Tuan, Mari Kita Buat Janji

Tuan, mari kita buat janji

Usah buat banyak janji lagi

Advertisements
Posted in Cerpen, Fiksi Fantasi, Politik, sastra

Back With Vengeance

Dengan senyum terkulum dalam gelap, aku menertawakan nasib mereka. Yang merampas takhta kekuasaanku. Yang menyalipku dari singasana kekuasaan. Yang merebut pundi-pundi kekayaan yang harusnya milikku. Yang mengutil kejayaan yang harusnya disenandungkan oleh rakyat-rakyat di tiap penjuru negeri.

Namaku Dmitri, aku adalah pangeran yang seharusnya menjadi raja. Namun pamanku melakukan kudeta. Dari putra mahkota, aku menjadi pesakitan. Aku diburu. Keberadaanku ingin ditumpas hingga tanpa nama. Sementara namaku dicemari sebagai putra mahkota yang haus kuasa. Meracuni ayahku, sang raja. Begitulah kiranya tuduhan yang dilantangkan kepadaku, diujarkan dari para petugas pewarta kerajaan.

Beruntunglah aku masih dapat selamat dari upaya penyergapan pembunuhan dari laskar-laskar pamanku. Tapi mungkin laskar dari pamanku memang tidak terlampau berniat untuk membunuhku. Kurasa pamanku lebih memilih menjadikanku sebagai musuh bersama kerajaan. Hingga dia dapat mengklaim sebagai pahlawan. Yang menjaga takhta dari lumuran ambisi anak muda yang kelewat nafsu ingin memerintah.

134496_1697199639418_1520698170_1668497_2890939_o

Berbilang tahun aku mengasingkan diri. Melupakan akarku. Demi satu asa: keselamatan nyawaku. Aku menjadi petani nan damai di ujung area kekuasaan kerajaan. Aku terpisah dari hiruk pikuk politik kerajaan. Namun nafsu kuasa kerajaan untuk menghisap rakyatnya sudah kelewatan. Seantero negeri diwajibkan untuk menanam jenis-jenis tanaman tertentu. Alasannya sederhana: jenis tanaman-tanaman tertentu itu laku di pasaran perdagangan antarkerajaan.

Jadilah lahan-lahan dijejali oleh daftar tanaman yang harus ditanam versi kerajaan. Akibat kebijakan tersebut, bahan makanan pokok di seantero kerajaan menjadi menipis. Kami dijatah makanan oleh kerajaan. Hanya sekadarnya untuk menegakkan tulang punggung kami. Sementara di jantung kekuasaan, aliran kekayaan melimpah ruah. Anggaran tentara ditingkatkan. Mereka yang melawan dibabat.

Namun pusat kerajaan lupa satu hal. Kemampuan pikiran dan emosi untuk menyebar. Terlebih ketika secara massal kekurangan pangan menjadi narasi utama negeri. Aku pun bangkit melawan. Bukan untuk siapa. Tapi untukku. Untuk keluargaku. Aku tak bisa membiarkan istri dan anak-anakku menjadi tulang-tulang bernafas.

133782_1725947758103_1520698170_1737377_7881068_o

Aku pun menggunakan kekuatanku. Kemampuan lidahku. Kemampuan pikiranku. Kemampuanku menulis. Aku menjajakan ide-ideku secara perlahan. Awal mulanya di desa-desa kerajaan. Bahasaku sederhana. Yang dituju adalah hal-hal mendasar: perut. Aku pun semakin percaya diri ketika kalimatku berubah menjadi penyulut aksi. Aku pun bergerilya ke elite-elite penguasa kerajaan. Bahasaku sederhana. Aku menawarkan kekuasaan. Jika sang kerajaan-1 dapat ditumbangkan dari takhta maka kuasa, pundi akan mengalir langsung ke kantung-kantung mereka.

Gelombang penyulutan semakin besar. Massa, elite, menyerukan perubahan. Di kamar istana nan luas itu, pamanku konon meringkuk. Berbicara dengan burung-burung  peliharaannya. Ia menjadi paranoid. Ia semakin takut takhtanya akan digulingkan. Ia pun menaikkan tensi “pukulan” bagi para pemberontak.

Di suatu malam ketika aku sedang menjajakan ide-ide perlawananku di rumah dinas seorang pejabat kerajaan, aku diringkus. Laskar-laskar berbadan kekar menggiringku. Dan aku dipertemukan dengan satu orang. Sang menteri pertahanan.

Kukira aku akan mati saat itu. Tetapi tiada. Dia malah menawarkan gelas anggurnya kepadaku. Kami berbincang panjang lebar mengenai keadaan kerajaan dan situasi terkini. Ia tahu sepak terjangku. Ia tahu kekuatan lidah, tulisanku yang menyulut pemberontakan di mana-mana. Ia menawarkan satu hal padaku: kudeta.

134308_1725944358018_1520698170_1737359_2834860_o

Ia menjanjikan akan memfasilitasi dan mempertemukan aku dengan sejumlah elite lainnya. Ia akan membiarkan armada dari barak tentara untuk tetap di tempatnya. Khalayak ramai akan menyerbu ke istana. Menuntut langsung ke baginda yang kuasa.

Aku pun bersepakat.

Ia menatap mataku erat-erat. Ia menatap mataku erat-erat dan seolah mencari lapis memori dari masa lalu. Entah apa.

Di hari yang ditetapkan, massa berduyun-duyun. Para tentara hanya berdiam di barak-barak. Gelombang massa penuh amarah menyergap istana. Seketika chaos di istana. Siapa yang bisa menahan rakyat yang marah?

Sang raja alias pamanku ditarik paksa oleh rakyat dari kamarnya di istana. Burung-burung kesayangannya dilepaskan. Ia memekik memegang kepalanya. Ia diayun-ayunkan ke massa. Ia begitu rapuh tanpa titel kekuasaannya.

Dan malam pun menjelang.

Di jamuan makan malam aku berbincang dengan mantan menteri pertahanan. Sekarang dia adalah raja.

133666_1725945158038_1520698170_1737362_643288_o

“Kudeta berjalan mulus. Tiang gantungan telah disiapkan untuk mantan raja,” ujarku membuka percakapan.

“15 tahun aku sekadar menjadi orang yang disuruh. Seolah aku tidak memiliki intelegensi,” tanggap mantan menteri pertahanan alias raja baru.

“Apa yang bisa dilakukan oleh 15 tahun?” tanyanya kepadaku.

“Celah sejarah,” ia menjawabkan pertanyaannya kepadaku.

“15 tahun yang lalu aku hanyalah pimpinan laskar perburuan sang pangeran muda. Ia yang dikorbankan dan disalahkan.”

“Aku sabar menanti. Para senior-seniorku untuk berlalu dari orbit kekuasaan. Baik itu dari politisi ataupun militer.”

“Kau tahu rekam jejakku?” tanyanya lagi kepadaku.

“Aku lalu menapak dengan sabar. Menjadi ajudan sang raja, kepala satuan keamanan sang raja, sampai menjadi menteri pertahanan.”

7031_1197271981539_1520698170_523671_5442791_n

“Dan disinilah aku sekarang,” katanya berpuas diri.

Ia pun mengajakku bersulang ikut merayakan.

“Tapi kau harus tahu temanku,” ujarnya sembari mengarahkan cawan anggur ke diriku. “Beberapa teman adalah musuh yang siap menikammu dari belakang. Jangan percaya pada siapa-siapa. Percaya saja pada dirimu sendiri,” ia menutup monolog panjangnya.

“Lalu?” tanyaku.

“Lalu, sang penyulut cerdas itu menarik perhatianku. Ia pandai berorasi. Dia pandai menulis. Dia pandai memikat massa untuk mengikuti jalan pikirannya,” ia melanjutkan kalimatnya.

“Orang lain boleh lupa. Rakyat boleh lupa. Elite politik boleh lupa. Tapi tidak denganku,” ungkapnya mengatupkan senyum.

“Kau adalah pangeran yang tersingkir bukan? 15 tahun, namun sorot matamu tetap sama,” ia menambahkan pendapatnya.

62036_1559282751582_1520698170_1400687_6267290_n

“Tatap mata amarah. Tatap mata penuh gelegak pembalasan dendam.”

“Jadi kepala perburuanku 15 tahun yang lalu harus berterima kasih kepada pangeran yang bertahan hidup. Untuk pucuk kekuasaan yang kini direguknya,” aku menyimpulkan kalimatnya.

Dia menyunggingkan senyum miring.

“Tapi aku tidak punya pilihan lain selain menyingkirkanmu bukan? Kau terlalu berbakat. Kau terlalu berbahaya temanku,” ujarnya sembari terkekeh.

Pengaruh alkohol mulai merambat di darahnya.

“Lalu bagaimana caramu untuk menyingkirkanku?” tanyaku.

“Kau tak akan keluar dari ruangan ini dengan nafas yang masih melekat. Kau lupa aku adalah raja. Aku punya pasukan yang dapat menyelesaikan urusan kecil ini.”

“Tapi kau harus tahu temanku,” ujarku sembari mengarahkan cawan anggur ke dirinya. “Beberapa teman adalah musuh yang siap menikammu dari belakang. Jangan percaya pada siapa-siapa. Percaya saja pada dirimu sendiri,” aku bermonolog singkat.

sand hour

“Aku sudah bicara kepada beberapa teman kita. Beberapa adalah politisi. Beberapa dari militer. Beberapa dari kalangan pedagang. Dan mereka bersepakat denganku. Kau terlalu berbahaya untuk berada di takhta,” aku tersenyum lepas.

“Pikiranmu kacau di ujung umur,” balasnya sembari menumpahkan anggur dari cawannya.

“Kau tak akan keluar dari ruangan ini dengan nafas yang masih melekat. Kau lupa aku adalah sang penyulut. Aku punya pasukan yang dapat menyelesaikan urusan kecil ini. Pasukanku adalah rakyat yang marah dan putus asa. Mereka hanya ingin menyingkirkan segala hal yang terkait dengan era kekuasaan lama. Dan kau adalah sosok dari kekuasaan lama.”

Tak ada laskar bersenjata dari balik pintu. Hanya ada massa yang marah dan beringas. Lalu teriak: gantung, gantung.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Humor

Apa yang bisa dijangkau oleh humor? Sekilas humor nampak sederhana. Namun sesungguhnya humor memiliki kerumitan tersendiri. Humor dapat menjadi barometer pertanda sehat atau tidaknya suatu entitas. Katakanlah entitas itu negara atau entitas itu adalah organisasi. Dalam beberapa organisasi yang pernah saya geluti ada sejumlah orang yang dalam istilah saya ‘memakruhkan humor’. Humor dianggap perbuatan sia-sia, pertanda ketidakseriusan dari sang pelontar humor.

Dalam skala negara, humor merupakan sinyalemen daya sensor dan sensitifitas dari penguasa. Pada periode 1990-an saya tergelitik dengan humor-humor dari Bagito Show. Dalam humor-humornya sejumlah lawakan dari acara Bagito Show menyindir pemerintahan yang berkuasa saat itu. Di era reformasi sejumlah laku humor lebih bebas mengartikulasikan diri. Butet Kertaradjasa diantaranya yang mendapat ruang lebih leluasa untuk meniru suara Soeharto dalam sejumlah humornya.

vakansi

Humor juga menandakan kehidupan sosial masyarakat. Apa yang membuatmu tertawa menunjukkan siapa dirimu. Maka ketika sejumlah laku lawakan yang mempertontonkan “kekerasan” dengan mendorong, memukul (sekalipun terdapat keterangan bahwa bahan-bahan tersebut aman, tidak membahayakan), namun yang perlu ditelaah adalah secara psikologis. Jangan-jangan budaya kekerasan tidak masuk dalam negative list perilaku. Malahan sesuatu yang layak untuk ditertawakan dan dihumorkan.

Humor juga dapat bertemali dengan bully. Bagaimana ada sosok yang dijadikan sasaran bully dalam bentuk candaan-candaan. Perlu ditelusuri apakah objek candaan itu menerima, ataukah itu menimbulkan beban baginya. Terlebih bagi yang dalam masa pertumbuhan dan pencarian jati diri. Bully dalam bentuk lelucon dapat menjadikan sosok seseorang menjadi krisis kepercayaan diri.

cat minyak

Humor dalam bentuk stand-up comedy yang semakin mengemuka juga menjanjikan hal tertentu. Ketika comic menjadikan dirinya pribadi sebagai objek lelucon. Hal tersebut menandakan ada kegembiraan dalam melihat diri. Bahwasanya diri sendiri bukanlah sosok superior yang selalu berada di kutub kebenaran. Stand-up comedy juga pada beberapa comic mampu menarasikan kritikan secara cerdas mengenai kehidupan politik, sosial budaya, dan ragam lini lainnya. Mengkritik dengan senyum terkulum bagi penikmat stand-up comedy, begitulah kiranya.

Hidup tak usah serius-serius amatlah. Mari menebar humor. Mari tertawa dengan kadar yang tepat. Seperti diungkap oleh Joker: Why so serious?

Posted in Politik, puisi, sastra

Para Perompak

Tangis tanpa suara

Perlawanan sunyi

school a

Dulu pernah ada mimpi kemerdekaan

Gemah ripah

Makmur sejahtera

Bebas mengartikulasikan pikiran

chess

Lalu berdesakanlah para perompak berdasi ke panggung negeri

Mereka menjarah secara sistemik,

Terstruktur, masif

troy b

Penuh perhitungan mereka memetakan oposisi

Oposisi boleh pergi ke pulau eskapisme

Di sana dikunci harapan-harapan perbaikan

kalfa b

Perompak berdasi itu punya struktur logika yang intelek

Kalimat penuh taburan gula

Lalu lumpuh patahlah nalar pemberontakan

Posted in Politik, puisi, sastra

Selamat Datang..

Mari kita datang ke menu hidangan

Negeri ini dibelek

Dikocorkan kekayaannya

roti prata

Kekayaan tidak mengalir sampai jauh

Hanya di para elite

Hanya di para konglomerat

teh tarik

Anggur dihidangkan

Beberapa tamu mabuk dan bicara macam-macam

Rahasia-rahasia gelap diikatkan ke udara bebas

chess

Permadani merah untuk para penjarah

Selamat datang..

Posted in Politik, puisi, sastra

Kawula

Dan aku tertawa melihat mereka yang memuja tokohnya dengan berbagai cara

Bahkan mungkin ke lubang biawak pun mereka akan turut

kalfa a

Ah mungkin rakyat sudah terlampau lelah dengan sengkarut masalah keseharian

Lalu kawula titipkan harapan kepada para tokoh itu

Kawula harapkan mereka membenahi segala genangan derita

kalfa b

Tanpa diminta mereka menghantam siapa-siapa yang berani mengkritisi sang tokoh

Sang tokoh adalah kebenaran

Sang tokoh jelas berada di sisi putih

Begitu kiranya pemetaan dari kawula pecinta tokoh hingga ke ubun-ubun

chess

Mereka ternakkan ide-ide dari tokoh ke ruang publik

Mereka menjadi juru bicara cuma-cuma

imajinasi

Mungkin kawula itu lupa bahwa sang tokoh adalah manusia

Yang bisa salah

Yang bisa lupa

Yang bisa tergelincir menjadi pendosa

kompetisi

Hantam, hantam lagi

Sulut, sulut lagi

Tak penting obyektivitas

Tak penting tata kelola rasionalitas

Nalar disetel off

Kawula adalah perpanjangan lidah sang tokoh

Percaya?

Posted in Politik, puisi, sastra

Tuan dan Puan

Tuan dan puan yang merasa aristokrat

Yang memeras dan menindas sekitar untuk setumpuk tulang ayam yang bergeletakan di tempat sampah kalian

chess

Kalian merasa berada di level yang lebih istimewa dari orang kebanyakan

Mungkin mereka merasa kentut mereka lebih harum

Mungkin mereka merasa layak berada di puncak piramida pemangsa

kalfa b

Tuan dan puan yang bertelekan di permadani

Membeli barang-barang mewah untuk memenuhi sudut demi sudut

Tertawa keras-keras seolah menikmati dunia

Pernahkah kalian bertanya: derita orang-orang yang kalian gembosi sumber dayanya?

wayang

Tuan dan puan yang terlalu tambun untuk bergerak

Lalu kalian memiliki dayang-dayang untuk mengerjakan hal-hal kebutuhan kalian

Tangan kalian tiada cekatan, karena para dayang itu yang turun tangan membereskan segalanya

Keringat kalian jarang tertumpah, karena ada kipas-kipas yang menyamankan tidur siang kalian

 klakson

Tuan dan puan perampas kekayaan

Suatu putaran purnama kalian akan menuai badai

Raja dan ratu Perancis pernah mengalaminya

Para diktator pernah mengalaminya

Gelegak amarah yang menyanyikan pembalasan

Gelegak mereka yang tertindas dan menagih rekening penindasan