Si Sulung Vaja, Si Bungsu Noiri

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Vaja

“Namaku Vaja. Aku adalah raja di keluarga ini.”

Dengan tubuh tambun, aku mengitari meja makan. Saatnya makan yang kelima kali hari ini. Bagi kalian itu masalah? Bagiku tidak. Hei aku harus berpikir lebih banyak dibandingkan kalian-kalian yang ada di dasar piramida, kalian yang dimangsa.

Aku harus menggunakan otakku banyak-banyak tiap kali. Aku harus berargumentasi. Mulai dari mengungkapkan fakta, hingga membungkus kebohongan dengan data dan pencitraan yang mengalihkan fokus utama.

 

Noiri

“Namaku Noiri. Aku adalah…”

Tak tahu sebagai apa aku dianggap. Si kurus yang terus dihisap. Mengepul siang dan malam untuk menghidupi keluarga. Keluarga? Aku si tertindas, lahir dan batin. Aku si bungsu yang baru bergabung belakangan di keluarga ini. Konon leluhurku perlu mengobarkan semangat dan pidato pentingnya aku masuk sebagai anggota keluarga.

Lalu apa? Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Tak hanya mereka yang bermata biru, tapi mereka yang dilahirkan dengan akte wilayah yang sama disini. Mereka yang memuja ‘Vaja, Vaja, Vaja’.

 

Disparitas adalah kata yang menghubungkan si sulung dengan si bungsu. Sementara Vaja terus membusuk dalam obesitasnya, si Noiri meranggas kekurangan nutrisi. Keadilan adalah ilusi. Nasionalisme adalah kata slogan untuk menyembunyikan penindasan.

Dari mana roda ekonomi keluarga ini berasal? Dari kerukan yang terus dikipas dari Noiri.

 

“Aku capek,” kata Noiri di suatu waktu.

“Jangan begitu bungsu,” ujar Vaja membujuk dengan manis.

Ia menggenggam tangannya, membelai punggungnya.

“Kita hidup di keluarga ini bukan untuk kemarin, hari ini, atau esok. Ada jembatan emas yang kita perjuangkan bersama,” ungkap Vaja dengan aroma bawang bombai yang baru saja menjadi bagian makanannya.

“Baiklah,” jawab Noiri dengan bunyi perut mendecit.

 

Noiri

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana. Kami dirangkul, kami dipeluk, kami diguyur dengan insentif dan janji-janji.

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana.

 

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di: http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Advertisements

Ragam Purbasangka dalam Novel ‘Murder on the Orient Express’

murder_on_the_orient_express_2017_4k-3840x2160

Sebuah novel ketika dibedah dapat memuat hikayat ilmu sosial yang begitu kaya. Sebut saja novel Murder on the Orient Express, yang termaktub mengenai ragam purbasangka. Bahwa ras tertentu dilekatkan dengan hal-hal buruk dan negatif. Maka di buah karya Agatha Christie yang memiliki latar tahun 1934 ini menarik untuk ditelaah.

Berikut beberapa nukilan dari novelnya yang menunjukkan ragam purbasangka tersebut:

“Dia sudah tinggal cukup lama di Amerika,” ujar Monsieur Buoc, “dan dia orang Italia, dan orang-orang Italia biasanya suka menggunakan pisau! Dan mereka juga pembohong-pembohong besar! Aku tak suka pada mereka.”

 

“…Kejahatan ini sudah dipikirkan jauh-jauh hari dan dirundingkan masak-masak. Itu bukanlah – bagaimana ya menggambarkannya – bukan tindakan kriminal ala Latin – ini adalah suatu kriminalitas yang memakai kepala dingin, akal licik, dan otak yang kejam. Kurasa otak Anglo-Saxon.”

 

“…Sebenarnya sejak dulu saya tak begitu peduli pada orang Amerika – saya tak suka pada mereka.”

Poirot tersenyum, teringat kecaman MacQueen pada watak orang Inggris.

“Tapi saya senang pada orang Amerika yang satu ini. Rupanya dia punya ide aneh-aneh tentang situasi di India. Di situlah letak kejelekan orang Amerika – mereka begitu sentimental dan idealistis.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Bukan Romeo

Kalian boleh sebut kami gila. Tapi inilah kami, pasangan yang akan mewujudkan romansa prestisius karya Shakespeare: Romeo & Juliet. Tentu kami telah membaca karya aslinya. Pun begitu kami telah menonton versi filmnya yang dimainkan oleh Leonardo DiCaprio dan Claire Danes.

Bukankah kematian pasangan yang begitu indah. Mati dalam rasa cinta. Tapi siapakah kiranya yang berani untuk menjalani “jalan api” seperti itu? Yang banyak hanyalah kata-kata kosong, janji-janji membual.

Pada akhirnya cinta kalah dengan segala macam rupa. Materi, pekerjaan, keluarga, dan blablabla lainnya. Duhai Shakespeare kisahmu dipuja, namun siapa yang berani menjalankan hikayat kisahmu?

Apakah kami persis memiliki lika-liku kisah seperti Romeo & Juliet? Bagaimana kuldesak sehingga mereka memilih jalan seperti itu. Tiada. Kami hanyalah manusia yang dimabuk cinta serta kecanduan sastra.

Kami sudah menyepakati hari kematian kami. Segala persiapan telah disusun dengan cara saksama. Dapatkah kalian membayangkannya? Kami akan menjadi terkenal setelah kematian kami. Kami akan tersohor, setelah kami meninggal. Karena kami berani menempuh jalan kematian Romeo & Juliet.

Situs berita online akan memberitakan kami. Tentunya dengan metode viral. Ya beberapa situs online akan menduplikasi, mencaplok berita dari kanal berita besar. Kami akan “dikuliti” mengapa kami memilih jalan kematian ala Romeo & Juliet. Mungkin juga koran, stasiun televisi akan ikut “membedah” kisah kami.

Kami adalah martir yang akan mengingatkan kembali soal cinta yang bahkan dapat mengalahkan kematian. Sebegitunya cinta kami.

Tentu mudah saja bagi kami merangkai racun. Biar kami berdua penggila sastra, namun kami mengerti komposisi kimia. Latar belakang kami dari Ilmu Pengetahuan Alam. Tentu kau tahu betapa sengkarut sistem pendidikan negeri ini. Kami penggila sastra, namun harus masuk jurusan IPA di SMA demi peluang masuk universitas yang lebih besar.

Saatnya Menenggak Racun

Segalanya telah disiapkan. Surat pertanda alasan kami memilih jalan kematian ala Romeo & Juliet. Dan tentu saja racun yang akan memupus kehadiran kami di dunia.

Kutatap mata kekasihku erat-erat. Inilah mata kegilaan yang menembus segala rasio. Demi cinta, demi sastra, sayonara nyawa.

Kekasihku menenggak racun yang dia racik sendiri.

Kuhitung menit demi menit yang berlalu. Akan tibanya giliranku. Selamat tinggal dunia.

Oh betapa cantiknya raga kekasihku, bahkan setelah dirinya meminum racunnya.

Kulihat racunku sendiri. Kutimang-timang genangan cairan racun itu. Kematian, pernahkah kau benar-benar memikirkannya? Mati dengan rasa cinta? Mati bersama seseorang yang paling kau cintai?

Tanganku bergoyang. Keyakinanku goyah. Mungkin aku ingin hidup seribu tahun lagi. Mungkin aku tidak siap dengan kematian puitis macam begini. Persetan dengan segala kemegahan namaku setelah mati dengan cara ala Romeo & Juliet. Mati, tetaplah mati. Hidup, terasa lebih rasional.

Aku terlalu takut ketika harusnya aku menempuh cara ala Romeo.

Aku pun menangis dalam diam. Aku tak mau mati. Aku tak mau mati dengan cara sastrawi macam begini. Aku cuma mau hidup. Hidup saja, meski namaku hanyalah deretan tak berarti diantara 7 milyar penduduk bumi.

Tapi, sosok sang kekasihku. Aduh malang benar dia. Menyebrang ke “negeri seberang” dengan kepercayaan kematian premium ala Romeo & Juliet.

“Maaf Julietku, aku bukanlah Romeo yang kau harapkan,” ucapku di telinga sang kekasih.

Alangkah terkejutnya aku ketika Julietku bergerak perlahan. Matanya mengerjap. Dia seperti bangun dari tidur singkat di siang hari. Dia menatapku dan memelukku.

“Kita adalah Romeo & Juliet yang gagal,” ungkapnya. “Tapi tak mengapa. Kita masih punya hari-hari ke depan. Mungkin membosankan. Mungkin menyebalkan. Tapi dari unsur itulah hidup tersusun.”

Julietku menceritakan bahwa dia pun ragu akan jalan kematian ala Romeo & Juliet. Maka dia pun mengubah racikan racun yang seharusnya menceraikan nyawanya. Dia pun berniat untuk menggagalkan aku jikalau tetap berkeras menenggak racun buatanku.

“Jadi kita sama-sama pengecut?” tanyaku kepadanya.

“Mungkin ya, mungkin tidak,” jawabnya kepadaku. “Namun, dibutuhkan keberanian untuk tetap hidup di dunia yang sebenarnya.”

Kami pun akhirnya melewatkan malam dengan menatap kubah langit dengan bintang yang mengerjap-ngerjap.

Demikian kisah kami. Kisah dari bukan Romeo & bukan Juliet.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, Politik, sastra

Back With Vengeance

Dengan senyum terkulum dalam gelap, aku menertawakan nasib mereka. Yang merampas takhta kekuasaanku. Yang menyalipku dari singasana kekuasaan. Yang merebut pundi-pundi kekayaan yang harusnya milikku. Yang mengutil kejayaan yang harusnya disenandungkan oleh rakyat-rakyat di tiap penjuru negeri.

Namaku Dmitri, aku adalah pangeran yang seharusnya menjadi raja. Namun pamanku melakukan kudeta. Dari putra mahkota, aku menjadi pesakitan. Aku diburu. Keberadaanku ingin ditumpas hingga tanpa nama. Sementara namaku dicemari sebagai putra mahkota yang haus kuasa. Meracuni ayahku, sang raja. Begitulah kiranya tuduhan yang dilantangkan kepadaku, diujarkan dari para petugas pewarta kerajaan.

Beruntunglah aku masih dapat selamat dari upaya penyergapan pembunuhan dari laskar-laskar pamanku. Tapi mungkin laskar dari pamanku memang tidak terlampau berniat untuk membunuhku. Kurasa pamanku lebih memilih menjadikanku sebagai musuh bersama kerajaan. Hingga dia dapat mengklaim sebagai pahlawan. Yang menjaga takhta dari lumuran ambisi anak muda yang kelewat nafsu ingin memerintah.

134496_1697199639418_1520698170_1668497_2890939_o

Berbilang tahun aku mengasingkan diri. Melupakan akarku. Demi satu asa: keselamatan nyawaku. Aku menjadi petani nan damai di ujung area kekuasaan kerajaan. Aku terpisah dari hiruk pikuk politik kerajaan. Namun nafsu kuasa kerajaan untuk menghisap rakyatnya sudah kelewatan. Seantero negeri diwajibkan untuk menanam jenis-jenis tanaman tertentu. Alasannya sederhana: jenis tanaman-tanaman tertentu itu laku di pasaran perdagangan antarkerajaan.

Jadilah lahan-lahan dijejali oleh daftar tanaman yang harus ditanam versi kerajaan. Akibat kebijakan tersebut, bahan makanan pokok di seantero kerajaan menjadi menipis. Kami dijatah makanan oleh kerajaan. Hanya sekadarnya untuk menegakkan tulang punggung kami. Sementara di jantung kekuasaan, aliran kekayaan melimpah ruah. Anggaran tentara ditingkatkan. Mereka yang melawan dibabat.

Namun pusat kerajaan lupa satu hal. Kemampuan pikiran dan emosi untuk menyebar. Terlebih ketika secara massal kekurangan pangan menjadi narasi utama negeri. Aku pun bangkit melawan. Bukan untuk siapa. Tapi untukku. Untuk keluargaku. Aku tak bisa membiarkan istri dan anak-anakku menjadi tulang-tulang bernafas.

133782_1725947758103_1520698170_1737377_7881068_o

Aku pun menggunakan kekuatanku. Kemampuan lidahku. Kemampuan pikiranku. Kemampuanku menulis. Aku menjajakan ide-ideku secara perlahan. Awal mulanya di desa-desa kerajaan. Bahasaku sederhana. Yang dituju adalah hal-hal mendasar: perut. Aku pun semakin percaya diri ketika kalimatku berubah menjadi penyulut aksi. Aku pun bergerilya ke elite-elite penguasa kerajaan. Bahasaku sederhana. Aku menawarkan kekuasaan. Jika sang kerajaan-1 dapat ditumbangkan dari takhta maka kuasa, pundi akan mengalir langsung ke kantung-kantung mereka.

Gelombang penyulutan semakin besar. Massa, elite, menyerukan perubahan. Di kamar istana nan luas itu, pamanku konon meringkuk. Berbicara dengan burung-burung  peliharaannya. Ia menjadi paranoid. Ia semakin takut takhtanya akan digulingkan. Ia pun menaikkan tensi “pukulan” bagi para pemberontak.

Di suatu malam ketika aku sedang menjajakan ide-ide perlawananku di rumah dinas seorang pejabat kerajaan, aku diringkus. Laskar-laskar berbadan kekar menggiringku. Dan aku dipertemukan dengan satu orang. Sang menteri pertahanan.

Kukira aku akan mati saat itu. Tetapi tiada. Dia malah menawarkan gelas anggurnya kepadaku. Kami berbincang panjang lebar mengenai keadaan kerajaan dan situasi terkini. Ia tahu sepak terjangku. Ia tahu kekuatan lidah, tulisanku yang menyulut pemberontakan di mana-mana. Ia menawarkan satu hal padaku: kudeta.

134308_1725944358018_1520698170_1737359_2834860_o

Ia menjanjikan akan memfasilitasi dan mempertemukan aku dengan sejumlah elite lainnya. Ia akan membiarkan armada dari barak tentara untuk tetap di tempatnya. Khalayak ramai akan menyerbu ke istana. Menuntut langsung ke baginda yang kuasa.

Aku pun bersepakat.

Ia menatap mataku erat-erat. Ia menatap mataku erat-erat dan seolah mencari lapis memori dari masa lalu. Entah apa.

Di hari yang ditetapkan, massa berduyun-duyun. Para tentara hanya berdiam di barak-barak. Gelombang massa penuh amarah menyergap istana. Seketika chaos di istana. Siapa yang bisa menahan rakyat yang marah?

Sang raja alias pamanku ditarik paksa oleh rakyat dari kamarnya di istana. Burung-burung kesayangannya dilepaskan. Ia memekik memegang kepalanya. Ia diayun-ayunkan ke massa. Ia begitu rapuh tanpa titel kekuasaannya.

Dan malam pun menjelang.

Di jamuan makan malam aku berbincang dengan mantan menteri pertahanan. Sekarang dia adalah raja.

133666_1725945158038_1520698170_1737362_643288_o

“Kudeta berjalan mulus. Tiang gantungan telah disiapkan untuk mantan raja,” ujarku membuka percakapan.

“15 tahun aku sekadar menjadi orang yang disuruh. Seolah aku tidak memiliki intelegensi,” tanggap mantan menteri pertahanan alias raja baru.

“Apa yang bisa dilakukan oleh 15 tahun?” tanyanya kepadaku.

“Celah sejarah,” ia menjawabkan pertanyaannya kepadaku.

“15 tahun yang lalu aku hanyalah pimpinan laskar perburuan sang pangeran muda. Ia yang dikorbankan dan disalahkan.”

“Aku sabar menanti. Para senior-seniorku untuk berlalu dari orbit kekuasaan. Baik itu dari politisi ataupun militer.”

“Kau tahu rekam jejakku?” tanyanya lagi kepadaku.

“Aku lalu menapak dengan sabar. Menjadi ajudan sang raja, kepala satuan keamanan sang raja, sampai menjadi menteri pertahanan.”

7031_1197271981539_1520698170_523671_5442791_n

“Dan disinilah aku sekarang,” katanya berpuas diri.

Ia pun mengajakku bersulang ikut merayakan.

“Tapi kau harus tahu temanku,” ujarnya sembari mengarahkan cawan anggur ke diriku. “Beberapa teman adalah musuh yang siap menikammu dari belakang. Jangan percaya pada siapa-siapa. Percaya saja pada dirimu sendiri,” ia menutup monolog panjangnya.

“Lalu?” tanyaku.

“Lalu, sang penyulut cerdas itu menarik perhatianku. Ia pandai berorasi. Dia pandai menulis. Dia pandai memikat massa untuk mengikuti jalan pikirannya,” ia melanjutkan kalimatnya.

“Orang lain boleh lupa. Rakyat boleh lupa. Elite politik boleh lupa. Tapi tidak denganku,” ungkapnya mengatupkan senyum.

“Kau adalah pangeran yang tersingkir bukan? 15 tahun, namun sorot matamu tetap sama,” ia menambahkan pendapatnya.

62036_1559282751582_1520698170_1400687_6267290_n

“Tatap mata amarah. Tatap mata penuh gelegak pembalasan dendam.”

“Jadi kepala perburuanku 15 tahun yang lalu harus berterima kasih kepada pangeran yang bertahan hidup. Untuk pucuk kekuasaan yang kini direguknya,” aku menyimpulkan kalimatnya.

Dia menyunggingkan senyum miring.

“Tapi aku tidak punya pilihan lain selain menyingkirkanmu bukan? Kau terlalu berbakat. Kau terlalu berbahaya temanku,” ujarnya sembari terkekeh.

Pengaruh alkohol mulai merambat di darahnya.

“Lalu bagaimana caramu untuk menyingkirkanku?” tanyaku.

“Kau tak akan keluar dari ruangan ini dengan nafas yang masih melekat. Kau lupa aku adalah raja. Aku punya pasukan yang dapat menyelesaikan urusan kecil ini.”

“Tapi kau harus tahu temanku,” ujarku sembari mengarahkan cawan anggur ke dirinya. “Beberapa teman adalah musuh yang siap menikammu dari belakang. Jangan percaya pada siapa-siapa. Percaya saja pada dirimu sendiri,” aku bermonolog singkat.

sand hour

“Aku sudah bicara kepada beberapa teman kita. Beberapa adalah politisi. Beberapa dari militer. Beberapa dari kalangan pedagang. Dan mereka bersepakat denganku. Kau terlalu berbahaya untuk berada di takhta,” aku tersenyum lepas.

“Pikiranmu kacau di ujung umur,” balasnya sembari menumpahkan anggur dari cawannya.

“Kau tak akan keluar dari ruangan ini dengan nafas yang masih melekat. Kau lupa aku adalah sang penyulut. Aku punya pasukan yang dapat menyelesaikan urusan kecil ini. Pasukanku adalah rakyat yang marah dan putus asa. Mereka hanya ingin menyingkirkan segala hal yang terkait dengan era kekuasaan lama. Dan kau adalah sosok dari kekuasaan lama.”

Tak ada laskar bersenjata dari balik pintu. Hanya ada massa yang marah dan beringas. Lalu teriak: gantung, gantung.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku, sastra

Bintang dan Konstelasinya

Judul Buku: The Fault in Our Stars

Penulis: John Green

Penerbit: qanita

Cetakan: VIII, September 2014

Tebal: 424 halaman

The Fault In Our Stars

Buku ini mendapatkan awal mula perhatian saya ketika keponakan saya membeli buku karangan John Green. Dia menyatakan salah satu buku karangan John Green yang direkomendasikannya adalah The Fault in Our Stars. John Green sendiri merupakan seorang penulis terlaris New York Times dan pemenang penghargaan, dengan banyak penghargaan antara lain Printz Medal, Prints Honor, dan Edgar Award. Lalu kemudian versi film dari buku The Fault in Our Stars pun muncul di bioskop pada tahun 2014.

Rekomendasi dari keponakan, versi filmnya yang telah muncul, belum juga mempertemukan saya untuk membaca ataupun menonton versi filmnya yang diperankan oleh Shailene Woodley (Hazel Grace) dan Ansel Elgort (Augustus Waters). Sampai istri saya membeli novel yang masuk dalam kategori New York Times Bestseller ini. Dan saya pun akhirnya membaca novel ini.

Secara sederhana The Fault in Our Stars diresumekan sebagai berikut:

Meski keajaiban medis mampu mengecilkan tumornya dan membuat Hazel bertahan hidup beberapa tahun lagi, Hazel Grace tetap putus asa. Hazel merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Namun, ketika nasib mempertemukannya dengan Augustus Waters di Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker, hidup Hazel berubah 180 derajat.

            Mencerahkan, berani, dan menggugah, The Fault in Our Stars dengan brilian mengeksplorasi kelucuan, ketegangan, juga tragisnya hidup dan cinta.

 Hazel Grace

Pada mulanya saya membaca buku ini dengan rasa ketertarikan yang normal. Kisah cinta remaja antara Hazel Grace dan Augustus Waters dengan latar penyakit yang mendera keduanya. Hazel Grace yang mulanya terkena kanker tiroid, lalu dengan koloni pendompleng kanker tersebut bermukim di paru-paru. Sedangkan Augustus Waters adalah penderita osteosarkoma (kanker tulang). Sekilasan saya mendapatkan sentuhan ala teenlit yang ringan. Namun di sisi lain terdapat kedalaman filosofis dan bertaburan kata-kata puitis. Saya pun teringat paralelisme dengan novel Fairish dalam hal kedalaman filosofis, taburan kalimat puitis yang dirangkai dalam tema besar teenlit.

Meski awalnya rasa ketertarikan saya terhadap buku ini normal, namun penulisnya John Green mampu menaikkan tempo dan memikat saya di bagian-bagian berikutnya. Saya pun tertawan untuk menelusuri halaman demi halaman.

Augustus Waters

Dari satu titik episentrum bernama kanker, rangkaian filosofi, kisah, dapat dipintal. Kita mendapatkan cinta yang tulus antara Hazel Grace dan Augustus Waters hingga maut memisahkan. Kita mendapatkan bagaimana kematian orang yang dicintai dapat menimbulkan efek menahun dan sistemik pada Peter van Houten. Kita mendapatkan bagaimana sokongan dari keluarga Hazel Grace dan keluarga Augustus Waters dalam mengasuh anaknya. Kita mendapatkan pertanyaan besar mengenai ‘meninggalkan tanda’ dan arti hadir kita di bumi.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, Politik, sastra

Navigasi Kata

Aku melihat dari ketinggian. Di gedung pencakar langit ini. Bukankah kita selalu terhubung? Terhubung dengan berbagai cara. Berada di ketinggian, di gedung pencakar langit, bukan berarti aku tiada tahu mengenai suara kawula kebanyakan. Aku memiliki tim media yang memungkinkanku keep in touch dengan denyut netizen di dunia maya. Aku dapat memahami aksi-reaksi perbincangan, tone positif-negatif dari satu isu.

Hei perkenalkan namaku: Ardova Ranova. Aku adalah calon presiden dari suatu negeri yang dilewati oleh garis khatulistiwa.

Pemilihan presiden tahun ini menarik adanya. Hanya ada 2 kandidat. Masyarakat pun terbelah secara diametral. Itu diantaranya terlacak melalui cekcok kata di sosial media. Aku pun diserang. Mulai dari black campaign, negative campaign. Beberapa kujawab. Beberapa orang di lingkar terdekatku yang menjawab. Beberapa biarlah menjadi area abu-abu. Bukankah kalian suka area abu-abu, teka-teki, enigma, misteri tersembunyi.

cable car

Beberapa hal dari diriku dikulik, dibedah, diungkit-ungkit, dikorek-korek. Gaung dari masa lalu yang kini kembali mengintip di masa kini dan dapat menjadi unsur yang menentukan masa depanku. Aku tiada menyangka politik di negeri ini dapat menjadi begitu gahar dan keras. Hal-hal personal dan pribadi, arsip-arsip dari masa lalu, semuanya mengemuka silih berganti. Ada rekan-rekanku yang berkhianat dan “bernyanyi” macam-macam tentangku. Aku jadi tahu mana yang namanya kawan sejati. Seleksi itu bernama: waktu.

Sosial media juga mengajarkanku tentang pembentukan opini. Koalisi yang kulakukan dengan beberapa pengusaha media menguntungkanku. Pemberitaan positif kudapati dari grup yang dimiliki pengusaha-pengusaha media tersebut. Lalu ‘hidangan’ berita dari media mainstream tersebut tersebar ke sosial media. Ada yang memampangnya di facebook, ada yang me-retweet-nya di twitter. Pertikaian kata pun terjadi di sosial media dikarenakan pemberitaan dari media arus utama. Dahulu kala di suatu orde kekuasaan negeri ini, media jelas kelaminnya. Ada koran partai yang tentu saja menyuarakan suara partai. Beda dengan era ketika ku bertarung dalam election kini. Seolah-olah netral, tapi berpihak. Dan aku harus berdamai dengan kondisi yang ada ini.

creativity b

Aku melihat dari ketinggian. Di gedung pencakar langit ini. Aku merenung tentang pencitraan, elektabilitas. Elektabilitas menjadi kata sakti yang ikut menentukan majunya seorang kandidat. Aku pun menyewa konsultan politik. Mereka banyak memberikan saran dan strategi. Segalanya diperhitungkan. Pemetaan dukungan, tampilan busana, titik-titik kampanye, pilihan kata, kampanye sosial media. Beberapa saran mengusikku. Mereka menyakinkanku. Ini untuk citra yang baik. Ini untuk mengerek elektabilitas.

Kutatap pergerakan kata di sosial media. Tahukah kalian? Aku kerap sepi. Aku kerap sendiri. Terkadang aku iri dengan kawula kebanyakan. Mereka dapat begitu bebas melakukan ini-itu. Tanpa lampu sorot. Tanpa tepuk tangan berlebih. Tanpa cibiran berlebih. Tanpa penafsiran ini-itu. Ordinary people. Mereka yang di ruang televisi memperbincangkan aku. Mereka yang di sosial media mengutak-atik aku. Menjadi pemimpin adalah kesunyian tersendiri.

chess

Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Ketua tim pemenangan melongok dari pintu.

Aku tahu tatapan penuh kode dari ketua tim pemenanganku. Aku pun bersiap total. Dari gesture, dari pergerakan muka. Ada debat capres yang menantiku. Ada swing voters yang suaranya harus kupikat. Ada rakyat pendukung tim sana yang barangkali berpaling, move on, dan menjatuhkan pilihan kepadaku. Ada jutaan pendukungku yang perlu diteguhkan keyakinannya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, sastra

Kepompong Orbit

Dan manusia itu berada dalam kepompong orbitnya. Berputar dan berputar. Pernahkah dia berpikir tentang makna? Pernahkah dia berpikir tentang jiwa?

Sedari pagi dia menyiapkan pakaian kerjanya. Lalu tiba di kubikel ranah kerjanya. Menyelesaikan beberapa urusan kantor. Lalu pulang diterpa kemacetan Jakarta. Lelah yang bersenyawa dalam jiwa. Dia hidup dalam semesta personalnya.

“Sini mari kemari,” ujarku suatu waktu.

Kutawarkan chaos kepadanya.

“Hidupmu membosankan adanya. Terstruktur. Tertebak. Tidak enigmatik.”

Ia menampik tawaranku. Pikirnya aku adalah sang ular yang menawarkan apel di taman surgawi itu.

Stasiun radio yang sama. Pilihan lagu yang serupa. Film-film gubahan Hollywood di bioskop. Itu eskapismenya. Itu hiburannya.

baca 1

“Sini mari kemari,” ujarku suatu waktu.

Kutawarkan chaos kepadanya.

Travelling ke tempat-tempat eksotis yang tiada terdeteksi dalam radar peta wisata. Menikmati pameran lukisan dalam hening. Berkunjung ke teater.”

Ia menampik tawaranku. Itu terlalu rumit dan sukar diprediksi baginya.

“Bukankah itu intinya?” tanyaku padanya.

“Unsur enigmanya. Petualangannya. Koridor tak biasa untuk mencicipi hidup,” jawabku terhadap pertanyaanku sendiri.

perahu kertas

Dan manusia itu berada dalam kepompong orbitnya. Jam tangan senantiasa dicek dalam kehidupannya. Ia selalu kekurangan waktu.

Multitasking. Ia beralih dari satu panel ke panel lainnya. Ia tiada pernah tenang. Ia selalu sibuk.

“Kapan terakhir kali kau melamun?” tanyaku suatu waktu.

“Melamun?” kernyitnya. Seakan melamun adalah diksi asing, aneh dalam tata kehidupan sang teratur.

“Aku tak ada waktu untuk melamun. Aku terlalu sibuk. Mengerjakan ini-itu. Mana sempat melamun. 24 jam saja terasa kurang.”

Dan manusia itu berada dalam kepompong orbitnya. Berputar dan berputar. Pernahkah dia berpikir tentang makna? Pernahkah dia berpikir tentang jiwa? Apakah itu kamu? Apakah itu dirimu?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa