Kau yang Membacaku, Tanpa Aku Harus Bicara

Aku rindu caramu mencintaiku

Menyirami aku dalam tatapan matamu

Kau yang membacaku, tanpa aku harus bicara

            Aku rindu dengan perbincangan kita

            Sayap-sayap pemikiran segala ranah

            Kita kupas, ulas dunia dengan narasi dialog

Aku rindu,

Bahkan ketika kau marah

Kau yang terdiam

Hening saja

Lalu ketika gemuruh di dadamu telah surut

Perlahan bermekaran pertukaran kata antara kita

            Aku rindu dengan genggaman kita,

            Seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi di dunia yang kita pertanyakan ini

            Apa pun cuaca, kita akan selalu bersama

Aku rindu kala kita bercanda

Cerdas nian kau menjahit logika humor

Kita tertawa begitu lepas,

Begitu bebas

            Aku rindu dengan petualangan tanpa rencana

            Kita berdebat

            Kita berargumen

            Kita merajuk

            Kita pun tertawa dalam cangkir kehangatan

Di perjalanan kita saling mengintip dan menitipkan pesan

Tersirat dan tersurat

Aku dan kau cinta seutuhnya,

Selengkapnya

            Cinta telah tiba

            Di beranda hati kita

            Dan kita menuainya dengan hati gembira

            Seperti petualang yang menatap rajutan konstelasi bintang di Bosscha sana

Cinta telah tiba

Dan sejak kala itu hingga selamanya kita tahu bagaimana cinta bekerja

Bis dan Pop Mie

Ada banyak cara untuk menggenangkanmu pada sebuah kenangan. Dan kali ini cara itu melalui seorang sosok di tokoh novel yang sedang melakoni perjalanan menggunakan bis. Dan kenangan saya pun terpantik kepada istri saya, Dede Indrawati.

Saya pun teringat dengan satu momentum dimana kami menikmati pop mie di dalam bis. Perjalanan ke kampung halamannya sebagian besar kami lalui dengan menggunakan bis. Dan peran Dede begitu besar dalam perjalanan. Mulai dari menawar harga tiket bis yang bisa berfluktuatif (dia menawarnya dengan menggunakan bahasa Jawa dan kesewotan secukupnya) hingga urusan makanan dan minuman.

Sepanjang perjalanan menuju Indramayu, lagu yang dihentakkan di speaker adalah lagu-lagu dangdut. Para pedagang pun naik di beberapa titik dengan menawarkan varian barang. Ada yang dengan taktik membagikan barangnya terlebih dahulu, lalu mulailah berpidato mengenai keunggulan dari barang dagangannya.

Perjalanan bukan hanya menempuh jarak, melainkan dengan siapa engkau melakoninya. Nyaris seluruh perjalanan saya dengan rute tempuh Jakarta dan Indramayu beserta Dede Indrawati. Normalnya 4 jam perjalanan menjadi sesuatu yang worth it bersamanya. Segala atmosfer yang melingkupi perjalanan bersamanya menjadi fine-fine saja.

Dan saya akan merindukan dengan cara saksama suatu penggalan waktu itu. Di saat kami kelaparan dan makan pop mie bersama lagi dan lagi. Serangkaian kisah sederhana di bis yang menyingkap jarak antara Jakarta-Indramayu.

12 Oktober 2016

Layar televisi ketika saya membuka bidak kata penulisan adalah film ‘Dragonball: Evolution’. Tentu film tersebut berantakan dan kacau adanya. Namun, film itu memantik memori saya pada kata ‘Dragonball’. Di Januari 2016, istri saya (Dede Indrawati) pernah bertanya, “Kalau kamu punya Dragonball mau digunakan untuk apa?” Tanpa pikir panjang saya pun menjawab, “Saya mau minta kamu sembuh.”

Asa itu memang tidak sejalan dengan kenyataan pada akhirnya. Januari 2016 kondisi istri saya, Dede Indrawati memang semakin terasakan sakitnya. Dan ketetapan Allah SWT mentakdirkan 13 Maret 2016 sebagai perpisahan di dunia ini. Istri saya meninggal muda. Umurnya baru 25 tahun ketika itu.

Saya teringat dengan perbincangan di masa lalu. Saya dan Dede sama-sama tahu, kanker usus stadium IIIB merupakan sesuatu yang serius. Kami benar-benar memaknai waktu kebersamaan kami. Dan saya pun terpagut pada kalimat Achilles berikut:

The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again. 

Di perbincangan masa lalu tersebut, istri saya pernah membayangkan jika dirinya meninggal lebih dulu, akankah saya menuliskan banyak hal tentangnya?

Meski secara legal formal pekerjaan saya adalah wartawan, namun untuk menulis hal tersebut membutuhkan jarak dan jeda waktu. Ada banyak perasaan yang bertumpuk setelah istri saya meninggal. Saya butuh waktu untuk menertibkan pikiran, menata emosi, serta mengatur ritme hidup lagi.

Seperti layaknya tulisan sejarah, saya pun harus menggali segala arsip. Baik itu yang sifatnya digital, tulisan tangan, ataupun yang tersimpan di ingatan dan menghangat di perasaan. Maka di 12 Oktober 2016 ini, saya pun bertekad untuk memulai kisah itu. Saya percaya dari Dede Indrawati banyak hal yang bisa diteladani dan dipelajari.

12 Oktober 1990, istri saya, Dede Indrawati terlahir di dunia. Saya berterima kasih di antara milyaran manusia, dapat menemukannya sebagai pasangan hidup.

12 Oktober 2016, saya akan mencoba memulai kisah tentang Dede Indrawati dari sudut pandang saya.

Ramadhan, Lebaran, Kesendirian, dan Kebersamaan

Mungkin Lebaran 1437 Hijriah adalah momentum Hari Raya paling sepi yang pernah saya alami. Sepanjang Ramadhan ini relatif saya benar-benar sendiri. Terutama ketika waktu sahur, kesendirian itu menyengat. Untungnya terdapat Piala Eropa 2016 yang membantu dan memotivasi saya untuk bangun sahur. Soal menu, bagi seorang yang belum punya kemampuan masak, maka segala ‘makanan jadi’ menjadi pilihan.

Sekejap memutar roda waktu, saya pun terkenang dengan ragam bulan puasa ataupun Lebaran yang saya alami. Musim lalu tentunya saya berpuasa dan berlebaran bersama istri tercinta. Sebuah momentum untuk pertama kalinya sebagai kepala keluarga. Tentu banyak kenangan, keriangan yang masih bersenandung di ingatan pada musim 1436 Hijriah. Bagaimana kami sahur bersama ataupun ada hari yang terlewat tanpa sahur. Bagaimana kami berbuka puasa dengan sanak famili ataupun sobat.

Lalu putaran purnama itu bergerak. Dan kenyataan pun berdetak. Segala rona kehangatan, kebahagiaan, kebersamaan yang relatif menguap pada musim ini semestinya menjadi bahan baku kontemplasi. Tentu saya bersyukur sangat dengan apa yang dialami dan dilakoni musim lalu. Maka ketika kesendirian itu datang, seperti diingatkan pada hakikat diri. Bukankah pada akhirnya akan berpulang ke negeri akhirat sendiri dengan membawa catatan amal?

Kesendirian juga merogoh ingatan pada ragam ilmu sosial yang pernah saya pelajari. Ya, manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial. Manusia butuh interaksi. Manusia butuh yang lainnya. Chuck Noland dalam film Cast Away menjadikan bola voli sebagai temannya. Pi Patel dalam film Life of Pi menjadikan Richard Parker sang binatang buas sebagai sobatnya. Rangga yang pulang ke Yogyakarta menemukan kehangatan kebersamaan bersama keluarga dari ibunya.

Maka bulan puasa ini, Lebaran yang akan menjelang, membawa saya pada lapisan kenangan dan pertanyaan itu. Tentang kesendirian, tentang hangatnya kebersamaan serta pertanyaan transendental dan eksistensial.