Dongeng Si Abu-abu

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Akan kudongengkan kisah-kisah malam

Bukan tentang Cinderella

Atau putri-putri utopis itu yang berharap happily ever after

            Ini tentang kisahmu

            Si abu-abu

            Entah aku harus memanggilmu sang protagonis atau sang antagonis

            Dirimu yang maha pragmatis itu

Kau yang mengintip tiap peluang

Yang bermuara pada keuntungan dirimu

Namun kau baik

Sesekali membantu sesama

Menebarkan jala kebaikan, untuk yang dikenal dan mereka yang “tanpa nama”

            Di sisi lain, kau si pelontar aksara pengkanvas mental

            Kau rubah dan singa itu

            Seperti saran Machiavelli

            Meski terkadang kau bak Robin Hood

            Pencuri yang baik untuk sesama itu

            “Mengguncang status quo kemapanan ekonomi para rakus berperut buncit itu,” katamu sambil menuang anggur dan menata roti keju

Si abu-abu membuka menu makanannya

Wong cilik mana yang “kusantap” hari ini

Si abu-abu menerima panggilan telepon

“Ini ucapan terima kasih dari kami yang telah bapak bantu dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya,” ungkap suara lawan bicara si abu-abu.

            Cermin itu bertanya padaku dan padamu

            Akukah si abu-abu itu?

            Kamukah si abu-abu itu?

            Kita semuakah si abu-abu itu?

            Happily ever after, once upon a time kisah tentang si abu-abu

Advertisements

Fana Kita

jendela pesawat gunung

Waktu,

Apa yang tergenggam dan terlepas

Fana kita

Dan kita mengeja bersama waktu

            Berakrobat dengan detak yang memburu

            Dan pertanyaan-pertanyaan yang silih berganti

            Atau tentang mimpi yang mencumbu dan menyapamu di kala sendiri

Tentang arus manusia dengan egoisme dan kepentingannya masing-masing

Sanggupkah kau terus bertarung?

Lagi dan lagi

            Kau, manusia di ujung senja

            Menatap tanganmu dan warisan dendam apa yang telah kau siramkan

            Unggun angkara yang membubung dan menyisakan amis cerita

Rebahkan kepalamu di titik menjelang malam

Akan kuceritakan kisahku

Tentang tinta propaganda yang kuanyam dengan kuasa

            Kau atau aku yang lebih dulu mati

            Ditikam kebosanan & kesunyian jiwa

            Dan kita masing-masing bertanya fana kita, lalu apa?

Puzzle Sebuah Kota

Suatu Pagi di Bali

Pada putaran matahari kau tiba

Di suatu tempat, di penggalan waktu

Detak sebuah kota

Sudut berbeda yang kau hirup dan intip

            Perspektif, redefinisi

            Kau menyusun ulang puzzle tentang kota itu

            Jembatan pemahaman dan emosi baru

Pada putaran matahari, kau teringat manusia-manusia di jangkar perjalanan

Mereka yang memberi rona pada sebuah kota

Kota, bukan sekadar arsitektur beton yang itu-ini

Dia adalah jiwa bernyawa dan pergulatan kemanusiaan

Abjad Kebajikan

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kemanakah kebaikan itu akan bermuara?

Berakhir?

Menemui hilirnya?

Atau menjadi jejak gaung semesta yang terus ter-echo-kan dengan caranya tersendiri

            Api yang bekerja

            Air yang membasuh pelik bumi

            Apakah api dibalas api – air dibalas air?

Teruslah menyalakan api

Teruslah mengalirkan air

Teruslah menebar abjad kebaikan

            Kebaikan-kebaikan yang tak hirau dengan lampu sorot

            Mereka yang bergerak dalam diam

            Seperti kepundan magma di gunung berapi itu

            Kau rasakan hangatnya,

            Kau rasakan geloranya

Kebaikan-kebaikan “kecil”, mungkin itu yang kita butuhkan untuk meronakan dunia

Titik demi titik langkah nyata dalam karnaval panjang kebajikan,

Pastikan kau tidak tertinggal.

Dasamuka

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dan lihatlah bersama garis waktu sang “pahlawan” telah beralih rupa menjadi dasamuka

Waktu telah mengkorosi kilau gemilangnya

Atau dia selama ini badut oportunis lain yang baru tersingkap topengnya?

Tamat 100%

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Aku percaya aku akan musnah dan dilupakan waktu. Teknologi menyimpan karya dan remah jejak? Tunggu dulu. Ada para peretas degil yang dapat menihilkan segala langkah kakimu di tempat-tempat tertentu atau gubahan kata dari hati yang bergejolak.

Aku pun akan dilupakan dari ingatan mereka yang hidup. Ah, mereka sudah terlampau kalut dengan remeh remah masalah personal.

Tiap hari entah berapa nyawa tumbang

Aku salah satunya

Dan kuberi tahu padamu, pada akhirnya kita hanya pasir yang tertiup angin badai

Terhempas,

Terlupakan,

Tamat 100%

Berdiri Sejak

teh tarik

Apa yang bisa dihidangkan oleh tempat makan yang telah sekian lama berdiri itu?

Ingatan,

Kenangan

            Tentang kau yang mencuri-curi pandang

            Berkata terbata, “Aku cinta”

Kursi favorit tempat kita menatap matahari menanggalkan bajunya

Ia rebah bersama kata

            Tentang pilihan menu yang menggoyang lidahmu

            Dan mendamparkanmu di samudera kenangan

Kau berkunjung ke tempat itu sendiri

Kau pejamkan matamu

Dan kau tahu semua memori bersamamu hadir bertalu-talu

            Kau pesan menu yang sama

            Tempat makan itu tetap berdiri dan ramai manusia

            Namun hatimu rebah bersama ingatan yang menjerat