dengan budaya membaca. Dan tak perlu menunjuk siapa-siapa untuk menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’ itu. Setiap dari kita dapat menggagas perbaikan dengan menulis dan berbagi kepada dunia. Selamat menjadi storyteller..

Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Komunikasi Amarah Para Pemimpin

Acara bagi-bagi es krim di Taman Bungkul Surabaya, Jawa Timur memantik amarah Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Pasalnya taman yang pernah mendapatkan penghargaan dari PBB tersebut menjadi rusak parah.

“Kalian tidak punya izin ngadain ini, lihat semuanya rusak! Kami bangun ini nggak sebentar, biayanya juga nggak sedikit. Kalian seenaknya merusak. Saya akan tuntut kalian!” seru Risma sambil meninggalkan panitia dari perusahaan es krim yang terlihat kaget.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meluapkan amarahnya ketika menemukan praktik pungutan liar di UPT Jembatan Timbang Subah, Kabupaten Batang. Kedua fragmen peristiwa tersebut mengingatkan publik kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Basuki yang akrab disapa Ahok, memang dikenal sebagai sosok yang meledak-ledak bila menemukan tindakan janggal yang dilakukan anak buahnya di pemerintahan.

baca 1

Bila dikaji dalam dimensi keilmuan boleh dibilang terjadi peniruan pencitraan. Personal branding meledak-ledak, emosional, marah-marah telah kadung dilekatkan kepada sosok Ahok. Sama halnya dengan terminologi blusukan yang melekat pada sosok Jokowi. Sehingga jika ada yang memiliki pola serupa, maka akan dipersepsikan sebagai epigon, follower.

Politik memang masalah persepsi. Kita juga mengenal kata elektabilitas. Namun pertanyaan besarnya apakah politik akan sekadar apa yang dicitrakan dan ditampilkan di panggung? Kita mengenal teori dramaturgi Goffman yang menjelaskan kehidupan sebagai panggung teater, lengkap dengan setting panggung dan akting yang dilakukan oleh individu.

Sayangnya menurut hemat saya apa yang ditampilkan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kontraproduktif bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Mengapa pula adegan marah-marah yang dilakukan mereka harus disorot    oleh kamera dan layaknya laku acting sinetron. Pesan yang dinarasikan ke publik dapat bermuara bahwa kerja = marah-marah.

creativity b

Padahal pepatah kita mengatakan, “Berkata peliharalah lidah”, yang artinya dalam berbicara atau berkomunikasi kepada siapa pun, haruslah kita hati-hati karena akan menyinggung perasaan orang. Apa jadinya apabila para pucuk eksekutif justru secara eksebisionis mempertunjukkan perilaku yang tidak memelihara ucapan? Laku para pucuk eksekutif ini dapat ditiru oleh para pemimpin di level yang lebih rendah, serta dapat ditiru rakyat kebanyakan. Belum lagi efeknya dapat berimplikasi pada generasi muda yang akan menganggap bahwa hujatan kasar merupakan bagian dari mengelola kepemimpinan.

Bagi generasi muda yang terpapar dengan informasi serta disokong dengan kemajuan teknologi memungkinkan untuk lebih artikulatif dalam menyampaikan sesuatu. Generasi muda dapat lebih reaktif dalam berpolitik. Namun pertanyaan besarnya jangan-jangan generasi muda mendapatkan contoh yang salah dalam menyikapi politik. Mereka mengartikulasikan pendapatnya dengan kata-kata keras, kasar, menghujat sebagai bentuk copy paste dari apa yang mereka lihat, dengar dan saksikan.

Jangan lupakan pula echo yang ditimbulkan dari perilaku Ahok, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo kepada publik luas. Apa yang ditampilkan mereka diliput oleh televisi yang merupakan konsumsi utama dari rakyat Indonesia. Memang ada yang mengatakan bahwa hal yang mereka lakukan merupakan antitesa dari kemunafikan dan kepura-puraan yang ditunjukkan oleh para politisi kebanyakan. Namun saya merasa dan berpikir bahwa segala laku kemarahan yang diekspose tersebut tidak sesuai dengan karakter dasar bangsa Indonesia yang santun, ramah, dan tidak merendahkan orang lain.

school a

Karakter Dasar Bangsa Indonesia

Negeri ini memiliki etika mengucapkan atau menyampaikan sesuatu dengan arif yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Ucapan yang tidak langsung diungkapkan lewat pantun atau puisi yang bertalu-talu, indah dan mengandung makna. Konon, raja-raja di Indonesia dulu senang mengundang para cerdik pandai (pujangga) atau ulama untuk datang ke istana guna mengajar anak-anak mereka untuk bertutur kata yang sopan dengan orang lain.

Demokrasi yang berkembang dan mengokoh di negeri ini sudah selayaknya agar tidak identik dengan ketidak sopanan dalam bertutur kata. Demokrasi harus disertai kesopan-santunan dalam bertutur kata agar hubungan kita dengan orang lain bisa tetap terpelihara. Dengan demikian perilaku demokrasi yang berkembang adalah demokrasi yang sehat dan konstruktif.

chess

Kajian komunikasi juga memiliki paralelisme dengan sosial budaya serta politik. Ada kecenderungan orang lain akan menghindari seseorang yang kurang sopan dalam bertutur kata, tidak memelihara perasaan orang lain, apalagi sampai tersinggung dan perasaannya terluka karena ucapan yang tidak terkontrol dari seseorang. Hasil penelitian Alwi Dahlan (Cangara, 2013) menunjukkan bahwa orang Indonesia hampir semuanya tidak senang disinggung apalagi di depan orang lain (Cangara, 2013:218).

Komunikasi marah-marah yang dilakukan oleh eksekutif kepada bawahan menurut hemat saya seperti antibiotik. Dipakai bilamana perlu dan dosisnya harus tepat. Dan sakitnya sudah tahap yang cukup berat dan tidak boleh terlalu sering atau selalu dipakai karena nanti jadi imun.

Inilah kiranya sebuah timbang pemikiran bagi para politisi agar menjaga etika dan tata cara komunikasi. Kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja tanpa terkecuali para politisi untuk senantiasa harus eling dan waspada.

Perkataaan diibaratkan lebih tajam daripada sebilah pisau, oleh karena itu berhati-hatilah dalam berkomunikasi. Karena komunikasi para pemimpin dapat ditiru serta menimbulkan dampak sistemik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.