Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Resensi Buku, sastra

Bintang dan Konstelasinya

Judul Buku: The Fault in Our Stars

Penulis: John Green

Penerbit: qanita

Cetakan: VIII, September 2014

Tebal: 424 halaman

The Fault In Our Stars

Buku ini mendapatkan awal mula perhatian saya ketika keponakan saya membeli buku karangan John Green. Dia menyatakan salah satu buku karangan John Green yang direkomendasikannya adalah The Fault in Our Stars. John Green sendiri merupakan seorang penulis terlaris New York Times dan pemenang penghargaan, dengan banyak penghargaan antara lain Printz Medal, Prints Honor, dan Edgar Award. Lalu kemudian versi film dari buku The Fault in Our Stars pun muncul di bioskop pada tahun 2014.

Rekomendasi dari keponakan, versi filmnya yang telah muncul, belum juga mempertemukan saya untuk membaca ataupun menonton versi filmnya yang diperankan oleh Shailene Woodley (Hazel Grace) dan Ansel Elgort (Augustus Waters). Sampai istri saya membeli novel yang masuk dalam kategori New York Times Bestseller ini. Dan saya pun akhirnya membaca novel ini.

Secara sederhana The Fault in Our Stars diresumekan sebagai berikut:

Meski keajaiban medis mampu mengecilkan tumornya dan membuat Hazel bertahan hidup beberapa tahun lagi, Hazel Grace tetap putus asa. Hazel merasa tak ada gunanya lagi hidup di dunia. Namun, ketika nasib mempertemukannya dengan Augustus Waters di Grup Pendukung Anak-Anak Penderita Kanker, hidup Hazel berubah 180 derajat.

            Mencerahkan, berani, dan menggugah, The Fault in Our Stars dengan brilian mengeksplorasi kelucuan, ketegangan, juga tragisnya hidup dan cinta.

 Hazel Grace

Pada mulanya saya membaca buku ini dengan rasa ketertarikan yang normal. Kisah cinta remaja antara Hazel Grace dan Augustus Waters dengan latar penyakit yang mendera keduanya. Hazel Grace yang mulanya terkena kanker tiroid, lalu dengan koloni pendompleng kanker tersebut bermukim di paru-paru. Sedangkan Augustus Waters adalah penderita osteosarkoma (kanker tulang). Sekilasan saya mendapatkan sentuhan ala teenlit yang ringan. Namun di sisi lain terdapat kedalaman filosofis dan bertaburan kata-kata puitis. Saya pun teringat paralelisme dengan novel Fairish dalam hal kedalaman filosofis, taburan kalimat puitis yang dirangkai dalam tema besar teenlit.

Meski awalnya rasa ketertarikan saya terhadap buku ini normal, namun penulisnya John Green mampu menaikkan tempo dan memikat saya di bagian-bagian berikutnya. Saya pun tertawan untuk menelusuri halaman demi halaman.

Augustus Waters

Dari satu titik episentrum bernama kanker, rangkaian filosofi, kisah, dapat dipintal. Kita mendapatkan cinta yang tulus antara Hazel Grace dan Augustus Waters hingga maut memisahkan. Kita mendapatkan bagaimana kematian orang yang dicintai dapat menimbulkan efek menahun dan sistemik pada Peter van Houten. Kita mendapatkan bagaimana sokongan dari keluarga Hazel Grace dan keluarga Augustus Waters dalam mengasuh anaknya. Kita mendapatkan pertanyaan besar mengenai ‘meninggalkan tanda’ dan arti hadir kita di bumi.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Komik, Politik, Resensi Buku

Akom: The Koboy Senayan

Judul Buku: The Koboy Senayan
Ilustrator: Alga Indria
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: I-2014
Tebal: 147 halaman

Kali ini, sang Koboy Ade Komarudin (Akom) memperlihatkan “kecerdasannya” dengan menggelitik sesama rekannya koboy-koboy Senayan. Di saat banyak anggota parlemen dan caleg-caleg mempopulerkan diri dengan menulis buku-buku biografi serius, Akom justru cerdik menampilkan sosok dirinya dengan meluncurkan komik biografi.

Hal tersebut merupakan salah satu trik Akom untuk lebih dekat dengan rakyat. Akom boleh-boleh saja dijuluki sebagai “The Koboy Senayan”, tapi Akom tetap rakyat biasa yang harus dekat dengan rakyat. Rakyat biasa di pelosok mungkin akan lebih gampang mencerna bacaan-bacaan ringan semacam ini. Tampilan komik juga memungkinkan pembaca lintas generasi untuk mengetahui perjalanan karier dan kiprah dari sosok kelahiran 20 Mei 1965 ini.

Koboy Senayan

Mengapa bahasa gambar (komik) efektif sebagai media komunikasi dan transmisi ide? Secara keilmuan hal tersebut dapat dijelaskan karena gambar mampu mengkombinasikan kemampuan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri sendiri berintikan pada logika, matematika, linearity, bahasa, sequence, analisis. Sedangkan otak kanan berintikan pada rhythm, kreativitas, imajinasi, dimensi, warna, holism. Hebatnya dari gambar, termasuk komik ialah mampu mengakses keunggulan di otak kanan dan kiri sehingga berbuah pada pemahaman yang lebih cepat dan mendalam.

Komik biografi Akom ini disajikan secara timeline. Bagaimana fragmen-fragmen penting dari kehidupan Ade Komarudin dihadirkan secara ringkas dan apik. Akom kecil yang hidup di kampung, diasuh oleh orang tua dan sang uyut. Orang tua dan uyut Akom menjadi pembentuk karakter Akom. Masa kecilnya dihabiskan untuk membantu orang tua menggembala hewan ternak, sebagai bentuk baktinya kepada orang tua.

Akom kecil merupakan anak yang gemar bermain di sawah. Ia memiliki hobi menangkap belalang. Di samping itu Akom kecil sangat sayang dan akrab dengan binatang yang diternak oleh orang tuanya.

Koboy Senayan

Dari sisi spiritual, Akom kecil rajin shalat malam serta melakukan puasa Senin-Kamis, maupun puasa Wedalan (puasa berdasarkan hari lahir). Bekal spiritual ini merupakan cetakan dasar yang membantunya di kemudian hari sebagai benteng bagi dirinya dalam menghadapi godaan kekuasaan yang dapat menjerumuskan.

Akom dikenal sebagai anak yang menikmati hidup, ia selalu menjalani segala sesuatunya dengan ceria. Sejak kecil Akom tampil sebagai seorang anak memiliki jiwa kepemimpinan, ia aktif berkegiatan dan selalu terpilih menjadi pemimpin. Karena itu pada saat di SMP ia terpilih menjadi pelajar teladan di sekolahnya.

Pada masa remajanya Akom dikenal sebagai “Ade Politik” karena ia kerap berpidato tentang kondisi sosial politik Indonesia saat itu pada teman-temannya. Dan karena itulah Akom menghabiskan masa mudanya dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.

Koboy Senayan

Ketika Akom duduk di bangku kuliah, padatnya tugas akademik di kampus tidak menyurutkan minat Akom untuk juga aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti: KAMAI (Keluarga Alumni Ponpes Al Ishlah Purwakarta), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Adapun karier Akom di ranah parlemen diantaranya dengan milestone berupa dirinya yang menjadi tokoh interpelasi pada tahun 2000. Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk kemudian setelah berhasil dengan hak interpelasi yang langsung memanggil presiden, ia turut menjadi sosok yang aktif dalam Pansus Buloggate dan Pansus Bruneigate.

Akom dikenal sebagai koboy Senayan, yaitu warga Senayan (anggota parlemen) yang kritis, berani, tegas, keras dan teguh pada pendiriannya dalam menanggapi kekisruhan-kekisruhan politik di Senayan.

Ade Komarudin yang akrab dipanggil Akom sangat beruntung bisa menjadi anggota parlemen tahun 1997. Ia langsung dapat menimba banyak pengalaman bernilai, saat di mana politik Indonesia benar-benar sedang bergejolak panas. Karena sepak terjangnya yang berani saat itu, maka beberapa tahun kemudian ia langsung mendapat dua “gelar kehormatan”. Didaulat sebagai “Koboy Senayan” pada tahun 2000 dan setahun berikutnya dipilih wartawan sebagai satu dari 10 anggota DPR terbaik saat itu. Inilah bukti Akom yang cerdas ternyata telah sungguh-sungguh menjadi koboy yang mumpuni di kancah politik Indonesia.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Resensi Buku

Membaca Novel Ender’s Game

Awal mulanya adalah ketika saya dan keponakan saya menonton trailer film Ender’s Game di bioskop. Keponakan saya langsung bereaksi gembira. Ia merekomendasikan saya untuk menonton filmnya dan membaca novelnya. Saya pun memenuhi pinta dari keponakan saya tersebut. Sebelum menonton film Ender’s Game saya sempat membaca 40-an halaman dari novelnya. Dan saya pun terpikat dengan novelnya. Lalu saya menonton filmnya terlebih dahulu dibanding menamatkan novelnya. Dari pengalaman saya biasanya saya lebih tertarik ketika menonton filmnya terlebih dahulu baru membaca novelnya kemudian. Jika membaca novelnya terlebih dahulu, baru menonton filmnya biasanya saya menemui sejumlah kekecewaan karena terjadi pemangkasan plot dan karakter.

Menonton film Ender’s Game bolehlah saya katakan secara penilaian personal lumayan baik. Secara visual kita disuguhi dengan pemandangan teknologi yang menyakinkan. Secara jalan cerita saya mengalami antiklimaks. Ketika Ender Wiggin dikirim selepas dari battle school, justru drama seperti kehilangan gregetnya. Secara akting saya harus mengapresiasi dan salut kepada Asa Butterfield. Tentu saja dia memiliki track record yang menawan ketika menjadi Hugo Cabret dalam film Hugo. Kali ini ketika menjadi Ender Wiggin, ia mampu menampilkan kompleksitas emosi.

Membaca novel Ender’s Game terjadi pengayaan yang lebih mendalam mengenai Ender Wiggin sebagai sosok sentral. Bagaimana dirinya yang dibentuk untuk menjadi komandan terbaik. Seperti perkataan Graff (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 56): “Tugasku adalah mencetak prajurit-prajurit terbaik di dunia. Dalam sejarah dunia, kita membutuhkan seorang Napoleon. Seorang Alexander.”

Peran dari saudara Ender juga mendapatkan porsi yang lebih signifikan. Simak bagaimana Valentine yang menjadi “provokator ide” dengan menjadi Demosthenes. Simak juga bagaimana Peter yang sadis menjadi Locke ketika merambah dunia maya untuk mendiasporakan gagasannya. Friksi antarketiga saudara lebih terasa dalam versi novelnya. Bagaimana Valentine di akhir cerita novelnya membujuk Ender untuk jangan kembali ke bumi. Seperti terterakan dalam fragmen kalimat dari Valentine berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 464-466):

“Dia punya rencana untukmu, Ender. Dia akan mengungkapkan diri secara terbuka ketika kau tiba, akan menemuimu di hadapan semua media. Kakak tertua Ender Wiggin yang juga merupakan keturunan Locke yang agung, arsitek perdamaian. Dengan berdiri di sampingmu, dia akan terlihat cukup dewasa. Lalu, kemiripan fisik di antara kalian menjadi lebih kentara daripada sebelumnya. Maka, dia akan lebih mudah mengambil alih.”

“…Ender, Bumi milik Peter. Jika kau tak pergi denganku sekarang, dia akan menangkapmu di sana dan memanfaatkanmu habis-habisan sampai kau berharap tidak pernah dilahirkan. Hanya sekarang kesempatanmu satu-satunya untuk pergi.”

Ender's Game Novel

Novel Ender’s Game juga menggambarkan bagaimana Ender ditekan untuk mencapai batas optimal dari dirinya. Bagaimana rangkaian promosi ketika dirinya masih begitu muda, bagaimana Ender diisolasi untuk menjadi seorang pemimpin, bagaimana pressure dari para senior, bagaimana kerinduan Ender terhadap rumah dan bumi, bagaimana Ender ketika menjadi komandan tempur diharuskan untuk bertarung melawan kelompok lain secara terus menerus, dan lain sebagainya.

Novel Ender’s Game dalam hemat saya juga memberikan jawaban akan pertanyaan kenapa mesti anak-anak yang dibebankan tanggung jawab untuk memusnahkan bugger (sesuatu yang belum terjawab di versi filmnya). Simak fragmen berikut (Orson Scott Card, Ender’s Game, hlm. 446):

“Tentu saja kami menipumu agar melakukan itu. Itulah intinya,” sahut Graff. “Memang harus dengan tipuan atau kau tak sanggup melakukan itu. Kita berada dalam ikatan. Kami harus memiliki seorang komandan dengan empati yang begitu besar sampai dia akan berpikir seperti para Bugger, memahami mereka, dan mendahului mereka. Kasih sayang yang begitu besar sampai doa bisa memenangkan cinta bawahannya dan mempekerjakan mereka seperti mesin yang sempurna, sesempurna para Bugger. Tetapi, seseorang dengan kasih sayang sebesar itu tak akan pernah bisa menjadi pembunuh yang kami butuhkan. Tak akan pernah bisa bertempur dengan keinginan menang, bagaimanapun caranya. Kalau tahu semua itu, kau takkan bisa melakukannya. Kalau kau adalah jenis orang yang akan melakukan tindakan semacam itu meskipun sudah tahu sejak awal, kau tak akan pernah memahami para Bugger dengan baik.”

“Maka, dia haruslah anak-anak, Ender,” ujar Mazer. “Kau lebih cepat dariku. Lebih baik dariku. Aku terlalu tua dan berhati-hati. Orang baik mana pun yang menyadari arti dari perang tak akan pernah bisa bertempur sepenuh hati. Tetapi, kau tidak tahu. Kami pastikan kau tidak tahu. Kau nekat, cerdas, dan masih muda. Itulah alasan kau dilahirkan.”

Novel Ender’s Game sendiri mendapati sejumlah penghargaan seperti Hugo Award dan Nebula Award. Bagi pecinta novel sains fiksi saya pikir Ender’s Game ini layak menjadi koleksi. Boleh dibilang film dan novel Ender’s Game saling menopang dalam memberikan narasi dan penceritaan. Untuk yang ingin versi singkatnya dan secara visual memukau dapat menonton filmnya. Untuk menemui kedalaman, pengayaan, dan kompleksitasnya bacalah versi novelnya.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Buku, Edukasi, Essai, Resensi Buku, Sosial Budaya

Filosofi Lima Jari

Judul Buku: Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan
Penulis: Agun Gunandjar Sudarsa
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: II-2014
Tebal: 156 halaman + Xiii

Hidup Sukses 5 Jari

Malam itu hujan menderas, kilat memecut udara, dingin merambati sumsum tulang saya, gelap menyelubungi. Bahkan saking gelapnya saat itu, saya tidak tahu bahwa baju yang saya kenakan tidak hanya basah oleh air hujan, namun juga oleh darah yang mengucur deras dari hidung. Saya tidak menyadari bahwa telah mimisan dan sebelumnya hanya mengira air hujan yang membasahi baju. Di saat itulah saya tetap menjalankan dengan ikhlas dan tetap berdoa “Ya Allah, hidup kok susah amat dan sulit-sulit amat. Berikanlah kami kemudahan, kesejahteraan hidup”. Saat itu saya tetap mencoba menjalankan pekerjaan dengan pikiran positif. Di saat itulah saya mendapatkan filosofi “hidup sulit, jangan dipersulit” (Agun Gunandjar Sudarsa, Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan, hlm. 35).

Buku Hidup Sukses dengan Lima Jari: Seni Menjalani Hidup Melalui Prinsip Lima Jari Tangan ini merupakan ide praktis yang dirumuskan dari pengalaman hidup Agun Gunandjar Sudarsa. Inilah contoh orang yang menulis dan bertutur kata bukan sekadar dengan teori, tetapi bertutur tentang apa yang secara nyata telah ia lakukan dalam kehidupan. Buku tentang motivasi ini menjadi unik adanya dikarenakan ditulis oleh seorang politisi yang kini menjadi Ketua Komisi II DPR RI.

Apa saja kiranya langkah untuk meraih hidup sukses yang ditawarkan oleh Agun Gunandjar? Langkah pertama adalah: “Hidup Sulit, Jangan Dipersulit”. Jadi untuk tidak mempersulit hidup dibutuhkan kearifan dan keikhlasan dalam menjalani hidup. Filosofi hidup berikutnya, yaitu “Tembok Tinggi, Rezeki Tinggi”. Artinya untuk mencapai sesuatu yang tinggi atau berharga itu, maka temboknya (tantangan) pasti akan semakin tinggi. Filosofi hidup berikutnya adalah “Tiada Hari Tanpa Aktivitas”. Lalu aktivitas seperti apa? Jawabannya adalah aktivitas sehari-hari yang bermakna. Jadi aktivitas itu adalah peran yang harus kita jalankan di manapun kita berada.

Menurut Agun, filosofi kelima jari tangan ini mengandung makna yang dalam sebagai prinsip kita dalam meraih masa depan yang sukses dan bahagia. Kelima jari dari jempol hingga kelingking itu mengandung makna. Jari jempol menunjukkan sesuatu yang bagus, disukai orang, dan terpuji, yang itu semua terangkum dalam istilah prestasi.

Setelah kita mendapatkan prestasi terpuji dari segala tindakan kita, maka pada akhirnya kita akan memperoleh pengakuan (jari telunjuk) dari orang lain dan masyarakat.

Untuk menggapai sukses dan bahagia, kita juga perlu melakukan pendekatan elegan dengan prinsip jari tengah. Kita bisa lihat bagaimana posisi jari tengah, letaknya di tengah. Begitu juga kita dalam melakukan pendekatan dan komunikasi, perlu menggunakan prinsip jari tengah, sehingga mudah ke kiri dan ke kanan, ke atas dan bawah. Kita mampu ke segala arah dalam menjalani komunikasi dan pendekatan yang baik terhadap atasan, bawahan dan teman selevel.

Selanjutnya jika prestasi, pengakuan dan komunikasi yang elegan sudah diperoleh, maka dengan sendirinya akan diperoleh janji manis yaitu pendapatan. Pendapatan ini berwujud dalam beberapa hal seperti kedudukan, pendapatan, dukungan, kepercayaan, pekerjaan, pangkat dan jabatan.

Pada akhirnya kita memerlukan prinsip terakhir yaitu jari kelingking. Walaupun ukurannya kecil, jari ini bisa mematikan jika tidak dimanfaatkan. Jari kelingking menggambarkan simbol perawatan. Sesuatu yang tidak dirawat maka akan hilang. Perawatan tidak bisa juga berjalan sendiri. Kita tidak akan bisa merawat apa yang dimiliki tanpa terlebih dahulu memiliki prestasi yang berdampak pengakuan, komunikasi, dan pendapatan.

Setelah menjalankan prinsip terakhir, yaitu jari kelingking maka sudah seharusnya kembali lagi pada filosofi hidup pertama yaitu “Hidup Sulit, Jangan Dipersulit”; “Tembok Tinggi, Rezeki Tinggi”; “Tiada Hari Tanpa Aktivitas”, dan pada akhirnya kembali ke prinsip lima jari.

Filosofi lima jari yang digagas ini kiranya merupakan upaya untuk memanfaatkan semaksimal mungkin segala anugerah yang telah diberikan kepada kita. Segala potensi yang ada itu hendaknya tidak tersia-siakan. Dan sukses hidup pun terengkuh dalam kenyataan bukan sekadar angan-angan kosong.

Posted in Buku, Ekonomi, Essai, Politik, Resensi Buku

Indonesia Sejahtera is Very Simple

Judul Buku: Membangun Indonesia Sejahtera: Langkah Nyata Menuju Visi Indonesia 2020
Penulis: Agun Gunandjar Sudarsa
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: 2013
Tebal: 278 halaman + X

Membangun Indonesia Sejahtera

Buku yang baik selalu datang dengan membawa gagasan-gagasan orisinil, begitulah kiranya yang pantas disematkan kepada buku yang berjudul “Membangun Indonesia Sejahtera: Langkah Nyata Menuju Visi Indonesia 2020” ini. Buku yang lahir dari seorang politisi sekaligus pemikir Agun Gunandjar Sudarsa ini, memang dipenuhi dengan gagasan-gagasan brilian dan orisinil untuk mewujudkan impian besar kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu mencapai kesejahteraan sebagaimana yang tercantum di dalam Visi Indonesia 2020 dan amanat konstitusi UUD 1945.

Untuk mewujudkan Indonesia sejahtera seperti yang diharapkan Visi Indonesia 2020 itu sendiri pada dasarnya merupakan hal yang sederhana. Hanya diperlukan political will pemerintah untuk mengubah struktur anggaran menuju bentuk piramida. Selama ini politik anggaran faktanya berbentuk piramida terbalik. Hal tersebut mengakibatkan pemerintah gagal melakukan distribusi kesejahteraan ke daerah. Kesejahteraan yang tidak terdistribusi dengan baik pada akhirnya berakibat pada sejumlah tindak korupsi, seperti terjadinya praktik mafia anggaran untuk menyalurkan anggaran ke daerah.

Politik anggaran seperti itu sebenarnya tidak sehat bagi pembangunan bangsa yang berkeadilan antara pusat dan daerah. Maka tidak heran jika terjadinya ketimpangan anggaran untuk pusat dan daerah itu terus menghasilkan pemerintahan yang bergaya Jakarta sentris. Silahkan cek hotel-hotel di Jakarta yang penuh dengan kegiatan para Gubernur, Bupati, Walikota, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kota, sehingga DAU yang seharusnya diedarkan di daerah, malah kembali lagi beredar di Jakarta. Karena bimbingan teknis Kementerian semua di Jakarta, tender proyek semua di Jakarta, pengadaan komoditi semua di Jakarta, maka semua pengusaha berangkat ke Jakarta. “Gula-gulanya” sebagian besar berada di Jakarta.

Indonesia semestinya menerapkan politik anggaran berbentuk piramida. Dengan demikian maka pusat hanya melakukan supervisi, pengarahan dan pengawasan mengenai tata kelola pemerintahan. Hal itu untuk menegaskan prinsip structure follow function dan money follow function yang sebenarnya sudah mendapatkan payung hukum dalam Undang-Undang No.39 tahun 2008. Prinsip ini sesungguhnya yang efektif untuk otonomi daerah, dimana rakyat secara langsung dilayani oleh perangkat pemerintahannya di daerah. Sehingga mereka mampu memenuhi kebutuhan rakyat di wilayahnya seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan sebagainya.

Untuk menuju Indonesia sejahtera, langkah nyata mewujudkannya ialah dengan pembangunan sistem politik yang kuat. Demokrasi dengan demikian mesti kompatibel dengan sistem presidensial yang dianut negara Indonesia yang meletakkan kedaulatan berada di tangan rakyat. Sistem presidensial memang mengharuskan adanya sifat pemerintahan yang powerfull (kuat) dan tak bisa diberhentikan oleh parlemen. Dengan sistem politik yang kuat diharapkan pemerintahan berjalan efektif dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya.

Indonesia sejahtera juga dapat terealisasi dengan mewujudkan konsep manajemen pemerintahan yang modern melalui pelaksanaan prinsip-prinsip good governance seperti efisien, efektif, akuntabel, dan transparan. Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negeri ini semestinya bermuara pada sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sejumlah kemajuan positif yang sudah terlihat dalam perjalanan bangsa ini di era reformasi seperti pembangunan politik serta pertumbuhan ekonomi sudah seharusnya membuat kita optimis bahwa sebenarnya masa depan bangsa ini bisa menjadi cerah. Untuk itu kita harus terus optimis bahwa di era reformasi ini, mewujudkan Indonesia sejahtera itu tidak sulit bahkan bisa dibilang sangat mudah. Bisa sangat mudah apabila kita konsisten menjalankan salah satu amanat reformasi yang terdapat pada TAP MPR No VII Tahun 2001 tentang Visi Indonesia Sejahtera 2020 yaitu Indonesia yang religius, manusiawi, bersatu, demokratis, adil, makmur dan mandiri.

Penulis buku ini (Agun Gunandjar Sudarsa) percaya bahwa hari-hari ini perjalanan bangsa ini telah on the right track menuju Indonesia sejahtera. Pemantapan sistem dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan kuncinya.

Posted in Ekonomi, Essai, Politik, Resensi Buku

Membongkar Republik Akal-Akalan

Judul Buku: Republik Akal-Akalan: Mengungkap Kebohongan Rezim di Atas Ketidakberdayaan Rakyat
Penulis: Dr.Fuad Bawazier
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: 2013
Tebal: 261 halaman + XV

Buku ‘Republik Akal-Akalan’ merupakan kumpulan artikel opini dari Fuad Bawazier yang pernah terbit di berbagai media sepanjang tahun 2006-2013. Judul ‘Republik Akal-Akalan’ itu tentu saja menggambarkan bagaimana pengelolaan negeri ini yang masih saja menggunakan kebijakan bersifat akal-akalan. Untuk memudahkan sidang pembaca memahami aneka pemikiran dari Mantan Dirjen Pajak ini, maka esai-esai tersebut dikelompokkan berdasarkan sub tema yang sama, sekaligus memiliki benang merah yang nyata.

Menerbitkan berbagai artikel yang berserak menjadi sebuah buku yang layak dibaca tentunya memiliki alasan yang kuat. Setidaknya terdapat dua alasan penting yang melatari. Pertama, setelah ditelusuri, berbagai tulisan tersebut, mengandung benang merah yang kuat sepanjang periode itu, terutama dalam menggambarkan pengelolaan negara oleh penguasa yang cenderung menipu rakyat melalui berbagai kebijakan akal-akalan. Kedua, banyak tulisan yang jika dibaca lagi ternyata masih menemukan relevansinya kembali dalam perkembangan aktual dewasa ini, terutama terkait dengan masih maraknya tindakan akal-akalan penguasa di tengah rakyat yang seakan tidak berdaya.

Analisa ekonomi politik menjadi warna utama dari sosok yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan di saat-saat genting Orde Baru ini. Gaya bahasanya yang blak-blakan, apa adanya, serta dibingkai dengan nuansa akademik menjadikan esai dari Fuad Bawazier layak menjadi hidangan intelektual bagi sidang pembaca.

Cover Republik akal-akalan

Simaklah potongan fragmen ketika Fuad yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Keuangan berada dalam sengkarut krisis ekonomi yang melanda negeri (Fuad Bawazier, Republik Akal-Akalan, hlm. 213-214):

Dalam penyelesaian krisis, Mafia Berkeley dan IMF cuma memiliki waktu hingga Juni 1998. Itu adalah tenggat diam-diam yang diberikan Soeharto, kendati dirinya juga tidak yakin masalah ekonomi akan selesai pada tenggat tersebut. Sebagai new comer waktu itu, saya juga berpandangan dan menjelaskan hal yang sama kepada Soeharto. Masalah krisis tidak mungkin diselesaikan IMF dalam waktu singkat. Kenapa? Pertama, resep yang dijalankan IMF umumnya justru memperparah kondisi yang ada. Kedua, sekali IMF datang ke suatu negara khususnya Indonesia, kalau tidak dipaksa keluar, mereka tidak akan meninggalkan Indonesia. Mereka akan terus “memperkosa” kita. Seperti praktik dukun cabul, datang tidak mengobati, tapi malah ngerjain kita. Betul juga ternyata Soeharto dijatuhkan lebih cepat. Mei 1998, Soeharto jatuh. Padahal menurut rencana, IMF akan dibubarkan Soeharto seperti halnya dia membubarkan International Government on Group Indonesia (IGGI). Sejatinya, pemikiran Soeharto ada benarnya. Krisis tidak bakal selesai pada tenggat yang ditentukannya. Akhir Juni 1998, IMF tidak akan bisa menyelesaikan masalah di Indonesia. Artinya, pada titik ini, sebetulnya, Soeharto sudah memberi kesempatan IMF selama enam bulan sejak awal 1998. Ternyata, IMF memang tak dapat menyelesaikannya dan dengan alasan ini rencananya Soeharto akan melengserkan IMF.

Buku ‘Republik Akal-Akalan’ ini secara garis besar memotret dan mengupas tentang bagaimana kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah. Mulai dari dunia perbankan yang penuh dengan kebijakan kamuflase, distorsi politik anggaran, pembohongan publik terkait hutang yang dilakukan pemerintah, kebijakan ekonomi yang bukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, ironi negeri yang menjadi korban akal-akalan pihak asing, hingga sejumlah solusi untuk memecah sengkarut yang membelit negeri.

Akal-akalan para penguasa memang terlihat ketika perekonomian Indonesia diarahkan untuk selalu bergantung terhadap hutang luar negeri. Padahal, berbagai kajian ekonomi maupun pandangan kasat mata, dengan jelas menyimpulkan bahwa hutang luar negeri pada umumnya tidak diperlukan, karena banyak dikorup, tidak efisien dan tidak efektif. Singkatnya hutang ini hanya menguntungkan kreditor dan kaki tangannya tetapi merugikan Indonesia secara ekonomis maupun politis. Namun dengan berbagai alasan yang dibalut dengan kebijakan akal-akalan tentunya, kebijakan mencari hutang terus saja berlangsung sampai saat ini.

Melalui buku ini kita dicerdaskan untuk melihat permasalahan secara global dalam konteks-konteks kasus kekinian. Selamat membaca!

Posted in Buku, Essai, Kertas Pasir, Politik, Resensi Buku

Dilema Sang Presiden

Paradoks. Presiden yang dipilih langsung oleh rakyat dan menang satu putaran, namun tersandera oleh kekuatan politik yang ada. 60,80% suara dukungan rakyat, 26,43% suara partai Demokrat rupanya belum cukup bagi SBY untuk independen dan merdeka dalam menjalankan roda pemerintahannya.

Koalisi yang terbentuk di pemerintahan nyatanya merupakan koalisi yoyo. Yang naik-turun, yang mendekat-menjauh tergantung kepentingan politik dan momentum pencitraan di masyarakat. Dialektika yang ada semestinya merupakan refleksi dari pergulatan ide dan pemikiran. Bukan malahan sebagai panggung dari akrobat politik yang saling memainkan kartu truf.

The king can do no wrong, begitulah kiranya frasa yang sempat mewarnai jagat perpolitikan. Seiring perjalanan waktu dan dialektika, muncul dan meluruhlah sejumlah konsep. Terdapat pembagian dan pemisahan kekuasaan yang memungkinkan pucuk eksekutif tidak bertindak sewenang-wenang dan sekehendaknya. Bukankah seperti disinyalir oleh Lord Acton, bahwa power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely? Itulah kiranya yang memungkinkan terjadinya mekanisme checks and balances dalam sistem politik yang berjalan.

Indonesia merupakan negara yang telah melewati ragam panorama situasi politik. Berbagai sistem telah diterapkan dengan sejumlah keunggulan dan kelemahannya. Menarik garis pembelajaran dari sejarah merupakan harta karun pengetahuan untuk mencari format apa yang tepat diterapkan di majemuknya unsur yang membentuk bangsa ini. Dalam skala kontemporer, potret dari politik Indonesia boleh dibilang masih tertatih. Bagaimana sejumlah kasus uang mewarnai pemberitaan media massa merupakan titik-titik sumbu yang menyandera pemerintahan SBY-Boediono. Hal yang tak dapat dilepaskan dari pilihan sistem yang dipakai di negeri ini serta kondisi faktual dalam hitung-hitungan kekuatan politik.

Tradisi koalisi jarang ditemukan pada sistem pemerintahan presidensial dan tidak diatur dalam UUD 1945. Koalisi dalam kombinasi kedua sistem ini di Indonesia sering melahirkan koalisi dengan basis ideologi yang berbeda-beda atau “koalisi pelangi”, sehingga tidak adanya kesatuan ideologi pemerintah yang terpilih dalam menjalankan program-programnya. Koalisi juga sering mendegradasi hak prerogatif presiden, dan melahirkan presiden yang terlalu kompromis pada partai-partai. Dengan demikian, dalam berbagai macam kasus seperti yang terdapat pada isi buku ini, presiden “terpenjara” oleh kepentingan partai-partai tersebut.

Relasi presiden-DPR sering menimbulkan ketidak efisienan dalam pengambilan kebijakan politik pemerintahan. Sukarnya menempuh paralelisme simbiosis antara koalisi di pemerintahan dan koalisi di parlemen menyebabkan rumitnya persatuan politik yang dibangun oleh presiden. Eksesnya partai koalisi sering berada pada dua kaki; satu kaki ada di pemerintahan sedangkan kaki yang lain berada di parlemen. Arah politik menjadi sulit ditebak, apakah berkoalisi atau beroposisi? Oleh karena itu, memang butuh penataan kelembagaan yang lebih baik lagi jika negara ini ingin tumbuh menjadi negara mapan secara demokrasi.

Legitimasi yang didapatkan pemerintahan SBY yang mencapai 60,80% pada pemilu presiden 2009, tidak membuat pemerintahannya merasa percaya diri dalam melaksanakan hak prerogratifnya terutama dalam berhadapan dengan DPR yang merepresentasikan kekuatan partai politik dan tarik menarik kepentingan. Tidak mengherankan berbagai kompromi terus dilakukan untuk menyelamatkan kekuasaan dari sang presiden. Kesan kompromi semakin kuat terhadap partai setelah terjadinya berbagai friksi di parlemen, seperti pro-kontra angket kasus Bank Century, penggunaan hak interpelasi dalam hal pemberantasan korupsi yang melibatkan banyak lembaga negara seperti KPK dan Polri, hak interpelasi mafia pajak. Semua itu tentu saja semakin membuat presiden tidak bisa efektif menjalankan kekuasaannya, bahkan cenderung menjadi tersandera oleh koalisi partai pendukung yang dibangunnya sendiri.

Judul Buku: Presiden Tersandera – Melihat Dampak Kombinasi Sistem Presidensial-Multipartai Terhadap Relasi Presiden-DPR di Masa Pemerintahan SBY-Boediono
Penulis: Muhammad Sabri S.Shinta
Penerbit: Rakyat Merdeka Books
Cetakan: September 2012
Tebal: 173 halaman + XXII