Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Antagonis-Protagonis

Film Constantine membuka tirai penutupnya dengan menjadikan Gabriel sang malaikat sebagai tokoh antagonis. Bagaimana Gabriel menjadi perencana dan pelaksana bagi upaya dari anak Lucifer untuk menguasai bumi. Tuhan pun menghukum Gabriel dan menjadikannya sebagai manusia. Sebuah pukulan menghantam wajah dari John Constantine menjadi “ucapan” selamat menjadi manusia wahai Gabriel.

Film Angel & Demons yang digubah dari novel karangan Dan Brown juga menyingkap bagaimana pendeta Camerlengo Patrick Mckenna sebagai tokoh antagonis. Camerlengo Patrick Mckenna menunjukkan sisi angel and demons dalam dirinya.

Novel The Name of the Rose juga memaparkan sang antagonis adalah si buta pendeta Jorge Burgos. Jorge Burgos memiliki basis alasan bahwa tawa adalah bid’ah paling bejat dan bahwa buku para filsuf (karya Aristoteles yakni Poetics yang mengulas kedudukan penting komedi dan menyatakan tawa adalah satu-satunya tempat pengungsian dari doktrin kebenaran universal). Buku tersebut dianggap akan menjungkir-balikkan pemahaman manusia akan semesta seisinya dan akan terus membentangkan tafsir terbuka terhadap apa saja yang sanggup dijangkau akal (http://arsuka.wordpress.com/2008/09/17/taman-umberto-eco/).

shinzanmono

Serangkaian sampel di atas menunjukkan bahwa siapapun dapat tergelincir dalam peran antagonis. Manusia selama hidupnya adalah sebuah koma. Hingga dirinya mati, barulah akan menemui titik. Itu pun tetap menarik adanya, dikarenakan berbagai bedah sejarah dapat mengungkap sejumlah fakta yang belum terkuak dari diri seorang tokoh sepanjang hidupnya. Tengoklah bagaimana Soekarno, Hitler yang masih menarik untuk dikaji secara sejarah dari berbagai sisi, meski mereka telah meninggal dunia semenjak lama. Definisi, penempatan sejumlah tokoh dalam sejarah memerlukan kehati-hatian dalam membedah hikayat masa lampau.

Saya pun teringat dengan kisah Shinzanmono. Bagaimana mula-mula penonton akan dihadapkan pada sejumlah fakta tindakan. Lalu di akhir episode barulah diungkap alasan dari tokoh-tokoh tersebut melakukan tindakan tertentu. Perspektif kita dibawa untuk lebih bijak dalam melihat dan menilai.

Dan perspektif inilah kiranya yang dapat menjadi distingsi. Terkadang mungkin kita terlalu gegabah untuk memvonis seseorang adalah antagonis. Mungkin kita perlu lebih sabar, bijak, untuk melihat dari perspektif orang tersebut. Siapa antagonis, siapa protagonis dalam hidup memerlukan kecermatan dan ketelatenan dalam menyusun sejumlah fakta empirik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Advertisements
Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sejarah

Soekarno Juga Manusia

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama Soekarno? Keberaniannya melawan pihak asing dengan mengatakan ‘go to hell with your aid’, nasionalisme dan internasionalismenya, proklamasi yang dilakukannya, orasi pidatonya yang menggelegar. Film Soekarno: Indonesia Merdeka yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo boleh dibilang menempatkan Soekarno sebagai seorang manusia. Selama ini mungkin pesona publik telah sampai pada taraf mengkultuskan sang putera fajar ini. Dari rangkaian spanduk, poster tentang Sukarno, dari salah satu partai besar di Indonesia apakah yang dijual adalah pemikirannya atau sekadar sosok mitologis agungnya?

Jika mendedah secara historis dan keilmuan akan didapatilah bahwa sang putera fajar pengagum tokoh Bima ini adalah manusia biasa. Sepanjang menonton film Soekarno: Indonesia Merdeka sejumlah literatur terkait beliau muncul di otak saya. Sebut saja mengenai hubungannya dengan Inggit Garnasih, maka saya terbetik ingatan pada buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno karya Ramadhan K.H. Ketika Soekarno muda belajar orasi, maka saya terbetik ingatan pada buku Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia. Ketika sejumlah wanita penghibur dilokalisasi untuk memenuhi nafsu para tentara Jepang, maka saya terbetik ingatan pada majalah Historia nomor 3 (halaman 35-66) yang membahas Perempuan dalam Cengkraman Jepang. Ketika Soekarno menyampaikan dasar-dasar negara yang dikenal dengan Pancasila, saya pun teringat pada buku Tudjuh Bahan2 Pokok Indoktrinasi.

soekarno

Jika meminjam kalimat dari Goenawan Mohamad maka “sang tokoh akan dianggap telah selesai, tinggal dipuja. Ada yang membeku dalam dirinya.” Maka dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ini maka sang proklamator ini “dihidangkan” kembali ke alam realitas kekinian dengan menghadirkan sisi kemanusiaannya. Soekarno dapat sakit seperti terserang malaria, Soekarno dapat galau terkait cintanya dengan Inggit dan Fatmawati, Soekarno yang berdebat dengan Sjahrir dan para pemuda, dan lain sebagainya.

Dalam kajian ilmu sejarah di luar negara merupakan sudah lazim untuk meneropong seorang tokoh sejarah secara lengkap. Bahkan hingga kisah ranjangnya diungkap. Sedangkan di negeri ini pembelajaran sejarah memang masih kerap terdistorsi. Rezim pemerintahan di masa lalu berkenan untuk menghegemoni makna dan wacana. Seperti diungkap oleh George Orwell dalam novelnya 1984 bahwa Who controls the past controls the future; who controls the present controls the past.

Masyarakat negeri ini juga seyogianya mulai membiasakan diri untuk menerima ragam versi dari sejarah. Masyarakat juga harus mulai menerapkan sikap ilmiah terhadap tokoh sejarah, bukan sekadar memperlakukannya sebagai tokoh yang beku, mitologis, dan tidak dapat diperdebatkan.

1984

Meneropong sosok Soekarno memang bukan merupakan hal yang mudah. Ada multifaset disana. Mana kiranya yang harus dipilah dan dipilih dari sisi kehidupan Presiden pertama Republik Indonesia ini. Maka dipilihlah mozaik ketika Soekarno kecil, Soekarno muda yang memberontak, dipenjara hingga menghasilkan pidato Indonesia Menggugat, masa pengasingan di Bengkulu, masa pendudukan Jepang, hingga mencapai kulminasi pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dibedah secara sisi humanis, Soekarno juga memiliki banyak sisi yang menarik untuk ditelusuri dan diangkat. Pembuat film ini bisa saja tergoda untuk mengulang resep sukses tokoh sejarah yang dipadukan dengan kisah cintanya. Film Habibie & Ainun merupakan contoh otentik dan generik yang merengkuh sukses luar biasa. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ada kisah cinta, namun rumit. Soekarno yang telah beristrikan Inggit Garnasih, untuk kemudian di masa pengasingannya di Bengkulu tertarik kepada Fatmawati.

Penyambung Lidah

Inggit yang dengan apik dimainkan oleh Maudy Kosnaedi ini memang merupakan sosok yang berperan besar bagi seorang Soekarno. Sebelumnya Soekarno pernah menikah dengan Oetari, lalu kemudian bercerai. Inggit semula adalah ibu kost dari tempat Soekarno bermukim. Perbedaan usia selama lebih dari 1 dekade tiada menjadi halangan bagi Soekarno dengan Inggit untuk memadu kasih. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka bagaimana dilema disajikan ketika Soekarno terpikat hati yang lainnya, problema dimadu, tiada memiliki keturunan.

Cinta ini rupanya berdampak sistemik bagi Soekarno. Namun hidup harus memilih, dan dengan berat hati Soekarno menceraikan Inggit dan menjemput takdir lainnya yakni bersama Fatmawati.

Bagian lainnya yang sarat kontroversi tentu saja ketika masa pendudukan Jepang. Perlu diingat pilihan Soekarno untuk bekerja sama dengan Jepang memang menuai kecaman dari beberapa kalangan. Kecaman itu digambarkan dengan pelemparan batu rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56, debat seru dengan Sjahrir.

soekarno-hatta

Soekarno juga terlihat “lemah” ketika harus berkompromi dengan memberikan alternatif dengan menghadirkan wanita-wanita penghibur untuk memuaskan hasrat seksual para tentara Jepang. Pun begitu dengan pengerahan kerja paksa dalam bentuk romusha. Bagaimana Soekarno digambarkan sebagai ikon propaganda dari kalangan pihak Jepang. Tentunya hal ini memerlukan kecermatan sejarah untuk menjawab mozaik masa pendudukan Jepang tersebut. Maka saran saya adalah silahkan sidang pembaca untuk membaca majalah Historia nomor 3 halaman 35-66 yang dimana akan memberikan pengetahuan mengenai para ianfu di masa pendudukan Jepang tersebut. Dengan pengetahuan sejarah tersebut maka akan menghindari penilaian, penghakiman yang tendensius. Seperti disarikan dari pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: “Aku percaya kalian tidak akan suka menjadi korban bangsa apapun. Juga tidak suka bila anak-anak gadis kalian mengalami nasib malang seperti itu. Artinya, kalian juga tidak akan suka bila ibu-ibu kalian –para perawan remaja pada 1943-1945- menderita semacam itu.”

Sisi lainnya yang menarik dari film Soekarno: Indonesia Merdeka ini dalam hemat saya adalah silang pendapat antara Soekarno-Hatta-Sjahrir. Sayangnya Sjahrir yang intelek, diperankan terlalu meledak-ledak, dan terlihat sekilasan sebagai “antagonis”. Meski ketika detik-detik menjelang proklamasi diperlihatkan bagaimana Sjahrir (diperankan Tata Ginting) turut menyokong Soekarno-Hatta, namun kesan meledak-ledak dan “antagonis” belum sepenuhnya luruh. Sedangkan Hatta (diperankan Lukman Sardi) mampu memperlihatkan ketenangan, kehati-hatian, visioner.

chess

Seperti dituturkan oleh Herbert Feith bahwa tipikal Hatta adalah administrator sedangkan Soekarno adalah pembentuk solidaritas. Hatta dengan cermat mengutarakan kekhawatirannya yang terbukti di kemudian hari. Mulai dari bentuk pemerintahan, otonomi daerah, ketimpangan antardaerah, dan sebagainya.

Adapun mengutip pendapat dari Goenawan Mohamad mengenai adminstrator dan pembentuk solidaritas dapat dilihat dalam paragraf berikut (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 479):

Soekarno menciptakan simbol dan menekankan kembali tuntutan mesianis serta janji-janji Revolusi. Hatta menyusun kebijakan administratif dan mendesakkan perlunya realisme. Seorang “administrator” menekankan perlunya legalitas dan terpeliharanya kontrol. Seorang “pembentuk solidaritas” bicara dengan hati bergelora tentang rakyat – tentu saja “rakyat” bukan sebagai kenyataan yang terbagi-bagi, melainkan suatu keutuhan, suatu daya, suatu gairah.

film Soekarno

Saya teringat dengan uraian sejarawan Asvi Warman Adam bahwa tujuan utama penulisan biografi adalah mencoba menangkap dan menguraikan jalan hidupnya dengan lingkungan sosial-historis yang mengitarinya. Tujuan kedua biografi adalah memberi baju “baru” kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari sang tokoh dalam sejarah. Apakah ia yang menentukan jalannya sejarah, atau ia tak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam kedudukan strategis (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah “Hidup atau Mati”, hlm. XI-XII).

Maka agar tiada membeku, menjadi kultus tanpa pemahaman, maka film Soekarno: Indonesia Merdeka ini menarik adanya untuk memantik kembali sosok dan pemikiran dari sang putera fajar ini.

Kita ogah – atau kita belum – menampilkan satu potret “antihero”, dalam sejarah kita. Pahlawan nasional bukanlah orang-orang lazim yang bisa dianalisa dengan pisau urai yang tajam. Bayangkan keributan yang terjadi jika seseorang berani menyajikan suatu risalah yang kritis tentang Bung Karno, atau Bung Hatta, Diponegoro, atau Pattimura. Mungkin itulah sebabnya kita terdiam (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm.47). Mungkin begitulah kiranya yang menyibak dan menyebabkan mengapa film Soekarno: Indonesia Merdeka menuai sejumlah kontroversi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sosial Budaya

Pers

Jagat pers di Indonesia mengalami dilema tersendiri di era reformasi. Para pemodal alias pengusaha menimbulkan fenomena tersendiri dalam kehidupan pers. Value dari berita ditengarai sebagai corong dari para pemodal yang juga pemilik dari media. Maka sejumlah stasiun tv swasta dimana pemiliknya juga politisi menjadi bias. Pun begitu dengan koran ataupun majalah yang menjadi perpanjangan lidah, vehicle opini dari para pemodal/pemilik media.

Penunggangan isu dalam berita ternyata menemukan relevansinya dalam film The Green Hornet. Dikisahkan Britt Reid merupakan pemilik dari koran the Daily Sentinel. Britt Reid yang juga merupakan Green Hornet menjadikan the Daily Sentinel sebagai perpanjangan pesan, opini yang diinginkannya. Meja redaksi pun dikooptasi demi kepentingannya. Ketika Green Hornet beraksi di masa-masa awal, patung milik keluarganya yang kehilangan kepala dikreasi, digodok menjadi sebuah isu publik. Dapur redaksi dengan intens mengulas siapa gerangan Green Hornet plus sepak terjangnya. Lupakan soal 10 kriteria untuk mengukur kelayakan berita (news value). Ada setidaknya sepuluh kriteria untuk mengukur kelayakan berita (news value): kehangatan, pertama kali, magnitude, tokoh atau nama besar, tren baru, dramatis, unik, prestisius, angle berita, dan misi (Tim Tempo, Cerita Di Balik Dapur Tempo, hlm.VII).

creativity b

Bagaimana kiranya media dapat mengkreasi berita? Jika menilik check and balances dalam kehidupan sosial politik, maka pers ditabalkan sebagai pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, yudikatif. Lord Acton pernah bertutur bahwa power tends to corrupt, but absolute power corrupts absolutely. Godaan untuk korup juga dapat terjadi pada ranah pers. Pers dapat menjadi sekadar unit ekonomi yang menjual dan mencari makan dari menjual berita.

Pada 1988 Noam Chomsky dan Edward Herman menerbitkan buku tebal berjudul Manufacturing Consent. Chomsky sudah mengingatkan bahwa media massa pada dasarnya menyuarakan kepentingan korporasi besar atau para pemilik modal, sehingga isi pokok media massa di Amerika sejatinya adalah propaganda untuk melindungi kepentingan korporasi. Chomsky menggunakan istilah “propaganda” tentu bukan tanpa alasan kuat (Amien Rais, Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!, hlm. 116).

the amazing spiderman

Pers sendiri dapat menghadirkan dan memunculkan isu. Sampelnya adalah seperti Britt Reid yang memunculkan isu Green Hornet secara masif. Isu tersebut dapat dikupas dengan tingkat kejahatan di kota Chicago, peran aparat kepolisian, sosok Green Hornet yang misterius. Green Hornet menjadi komoditas yang diangkat dan dikemas oleh the Daily Sentinel. Sampel lainnya ialah J.Jonah Jameson yang gemar mengangkat isu bombastis terkait dengan Spider-Man. Dailly Bugle pun menghadirkan opini, peristilahan, dan menggiring opini publik. Dalam peristilahan, dapat ditelusuri dari nama Dr.Octopus. Dalam menggiring opini publik dapat ditelusuri dari Spider-Man yang terkadang dijadikan musuh publik oleh Daily Bugle.

Pers juga dapat dikangkangi oleh kekuasaan. Dalam ranah Indonesia sempat terjadi pembredelan pada sejumlah media dikarenakan content berita menyinggung pihak penguasa. Informasi adalah kekuatan. Maka di masa penjajahan Jepang radio disegel sehingga tiada dapat mendengarkan informasi dari radio luar negeri.

Pemberontakan dapat berawal dan tersulut dari informasi. Maka dalam kisah Harry Potter dan Relikui Kematian, gerakan perlawanan itu muncul dalam bentuk Pantauan Potter. Disana pesan-pesan pemberontakan, informasi saling terhubung bagi mereka-mereka yang menentang Voldemort. Untuk mendengarkan saluran radio ini juga dibutuhkan kata sandi serta harus klandestin.

media

Mengenai Pantauan Potter dipotret dalam cuplikan informasi berikut (J.K.Rowling, Harry Potter dan Relikui Kematian, hlm. 578-580):

Pantauan Potter, apa aku belum bilang itu namanya? Program yang selama ini kucari-cari di radio, satu-satunya yang memberitakan hal sebenarnya yang sedang terjadi! Hampir semua program lain mengikuti jalur Kau-Tahu-Siapa, semuanya kecuali Pantauan Potter. Aku sungguh ingin kalian mendengarnya, tapi sulit mencari pemancarnya…”

“Kata sandinya biasanya ada hubungannya dengan Orde,” Ron memberitahu mereka.

“Tetapi sebelum kita mendengar dari Royal dan Romulus,” Lee melanjutkan, “kita lewatkan dulu beberapa saat untuk melaporkan kematian yang Wizarding Wireless Network News—Jaringan Berita Radio Sihir—dan Daily Prophet tidak menganggap cukup penting untuk dilaporkan.

daily prophet

Pers yang menjadi corong penguasa dapat dilihat sampelnya pada The Dailly Prophet. Bagaimana isu Voldemort yang kembali diredam melalui kanal The Daily Prophet. Pukulan pun diberikan kepada mereka yang percaya dan menarasikan Voldemort telah kembali. Dumbledore dianggap sudah terlalu tua dan kurang waras, sedangkan Harry Potter dikuliti bermasalah secara psikologis (Harry Potter dan Orde Phoenix). Opini-opini yang mendukung kementerian pun diinjeksikan. Namun Hermione memiliki akal dengan menggunakan media The Quibbler sebagai kanal penyebaran pesan mengenai kembalinya Voldemort. The Quibbler mengangkat wawancara dengan Harry Potter menjadi bahan dasar utama dari penyebaran pesan mengenai kembalinya Voldemort. Majalah The Quibbler pun memperoleh untung yang luar biasa. Suara lainnya, versi yang berbeda dari apa yang diciptakan The Daily Prophet menjadikan berita ini diburu dan didukung. Tangan kuasa tentunya kembali berusaha untuk mengikis berita ini. Seperti terlihat dari hukuman yang diberikan oleh Dolores Umbridge kepada siswa yang kedapatan membawa majalah The Quibbler.

barti 1

Terkait dengan kekuasaan, pers juga dapat “menyelamatkan kekuasaan melalui opini”. Upaya kudeta yang dilakukan oleh Simon Lovelace jelas-jelas mempermalukan pemerintahan Inggris. Bagaimana pemerintah Inggris diselamatkan oleh seorang bocah berumur 12 tahun yang bernama John Mandrake/Nathaniel. Simak perbincangan yang diujarkan oleh Bartimaeus dengan Nathaniel sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy # 1: Amulet Samarkand, hlm. 506):

“Suara orang-orang tidak bersorak.”

Ia merengut. “Maksudnya apa?”

“Maksudnya Pemerintah membungkam masalah ini. Di mana para fotografer? Di mana para wartawan surat kabar? Aku mengharapkanmu berada di halaman pertama The Times pagi ini. Mereka seharusnya menanyakan kisah hidupmu, memberimu medali di tempat publik, menempatkan wajahmu di prangko murahan edisi terbatas. Tapi mereka tak melakukan itu, bukan?”

Anak itu menyedot ingus. “Mereka harus membungkam masalah ini demi keamanan. Itu yang mereka katakan kepadaku.”

“Tidak, itu supaya mereka tak terlihat tolol. ‘Anak dua belas tahun menyelamatkan Pemerintah’? Orang-orang di jalan akan menertawakan mereka. Dan itu bukanlah hal yang diinginkan satu penyihir pun, percayalah padaku. Jika itu terjadi, akan merupakan awal dari akhir.”

Lika-liku dunia pers serta “jeroan” dari dunia pers kiranya memang telah dikisahkan dalam sejumlah kisah yang bertemakan fiksi fantasi. Boleh dibilang bagi saya yang berkecimpung di dunia jurnalistik, saya menemukan sejumlah kecocokan dari kisah di sejumlah cerita fiksi fantasi dengan kenyataan. Pers memang menunjukkan multifaset. Ia dapat mempesona dan dapat “membunuh”.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

Comic 8: Bukan Sekadar Komedi

Semula saya skeptis ketika sahabat saya dengan militan menyarankan untuk menonton film Comic 8. Terlebih ketika melihat poster filmnya. Perkiraan awal saya humor yang disajikan akan tiada begitu lucu plus lagi seronok yang menghiasi (terdapat Nikita Mirzani yang sudah kesohor dengan lekuk tubuhnya). Namun akhirnya sudah takdirnya bahwa film Comic 8 saya tonton. Saya membutuhkan tontonan di bioskop yang menghibur (ketika itu praktis list film di bioskop tiada banyak pilihan yang menarik). Lalu rekan saya di kantor memutar trailer film tersebut. Dan trailer filmnya lumayan menyakinkan saya untuk mengkonversi Rp 40.000 menjadi selembar tiket.

Film Comic 8 dibuka dengan adegan penyanderaan. Request dari para penyandera boleh dibilang aneh bin lucu. Ada yang menginginkan agar ibukota negara dipindahkan ke Papua, ada yang menginginkan mendapat tiket kursi depan dari konser JKT 48, dan lain sebagainya. “Tonjokan” awal dari film ini cukup menggelitik tawa.

Film Comic 8 sendiri dipenuhi oleh para comic. Comic adalah sebutan dari penampil di Stand Up Comedy. Ada Mongol, Mudy, Ernest, Kemal, Bintang, Babe, Fico, dan Arie Kriting. Peran-peran lainnya juga mampu menampilkan humor dalam takaran yang pas. Sebut saja Candil yang menjadi pengantar pizza, Jeremy Teti yang menjadi pegawai bank, Agung Hercules yang tampil dengan gumpalan ototnya, Agus Kuncoro dengan suara femininnya.

Comic 8

Humor-humor ala comic terjajar sepanjang film yang disutradarai oleh Anggy Umbara ini. Dipadukan dengan aksi action, gambar komikal, serta sejumlah visual effect. Yang saya agak terkejut adalah pada jalinan dan jalan cerita. Semula saya menyangka film ini akan beralur datar dan menyajikan humor dari awal sampai akhir. Ternyata skenario film ini harus saya berikan two thumbs up. Terdapat kedalaman cerita, ilusi dalam cerita. Inilah yang menjadi nilai lebih dari film Comic 8. Bukan sekadar komedi biasa. Melainkan film komedi yang cerdas dikarenakan di-framing oleh jalan cerita yang menyerupai kisah detektif dengan lapisan tirai yang satu demi satu diurai.

Melihat film Comic 8 boleh dibilang saya mendapatkan impresi dari paduan sejumlah film yang pernah saya tonton. Sekurangnya saya teringat pada film Shutter Island, Inception, The Dark Knight, Ocean’s Twelve. Mari saya ulas satu per satu.

Pada fragmen pasien rumah sakit jiwa dan terdapat cuci otak saya pun teringat pada film Shutter Island. Dikisahkan dalam film Comic 8 bahwa 8 pencuri bank ternyata merupakan pasien rumah sakit jiwa. Hal tersebut ditandai dengan gelang dan jam makan obat dari kedelapan orang tersebut. Ternyata 8 pencuri bank tersebut telah ditelusuri track record-nya yang akrab dan memiliki kemampuan dengan kekerasan. Dalangnya adalah Pandji dan Cak Lontong yang mengeksploitasi kedelapan pasien rumah sakit jiwa tersebut untuk mencuri bank Ini. Metode penanaman kesadaran palsu diberikan. Segala macam julukan yang dimiliki, serta kejadian yang berlangsung ternyata berada dalam radius rumah sakit jiwa.

Comic 8-2

Pada fragmen penanaman ide, saya pun teringat film Inception. Saya teringat dengan nukilan kalimat berikut: You’re waiting for a train, a train that will take you far away. You know where you hope this train will take you, but you don’t know for sure. But it doesn’t matter. How can it not matter to you where that train will take you? Penanaman ide dilakukan di rumah sakit jiwa dengan berulang-ulang. Bagaimana definisi sebagai penjahat dan masa lalu yang dicangkokkan merupakan bagian dari pencucian otak.

Pada fragmen pelarian para pencuri bank saya pun teringat film The Dark Knight. Tepatnya dengan bagian ketika Joker menjadikan para sandera sebagai “penjahat”. Hal yang sama persis dilakukan di film Comic 8. Para tawanan dipakaikan baju dan segala aksesoris para pencuri bank. Hal ini untuk mengelabui polisi bahwa para pencuri masih berada di bank.

Pada fragmen penutup saya pun teringat dengan film Ocean’s Twelve. Bagaimana penampilan keren dan bergaya dari delapan orang pencuri bank. Jangan lupakan di bagian akhir lapisan terakhir dari pertanyaan diungkap. Tirai terakhir disingkap. Lapisan ilusi dipertunjukkan. Dan si dalang sesungguhnya diungkap. Tentunya tugas berikutnya menimbulkan kemungkinan akan adanya sekuel dari film Comic 8.

Film Comic 8 pada akhirnya mampu mentransformasi skeptisme saya menjadi rekomendasi kepada sidang pembaca sekalian. Tontonlah Comic 8, sebuah film yang bukan sekadar komedi. Dan saya percaya para penonton di bioskop akan menonton hingga akhir film, dikarenakan di bagian akhir terdapat penampilan stand up comedy dari 8 comic.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film

RoboCop: Robot Juga Manusia

Melihat trailer RoboCop ingatan saya pun terpanggil ke masa saya kecil dahulu. Sekelebatan emosi pun terbentang. Dengan berbekalkan semangat nostalgia, saya pun berangkat untuk menonton film RoboCop edisi tahun 2014. Dari tampilan fisiknya yang nyata terlihat adalah perubahan warna. Dari berwarna perak menjadi berwarna hitam. Dari segi kelincahan, RoboCop era sekarang begitu lincah dalam bergerak. Tiada seperti edisi pendahulunya dimana velocity dari RoboCop tiada lincah-lincah amat. Kelincahan gerak itu diantaranya terlihat dalam simulasi ketika RoboCop menghadapi rangkaian robot dan sang komandan. Bagaimana dengan tangkasnya RoboCop bergerak diantara tiang dan melumat robot-robot produksi Omni Consumer Products (OCP).

Dikisahkan bahwa robot-robot produksi OCP telah merambah di berbagai negara konflik, namun di Amerika Serikat penggunaan robot sebagai armada bersenjata dilarang. UU Dreyfus menjadi penghambatnya. Penggunaan robot sendiri digadang-gadang akan menihilkan korban manusia dari pihak tentara. Basis sejarah tentara Amerika yang tewas di Vietnam, Irak, Afghanistan menjadi sampel. Namun UU Dreyfus menemukan momentum kebenarannya ketika di kota Tehran seorang anak kecil yang membawa pisau diberondong peluru oleh robot OCP dikarenakan diklasifikasikan sebagai ancaman.

RoboCop 1

Raymond Sellars (Michael Keaton) pemimpin dari OCP tak hilang akal untuk menjual produknya ke Amerika Serikat. Alasan utamanya adalah bisnis dan uang. Raymond Sellars pun mengistilahkannya sebagai produk yang punya hati nurani. Maka Sellars memiliki ide untuk memasukkan manusia dalam robot. Digandenglah Dr.Dennett Norton (Gary Oldman) sang ilmuwan. Sejak semula Dr.Norton telah mewanti-wanti dan tiada setuju 100% dengan ide dari Sellars. Untuk kemudian boleh dibilang Dr.Norton yang diperankan oleh Gary Oldman menurut hemat saya menjadi bintang paling bersinar dalam film ini. Ia mampu menghadirkan dilema, tekanan, hati nurani.

Alex Murphy (Joel Kinnaman) sang polisi jujur dan dedikatif mencoba untuk mengurai sengkarut kejahatan mafia di kota Detroit. Ditengarai terjadi kongkalikong antara pihak internal kepolisian dengan penjahat bernama Antoine Vallon (Patrick Garrow). Vallon sempat ingin “membungkam” Alex dengan uang melalui kaki tangannya di kepolisian. Namun Alex bukanlah polisi yang mundur jalan dan balik kanan ketika disogok oleh uang. Alhasil Vallon memilih untuk membunuh Alex dengan meledakkan mobil Alex.

Alex Murphy harus menemui kenyataan pahit ketika berusaha memadamkan alarm mobilnya yang untuk kemudian berujung pada ledakan besar. Segenap anggota tubuh Alex berantakan. Ia di ujung maut. Sampai OCP menawarkan opsi lainnya untuk menjadikan Alex sebagai RoboCop.

robocop 2

Maka disinilah titik pusaran konflik terjadi. Pada poros pertama adalah pada Raymond Sellars. Sellars merupakan seseorang yang akan menyingkirkan hati nurani dan berbuat apa saja agar produknya berhasil di pasaran. Ia menafikan RoboCop yang masih perlu penelitian lebih lanjut. Baginya yang terpenting adalah mendapatkan untung sebanyak-banyaknya dari penjualan RoboCop-RoboCop untuk kota-kota di Amerika Serikat. Ia berjuang agar UU Dreyfus tidak berlaku lagi. Ia membawa ke arus utama publik RoboCop sebagai jalan tengah antara robot dengan manusia. Sellars berpendapat orang tak tahu apa yang ia inginkan, sampai kau menunjukkannya. Dan RoboCop merupakan produk yang ditunjukkan agar menjadi keinginan dari publik Amerika. Sisi kemanusiaan, efisiensi dan ketangkasan RoboCop dalam menangkap kriminal turut mengerek elektabilitas produk dari OCP ini di mata publik Amerika Serikat.

Pada poros kedua adalah RoboCop. Alex Murphy merupakan seorang polisi jujur yang telah memiliki istri dan anak lelaki. Bagaimana sisi emosional dari Alex mempengaruhi tindakan dari RoboCop. Sisi emosional dan kemanusiaan membuat RoboCop menolak prioritas sistem. Dibandingkan menangkap penjahat, perhatian dari RoboCop menjadi tersita untuk peduli pada gulana, ketakutan anak lelakinya yang menjadi sorotan publik. Bukan sekadar itu, RoboCop juga memilih untuk menyelidiki siapa gerangan yang berusaha untuk membunuh Alex ketika masih menjadi manusia. Penyelidikan yang dilakukan RoboCop ini tentunya menyebabkan terbukanya kebobrokan internal kepolisian Detroit. Bahkan membawa RoboCop pada sang dalang dari pengeboman mobil Alex.

klakson

Poros ketiga adalah Dr.Norton. Bagaimana Dr.Norton berada diantara dua pendulum. Ia ditekan oleh Raymond Sellars, di sisi lain ia bertanggung jawab penuh akan produk buatannya yakni RoboCop. Gary Oldman (pemeran Dr.Norton) di film RoboCop mengingatkan saya akan dilema dan tekanan struktural yang dihadapinya ketika ia bermain sebagai Komisaris Gordon (The Dark Knight). Ilusi kehendak bebas, peluruhan dopamin yang dilakukan oleh Dr.Norton untuk kemudian ditebus dengan menyelamatkan RoboCop dari upaya pemusnahan yang diinstruksikan oleh Sellars. Dr.Norton memenangkan nuraninya dan akal sehatnya.

Benar adanya apa yang diujarkan oleh Dr.Norton bahwa unsur manusia akan selalu ada pada RoboCop. Dalam film RoboCop, sisi kemanusiaan menang. Pertanyaannya dalam kehidupan yang kita jalani akankah yang menang adalah para serigala? Ingat teori homo homini lupus? Ataukah juga yang menang adalah pemimpin yang tanpa hati nurani dan memperlakukan segala hal sebagai produk, keuntungan belaka?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Resensi Buku

Membaca Novel Ender’s Game

Awal mulanya adalah ketika saya dan keponakan saya menonton trailer film Ender’s Game di bioskop. Keponakan saya langsung bereaksi gembira. Ia merekomendasikan saya untuk menonton filmnya dan membaca novelnya. Saya pun memenuhi pinta dari keponakan saya tersebut. Sebelum menonton film Ender’s Game saya sempat membaca 40-an halaman dari novelnya. Dan saya pun terpikat dengan novelnya. Lalu saya menonton filmnya terlebih dahulu dibanding menamatkan novelnya. Dari pengalaman saya biasanya saya lebih tertarik ketika menonton filmnya terlebih dahulu baru membaca novelnya kemudian. Jika membaca novelnya terlebih dahulu, baru menonton filmnya biasanya saya menemui sejumlah kekecewaan karena terjadi pemangkasan plot dan karakter.

Menonton film Ender’s Game bolehlah saya katakan secara penilaian personal lumayan baik. Secara visual kita disuguhi dengan pemandangan teknologi yang menyakinkan. Secara jalan cerita saya mengalami antiklimaks. Ketika Ender Wiggin dikirim selepas dari battle school, justru drama seperti kehilangan gregetnya. Secara akting saya harus mengapresiasi dan salut kepada Asa Butterfield. Tentu saja dia memiliki track record yang menawan ketika menjadi Hugo Cabret dalam film Hugo. Kali ini ketika menjadi Ender Wiggin, ia mampu menampilkan kompleksitas emosi.

Membaca novel Ender’s Game terjadi pengayaan yang lebih mendalam mengenai Ender Wiggin sebagai sosok sentral. Bagaimana dirinya yang dibentuk untuk menjadi komandan terbaik. Seperti perkataan Graff (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 56): “Tugasku adalah mencetak prajurit-prajurit terbaik di dunia. Dalam sejarah dunia, kita membutuhkan seorang Napoleon. Seorang Alexander.”

Peran dari saudara Ender juga mendapatkan porsi yang lebih signifikan. Simak bagaimana Valentine yang menjadi “provokator ide” dengan menjadi Demosthenes. Simak juga bagaimana Peter yang sadis menjadi Locke ketika merambah dunia maya untuk mendiasporakan gagasannya. Friksi antarketiga saudara lebih terasa dalam versi novelnya. Bagaimana Valentine di akhir cerita novelnya membujuk Ender untuk jangan kembali ke bumi. Seperti terterakan dalam fragmen kalimat dari Valentine berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 464-466):

“Dia punya rencana untukmu, Ender. Dia akan mengungkapkan diri secara terbuka ketika kau tiba, akan menemuimu di hadapan semua media. Kakak tertua Ender Wiggin yang juga merupakan keturunan Locke yang agung, arsitek perdamaian. Dengan berdiri di sampingmu, dia akan terlihat cukup dewasa. Lalu, kemiripan fisik di antara kalian menjadi lebih kentara daripada sebelumnya. Maka, dia akan lebih mudah mengambil alih.”

“…Ender, Bumi milik Peter. Jika kau tak pergi denganku sekarang, dia akan menangkapmu di sana dan memanfaatkanmu habis-habisan sampai kau berharap tidak pernah dilahirkan. Hanya sekarang kesempatanmu satu-satunya untuk pergi.”

Ender's Game Novel

Novel Ender’s Game juga menggambarkan bagaimana Ender ditekan untuk mencapai batas optimal dari dirinya. Bagaimana rangkaian promosi ketika dirinya masih begitu muda, bagaimana Ender diisolasi untuk menjadi seorang pemimpin, bagaimana pressure dari para senior, bagaimana kerinduan Ender terhadap rumah dan bumi, bagaimana Ender ketika menjadi komandan tempur diharuskan untuk bertarung melawan kelompok lain secara terus menerus, dan lain sebagainya.

Novel Ender’s Game dalam hemat saya juga memberikan jawaban akan pertanyaan kenapa mesti anak-anak yang dibebankan tanggung jawab untuk memusnahkan bugger (sesuatu yang belum terjawab di versi filmnya). Simak fragmen berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 446):

“Tentu saja kami menipumu agar melakukan itu. Itulah intinya,” sahut Graff. “Memang harus dengan tipuan atau kau tak sanggup melakukan itu. Kita berada dalam ikatan. Kami harus memiliki seorang komandan dengan empati yang begitu besar sampai dia akan berpikir seperti para Bugger, memahami mereka, dan mendahului mereka. Kasih sayang yang begitu besar sampai doa bisa memenangkan cinta bawahannya dan mempekerjakan mereka seperti mesin yang sempurna, sesempurna para Bugger. Tetapi, seseorang dengan kasih sayang sebesar itu tak akan pernah bisa menjadi pembunuh yang kami butuhkan. Tak akan pernah bisa bertempur dengan keinginan menang, bagaimanapun caranya. Kalau tahu semua itu, kau takkan bisa melakukannya. Kalau kau adalah jenis orang yang akan melakukan tindakan semacam itu meskipun sudah tahu sejak awal, kau tak akan pernah memahami para Bugger dengan baik.”

“Maka, dia haruslah anak-anak, Ender,” ujar Mazer. “Kau lebih cepat dariku. Lebih baik dariku. Aku terlalu tua dan berhati-hati. Orang baik mana pun yang menyadari arti dari perang tak akan pernah bisa bertempur sepenuh hati. Tetapi, kau tidak tahu. Kami pastikan kau tidak tahu. Kau nekat, cerdas, dan masih muda. Itulah alasan kau dilahirkan.”

Novel Ender’s Game sendiri mendapati sejumlah penghargaan seperti Hugo Award dan Nebula Award. Bagi pecinta novel sains fiksi saya pikir Ender’s Game ini layak menjadi koleksi. Boleh dibilang film dan novel Ender’s Game saling menopang dalam memberikan narasi dan penceritaan. Untuk yang ingin versi singkatnya dan secara visual memukau dapat menonton filmnya. Untuk menemui kedalaman, pengayaan, dan kompleksitasnya bacalah versi novelnya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Sosial Budaya

Visual Memikat 99 Cahaya

Melihat film 99 Cahaya di Langit Eropa adalah melihat keindahan visual kota-kota di Eropa. Penonton dibawa untuk menelusuri kota Wina dan Paris. Paris yang tiada sekadar Menara Eiffel, museum Louvre. Film 99 Cahaya di Langit Eropa berangkat dari novel best seller karangan Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.

Dalam versi novelnya sentral utama cerita adalah Hanum. Hanum yang menemukan cahaya dan kebesaran Islam justru ketika berada di benua Eropa. Hal yang tidak berlebihan dikarenakan seperti dituturkan oleh Ahmad Suhelmi bahwa ada tiga peradaban yang mempunyai peranan penting terhadap pembentukan tradisi keilmuan dan pemikiran politik Barat: Yunani-Romawi, Judeo-Kristiani dan Islam.

Menarik adanya jika menilik apa yang diungkap oleh Ahmad Suhelmi tentang pengaruh Islam dalam tradisi keilmuan dan pemikiran politik Barat (Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat, hlm. 18-19):

Watak Islam yang demikian ini pulalah yang menyebabkan penaklukan-penaklukan Islam tidak diiringi oleh proses penghancuran peradaban-peradaban lokal negeri-negeri yang ditaklukkan. Islam membiarkan, bahkan dalam tingkat tertentu, memperkaya peradaban-peradaban negeri-negeri taklukan itu. Tidak seperti yang dilakukan para penakluk Cina, kaisar Hulagu misalnya, yang secara biadab menghancurkan kekayaan khazanah intelektual, membakar perpustakaan-perpustakaan dan warisan sejarah Islam ketika berhasil menaklukkan kota Baghdad. Watak Islam yang demikian itu juga yang secara gemilang berhasil menaklukkan, mempersatukan dan mensintesakan berbagai peradaban dunia yang tumbuh subur mulai dari kawasan Andalusia Spanyol hingga dataran Cina.

Umat Islam menerima secara kreatif warisan Yunani-Romawi, juga warisan peradaban negeri-negeri taklukan lainnya, karena watak mereka yang kosmopolis dan universalis. Mereka, seperti ditulis Nurcholis Majid, memandang diri mereka sebagai bagian dari seluruh kemanusiaan universal dan yang berada dalam lingkungan kewarganegaraan dunia. Dalam wujud historisnya sikap kosmopolitan dan universalis itu, menurut Nurcholish mengutip Halkin: “Adalah pujian untuk orang-orang Arab (baca: Muslim, pen.) bahwa meskipun mereka menjadi pemenang secara militer dan politik namun tidak memandang hina peradaban-peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan. Kekayaan budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka adaptasi ke bahasa Arab segera setelah mereka temukan. Para khalifah, gubernur dan lain-lain menjadi pelindung para sarjana yang melakukan kegiatan penerjemah, sehingga sangat luas ilmu bukan Islam dapat diperoleh dalam bahasa Arab.”

99 cahaya

Kembali ke ulasan film 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum (Acha Septriasa) yang ber-traveling bersama Fatma (Raline Shah) dan Ayse (Geccha Tavara) di kota Wina. Disanalah Hanum mendapatkan makna mengenai roti croissant, lukisan Kara Mustafa, restoran Der Wiener Deewan yang memiliki slogan “All You Can Eat. Pay As You Wish”. Hanum yang belajar dari Fatma perihal menjadi agen muslim yang baik seperti tecermin dari bagaimana penyikapan Fatma yang lebih memilih untuk membayari biaya makan dua orang bule yang mendiskreditkan Turki dan Islam melalui perlambangan roti croissant yang dimakan.

Sementara itu Rangga (Abimana Aryasatya) yang menempuh pendidikan S3 dihadapkan pada aplikasi Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari memilih makanan yang halal, menunaikan ibadah shalat wajib, shalat Jumat yang bertabrakan waktunya dengan waktu ujian, dan sebagainya. Rangga juga mendapatkan godaan dari Maarja (Marissa Nasution) dan bagaimana Rangga dengan cara elegan menghindar dan menampik godaan Maarja.

Rangga juga memiliki teman yakni Khan (Alex Abbad) dan Stefan (Nino Fernandes). Khan digambarkan sebagai Islam garis keras yang tanpa kompromi dalam bersikap. Sedangkan Stefan merupakan seorang skeptis yang terus mempertanyakan mengenai esensi dari ajaran Islam. Simaklah bagaimana perbincangan menarik antara Stefan dengan Rangga dalam hal makanan halal, shalat Jumat, pelaksanaan ibadah wajib yang dianalogikan dengan asuransi, dan sebagainya.

Rangga juga mampu menampilkan sisi romantis yang menghibur dengan sejumlah candaannya kepada istrinya Hanum. Bagaimana pasangan muda ini saling menguatkan dalam kata dan perbuatan.

Sisi drama dari film 99 Cahaya di Langit Eropa didapati ketika Ayse ternyata terkena penyakit kanker. Sejumlah jejak seperti rambut yang rontok, hidung yang mimisan, kiriman dari Marion terkonklusi dengan pengetahuan bahwa Ayse ternyata terkena penyakit kanker.

Menyaksikan film 99 Cahaya di Langit Eropa mengasyikkan secara visual. Mata kita dimanjakan dengan keindahan, kerapihan kota Wina dan Paris. Kita dibawa untuk mengunjungi Menara Eiffel, museum Louvre, Arc de Triomphe du Carrousel, museum Wina, Kahlenberg. Film ini boleh dibilang mampu memotret Islam yang menjadi rahmatan lil alamin. Bagaimana dahulunya Islam mampu merengkuhkan pengaruhnya hingga benua Eropa dan sejumlah peninggalannya masih jelas terlihat. Di samping itu para penganut Islam di benua Eropa menjadi duta-duta Islam yang menebarkan kebaikan dan pesan perdamaian.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa