Tarian Kemenangan di Pentas Monokrom

Di masyarakat dengan garis komando, kau akan tahu dibutuhkan keteraturan. Aku muak dengan segala komando yang menegasikan akal sehat. Ikuti, ikuti, ikuti, sementara otak ditanggalkan. Seolah-olah pengetahuan, pengalaman, hanya milik mereka kaum yang sudah-sudah.

Maka dengarlah talu pembebasan mereka yang enggan dirantai dalam garis komando. Ya, kami adalah lambang dari generasi baru. Generasi yang anti kemapanan dan enggan tunduk pada otoritas. Maka kalian dapat melihatnya dalam busana warna-warni yang kami kenakan. Kami enggan menggunakan pakaian hitam ataupun putih yang kalian doktrinkan. Berada di kubu kami, atau menjadi lawan kami. Maka kami merayakan aneka pikiran yang bermekaran.

Kaum yang sudah-sudah melabeli kami sebagai pembangkang. Kami dianggap bahaya, dekadensi, dan akan membawa degradasi pada standar kualitas rakyat negeri. Kami dianggap dimanjakan oleh kemakmuran sehingga lupa bagaimana kemakmuran itu diraih dengan kerja, kerja keras. Tapi kaum yang sudah-sudah juga lupa bahwasanya kemakmuran tak sekadar seberapa banyak makanan di bunkermu, seberapa tinggi atap rumahmu, seberapa bagus busanamu. Ada kebebasan untuk berpendapat, berpikir, dan mengemukakan pendapat – sebuah kemewahan yang tak dirasakan oleh kami yang pendapatan per kapitanya tergolong negara makmur.

Tiap negara pasti mengalami persimpangan sejarahnya. Akankah survive atau karam. Begitu juga dengan negara kami yang dilanda dengan pertentangan antargenerasi. Dari kami yang lahir di kitaran waktu dekade yang sama, tentu ada yang benar-benar ideologis atau sekadar ikut-ikutan. Sementara dari kaum yang sudah-sudah, tampak terlihat ada yang menunjukkan simpati dan keberpihakan terhadap pendapat kami.

Dan persimpangan sejarah itu akan terus dikenang, bagi pemenang dan “pecundang”. Kaum yang sudah-sudah mengambil tindakan radikal, untuk memusnahkan kami para pembangkang. Ragam cara dilakukan dari yang lunak hingga keras. Akhirnya beberapa dari kami menyerah dan berbalik arah. Sementara ikon-ikon perlawanan menjadi tahanan negara serta dialienasikan.

Maka kembalilah negara dalam warnanya yang kuasa: hitam-putih. Garis komando dimana-mana. Rancangan pembangunan jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang, didiktekan kepada setiap rakyat yang ada. Menu kurikulum di sekolah memetakan tentang siapa pahlawan dalam pertentangan kaum yang sudah-sudah dan kaum pembangkang.

Kalahkah kami? Aku justru melihat tarian kemenangan di pentas monokrom. Kami kalah, tapi kami adalah meteor zaman. Suatu saat cuplikan sejarah dapat berbalik, dan kami akan didaulat menjadi pemenang.

Advertisements

Sang Pembebas Kata

Aku pernah dengar tentang writers block. Entah sudah berapa kali kudapati mengenai pedoman menulis cerita. Perkenalkan namaku Terata. Publik mengenalku sebagai penulis cerita yang andal. Puisi, cerita pendek, novel – merupakan area jelajah literasiku. Aku praktis menjaga diri dari publik. Aku menciptakan selubung misteri tentangku. Biarlah pengarang mati ketika karyanya telah terpublikasi – begitulah argumenku.

Jika penulis-penulis lain mencari tambahan finansial dengan mengisi kelas penulisan, aku belum pernah sekalipun mengisi sesi semacam itu. Itu karena aku punya 1 rahasia yang tak mungkin kubagi kepada publik mengenai caraku menulis, mengadon cerita.

Berapa banyak ide yang bisa muncul? Dijahit menjadi cerita yang make sense. Tapi ceritaku adalah nyata senyata-nyatanya. Aku melakukan riset mengenai orang yang ingin kutemui. Ku hampiri mereka, kuletakkan tanganku di kepala mereka, dan tersedotlah pikiran, memori, imajinasi, ketakutan mereka.

Dari “bahan” itulah aku dapat mengurai aksara demi aksara. Sedangkan orang yang menjadi targetku akan mengalami penyakit kemunduran ingatan. Jangan hakimi aku jahat, kejam. Hei karyaku menjangkau banyak orang. Kisah 1 orang dapat menginspirasi jutaan orang. Hebat bukan!

Bukankah selalu ada pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar?

Lalu kenapa kisah singkat ini harus tertera? Karena akhirnya, seperti rantai makanan, aku sang pemangsa, menjadi dimangsa. Di senja 3 hari yang lalu, di kafetaria. Anak berkacamata bening itu menghampiriku dengan buku karyaku. Tanpa pikir panjang kutandatangani buku itu.

Dia hanya tersenyum. Tipis saja. Dan berkata, “Putaran itu telah dimulai. Yang memangsa jadi dimangsa. Waktumu telah hampir habis. Aku sang pembebas kata yang baru.”

Dengan sigap dia menyergap kepalaku, sakit sekali rasanya. Seperti paku yang diungkitkan pada daging. Sementara bait-bait ingatanku mulai melompong. 2,5 hari terakhir aku hanya muntah-muntah dengan tubuh yang melemah. Jadi ini perasaan menjadi yang dimangsa.

Maka di sisa-sisa kekuatan, ingatan yang mulai meletih, aku menuliskan warta ini. Anggap saja ini sebagai “pengakuan dosaku” dan peringatan berhati-hatilah kalian terhadap Sang Pembebas Kata.

Revolusi & 2 Pengkhianat Itu

Terkutuklah dua orang itu. Seperti halnya ide-ide revolusi. Terlihat besar, gigantis, menjanjikan masa depan baru. Kau lihat mata-mata mereka yang mengadakan rapat di ruang klandestin. Ah, harusnya aku tahu dan mengerti. Bukankah kisah-kisah, buku-buku yang kubaca memiliki satu benang merah: tiap kali ide revolusi muncul, berhati-hatilah. Kau tak hanya harus berhati-hati dengan kekuatan besar yang siap menerkammu dengan segala daya kuasanya. Melainkan juga dengan mereka yang berbagi kopi denganmu di rapat-rapat di ruang klandestin.

Sederhana saja, pragmatisme. Mereka sekadar menaruh kuping di ide-ide revolusi. Lalu mereka menjual data-data kepada pihak yang berkuasa. Dan di sinilah kami, tertangkap, terciduk, bonyok dalam ruang-ruang gelap. Rekan-rekan revolusionerku pun tak kalah mengenaskannya. Hingga di suatu pagi kulihat duet bajingan pengkhianat itu hadir dengan senyumnya.

Sial betul. Kuberitahu orang yang pertama adalah sosok yang ku pikir mengalami keterbelakangan pengetahuan. Dia begitu banyak kedodoran tentang teori-teori revolusi, bahkan untuk pengertian-pengertian dasar saja dia banyak lubang. Aku yang tak sabaran ini, sering kesal dibuatnya.

“Hei bung, baca buku panduan kita di halaman 71, kau akan dapati mengenai daya kuasa para penguasa,” kataku menanggapi pertanyaannya yang tak krusial.

Tapi dia selalu bertanya soal ini-itu. Dia selalu bertanya tentang siapa-siapa saja yang terlibat dalam rapat-rapat di ruang klandestin. Sial betul, ternyata dia toh sang pengkhianatnya. Yang memang sejak semula tak punya bara revolusi. Hanya penumpang gelap yang menjual informasi kami kepada pihak berkuasa.

Kuberitahu orang yang kedua adalah sosok yang gelar akademiknya terlihat mentereng. Tapi ketika kami ajak olah pikiran, lubang pengetahuannya terlihat menganga. Pernah suatu kali kami coba memberi dia kesempatan untuk menuliskan pemikiran. Amboi, itu hanyalah copy paste di sana-sini dengan typo yang berjejeran. Tapi lihatlah lagak tengiknya yang seolah mengerti tentang ide-ide revolusi.

Maka ketika mereka berdua “menjenguk” kami di sel para pejuang revolusi; pahit menggelayuti kami. Kami melewatkan sisi yang tak terduga, pengkhianat dapat tampil begitu culun, tak menyakinkan. Namun lihatlah bagaimana ide-ide besar kami dikanvaskan.

Penguasa, penguasa yang memberi hambanya uang dan sejentik kuasa, selalu membidani lahirnya para pengkhianat. Dari sel pengap ini kukatakan, “Berhati-hatilah karena pragmatisme dan kekuasaan jangka pendek menjadi melodi yang merdu buat mereka dengan mimpi-mimpi rendah”.

Maka izinkan kami mati dengan mimpi-mimpi dan ide-ide besar revolusi.

Tanah Para Kelinci

WhatsApp Image 2018-07-31 at 6.09.43 PM

Mereka datang ketika kalian sedang menari

Menari tanpa tahu permainan apa yang kalian mainkan

Terlena dalam partisi-partisi perspektif kalian

WhatsApp Image 2018-07-31 at 6.09.09 PM

            Mereka berikan dosis-dosis halusinasi dalam takaran harian

            Lalu kau lupa apa arti berjuang

            Lalu kau amnesia dengan alasan-alasan kenapa revolusi harus terjadi

WhatsApp Image 2018-07-31 at 6.09.24 PM

Di gubuk itu, di kesempitan itu

“Sirkus” datang tiap kali galau menghinggapi benak

Dan kalian terdampar di pulau utopis

Sementara kota kalian bagaikan Roma yang sedang terbakar

Idealisme kalian terbakar dalam diam lagi sunyi

            Suara mesin kapitalisme mengerkahmu

            Dan kau hanya dapat terpana

            Tersingkir dan terlunta di tanah para kelinci

 

Foto: Pameran seni di Semarang

Di Meja Makan

20150503_210003

Di meja makan hanya ada kepala yang bertanya

Robohnya kartu domino

Terungkapnya topeng yang membungkus kata

            Hidangan mulai dingin dan pertanyaan membiak

            Mereka yang semeja denganmu, tak lain yang paling mengetahui celahmu

            Menyadari aksi-reaksimu

            Mengetahui cara otakmu “memilih jalan”

Jangan kau cari di menara tinggi

Atau di negeri seberang

Ia datang di pekaranganmu dengan senyum terkulum

            Racun terbaik bekerja dengan madu kata-kata

            Hingga kau terdampar dan kehilangan pegangan, kompas persahabatan

Di meja makan, kau menatap menu harianmu

Itu dan itu lagi

Kau telah ditikam sempurna dengan segala nama

Pengkhianat selalu punya cara untuk mengheroikkan perbuatannya

            Di meja makan sirna kata-kata

            Kau kehilangan selera untuk menyantap atau berbincang dengan entah siapa

Proyek Menghanyutkan Lara

Di hari kematian puisi

Aku ingin membacakan kisah-kisah kita

Tentang cerita yang lewat dan berkarat

            Aku ingin menghanyutkan lara dalam perahu kertas

            Yang menuju jantung semesta

Kata-kata mati

Ilusi bertakhta

            Lenyapkan gulita dari aksara

Tidurlah, aku akan mengantarmu dalam ayunan cerita

Menimang, menimbang surut selaksa makna

            Jenguk esok hari dengan senyum tersisa

            Matilah kau mampus ketika telah tiba masanya

            Hiduplah dengan memanggul tanya

Habis Percaya

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Aku sudah habis percaya
Pada mereka yang berakrobat bersama kata & berselempang dusta
Karena mereka adalah singa yang akan menerkammu kala ada kesempatan
Karena mereka adalah rubah yang merunduk kala kuasa menerkam tidak di genggaman