Posted in Buku, Essai, Kertas Pasir, Politik, Resensi Buku

Dilema Sang Presiden

Paradoks. Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat dan menang satu putaran, namun tersandera oleh kekuatan politik yang ada. 60,80% suara dukungan rakyat, 26,43% suara partai Demokrat rupanya belum cukup bagi SBY untuk independen dan merdeka dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Koalisi yang terbentuk di pemerintahan nyatanya merupakan koalisi yoyo. Yang naik-turun, yang mendekat-menjauh tergantung kepentingan politik dan momentum pencitraan di masyarakat. Dialektika yang ada semestinya merupakan refleksi dari pergulatan ide dan pemikiran. Bukan malahan sebagai panggung dari akrobat politik yang saling memainkan kartu truf.

The king can do no wrong, begitulah kiranya frasa yang sempat mewarnai jagat perpolitikan. Seiring perjalanan waktu dan dialektika, muncul dan meluruhlah sejumlah konsep. Terdapat pembagian dan pemisahan kekuasaan yang memungkinkan pucuk eksekutif tidak bertindak sewenang-wenang dan sekehendaknya. Bukankah seperti disinyalir oleh Lord Acton, bahwa power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely? Itulah kiranya yang memungkinkan terjadinya mekanisme checks and balances dalam sistem politik yang berjalan.

Indonesia merupakan negara yang telah melewati ragam panorama situasi politik. Berbagai sistem telah diterapkan dengan sejumlah keunggulan dan kelemahannya. Menarik garis pembelajaran dari sejarah merupakan harta karun pengetahuan untuk mencari format apa yang tepat diterapkan di majemuknya unsur yang membentuk bangsa ini. Dalam skala kontemporer, potret dari politik Indonesia boleh dibilang masih tertatih. Bagaimana sejumlah kasus uang mewarnai pemberitaan media massa merupakan titik-titik sumbu yang menyandera pemerintahan SBY-Boediono. Hal yang tak dapat dilepaskan dari pilihan sistem yang dipakai di negeri ini serta kondisi faktual dalam hitung-hitungan kekuatan politik.

Tradisi koalisi jarang ditemukan pada sistem pemerintahan presidensial dan tidak diatur dalam UUD 1945. Koalisi dalam kombinasi kedua sistem ini di Indonesia sering melahirkan koalisi dengan basis ideologi yang berbeda-beda atau “koalisi pelangi”, sehingga tidak adanya kesatuan ideologi pemerintah yang terpilih dalam menjalankan program-programnya. Koalisi juga sering mendegradasi hak prerogatif presiden, dan melahirkan presiden yang terlalu kompromis pada partai-partai. Dengan demikian, dalam berbagai macam kasus seperti yang terdapat pada isi buku ini, presiden “terpenjara” oleh kepentingan partai-partai tersebut.

Relasi presiden-DPR sering menimbulkan ketidak efisienan dalam pengambilan kebijakan politik pemerintahan. Sukarnya menempuh paralelisme simbiosis antara koalisi di pemerintahan dan koalisi di parlemen menyebabkan rumitnya persatuan politik yang dibangun oleh presiden. Eksesnya partai koalisi sering berada pada dua kaki; satu kaki ada di pemerintahan sedangkan kaki yang lain berada di parlemen. Arah politik menjadi sulit ditebak, apakah berkoalisi atau beroposisi? Oleh karena itu, memang butuh penataan kelembagaan yang lebih baik lagi jika negara ini ingin tumbuh menjadi negara mapan secara demokrasi.

Legitimasi yang didapatkan pemerintahan SBY yang mencapai 60,80% pada pemilu presiden 2009, tidak membuat pemerintahannya merasa percaya diri dalam melaksanakan hak prerogratifnya terutama dalam berhadapan dengan DPR yang merepresentasikan kekuatan partai politik dan tarik menarik kepentingan. Tidak mengherankan berbagai kompromi terus dilakukan untuk menyelamatkan kekuasaan dari sang presiden. Kesan kompromi semakin kuat terhadap partai setelah terjadinya berbagai friksi di parlemen, seperti pro-kontra angket kasus Bank Century, penggunaan hak interpelasi dalam hal pemberantasan korupsi yang melibatkan banyak lembaga negara seperti KPK dan Polri, hak interpelasi mafia pajak. Semua itu tentu saja semakin membuat presiden tidak bisa efektif menjalankan kekuasaannya, bahkan cenderung menjadi tersandera oleh koalisi partai pendukung yang dibangunnya sendiri.

Judul Buku: Presiden Tersandera – Melihat Dampak Kombinasi Sistem Presidensial-Multipartai Terhadap Relasi Presiden-DPR di Masa Pemerintahan SBY-Boediono
Penulis: Muhammad Sabri S.Shinta
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: September 2012
Tebal: 173 halaman + XXII

Advertisements
Posted in Kertas Pasir

Api Nasionalisme Kaum Muda – Peluang dan Tantangan Menumbuhkan Semangat Kebangsaan di Kalangan Muda Indonesia (Resensi)

Judul Buku: Api Nasionalisme Kaum Muda – Peluang dan Tantangan Menumbuhkan Semangat Kebangsaan di Kalangan Muda Indonesia.
Penulis: Dr. Aziz Syamsuddin
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: Oktober 2011
Tebal: 108 halaman

Fukuyama dalam bukunya The End of History and the Last Man menyatakan bahwa telah berakhir era konfrontasi ideologi. Dari kontestansi ideologi yang ada tambah Fukuyama, pemenangnya adalah ideologi demokrasi dan kapitalisme. Apa yang ditulis oleh Fukuyama tersebut sesungguhnya merupakan riak dari banyaknya ideologi yang mewarnai garis kebijakan dari berbagai negara. Kita pernah mengenal era perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, dimana merupakan refleksi dari benturan ideologis antara dua negara besar tersebut.

Dalam skala Indonesia, era politik ideologis dikenal dengan politik aliran. Oleh para sejarawan dan akademisi, periodesasi benturan ideologis tersebut terjadi pada tahun 1950-1959. Partai-partai Indonesia ketika itu merupakan refleksi dari politik aliran yang mengemuka seperti nasionalisme, agama, komunisme, sosialisme. Untuk kemudian era Orde Baru melakukan pembonsaian pada politik aliran yang ada.

Membaca buku Api Nasionalisme Kaum Muda – Peluang dan Tantangan Menumbuhkan Semangat Kebangsaan di Kalangan Muda Indonesia – membawa kita pada kesadaran sejarah, bagaimana harus bersikap di era kontemporer, serta menyulam format masa depan yang lebih baik. Nasionalisme dalam pemikiran Aziz Syamsuddin bukan sebagai konsep yang harus dibenturkan dan dipertentangkan dengan ideologi lainnya. Nasionalisme dapat berjalan beriringan dengan konsep lain dan membawa Indonesia pada taraf yang lebih baik secara politik, ekonomi, dan hukum.

Buku Api Nasionalisme Kaum Muda ditulis oleh Dr. Aziz Syamsuddin. Penulisnya sendiri merupakan seorang politisi dari Partai Golkar yang memiliki komptensi praksis di bidang hukum dan politik serta juga memiliki kompetensi intelektual yang mumpuni. Pada buku Api Nasionalisme Kaum Muda ini, pembaca sesekali diajak bertamasya ke masa lalu. Tamasya ke masa lalu ini bukan merupakan sekedar romantisme masa lalu dan glorifikasi en sich, melainkan untuk melacak pemikiran para founding fathers serta mewujudkan dalam kerja-kerja kontemporer.

Pemikiran dari para founding fathers itu diantaranya ialah bagaimana Soekarno memadukan antara nasionalisme dan internasionalisme (halaman 28), sisi intelektual dari para founding fathers seperti terlihat dalam penguasaan bahasa (halaman 31), visi ekonomi dari Hatta (halaman 39), bagaimana para founding fathers sejak usia muda telah berkiprah aktif dalam organisasi (halaman 61), pandangan Hatta tentang bagaimana pendidikan membentuk sumber daya manusia (halaman 63). Bulir-bulir fakta sejarah yang diungkap oleh Aziz Syamsuddin tersebut menandaskan bagaimana pentingnya untuk menjaga semangat sejarah sekaligus mengambil intisari permaknaan yang mampu mengarungi bilangan waktu.

Dalam buku Api Nasionalisme Kaum Muda, Aziz Syamsuddin memberikan konsep mengenai hal yang dapat dilakukan oleh kaum muda di masa kontemporer. Titik perhatiannya diantaranya pada penggunaan sosial media sebagai upaya untuk menumbuhkan semangat kebangsaan di kalangan muda Indonesia. Menurut Aziz, “Kemajuan dari teknologi informasi dengan demikian dapat mendorong terjadinya civil society. Sebaran informasi, pendapat, ide, kini begitu cepat dan massif dapat terjadi. Setiap dari kita memiliki kemerdekaan untuk mengeluarkan pendapat. Media sosial dengan demikian dapat menjadi mekanisme check and balance dari tata kelola negeri ini (halaman 51).

Adapun tentang format masa depan yang ingin digapai, Aziz Syamsuddin membedahnya di bab V yang diberi judul Pemuda dan Indonesia Masa Depan. Untuk mencapai masa depan yang gemilang, sesungguhnya Indonesia memiliki potensi kaum muda yang melimpah. Selain dari kuantitas, kualitas dari kaum muda Indonesia sesungguhnya juga memiliki kompetensi istimewa. Mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller (1723-96) yang berbunyi: “und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein” –yang maknanya: hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan; maka Aziz Syamsuddin sekaligus mengajak kaum muda untuk menjadi kaum pemenang.

Menutup resensi ini perlu kiranya sidang pembaca untuk merenungkan apa yang menjadi buah pemikiran dari Aziz Syamsuddin sebagai berikut:”Api nasionalisme kaum muda perlu untuk selalu dikobarkan. Bahwasanya perjuangan belum usai. Perjuangan menambil teritori pertarungan yang berbeda dari generasi sebelumnya. Kaum muda saat ini sebagai ujung tombak perbaikan harus tetap berpegang teguh pada nasionalisme ke-Indonesiaan. Kemandirian dan kemerdekaan dalam berpikir merupakan kuncinya dari nasionalisme di tengah percaturan global. Kaum muda diananti peran sejarahnya di era reformasi ini. Sudikah Anda untuk bergabung dalam kafilah pemuda penggagas dan pelaku reformasi bagi negeri ini?”

Posted in Buku, Fiksi Fantasi, Kertas Pasir, puisi, sastra

Sinopsis Kaldera (Antologi Puisi)

Dengan senyum mengejek, Aku yang terefleksi di cermin berkata, “Aku adalah Fiksi Fantasimu. Aku adalah duniamu. Tidakkah kau kenali Aku?”

Kuingat kuat-kuat lembar kertas pasir yang kau tuliskan

Melawanlah meski itu kata terakhir yang akan kauingat

Kata-kata adalah jiwa zamannya. Yang bergerak meletup-letup, menari, dan menggugat. Kaldera merupakan antologi puisi yang tersusun atas tiga fragmen besar: Fantasi, Roman, Resistance. Ketiga fragmen tersebut dapat dinikmati sebagai satu sajian tersendiri ataupun dapat dikaitkan dengan pigura makronya.

Mungkin kita hanya perlu menghadirkan tanya, tanpa perlu menemukan jawab