Posted in Essai, Komik, Politik, Resensi Buku

Akom: The Koboy Senayan

Judul Buku: The Koboy Senayan
Ilustrator: Alga Indria
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: I-2014
Tebal: 147 halaman

Kali ini, sang Koboy Ade Komarudin (Akom) memperlihatkan “kecerdasannya” dengan menggelitik sesama rekannya koboy-koboy Senayan. Di saat banyak anggota parlemen dan caleg-caleg mempopulerkan diri dengan menulis buku-buku biografi serius, Akom justru cerdik menampilkan sosok dirinya dengan meluncurkan komik biografi.

Hal tersebut merupakan salah satu trik Akom untuk lebih dekat dengan rakyat. Akom boleh-boleh saja dijuluki sebagai “The Koboy Senayan”, tapi Akom tetap rakyat biasa yang harus dekat dengan rakyat. Rakyat biasa di pelosok mungkin akan lebih gampang mencerna bacaan-bacaan ringan semacam ini. Tampilan komik juga memungkinkan pembaca lintas generasi untuk mengetahui perjalanan karier dan kiprah dari sosok kelahiran 20 Mei 1965 ini.

Koboy Senayan

Mengapa bahasa gambar (komik) efektif sebagai media komunikasi dan transmisi ide? Secara keilmuan hal tersebut dapat dijelaskan karena gambar mampu mengkombinasikan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri sendiri berintikan pada logika, matematika, linearity, bahasa, sequence, analisis. Sedangkan otak kanan berintikan pada rhythm, kreativitas, imajinasi, dimensi, warna, holism. Hebatnya dari gambar, termasuk komik ialah mampu mengakses keunggulan di otak kanan dan kiri sehingga berbuah pada pemahaman yang lebih cepat dan mendalam.

Komik biografi Akom ini disajikan secara timeline. Bagaimana fragmen-fragmen penting dari kehidupan Ade Komarudin dihadirkan secara ringkas dan apik. Akom kecil yang hidup di kampung, diasuh oleh orang tua dan sang uyut. Orang tua dan uyut Akom menjadi pembentuk karakter Akom. Masa kecilnya dihabiskan untuk membantu orang tua menggembala hewan ternak, sebagai bentuk baktinya kepada orang tua.

Akom kecil merupakan anak yang gemar bermain di sawah. Ia memiliki hobi menangkap belalang. Di samping itu Akom kecil sangat sayang dan akrab dengan binatang yang diternak oleh orang tuanya.

Koboy Senayan

Dari sisi spiritual, Akom kecil rajin shalat malam serta melakukan puasa Senin-Kamis, maupun puasa Wedalan (puasa berdasarkan hari lahir). Bekal spiritual ini merupakan cetakan dasar yang membantunya di kemudian hari sebagai benteng bagi dirinya dalam menghadapi godaan kekuasaan yang dapat menjerumuskan.

Akom dikenal sebagai anak yang menikmati hidup, ia selalu menjalani segala sesuatunya dengan ceria. Sejak kecil Akom tampil sebagai seorang anak memiliki jiwa kepemimpinan, ia aktif berkegiatan dan selalu terpilih menjadi pemimpin. Karena itu pada saat di SMP ia terpilih menjadi pelajar teladan di sekolahnya.

Pada masa remajanya Akom dikenal sebagai “Ade Politik” karena ia kerap berpidato tentang kondisi sosial politik Indonesia saat itu pada teman-temannya. Dan karena itulah Akom menghabiskan masa mudanya dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.

Koboy Senayan

Ketika Akom duduk di bangku kuliah, padatnya tugas akademik di kampus tidak menyurutkan minat Akom untuk juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti: KAMAI (Keluarga Alumni Ponpes Al Ishlah Purwakarta), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Adapun karier Akom di ranah parlemen diantaranya dengan milestone berupa dirinya yang menjadi tokoh interpelasi pada tahun 2000. Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk kemudian setelah berhasil dengan hak interpelasi yang langsung memanggil presiden, ia turut menjadi sosok yang aktif dalam Pansus Buloggate dan Pansus Bruneigate.

Akom dikenal sebagai koboy Senayan, yaitu warga Senayan (anggota parlemen) yang kritis, berani, tegas, keras dan teguh pada pendiriannya dalam menanggapi kekisruhan-kekisruhan politik di Senayan.

Ade Komarudin yang akrab dipanggil Akom sangat beruntung bisa menjadi anggota parlemen tahun 1997. Ia langsung dapat menimba banyak pengalaman bernilai, saat di mana politik Indonesia benar-benar sedang bergejolak panas. Karena sepak terjangnya yang berani saat itu, maka beberapa tahun kemudian ia langsung mendapat dua “gelar kehormatan”. Didaulat sebagai “Koboy Senayan” pada tahun 2000 dan setahun berikutnya dipilih wartawan sebagai satu dari 10 anggota DPR terbaik saat itu. Inilah bukti Akom yang cerdas ternyata telah sungguh-sungguh menjadi koboy yang mumpuni di kancah politik Indonesia.

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sosial Budaya

Manga (2-Tamat)

Dalam hal membaca manga terdapat sejumlah serba-serbi yang menarik. Berikut uraiannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 521-526).

Supaya bisa membaca begitu banyak komik, orang Jepang harus menjadi pembaca cepat. Telah disebutkan tentang kecepatan membaca rata-rata, yakni 20 menit untuk komik 320 halaman yang berarti 16 halaman per menit atau 3,75 detik untuk tiap halaman. Dengan kata lain, terdapat suatu bentuk keterampilan membaca yang dikembangkan oleh generasi baru Jepang.

Ketebalan buku komik Jepang juga memungkinkan penggubah mengembangkan gambar-gambar sebagai efek visual. Komik Amerika bisa dianggap sangat terbatas dalam pemanfaatan ruang dibanding komik Jepang: di koran-koran, baris komik hanya menyediakan empat atau lima panel komik untuk bercerita, sedangkan untuk buku komik tiap penggubah hanya membuat tak lebih dari 20 halaman setiap bulan; bandingkan dengan 30 halaman setiap minggu oleh penggubah komik Jepang. Ketika dibukukan ini bisa menjadi sepuluh jilid atau lebih dari 2.000 halaman. Jika penggubah komik Amerika akan menggunakan satu bingkai yang penuh sesak untuk adegan superhero menghajar musuh, penggubah komik Jepang perlu banyak halaman untuk menggambarkan seorang samurai bertarung dengan lawannya, demi pelukisan dari berbagai sudut pandang kamera. Terdapatnya ruang eksperimen membuat para penggubah komik Jepang menjadi sangat ahli dalam perancangan halaman. Mereka harus membuat halaman itu mengalir; untuk membangun ketegangan dan membangkitkan gairah dengan melakukan variasi atas jumlah bingkai yang digunakan untuk menggambarkan suatu sekuen; selain menggunakan teknik sinematik seperti menghilang dan muncul (fade out-fade in), pengadukan (montage), dan penumpang-tindihan (superimposed).

Bahasa Jepang, melalui manga, memperlihatkan keajaiban dalam efek suara. Komik Amerika juga dikenal karena ciri khas efek suaranya, seperti ledakan (BAROOM!), tinju (POW!), atau senapan mesin (BUDABUDABUDABUDA); tetapi komik Jepang dalam hal representasi suara jauh lebih kaya, karena mereka juga menciptakan suara mulut menyedot mi (SURU SURU), beberapa jenis suara hujan (ZA, BOTSUN BOTSUN, PARA PARA), ataupun suara jres korek api yang menjadi SHUBO. Kemudian, situasi tanpa bunyi pun bisa mereka representasikan melalui bunyi, seperti FU, ketika ninja menghilang di balik kelam; HIRA HIRA, ketika daun berguguran dari pohon; PO, ketika wajah seseorang memerah karena malu; bahkan SHIIIN untuk keadaan tanpa suara sama sekali. Perhatian kepada perincian ini begitu tinggi, sehingga bunyi susu tertuang ke kopi juga diberi efek khusus, yakni SURON.

manga 2

Efek total dari semua itu adalah pembacaan cepat (speed reading). Berlawanan dengan komik Amerika, yang dibaca pelan untuk menikmati gambar serba rinci dan untuk menyerap informasi tercetak, komik Jepang itu hanya ditatap selintas saja (scanned). Artinya ini menuntut lebih dari pembaca, karena harus secara aktif mesti mencari simpulan-simpulan tiap halaman dan menafsirkannya dengan cepat. Pembaca muda Jepang menyapu halaman dengan matanya, bergerak maju-mundur, menyerap informasi dalam gambar dan menambahinya dengan informasi dari kata-kata tertulis. Menatap halaman sebagai keseluruhan mensyaratkan keterampilan, seperti menyedot mi panas dari sebuah mangkok dalam beberapa detik, tanpa mengunyahnya.

Demikian adanya ulasan secara ilmiah yang diungkapkan oleh Seno Gumira Ajidarma mengenai manga. Dalam buku Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan juga dapat kita temui kajian mengenai komik Panji Tengkorak tahun 1968, 1985, dan 1996. Bagaimana kajian tersebut mengulas mulai dari politik identitas sampai bias gender. Tentunya kajian terhadap komik ini diperlukan untuk membedah karya, mengungkap karya, dan meluruhkan skeptisme bahwa komik hanya sekadar main-main serta kekanak-kanakan. Komik nyatanya dapat diteropong dalam berbagai sisi dan multifaset.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sosial Budaya

Manga (1)

Manga tiada bisa dipungkiri merupakan bagian dari keseharian banyak manusia Indonesia saat ini. Bukan hanya segmentasi anak-anak, namun juga menyentuh berbagai lapisan umur. Lalu bagaimana kiranya manga jika dikupas secara ilmiah? Berikut ini akan saya sarikan dari tulisan Seno Gumira Ajidarma dari buku Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan. Selamat menikmati.

Kata manga dalam bahasa Jepang bisa berarti karikatur, kartun, strip komik, buku komik, atau animasi. Sejarah komik Jepang sudah dimulai sejak abad VII, tetapi fenomena manga yang menjadi sangat populer itu dimulai setelah Perang Dunia II usai, ketika Osamu Tezuka membuat komik dengan cara bercerita yang baru; yakni mengadopsi bahasa-bahasa film animasi Amerika, sehingga dikenal antara lain apa yang disebut gaya sinematik (cinematic style). Namun catatan atas manga bukanlah sekadar soal gaya, melainkan segenap aspek perbedaannya dengan fenomena komik Amerika, karena perbedaannya yang memang tajam. Perbedaan itu membuat manga bisa disebut sebagai bahasa komik yang baru. Bahasa komik baru ini terekspor ke mana-mana seiring dengan distribusi bisnisnya dan memberi pengaruh kepada perkembangan komik dunia (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 515).

Ada beberapa ciri yang membedakan antara manga dengan komik Amerika. Berikut tuturannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 516):

Pengenalan pertama adalah perbedaannya secara fisik, yakni (1) ukuran ketebalannya: buku komik Amerika biasa terdiri dari 30-50 halaman, berisi satu cerita bersambung yang terbit bulanan; di Jepang buku semacam terbit tiap minggu dengan 400 halaman dan berisi 20 cerita bersambung ataupun cerita yang selesai—beberapa majalah komik bahkan mencakup 1.000 halaman dengan 40 cerita. Ketika tiap cerita bersambung tamat dan diterbitkan tersendiri akan mencapai 50 jilid dan setiap jilid bisa mencapai 250 halaman. Dengan kemewahan halaman ini, terlihat perbedaan selanjutnya, yakni (2) harganya yang hanya 1/6 dari harga komik Amerika; selain karena perbedaan dalam skala ekonomi, juga karena murahnya jenis kertas yang digunakan di Jepang, yakni kertas daur ulang kualitas rendah dan umumnya cetak monokrom. Ini merupakan akibat perbedaan lain, yakni (3) status sang buku komik, yang siap untuk dibuang di Jepang, dan sebaliknya menjadi koleksi di Amerika; selain bahwa (4) warna merupakan kecenderungan komik Amerika dan hitam-putih sudah cukup bagus bagi orang Jepang.

Lalu bagaimana jika melihat manga secara tema dan pembaca. Berikut uraiannya (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 518-521).

Keberagaman manga berlanjut kepada tema. Komik Amerika dan Eropa sejak lama sudah berurusan dengan tema-tema yang sangat serius, yang kemudian akan berkembang dalam novel grafis. Meski begitu, walaupun banyak eksperimen menarik, bagian terbesar materi pokok soal dalam komik Amerika adalah untuk golongan pria muda dan dari jenis superhero. Di Jepang, betapapun, terdapat cerita untuk hampir seluruh persoalan yang bisa dibayangkan. Selain terdapat manga yang berkelas sastra, terdapat juga manga berkategori pornografi ringan ataupun berat, untuk pria ataupun wanita. Terdapat cerita tentang masalah hubungan hierarkis dalam pekerjaan kantor yang membosankan, atau kepuasan batin menjual kamera bekas di distrik Shinjuku, Tokyo. Sebagai media massa tulen, manga menyediakan sesuatu bagi pria ataupun wanita, untuk hampir setiap kelompok umur dan nyaris bagi selera apa pun.

manga 1

Kedahsyatan manga yang terpenting terletak dalam kenyataan bahwa mereka merayakan kehadiran orang-orang biasa. Disebutkan, dalam komik Amerika terlihat orang hebat melakukan hal-hal yang luar biasa; dalam komik Jepang bisa diikuti bagaimana orang-orang biasa melakukan kegiatan yang biasa-biasa saja. Tentu juga tidak dipungkiri betapa banyak sampah dalam industri komik Jepang ini. Bahkan cerita yang baik pun akan kehilangan daya pukau dalam kejar-terbit dari minggu ke minggu. Tekanan produksi massa kepada penggubah dan kerakusan penerbit yang berniat memeras sapi perahnya sampai kering, sering berakibat dengan menjadi terlalu panjangnya sebuah cerita.

Tema-tema komik Jepang sebetulnya jauh lebih bervariasi daripada pembacanya. Komik untuk anak laki-laki dengan sangat hati-hati menyeimbangkan ketegangan dengan humor: cerita dramatik tentang olahraga, petualangan, setan, fiksi ilmiah, dan kehidupan sekolah disambung dan diselipi lelucon dan guyon yang ganas. Majalah komik untuk remaja putri juga mencari keseimbangan tetapi terbedakan oleh usaha mereka atas cerita pemujaan cinta, dengan tokoh pria dan wanita yang tampak lebih Kaukasian daripada seperti orang Jepang. Majalah komik dewasa mempunyai tema-tema yang meliputi agama, ataupun yang mengganggu agama seperti para pemerang, penjudi, dan gigolo.

Dalam setiap kategori terdapat kecenderungan atas meningkatnya kecanggihan. Pembaca komik Jepang menuntut, dan penggubah memberikannya, tema yang bukan sekadar pemuda ketemu pemudi ataupun kemenangan yang baik terhadap yang jahat. Maka Osamu Tezuka selama bertahun-tahun menggubah kisah epik mengenai kehidupan Buddha, Reiji Matsumoto menggubah parodi tentang ronin atau calon mahasiswa yang tidak kunjung diterima oleh suatu perguruan tinggi, dan Kazuo Kamimura menggubah kisah tentang masalah kejiwaan pasangan muda yang hidup bersama tanpa menikah. Konsensus umum pembaca komik Jepang adalah bahwa komik harus mengungkap kehidupan sama seperti novel dan film. Namun bisa dipastikan bahwa mereka sangat terpuaskan oleh tema-tema tak terduga yang memberikan pesona visual seperti mah jongg, memotong sayur, bahkan juga ujian sekolah. Para penggubah melebih-lebihkan tindakan dan emosi sampai taraf melodrama dan dengan penuh cinta menghayati setiap perincian dari kehidupan sehari-hari. Dalam istilah Jepang sendiri, komik mereka adalah “basah”; tidak usah malu-malu menjadi manusiawi dan sentimental.

Siapa yang membaca komik di Jepang? Meskipun banyak penerbitan secara khusus ditujukan kepada pria, perempuan, dan kanak-kanak, terlihat pertukaran yang disadari antarpembaca. Dalam sebuah penelitian disebutkan, empat dari sepuluh majalah komik terpopuler di antara para mahasiswa adalah yang ditujukan untuk kanak-kanak. Di Jepang, tidaklah aneh bahwa di dalam kereta api atau bus umum seorang dewasa duduk bersebelahan dengan anak kecil dan keduanya membaca komik yang sama. Juga sering terdengar pengakuan bahwa banyak lelaki dewasa sangat menggemari komik yang ditujukan khusus untuk gadis remaja.

Lima puluh tahun sebelumnya, pola membaca di Jepang mirip dengan Amerika Serikat sekarang. Buku komik adalah untuk anak kecil dan remaja; orang dewasa mengisi diri mereka sendiri dengan karikatur di koran dan kadang-kadang baris komik (comic strip). Kemudian, seteleh perang, dengan berkembangnya struktur naratif yang kuat dalam kisah-kisah untuk majalah komik untuk anak, pada saat menjadi dewasa mereka menolak melepaskan jenis komik yang dibacanya, dan orang dewasa mulai membaca materi yang dirancang untuk anak. Lima penerbitan besar komik Jepang menjadikan kanak-kanak usia antara 10-11 tahun sebagai sasaran pembacanya, tetapi pembaca mereka ternyata meliputi anak yang lebih muda sampai lelaki dewasa paruh baya. Perubahan pola permintaan jadinya menghasilkan terciptanya jalur baru majalah komik bagi anak sekolah dasar, dan merangsang produksi komik yang ditujukan khusus untuk dewasa.

Statistik sirkulasi dan penjualan sulit menggambarkan jumlah pembaca yang sesungguhnya di Jepang, karena tidak mencerminkan jaringan pinjam-meminjam atau baca bersama komik yang disebut mawashiyomi. Setidaknya, satu milyar komik yang telah dipublikasikan pada 1984 saja menunjukkan bahwa terdapat sepuluh komik lelaki, perempuan, dan anak di Jepang, atau 27 komik untuk setiap keluarga. Artinya, buku dan majalah komik ada di mana-mana selama ada manusia. Di toko buku hampir separuh ruangan selalu dipersembahkan kepada komik, dengan tulisan Dilarang Mengkelebet (No Browsing) dan gang tempat buku komik selalu penuh sesak.

(Bersambung)

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Edukasi, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sosial Budaya

Pembahasan Komik Indonesia

Sebagian besar topik perbincangan selalu berkisar kepada dua hal: (1) bahwa komik Indonesia pernah mengalami masa keemasan yang berpuncak pada tahun ’70-an, saat Bonneff melakukan penelitiannya; (2) bahwa pasar komik Indonesia kini dipenuhsesaki oleh komik terjemahan yang sebagian besar berasal dari Jepang. Dengan kata lain, hanya terdapat nostalgia dan keluhan yang selalu sama. Ini berarti bahwa perbincangan tentang komik yang berlangsung tidak produktif, karena cara memuji komik Indonesia masa lalu ataupun cara mengeluhkan keterpurukannya sekarang telah menjadi sangat klise dan dapat dianggap sebagai penanda kebuntuan.

– Seno Gumira Ajidarma

Dua poin yang dikemukakan oleh Seno Gumira Ajidarma di atas saya hakul yakin masih mewarnai perbincangan komik Indonesia sampai sekarang ini. Saya pun ketika berbincang dengan rekan kantor yang bergelut di dunia perkomikan topik pembahasan perbincangan kami cukup banyak berkisar tentang dua poin tersebut. Rekan saya tersebut begitu membanggakan era komik lawas dan cukup “menyerang” komik-komik Indonesia sekarang yang dinilainya kejepang-jepangan serta tidak memiliki karakter khas yang kuat.

Padahal sejatinya banyak hal yang bisa dibedah dari komik. Komik sebenarnya dapat dibedah secara kajian ilmiah sebagai barang dagangan, karya seni, maupun media komunikasi. Apa pasal kiranya komik sebagai kajian ilmiah belum terlalu banyak yang meminatinya? Saya pikir setidaknya ada dua hal jawaban. Yang pertama adalah tradisi ilmiah dari negeri ini yang masih kurang. Tradisi membaca, menulis, meneliti di negeri ini masih jauh panggang dari api. Tentunya ini berhulu dari sistem pendidikan yang kurang merangsang rasa keingintahuan, eksplorasi, serta kemampuan berkarya.

Alasan kedua adalah stereotip bahwa komik bukanlah karya serius. Jika menilik dari asal katanya, komik dari asal kata comic (lucu), karena bentuk baris komik (comic strip) maupun komik satu panel, dalam dunia berbahasa Inggris sejak 1884 (Ally Sloper’s Half Holiday), terdapat pada halaman khusus akhir pekan yang disebut the funnies (yang lucu-lucu), sebagai percabangan karikatur yang kelucuannya bertujuan khusus untuk mengejek kebijakan tokoh-tokoh (Seno Gumira Ajidarma, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan, hlm. 1).

Panji Tengkorak

Saya sendiri pernah menghadapi langsung stereotip yang menganggap bahwa komik bukanlah karya yang serius. Ketika itu saya mengusulkan dalam proyek buku yang sedang dibuat agar tiap awal bab diberikan gambar karikatur. Ide ini terinspirasi dari buku ‘Catatan Pinggir’ dari Goenawan Mohamad dimana setiap memasuki tahun yang baru terdapat gambar karikatur mengawalinya. Lalu rekan saya menimpali ide saya bahwa ini buku serius.

Saya percaya stereotip bahwa komik, karikatur sebagai karya main-main, digemari anak kecil masih menghujam di banyak kepala penduduk negeri ini. Padahal jika mereka-mereka mau membuka diri, membuka pikiran, maka mereka akan mengerti bahwa komik merupakan karya yang serius.

Inilah kiranya yang membuat kajian ilmiah tentang komik perlu kiranya digalakkan. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia komik dibandingkan berbincang kerap mengenai tema masa kejayaan yang telah berlalu ataupun invasi komik Jepang, alangkah lebih produktifnya apabila melakukan bedah kajian ilmiah terhadap komik. Memang beberapa acara yang pernah saya ikuti telah mampu memberikan dimensi berbeda perihal komik. Sebut saja acara ‘Penjaga Marcapada, Nusantaranger’ dimana diterangkan mengenai inspirasi senjata yang dari berbagai wilayah di Indonesia. Ada juga acara ‘Retro Man 50 Tahun Berkarya’ yang menguak bagaimana lintas waktu telah membuat sejumlah adaptasi karya baik secara cerita maupun penggambaran.

Saya pikir dengan kajian bedah ilmiah dari komik-komik Indonesia akan menguak berbagai tabir khazanah kekayaan budaya dan kreativitas dari anak negeri. Tentunya budaya bedah ilmiah terhadap komik Indonesia berhulu dari rasa ingin tahu. Pertanyaannya ingin tahukah kita? Dan sebenarnya masing-masing dari kita dapat menyumbangkan karya kecil-kecilan dalam studi komik Indonesia. Dibanding mengutuk zaman, lebih baik berkarya bukan?

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sejarah, Sosial Budaya

Serba Serbi Komik Indonesia

Ada begitu banyak medium kreativitas yang dapat menarasikan makna. Salah satunya adalah komik. Komik merupakan lini kreativitas yang mendapatkan tanggapan luas dari masyarakat. Sampel sederhananya ialah dengan sudut komik di toko buku yang kerap dipenuhi pembaca muda. Namun minat dan pangsa pasar ini tidak serta merta berkorelasi dengan jayanya komik dalam negeri. Komik Indonesia belum mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Deretan komik yang memenuhi rak buku komik di toko buku relatif dipenuh sesaki oleh komik-komik terjemahan, terutama dari Jepang. Tak mengherankan pada tahun 2001 Masyarakat Komik Indonesia (MKI) melakukan demo di depan kompleks Kompas-Gramedia, memprotes banjirnya buku komik Jepang yang diproduksi salah satu anak perusahaannya yang dianggap mematikan komik Indonesia.

Sejarah Komik

Komik Indonesia memang telah mengalami masa pasang surut dalam perjalanannya. Sebelum berbicara lebih jauh tentang serba serbi komik Indonesia ada baiknya jika kita melihat definisi komik terlebih dahulu. Komik berasal dari kata comic (lucu), karena bentuk baris komik (comic strip) maupun komik satu panel, dalam dunia berbahasa Inggris sejak 1884 (Ally Sloper’s Half Holiday), terdapat pada halaman khusus akhir pekan yang disebut the funnies (yang lucu-lucu), sebagai percabangan karikatur yang kelucuannya bertujuan khusus untuk mengejek kebijakan tokoh-tokoh. Ketika dibukukan (sejak tahun 1934, melalui Famous Funnies) dan dijual tersendiri kemudian disebut comic book (buku komik). Di Indonesia, buku komik lazim disebut sebagai komik saja. Kemudian para komikus membuat buku-buku komik sebagai karya mandiri, tanpa harus dimuat surat kabar atau majalah lebih dulu.

Berbicara mengenai sejarah komik di Indonesia, maka nama Kho Wan Gie layak menjadi pionir. Kho Wan Gie melalui baris komik (comic strip) bersambung di media cetak, yang berjudul Put On sebagai komik Indonesia terawal pada tahun 1931. Sedangkan baris komik Mentjari Poetri Hidjaoe, karya Nasroen A.S., mengisi lembaran-lembaran mingguan Ratoe Timoer sejak 1939.

Di Indonesia, sejarah komik harus berterima kasih kepada bungkus ikan asin. Kenapa demikian? Dikarenakan para kreator komik dalam negeri mendapatkan inspirasi dari kertas bungkus tersebut. Sebut saja Kho Wan Gie, pencipta Put On, yang terpikat seri Bringing Up Father, Zam Nuldyn terpesona karya Harold Foster, Abdulsalam oleh Alex Raymond, Taguan Hardjo oleh serial Li’l Abner dan Walt Disney.

Put On

Komik Citarasa Indonesia

Bagaimana kiranya komik yang benar-benar Indonesia? Pertanyaan tersebut rasanya terus mengemuka di tengah jalan kehidupan komik Indonesia. Marilah kita melihat komik wayang R.A. Kosasih sebagai unit analisa. Komik wayang R.A. Kosasih menurut pendapat dari Seno Gumira Ajidarma adalah bentuk negosiasi dalam pertarungan ideologi di wilayah komik, dengan hasil yang menunjukkan suatu kepercayaan diri, karena bentuk yang memperlihatkan kemandirian dalam identitas. Dikatakan negosiasi karena dalam komik wayang masih dapat dimainkan segala tindak kepahlawanan, yang memberi kepuasan pembaca dalam menghancurkan kejahatan. Meskipun begitu, identitas kepribadian para pahlawan itu secara keliru disebut; tidak menunjukkan pengaruh budaya asing (baca: Amerika). Disebut keliru, selain karena komik itu sendiri merupakan idiom yang berkembang pesat di-dan menjadi bagian dari identitas Amerika, dan karena itu sahih sebagai bentuk pengaruh, juga karena R.A. Kosasih ternyata berusaha setia kepada kisah Mahabharata dari sumbernya di India. Dengan absennya panakawan, dan kesetiaan kepada sumber India, cerita wayang Kosasih sebetulnya berbeda dari yang dimainkan para dalang di Indonesia, tetapi pada saat yang sama tak dapat disangkal merupakan komik dengan identitas Indonesia sebagai anak kebudayaan dunia.

Indonesia sendiri sejak semula merupakan negara yang tak dapat terpisah dari internasionalisme. Soekarno bertutur bahwa nasionalisme dan internasionalisme merupakan konsep yang bergandengan erat satu sama lain. Menurut Soekarno, Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme. Dalam ranah fantasi Indonesia keterbukaan inspirasi dapat ditilik pada era kejayaan komik Indonesia, seperti diakui oleh Djair Warni (pengarang Jaka Sembung) bahwa para komikus Indonesia terinspirasi dari para komikus Amerika (Marvel Comics).

Menarik kiranya mengambil unit analisa lainnya dengan menelusuri hasil bedah terhadap tokoh Doyok yang merupakan sosok komik yang dilabeli kental dengan nuansa Indonesia. Faktor apa saja yang membuat Doyok teridentifikasi oleh pembaca Pos Kota sebagai bagian diri mereka? Berikut uraian pemikiran dari Seno Gumira Ajidarma:

Pertama, busana Doyok yang mengacu pada budaya Jawa, khususnya Yogyakarta (berdasarkan mondolan pada belangkonnya), ternyata selalu berbahasa Jakarta, sesuai dengan karakter urban yang mencari akar kedaerahan meski sudah bertransformasi menjadi warga Jakarta. Kedua, meski berbahasa Jakarta, lingkungan fisik Jakarta dalam kartun Doyok sungguh mengasingkan warga kelas bawahnya itu, dari cara penggambaraannya yang meski penuh gedung dan mobil lebih sering sepi tak bermanusia. Ketiga, topik perbincangannya, yang mengaitkan peranan peristiwa nasional terhadap nasib mereka sebagai rakyat kelas bawah Jakarta, sering berakhir dengan pandangan mata tokohnya menatap kepada pembaca-seperti menariknya ke dalam bingkai untuk terlibat. Keunikan ini ternyata kemudian banyak ditiru.

Berbicara tentang serba serbi komik Indonesia baiklah jika menelusuri apa yang diungkap oleh Arswendo Atmowiloto, bahwa dulu Kho, Nasroen, sampai generasi Taguan Hardjo dan Yan Mintaraga belajar dari komik luar negeri, tapi apa yang dilahirkan masih berbau Indonesia, dan menginjakkan kaki dengan bumi persoalan yang Indonesia. Wajah tokoh-tokoh yang ditampilkan masih bau keringat kita juga, dan anak-anak yang mulai mengenali ketika dewasa tetap mempunyai idiom itu, bukan yang tak bisa dikenali dari mana asal-usulnya, dan dianggap itu satu-satunya yang terbaik. Dengan nada retoris, Arswendo bertanya “masak, sih, untuk berkhayal saja kita didikte negara lain?”

Kreativitas dengan demikian tidak bergerak dari ruang hampa. Kontemplasi ada tentu saja. Inspirasi yang diambil dari karya lain juga telah melalui saringan dan tidak dijiplak mentah-mentah. Inspirasi karya lainnya bagaikan bahan-bahan yang nantinya diracik menjadi senyawa baru. Para kreator yang tidak kehilangan arah dan sekadar turut arus dari apa yang dikonsumsinya. Ia mampu menunjukkan karakternya. Karena dengan berkarya maka ia menunjukkan karakternya pada dunia.

Panji Tengkorak

Masa Keemasan Komik Indonesia dan Format Mendatang

Indonesia pernah mengalami era keemasan komik pada tahun 1968-1973 seperti dituturkan oleh Djair Warni. Era keemasan tersebut ditandai dengan apresiasi dari penggemar serta menggelembungnya finansial para komikus. Dari sisi penggemar, Djair Warni mendapati begitu banyak surat penggemar, sehingga dirinya mengalami kewalahan dalam menjawab surat penggemar. Apresiasi positif dari penggemar begitu kuat dengan menanyakan edisi berikutnya serta sanjungan terhadap karya dari Djair Warni. Kalaupun ada pertanyaan iseng berkisar pada penggambaran misalnya kenapa pohonnya kok tidak ada buahnya, ataupun baju dari para tokoh.

Era keemasan komik Indonesia tersebut diistilahkan oleh Djair bahwa para komikus seperti artis di era sekarang. Selain termasyhur, sisi finansial para komikus juga dapat menjadi sandaran hidup. Sebagai ilustrasi Djair Warni untuk menikah plus bulan madu dan segala macamnya hanya membutuhkan menghasilkan 1 jilid karyanya yang berjudul Si Tolol (64 halaman).

Sedangkan Hans Jaladra sebagai komikus yang karyanya laris, berapa kiranya ia dibayar? Menurut Hans, penerbit pernah membayar 1 naskah komik (64 halaman) dengan harga 1 ons emas.

Menutup artikel ini ada baiknya jika menelaah apa yang diungkap oleh Hans Jaladara yang termasyhur dengan karyanya – Panji Tengkorak. Di tengah arus besar manga, sebetulnya Hans lebih merasa mencoba menggambar untuk meniru film, yakni lebih memperhatikan unsur gerak ketimbang sebelumnya, bukan meniru komik Jepang itu mentah-mentah. Menghadapi krisis komik Indonesia, ia berpendapat komik Indonesia tidak akan kuat bersaing jika langsung terbit sebagai buku, melainkan harus dimuat dulu secara bersambung di koran untuk mendapat popularitas. Ia juga berpendapat, ketika banyak orang menuntut kembalinya komik Indonesia, maka suatu kebijakan perdagangan untuk membuat keberimbangan di pasar harus dibuat peraturannya. Menurut Hans, suatu institusionalisasi bagi komik Indonesia juga mutlak diperlukan, supaya keberadaan komik tidak hanya hadir dalam keluhan, yakni suatu gerakan yang terorganisasi dengan baik untuk menghidupkan kembali komik Indonesia.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Posted in Anime, Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik

Bintang Sepak Bola Dunia di Komik Tsubasa

Piala Dunia antar klub yang berlangsung di Jepang memanggil memori seorang Fernando Torres akan ingatan masa kecilnya. Torres yang memiliki nama julukan El Nino merupakan penggemar dari anime Tsubasa semenjak dirinya berumur enam tahun. Di Spanyol, anime Tsubasa memiliki titel Oliver Benji. Saat mulai berlatih di Parguet 1984, pengaruh besar Tsubasa mengubah jalan karier Torres untuk selamanya. Awalnya, Torres bermain sebagai penjaga gawang. Namun, dua tahun menjalani pendidikan di Praque 1984, tepatnya saat memasuki usia tujuh tahun, ia berubah pikiran. Ia beralih menjadi penyerang.

Pengaruh dari terus menerus menonton Tsubasa membuat Torres kecil menetapkan pilihan sebagai striker. Sebuah pilihan yang di kemudian hari mengantarkannya sebagai salah seorang predator nomor wahid. Terbukti dengan kiprahnya yang turut membawa Spanyol menjadi juara Piala Eropa tahun 2008 dan 2012 serta Piala Dunia 2010.

Siapa gerangan pria di balik layar dari serial Tsubasa? Yoichi Takahashi merupakan sosok pencipta komik Captain Tsubasa. Sejumlah nama beken dalam dunia sepak bola nyata turut mewarnai komik dari Takahashi. Meski disamarkan namanya, namun secara jeli, kemiripan nama dan klub yang ia bela membuat pembaca mafhum bahwa Takahashi mengilhami karyanya dari dunia sepakbola nyata. Berikut daftar-daftar pemainnya. Dalam penyusunan artikel kali ini saya harus mencantumkan referensi tulisan yakni berasal dari koran Republika edisi Sabtu, 15 Desember 2012 halaman 17.

tsubasa 1

Real Madrid

1. Callusias – Iker Cassilas
Penjaga gawang timnas Spanyol yang bermain untuk Real Madrid ini merupakan tembok terakhir yang kokoh. Cassilas merupakan produk binaan dari akademi sepak bola Real Madrid. Ia merupakan kapten dari timnas Spanyol di Piala Eropa 2008, 2012 dan Piala Dunia 2010.

2. Fago – Luis Figo
Saat ia bermain untuk Real Madrid, banyak penggemar Barcelona yang menyebutnya sebagai pengkhianat. Figo merupakan salah satu pemain yang tergabung dalam Los Galacticos yang dibentuk di era kepemimpinan Florentino Perez.

3. Roberto Carolus – Roberto Carlos
Ia merupakan bek kiri yang juga memiliki naluri serang luar biasa. Aktif overlapping dan cepat kembali meng-cover pertahanan merupakan kelebihan dari pemain plontos ini. Jangan lupakan pula tendangan bebasnya yang membuat jeri kiper lawan.

4. Rali – Raul Gonzales
Ia adalah ikon kebanggaan Real Madrid. Raul tercatat sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Champions. Raul, si kidal bernomor punggung tujuh ini merupakan striker asli Spanyol yang turut mengantarkan Real Madrid meraih trofi Liga Champions di tahun 1998, 2000, 2002.

Barcelona

1. Rivaul – Rivaldo
Pesepakbola Brasil peraih gelar Pemain Terbaik Dunia Fifa, Ballon d’or, dan Pemain Terbaik Eropa pada 1999. Teknik tinggi, determinasi, umpan akurat, serta finishing berkelas menjadi kelebihan dari pemain yang turut mengantarkan Brasil meraih gelar Piala Dunia yang kelima pada tahun 2002.

2. Valtes – Victor Valdes
Di timnas Spanyol Valdes boleh saja berada di bawah bayang-bayang Casillas. Namun di Barcelona, sosok Valdes adalah pilihan nomor satu dalam menjaga gawang tim Catalan ini.

3. Payol – Carles Puyol
Kokoh dalam bertahan, piawai dalam duel udara merupakan kelebihan dari pemain berambut kribo ini. Dirinya merupakan sosok tangguh di lini pertahanan yang menjamin stabilitas dari gempuran serangan rival.

4. Neto’o – Samuel Eto’o
Laga Final Liga Champions tahun 2006 dan 2009 menjadi panggung kebolehan dari pemain asal Kamerun ini. Predator di depan gawang yang cerdik dan memiliki killing insting mumpuni.

5. Xavii – Xavi Hernandes
Gelandang kreatif yang berperan besar dalam skema tiki taka yang berjalan apik di Barcelona dan timnas Spanyol. Akurasi umpannya benar-benar memanjakan rekan satu timnya untuk mengkonversi menjadi gol.

tsubasa 3

Parma

1. Buhon – Gianluigi Buffon
Sosok tak tergantikan di bawah mistar timnas Italia. Turut membawa negeri spaghetti merengkuh gelar Piala Dunia pada tahun 2006. Ketenangan, penyelamatan ‘edan’ merupakan kelebihan dari kiper yang kini membela Juventus ini.

2. Cannavaru- Fabio Cannavaro
Satu-satunya defender yang pernah mendapat gelar pemain terbaik dunia versi Fifa. Kapten timnas Italia di Piala Dunia 2006 ini merupakan sosok liat, gigih, dan taktis mematikan pergerakan striker lawan.

3. Thoram – Lilian Thuram
Turut mengantarkan Perancis merengkuh trofi Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000 ini merupakan sosok yang lugas dalam menghentikan pergerakan lawan.

tsubasa 2

Juventus

1. Zedane – Zinedine Zidane
Ia adalah arsitek kreativitas dari permainan Perancis yang membawa negerinya mencicipi kejayaan di tahun 1998 dan 2000. Dua tandukannya di Piala Dunia 1998 membawa negerinya untuk pertama kalinya merayakan gelar juara dunia. Tandukan pula yang merupakan aksi perpisahan dari pemain ini pada gelaran Piala Dunia 2006. Maestro sepakbola yang pernah mengenakan nomor punggung 21, 5, dan 10 ini merupakan sumbu kreativitas bagi Juventus, Real Madrid, dan timnas Perancis.

2. Alesandro Delpi – Alesandro Del Piero
Awal kemunculannya secara reguler di tim utama Juventus berhasil menyingkirkan Roberto Baggio yang telah mantap sebagai striker handal di Piala Dunia 1994. Teknik tinggi, sepakan akurat free kick, umpan yang memanjakan, partner yang menguatkan dengan ragam striker di Juventus, merupakan nilai lebih dari Del Piero.

3. Fillipo Inzars – Fillipo Inzaghi
Duetnya bersama Del Piero menghasilkan kolaborasi yang menakutkan di Serie A dan Liga Champions. Del-Pippo merupakan julukan dari duet gahar tersebut. Inzaghi sendiri merupakan finisher cerdik yang memiliki speed, intelegensi, dan positioning numero uno.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Komik

Sebelum Saya Menonton The Dark Knight Rises

Akhirnya berakhir. Begitulah kira-kira kalimat yang dapat menggambarkan korelasi antara Christopher Nolan dengan serial Batman. Film The Dark Knight Rises yang ditayangkan pada bulan Juli 2012 akan menjadi layar terakhir bagi Nolan dalam menyutradarai si manusia kekelawar. Sejak menggawangi film bioskop Batman pada tahun 2005 boleh dibilang, sutradara kelahiran Inggris tersebut sukses menghadirkan cerita yang memiliki kedalaman filosofis dan memadukannya dengan penjualan tiket yang sukses besar. Boleh dikata setelah mengalami ‘masa kegelapan’ dengan Batman (1989)-Batman Returns (1992)-Batman Forever (1995)-Batman&Robin (1997), Nolan berhasil membawa film bioskop Batman ke masa pencerahan.

Dalam sentuhan pertamanya Batman Begins (2005), Nolan mengamit sejumlah nama yang telah memiliki rekam jejak acting mumpuni sebut saja Gary Oldman, Morgan Freeman, Ken Watanabe, Michael Caine. Lawan yang dipilih dalam edisi awal ini juga relatif keluar dari pakem yang dikenal luas. Bukan Joker, Pinguin, Two-Face, ataupun Riddler, melainkan yang dipilih ialah Ra’s Al Ghul dan The Scarecrow. Ra’s Al Ghul dalam film Batman Begins merupakan mentor dari Bruce Wayne yang nelangsa dan dalam proses pencarian jatidiri. Ilusi tentang tokoh sebenarnya Ra’s Al Ghul disajikan di film Batman Begins ini.

Adapun The Scarecrow/Dr.Crane yang diperankan oleh Cillian Murphy memainkan psikologi ketakutan. Bagaimana ketakutan terdalam dari tiap orang mampu menghadirkan monster. Dari pilihan lawan yang tampil di panggung, dapat dilihat bagaimana Nolan memakai musuh ideologis. Musuh yang memiliki kecerdasan, ide, pemikiran, dan kegilaan. Nolan tidak mengkreasi musuh dari Batman sebagai musuh yang sekadar ber-fashion ganjil, nerd, ataupun memiliki kekuatan tertentu. Pilihan ini menjadikan film Batman bernas, tidak sekadar tokoh dengan busana tak lazim saling bertarung.

Pada film The Dark Knight (2008), pilihan musuh dari Nolan juga menarik untuk ditelusuri. Joker si musuh bebuyutan dan utama sudah pasti masuk disini. Terlebih di ending Batman Begins telah terdapat sinyal siapa rival berikutnya yang akan dihadapi. Angle yang digunakan dalam menghadirkan musuh berikutnya yakni Two-Face terasa benar-benar blend. Two-Face awalnya ialah Harvey Dent seorang jaksa penuntut yang berjuang gigih untuk menaklukkan kejahatan dan membawa para penjahat menuju penghukuman. Harvey Dent si ksatria putih ini lalu mengalami percabangan peran secara dramatis. Joker dengan jenius, cerkas, berhasil memprovokasi sisi kelam dari Harvey Dent. Ia menculik Rachel, si tunangan Harvey. Batman dan kepolisian Gotham dihadapkan pada pilihan untuk menyelamatkan Harvey dan Rachel. Strategi pertukaran alamat yang dilakukan oleh Joker berbuah pada selamatnya Harvey dan meninggalnya Rachel. Bagaimana Joker mampu mensubtitusi informasi antara 250 52nd street dan Avenue X at Cicero. Namun Harvey yang selamat, adalah Harvey yang terluka dan terbelah. Secara fisik, wajahnya terbakar dan menimbulkan kengerian dengan daging yang terlihat.

Harvey pun mencari hulu dari pengkhianatan. Ia menjadi seorang vigilante. Ia melupakan supremasi hukum yang dahulu diperjuangkannya. Harvey melakukan pengadilan jalanan dan membasmi penegak hukum yang membantu Joker dalam menculik Rachel. Harvey berubah menjadi Two-Face yang mempercayakan keadilan pada lemparan koinnya. Sang ksatria putih telah jatuh menjadi penjahat. Hal yang tak dapat dilepaskan dari provokasi Joker. Proses menjadi Two-Face merupakan pilihan cerdas yang dipilih dalam cerita The Dark Knight. Bagaimana dua penjahat mampu tertampil dengan unsur drama yang kuat. Anda bisa komparasikan dengan film Batman Forever di era terdahulu bagaimana Riddler dan Two-Face yang relatif tanpa sentuhan drama dan sekadar orang sinting dengan busana tampilan freak.

Siapa rival dari Batman dalam The Dark Knight Rises merupakan hal yang menjadi enigma selepas tayangnya The Dark Knight. Begitu diumumkan bahwa Batman akan menghadapi Bane dan Catwoman, saya ingat ketika waktu lampau tersebut, langsunglah saya lurking siapa itu Bane. Bane memenuhi unsur musuh ideologis yang menjadi karakter dari dua film sebelumnya. Mengutip dari wikipedia:

Bane is highly intelligent; in Bane of the Demon, Ra’s al Ghul says that Bane “has a mind equal to the greatest he has known (Although Talia dismisses Bane’s intellect as the cunning of an animal rather than the cultured, trained intellect of Batman).” In prison, he taught himself various scientific disciplines equal to the level of understanding of leading experts in those fields. He knows six active languages and at least two additional arcane and dead ones. Among these are Spanish, English, Urdu, Persian, and Latin. The Bane of the Demon storyline reveals that he has an eidetic memory. Within one year, he is able to deduce Batman’s secret identity.

Pencarian saya di dunia internet terhadap sosok Bane ini sekaligus meluruhkan konsep tukang jagal bodoh yang sempat singgah di pikiran saya. Basis alasannya tentu saja film Batman&Robin. Di film Batman&Robin, Bane berperan sebagai algojo di bawah asuhan Poison Ivy.

Bane dalam film The Dark Knight Rises diperankan oleh Tom Hardy. Sebelumnya Tom Hardy berperan sebagai Eames di film Inception. Buat Anda yang penggemar film Inception (2010) bolehlah dikatakan terjadi bedol desa dari para pemeran film Inception ke film The Dark Knight Rises. Marion Cottilard, Tom Hardy, Joseph Gordon-Levitt juga ikut urun dalam film The Dark Knight Rises. Marion Cottilard berperan sebagai Miranda/Talia Al Ghul, sedangkan Joseph Gordon-Levitt sebagai Blake. Boleh dikatakan Christopher Nolan merupakan sosok yang setia terhadap bintang yang dipilihnya. Lihat saja bagaimana Ken Watanabe yang berperan sebagai Ra’s Al Ghul palsu (Batman Begins), Saito (Inception).

Adapun plot cerita dari The Dark Knight Rises bersetting 8 tahun setelah kematian Harvey Dent. Batman dari pahlawan yang dipuja menjadi pesakitan yang diburu. Adapun roman dalam kisah ini dimungkinkan dengan adanya Catwoman (Anne Hathaway) dan Talia Al Ghul (Marrion Cottilard). Talia Al Ghul sendiri dalam versi komik memiliki anak laki-laki dimana ayah biologisnya adalah Bruce Wayne. Sisi romantisme yang kecut boleh dibilang menjadi magnet kekuatan dari narasi dari film yang disutradarai oleh Nolan. Lihat saja bagaimana kisah pilu antara Cobb dengan Mal di film Inception. Bagaimana Cobb yang terus dihantui rasa bersalah dikarenakan menanamkan ide kepada Mal yang berujung kepada kematian sang istri.

Kisah romansa Bruce Wayne di film Batman besutan Christopher Nolan merupakan cerita cinta yang tragis. Dalam film Batman Begins, relasi Bruce-Rachel tergerus dikarenakan pencarian jati diri dari sang protagonis selama 7 tahun. Di film The Dark Knight, kisahnya lebih miris lagi. Rachel bertunangan dengan Harvey Dent, untuk kemudian menemui kulminasi kekecewaan dengan tak terselamatkannya Rachel dari ledakan. Lalu bagaimanakah ujung dari cerita romansa Bruce Wayne pada serial penutup yang disutradarai oleh Nolan ini?

Nolan sendiri akan menjadi produser di film Superman Man of Steel yang akan tayang pada tahun 2013. Memang sempat beredar isu bahwa Nolan akan memegang nakhoda film Justice League yang akan dibuat sebagai tandingan dari The Avengers yang sukses secara finansial. Namun Nolan telah menampik untuk ikut ambil bagian dalam Justice League. Ia menyatakan keterlibatannya dengan Batman sudah berakhir dengan selesainya The Dark Knight Rises. “Sudah selesai apa yang kami kerjakan dengan ‘Batman’. Ini bagian terakhir keterlibatan saya dengan karakter ini,” ucapnya. Nolan percaya bahwa karakter Batman besutannya akan hidup lebih lama dari film-film yang sudah dibuat. “Meski kita berhenti membuat versi baru, yang hebat dari ‘Batman’ adalah ia tetap hidup untuk generasi mendatang yang bebas untuk menginterpretasikannya,” ucap Christopher Nolan (Republika, Sabtu 14 Juli 2012).

Menarik ditunggu film The Dark Knight Rises. Sebuah konklusi yang epik, semoga.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa