Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Pencuri Jiwa (2)

Aku adalah jiwa bagi banyak nama. Maka demi pekerjaanku, aku dapat menjalani “profesi” sebagai siapa saja. Aku dapat menjadi si penyair, politisi, petani, pacar rahasia, demi sebuah pencapaian:memperoleh kekuatan istimewa. Lalu apakah aku bergabung dalam satu payung besar bertitel profesi:pencuri kekuatan istimewa. Aku adalah pencuri yang bertindak merdeka. Sebenarnya ada 1 organisasi besar yang menaungi mereka-mereka para pencuri kekuatan istimewa. Nama organisasinya ialah Tier. Namun jalannya Tier tidak begitu mulus. Sukar bukan untuk menyatukan orang-orang dalam satu organisasi. Jangankan kami yang para pencuri ini, mereka yang konon katanya suci saja hobi bertikai dalam satu tubuh organisasi.

Tier lebih seperti organisasi yang sekedar mempertemukan para pencuri jiwa. Oh iya, ke depannya aku sepertinya akan menyingkat penggunaan istilah pencuri kekuatan istimewa menjadi pencuri jiwa. Alasannya untuk menghemat penggunaan kata dan alasan artistik. Pencuri jiwa sendiri memiliki macam karakter, tipikal, motif. Ya bukankah manusia beragam dan tidak semuanya sama. Ada pencuri jiwa yang menurutku gila karena mencuri kekuatan istimewa tanpa ampun. Obsesinya ialah melibas mereka yang memiliki kekuatan istimewa. Ada pula pencuri jiwa yang motifnya ialah mendapatkan keuntungan. Ada klien yang membayar pencuri jiwa untuk “mengkosongkan” orang. Mengkosongkan orang sendiri berarti menghabiskan kekuatan istimewa dari seseorang. Biasanya ada muatan rivalitas antara klien dengan target.

Bagaimana dengan diriku? Aku sendiri harus mencari makan dan kebutuhan sosial lainnya. Maka aku menerima pesanan pencurian dari klien yang ingin memuaskan nafsu rivalitas. Hei..bayaran untuk pekerjaan pencurian ini benar-benar berselera secara sejahtera. Aku sendiri secara finansial lebih dari cukup. Aku memiliki rumah peristirahatan di dataran tinggi. Tempat tersebut menjadi tetirah bagiku, jika lelah menghinggapi dan aku membutuhkan vakansi.

Dengan kekayaan juga aku dapat melakukan penetrasi ke berbagai lapisan di masyarakat. Dengan kokohnya finansialku maka aku dapat melakukan riset. Aku suka membaca tentu saja. Dan dengan literasi tertulis aku memegang kunci pengetahuan. Aku dapat menghemat waktu, dekat dengan target manakala aku memiliki basis pengetahuan yang memadai.

Lupa adalah bagian dari manusia. Dan setiap target yang berhasil dicuri kemampuan istimewanya akan lupa terhadap si pencuri jiwa. Seberapa dekat pun hubungan antara target dengan si pencuri jiwa, ketika pencurian berhasil, maka target akan lupa 100% kepada si pencuri. Jika suatu waktu berpapasan antara pencuri jiwa dengan target, maka dapat dipastikan si target akan memandang si pencuri sebagai orang yang tak dikenalnya.

Kami, para pencuri jiwa, seperti para nomaden. Yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menyerap kemampuan istimewa. Tidak semuanya sih menjadi nomaden. Pada beberapa orang (terutama para pencuri jiwa yang sudah berumur) lebih memilih untuk tinggal di satu kota atau desa. Aku sendiri lebih memilih menjadi nomaden. Ada beberapa alasan, tentu saja. Aku masih muda, gemar berpetualang, dan aku bosan dengan stagnasi.

Berada di satu tempat, dalam jangka waktu yang panjang, bagiku akan sangat menjemukan. Dengan perjalanan ke banyak daerah, aku menemukan gairah, semangat. Di samping itu ini kesempatanku untuk menjelajahi bumi. Dan sebagai penjelajah yang telah mengarungi ribuan kilometer, menemui variasi orang, aku beritahu kalian satu rahasia. Dimanapun tempatnya akan kau temui senandung duka dan gembira. Akan kau temui sifat manusia yang multiragam (si culas, si dermawan, si licik, si penyayang, si munafik, dan sebagainya).

Dan lagi dengan bermuhibah ke banyak tempat, aku menemui tantangan-tantangan yang seakan tiada habisnya. Aku benci dengan segala keterikatan. Termasuk keterikatan pada tempat. Maka perjalananku dari satu tempat ke tempat yang lain, merupakan upaya untuk tidak terikat. Aku ingin bebas, merdeka. Dengan perjalananku ke berbagai tempat, aku bebas untuk mengenakan berbagai topeng. Aku dapat menyamar intuk mendekati target dengan berbagai samaran profesi. Lalu bagaimana aku menghayati karakter profesi? Literatur jawabnya.

Kekayaan selalu punya cara tersendiri untuk menjawab permasalahan. Maka kekayaanku sesungguhnya merupakan bagian besar dari upaya menjawab permasalahan. Tetapi jangan kalian pikir aku seperti orang-orang bening hati yang membagikan derma kepada mereka yang papa. Menurutku ada bagian dari mereka yang papa layak untuk tidak ditolong. Bagian itu adalah yang berusaha sekedarnya dan seolah takdir telah menetapkan mereka akan tergaris sebagai si miskin. Lalu fungsi sosial apa yang kujalankan dengan kekayaanku? Aku adalah intelektual bayangan. Dan aku bisa katakan itulah fungsi sosial yang kujalani.

Intelektual bayangan yang kumaksudkan ialah aku rajin mendiseminasi gagasan dalam bentuk literasi. Aku memiliki nama pena yakni Roam. Roam sendiri dalam dunia keseharian merupakan sosok yang benar adanya. Roam adalah pengajar di universitas historica. Roam sendiri memiliki basis ilmu sejarah. Aku dan Roam sendiri adalah kisah yang unik. Roam sesungguhnya adalah target dari pencurian jiwaku. Hmm..ingatkan aku untuk menuliskan kisahku dan Roam nanti. Pendek kata, aku si pencuri jiwa, Roam si target. Aku berhasil mencuri dari Roam. Roam lalu “kosong”. Namun berbilang tahun kemudian takdir mempertemukan kami. Dengan cara misterius tersendiri, aku dan Roam kembali bersahabat. Aku jujur mengenai profesiku dan aku mengaku mencuri kemampuan istimewa dari Roam. Roam dan aku setuju pada satu paket perjanjian. Aku akan menjadi penulis hantu dari artikel-artikel Roam yang dipublikasikan ke khalayak luas.

Bersambung

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Pencuri Jiwa (1)

Apakah kau percaya pada cinta? Atau cinta hanyalah proyeksi semu dari kelemahan dan inter dependensi manusia. Aku yang berjalan di lorong-lorong gelap jalan cassanova akan memberi tahu kalian rahasiaku. Dan aku harap kalian dapat dengan bijak menyarikan panel-panel pemikiranku. Aku tahu ada distingsi antara kita. Antara aku si pemberi kabar, si penulis dengan kalian si penerima kabar, si pembaca. Ada perbedaan antara aku dan kau. Dan perbedaan itulah yang membuat penjelasan bagi banyak kata. Ada dominasi, yang tertindas; ada yang pintar, yang bodoh; ada sang pemenang, para pecundang. Kurasa aku cukupkan alinea awal ini, mari ikuti kisahku.

Namaku Rave
Profesiku pencuri

Hei..aku serius mengatakan bahwa profesiku adalah pencuri. Tapi biar kujelaskan pada kalian, aku bukanlah pencuri biasa. Bahkan aku bukan pencuri pada umumnya. Aku adalah pencuri istimewa. Yap aku rasa setiap dari kita harus mempunyai kecintaan terhadap profesi yang dijalani. Apakah kau cinta pada pekerjaanmu? Aku cinta pada pekerjaanku. Aku: Rave si pencuri. Apa yang kucuri? Tidakkah kalian bisa menebaknya? Aku mencuri kekuatan teristimewa dari manusia. Tentu saja aku manusia pula. Baiklah manusia dengan keunggulan lebih, atau sebuah kutukan?

Baiklah biar kujelaskan terlebih dahulu mengenai apa yang dapat aku curi. Aku mencuri kekutan teristimewa dari manusia. Dan kekuatan teristimewa dari manusia berbeda-beda. Ada yang memiliki kekuatan di bidang fisik seperti para atlet; ada yang di bidang ilmu seperti para intelektual; ada yang bidang seni seperti para sastrawan. Aku dapat mencuri kemampuan istimewa mereka. Baik itu keunggulan fisik, intelektual, seni, ataupun yang lainnya. Ketika aku berhasil mencuri kemampuan istimewa maka aku dapat menguasai kemampuan istimewa persis seperti orang yang kucuri. Adapun orang yang kucuri akan menjadi ‘kosong’.

‘Kosong’ adalah istilah yang menggambarkan bahwa kemampuan istimewa dari orang yang dicuri akan benar-benar kosong. Lenyap tak bersisa. Analoginya seperti ini. Engkau sebelumnya adalah si jenius ilmu fisika. Berbagai teori, pemecahan soal yang rumit mampu kau pecahkan. Kau adalah si jenius yang mampu menyelesaikan masalah sambil bersiul membersihkan sepatumu. Dan aku mencuri kekuatanmu. Dan kau menjadi ‘kosong’. Seluruh kemampuan fisikamu lenyap tak berbekas. Rumus dan soal sederhana pun tak mampu kau selesaikan. Lalu bagaimana dengan hidupmu setelah kehilangan kekuatan istimewamu? Dari mereka yang tercuri reaksi pun beragam dan tidak tipikal homogen.

Aku harap kau tidak menjadi hakim atas tindakanku mencuri ini. Mereka yang tercuri, ada yang menjadi gila, pesakitan, bunuh diri. Ada juga yang memulai lembaran hidup baru. Menemukan hobi baru, belajar hal-hal yang selama ini terabaikan, menikmati kebersamaan dengan orang-orang tercinta yang selama ini tersisihkan waktu. Oleh karena itu, aku harap kau tidak menjadi hakim atas tindakanku. Aku tahu banyak orang di luar sana yang menjadi hakim akan segala tindakan. Padahal apa sih yang mereka tahu? Memutuskan perkara adalah perihal yang rumit. Kau membutuhkan informasi yang komplet, juga kebijaksanaan dalam memutuskan.

Biar kuberitahu satu hal manusia yang kerap luput dari para penilai tindakan itu. Mereka alpa pada sejarah, riwayat hidup dari seseorang. Mereka dengan serampangan “mengetuk palu” dengan berbasiskan satu tindakan yang nyata terjadi. Mereka jarang bertanya mengapa si pelaku melakukan ini? Apa latar belakang si pelaku. Dan aku benci pada mereka yang “mengetuk palu” tanpa dasar sejarah. Kebencianku akan bertambah apabila para hakim juga mengabaikan riwayat hidup si pelaku. Mereka sibuk dengan pasal demi pasal, kronologi kejadian, cekcok pembela-terdakwa di ruang sidang. Banyak kiranya para hakim yang abai terhadap siapa sesungguhnya si pelaku.

Aku sendiri merupakan orang yang peduli pada siapa sesungguhnya si pelaku. Karena itu adalah bagian penting dari pekerjaanku. Untuk dapat mencuri kekuatan istimewa dari seseorang aku harus mengetahui siapa sesungguhnya orang tersebut. Tanpa pengetahuan detail asli mengenai siapa orang tersebut sesungguhnya, aku tidak akan dapat mencuri. Aku hanya dapat mencuri kekuatan istimewa, ketika orang yang kujadikan target dapat kuketahui rahasia-rahasia dari masa lalunya. Untuk mengetahui rahasia masa lalu target, aku dapat memperolehnya dari pengakuan lisan mereka ataupun bukti-bukti fisik seperti tulisan, ataupun karya mereka. Seperti detektif.

Aku dapat mencuri ketika mampu mengkonstruksi masa silam target. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah sobat. Aku harus memastikan masa silam target benar adanya. Hmm..dan kau pasti mafhum setiap dari kita memiliki kecenderungan untuk berbohong. Ada yang ingin mengubur masa lalunya, membangun cerita masa lalu yang palsu, dan serangkaian kekaburan tentang kebenaran era terdahulu. Aku harus memainkan banyak “kartu” untuk dapat menguak tabir masa lalu dari target. Dan aku bisa menjadi apa saja, aku bisa menjadi siapa saja bagi target.

Bersambung

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Ardova

Aku berdiri di katedral zaman, kulihat bangunan megah, elok, lagi mantap menunjukkan warnanya. Bendera berkibaran disana-sini, angin berhembus, lalu kusadari aku telah berada di puncak. Puncak sebuah bangunan yang tiada alang kepalang indahnya. Di hamparan bawahnya kulihat lampu-lampu kota berjejeran. Taman-taman hijau lagi permai. Burung-burung berkicauan. Inilah peradaban. Taman yang untuk kemudian dialiri dengan aliran sungai yang berkeciplakan. Suara arus air yang menderas. Hari itu telah tiba. Hari itu telah nyata.

Aku mengenakan pakaian ksatria. Pakaian yang tiada sembarang orang dapat memakainya. Pakaian ini merupakan pakaian khusus yang dirancang dengan gaya arsitektur yang khas. Pakaian itu berwarna perak dengan jahitan berbendera lambang kerajaan. Lambang yang telah menjadi logo turun temurun. Pakaian itu juga khas, dengan kancing menawan.

Aku mengenakan pedang di sisi kiriku. Pedang itu berintikan permata, serta ornamen berliukan, kulihat suatu karya kemanusiaan disana, hasil dari karya manusia. Pedang itu tiada seberapa panjangnya, namun berhati-hatilah dengan ketajamannya. Pedang itu terbuat dari baja, yang mampu membelah, menseparasi yang tadinya utuh menjadi berkeping. Pedang itu amat elok di genggaman, kokoh di tangan serta memiliki daya hujam yang tinggi. Lalu kulihat perisai cokelat di samping sepatu berlars cokelat dengan tali yang masih terjuntai. Perisai itu terdiri dari gerigi-gerigi tajam, dengan paku siap menghantam, apabila diperluakan. Lengkaplah sudah peralatan tempurku, dengan peralatan tempur itu kuikat kekang sepatuku. Aku melangkah menyongsong hari itu.

Terompet ditambuh, hamparan karpet merah, panji-panji kerajaan, meja beserta makanannya di sana. Orang-orang bergumam dengan tingkah polanya. Inilah harinya bagiku. Hari bagiku untuk dinobatkan sebagai pangeran. Peran yang memegang peranan penting, nantinya amat berarti serta mengerti bahwasanya dibalik semua yang terlihat di kasat mata makmur, sesungguhnya terdapat gerakan-gerakan. Gerakan-gerakan yang pada nantinya akan menentukan eksistensi kerajaan yang disusun sekian lama ini.

Tatapan mata melihat kedatanganku, menuju tempat yang rasanya begitu lama kutiba Tibalah aku dengan tatapan kebapakan raja. Ayahku. Ia melihatku dengan mata tenangnya. Ada cinta disana. Cinta generasi, cinta turun temurun. Aku tahu benar didiriya tersimpan harap, tersimpan cita-cita untuk memakmurkan negeri ini, di bawah kerajaannya. Namun, tahukah ayah akan bahaya yang melanda, bahaya yang dapat tiba sewaktu- waktu. Tahukah ayah, bahwa di dalam kerajaan ini, di antara staf, menteri, aparatur pemerintah ini terdapat komprador-komprador yang siap mengintai dan memanfaatkan setiap celah dan kesempatan, untuk kemudian menggunakan momentum itu, untuk kepentingan dirinya. Ayah, tiada tega aku mengatakannya, tiada tega aku menuturkannya terlebih ayah belum lama sembuh dari penyakit yang menerpanya.

Biarlah informasi ini kusimpan sendiri, sembari nanti kucarikan pemecahan masalahnya. Aku ingin menjadi problem solver tanpa melibatkan ayahku, lalu nanti kupilah dan kupilih orang- orang yang dapat kupercaya, karena hal ini teramat genting lagi rumit dalam suatu ketenangan yang menenangkan.

Sentuhan di bahu, menyadarkan aku. Aku terbangun dari lamunanku. Seketika aku kembali ke alam realita kembali dengan wajah-wajah yang telah menungguku.

…Bersambung …

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Aku ?

Ruang-ruang ini kini sepi. Kehilangan warna pelanginya yang ceria. Sekarang hanya ada tiga warna yang menjadi warna jiwa. Hitam, Putih, dan paduan dari hitam-putih. Ada yang salah, ataukah memang seperti ini dunia sebenarnya. Di depan laptop, diantara tumpukan pekerjaan yang menanti penyelesaian. Diantara waktu-waktu yang berkejaran, pernahkah tanya itu bersenyawa dalam pikiran: Dimanakah Fiksi Fantasi?

Konon hujan, dapat membangkitkan nuansa positif. Namun, tidak hujan pada titik waktu ini. Hujan tak lebih dari sekedar limpahan yang akan mengundang kebecekan, serta kemacetan di Jakarta. Jakarta, tempatku bergulat dengan seonggok senyum palsu dan kemunafikan. Sejak kapankah persepsi terhadap hujan, menjadi begitu satir? Sejak sentuhan jiwa fiksi fantasi hilang dari hikayat orbit diri?

Interupsi di benakku tiba-tiba memutar pada mozaik waktu masa kecil dahulu. Masa kecil ialah masa permainan. Berlarilah secepat mampu kau berlari. Tenggelam dalam dunia games yang serialnya tidak kunjung usai. Sekilas ada tawa yang terbit, ketika mengingat masa fase awal hidup tersebut. Segalanya begitu ringan, penuh pelangi, ada tawa yang begitu lepas, ada letupan pertanyaan dan cita-cita yang menanti setiap kalinya. Lalu, konon katanya kita semakin dewasa, semakin tua, semakin matang.

Tawa lepas berkurang, mainan disimpan dalam almari sejarah. Berbeda kini dunianya. Ini evolusi hidup. Lalu, lemparan topi toga dilemparkan dan selamat bertarung mencari kerja di negeri yang berlimpahan para sarjana pengangguran. Setelah melewati serangkaian pencarian kerja, interview, psikotest, lapis demi lapis seleksi, terterimalah kerja. Lalu, hidup berjalan dalam equilibrium yang berbeda.

“Kamu kini berbeda,” tuturku suatu waktu di depan cermin. “Kamu telah membawaku ke negeri amnesia kini. Kamu menggali kubur, dengan tanganmu sendiri. Kamu bahkan tidak mengucapkan kata-kata penguat jiwa di saat-saat pembaringan ini.”

Aku bertanya padaku. “Siapa kamu?” tanyaku di depan cermin.

Dengan senyum mengejek Aku yang terefleksi di cermin berkata, “Aku adalah Fiksi Fantasimu. Aku adalah duniamu. Tidakkah kau kenali Aku?”

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Fiksi Fantasi, novel, Resensi Buku, sastra

Pengalamanku Membaca The Bartimaeus Trilogy

Di bilangan waktu, saya berada di Kinokuniya Plaza Senayan. Berada di tempat yang benar-benar memanjakan bagi pelahap buku. Suasana yang nyaman, buku-buku yang keren (harganya juga banyak yang lumayan “keren”..hehe..). Di seksi novel, lagi-lagi mata saya tertuju pada buku itu. Covernya sesosok makhluk memegang benda berbentuk lingkaran seperti jam klasik bertali. Sudah beberapa waktu, saya maju mundur untuk membeli buku ini. Membeli buku bagi saya merupakan investasi. Uang pastinya keluar, dan dari sejumlah uang yang tertukarkan tentunya (wajar) jika berharap akan mendapatkan kompensasi yang oke.

Saya baca kembali uraian singkat di belakang bukunya. Kisah kelam yang memikat..kisah paling inventif dalam beberapa tahun terakhir..Saya lihat lagi cover depannya. Saya timbang lagi buku ini adalah serial best seller dari New York Times. Beli ngak..beli ngak.., begitulah pendulum yang ada di mahkamah pertimbangan saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku pertama dari The Bartimaeus Trilogy yang berjudul Amulet Samarkand. Saya baca hari itu juga buku Amulet Samarkand. Kali ini saya berpindah tempat dengan memilih Senayan City, di bangku yang tersedia untuk umum.

Saya selalu percaya salah satu parameter apakah karya itu bagus atau tidak dengan membaca awal cerita. Meski parameter membaca awal ini beberapa kali meleset, tapi jika dikonversikan lebih besar probabilitas benarnya. Dan saya pun membaca dengan harapan novel ini keren. Dan wow…saya benar-benar mendapatkan kesegaran dari cerita ini. Benar-benar hook awal yang menohok dan membesarkan ekspektasi terhadap buku ini. Kisah dimulai dengan pemanggilan Jin oleh Nathaniel. Bagaimana deskripsi detil yang diungkap pengarang serta tempo cerita yang segar dan tidak berlama-lama, membuat saya include dalam dunia buku ini. Jadilah saya memutuskan meneruskan membaca, dari niat awal sekedar ingin menjajaki membaca awal, menjadi tahap keranjingan.

Halaman demi halaman tersantap dengan riang dan penuh dengan nuansa petualangan. Saya mencukupkan membaca, untuk kemudian melanjutkan membaca di rumah hari itu. Itulah pengalaman awal saya dengan serial The Bartimaeus Trilogy yang masih terpeta jelas hingga sekarang. Entah sudah berapa kali, saya membaca buku ini dikarenakan saya benar-benar terpikat dan akan merekomendasikan pada para pecinta fiksi fantasi. Kisah Bartimaeus merupakan cerita yang komplet.

Ada beberapa hal yang menarik dari kisah The Bartimaeus Trilogy. Pertama, sudut pandang. Sebelumnya saya pernah membaca karya Orhan Parmuk yakni My Name is Red; lalu belakangan pernah pula membaca Penyihir dari Portobello karya Paolo Coelho, yang memotret cerita dengan menggunakan banyak lensa. Berbeda dengan karya Parmuk dan Coelho, yang menurut hemat saya meski mencoba menggunakan banyak lensa untuk membedah suatu cerita, namun sukar untuk memilah perbedaan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Tone, warna, dari tokoh yang mestinya beragam, nyatanya dihidangkan dengan karakter dasar dan fundamental yang sama pada kedua kisah dari Coelho dan Parmuk.

Dalam serial The Bartimaeus Trilogy, teramat terasa tone, warna, dari tokoh utama dalam memperlihatkan perspektifnya terhadap suatu peristiwa. Apa perihal yang menyebabkannya? Pilihan kata (diksi), pemikiran dari tokoh. Dari diksi dan pemikiran tersebut, pembaca benar-benar dibawa pada kenikmatan dan dihadapkan pada benturan konsep. Suatu waktu bisa jadi pembaca prefer pada ide dari Nathaniel (penyihir pria), suatu waktu bisa menjadi prefer pada Bartimaeus (jin) yang mengutarakan konsepnya dengan lugas serta berbekal referensi historis, suatu waktu bisa prefer pada Kitty (anggota Resistance dan commoner) yang memiliki keberanian, ketajaman lidah.

Pengombang-ambingan konsep dalam memandang terasa memikat dikarenakan terasa betul akar yang menyebabkan tokoh ini memilih pemikiran ini dan tokoh yang lain memilih pendekatan yang berbeda. Wow..bagi saya ini benar-benar merupakan pendekatan unik untuk menguraikan cerita yang begitu segar, cerdas, dan apik. Sudut pandang yang berbeda menjadikan cerita novel ini kaya dan pembaca akan tidak mengalami monoton pembacaan. Vitalitas, energi, daya gerak dari novel ini terjaga dari awal sampai akhir.

Kedua, Bukan sekedar kisah sihir. Jonathan Stroud (pengarang trilogi ini) mampu untuk menghadirkan dunia sihir yang utuh. Dunia sihir yang ditampilkan bukan sekedar keajaiban-keajaiban yang bergerak di luar orbit normal kita, melainkan diberikan atmosfer rasa kemanusiaan yang kuat. Ada setting yang rigid dan begitu hidup. Dari setting ini bagaimana pembaca dibawa era Inggris kontemporer dengan perspektif yang berbeda dengan saat ini. Pemerintahan di Inggris Raya dipimpin oleh sekelompok penyihir, sedangkan mereka yang tidak memiliki kemampuan sihir (commoner) harus menerima nasibnya sebagai warga negara lapis berikutnya yang rentan dengan praktek eksploitasi, ketidakadilan.

Disadari atau tidak stratifikasi macam begini sebenarnya terjadi di dunia. Okelah tak ada penyihir, commoner ataupun tak terjadi lapis brahmana, ksatria, waisya, sudra, tapi bukankah terdapat distingsi, disparitas yang besar anatara yang kaya dengan miskin? Bukankah ada yang merasa istimewa dan menjadikan kalangan lainnya layak dieksploitasi? Jiwa cerita dari serial Bartimaeus yang koheren dengan kondisi dunia kontemporer inilah yang menjadikan terjadinya koneksi langkah dengan dunia yang kita jalani ini.

Trilogi ini mampu untuk menciptakan “dunianya” dengan berlatar sejarah dunia yang terjadi di dunia kita, serta mengambil semangat perlawanan dari kisah kehidupan dunia kita. Akan anda dapati sejumlah nama, tempat, yang nyata di dunia kita. Kenyataan ini memudahkan pembaca untuk mengikuti cerita. Terus terang terkadang dalam cerita fiksi fantasi, nama orang, tempat, begitu ribet sehingga sukar diucapkan atau diingat memori. Pendekatan yang dilakukan Stroud (pengarang) dengan menggunakan konsep yang telah kita ketahui (seperti Kota London, Praha, Gladstone) menjadikan pembaca tidak dipusingkan dengan urusan nama yang complicated.

Terkait dengan menciptakan “dunia”, Stroud menciptakan “dunia” tersebut dengan landasan basis riset dan dipadukan dengan imajinasinya. Menarik bukan, bagaimana imajinasi tidak liar seliar-liarnya, tapi ada sikap ilmiah dari pengarang yang membuat pembaca tertarik untuk mendalami ilmu sejarah, politik, sosial, dan lainnya dengan membaca kisah trilogi ini. Beberapa sejarah dalam “dunia” Bartimaeus coba untuk direkonstruksi dari pemahaman umum yang telah kita ketahui. Dengan melibatkan para jin dalam sejarah dunia. Perspektif tersebut memantik spirit pencarian ilmu sekaligus menjadikan cerita tetap connect, seolah-olah “dunia” Stroud nyata. Stroud berhasil menyakinkan dengan kuat bahwa “dunia-nya” eksis.

Dari segi cerita, Stroud mampu menghadirkan Inggris yang kelam dengan sifat ketamakan yang kentara pada manusia. Alur cerita berjalan cepat dan tidak terombang-ambingkan dalam sejumlah hal bertele-tele yang tidak perlu. Segenap sudut mampu dibangun oleh Stroud untuk menjadikan cerita ini berbobot, berisi, dan menarik kiranya. Bagaimana cerita mampu memadukan antara flashback dengan alur maju, tanpa kehilangan jiwa ceritanya. Sebuah racikan yang mengagumkan.

Dari segi tokoh, pembaca akan dibawa pada ide dari para tokoh utama. Sukar rasanya untuk tidak terpikat pada Bartimaeus, Nathaniel, Kitty. Bartimaeus yang memiliki karakter suka menghindari masalah, cerdik, memiliki lidah semasam cuka, akan menempel pada ingatan
pembaca. Perkembangan hidup Nathaniel yang teramat terasa dari serial 1-3, akan mendapati nilai-nilai dasar kemanusiaan, serta godaan dunia. Kitty dengan basis sejarah hidupnya yang diceritakan di serial kedua (The Golem’s eye), akan menjadi sosok pemberontak yang humanis.

Saya tidak akan membeberkan ending dari cerita epik ini, tapi cukuplah saya katakan amazing untuk akhiran dari cerita ini. Begitulah laporan dari pengalaman saya membaca Bartimaeus Trilogy. Kisah sihir yang tampil teramat humanis yang meampu untuk melesatkan imajinasi sembari memberikan nilai-nilai kehidupan. Selamat membaca…

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Morgana (1)

Ponselku berbunyi. Pertanda satu pesan masuk. Begini bunyi pesannya:”Jangan lupa ya, besok di taman Suropati.” Ada begitu banyak pesan yang pernah masuk dalam ponselku. Beberapa kusimpan, beberapa kuhapus. Namun, hanya satu nama yang tetap berada dalam rekam jejak inbox handphone-ku. Nama itu adalah Kirana. Kirana adalah rangkaian keindahan yang bertumbukan dalam satu simetri. Haruskah Aku menggambarkannya kepada kalian mengenai Kirana ini?

Baiklah kuberikan rinciannya beberapa inchi. Kirana adalah kecerdasan dalam kata. Dia adalah sosok yang piawai dalam mengartikulasikan kata. Beri dia satu topik, maka dia akan dapat memberikanmu kuliah monolog setengah jam tanpa jeda. Setelah setengah jam, dia akan mengambil rehat sekitar 3 menit, untuk kemudian melanjutkan kuliah monolognya selama setengah jam bagian kedua. Kirana adalah keberanian yang otentik. Jika dia berkeinginan sesuatu, maka dia akan menunaikan apa yang diinginkannya. Trofi keberaniannya berjejeran mulai dari travel sendirian ke daerah Timur Indonesia, mencoba varian olahraga ekstrem, dan banyak lagi “kegilaan” lainnya.

Kenapa Kirana menarik bagiku? Mungkin karena dia adalah opposite attract bagiku. Dia adalah antitesis bagi berbagai hal dalam diriku. Dan Aku menyukai segala macam konfrontasi dalam kata yang kami ciptakan. Aku menyukai pertikaian konsep antara kami. Karena itulah menarik, semacam chemistry dari 2 kutub unsur yang berbeda.

Hanya ada satu permasalahannya. Aku belum pernah mengungkap rasa kepadanya. Setiap kali momentum agak kondusif bagiku untuk mengartikulasikan rasa, tiba-tiba lidahku seperti kecut, terikat, terkunci. Dengan segala pesona dan keatraktifannya, Aku merasa tinggal tunggu waktu saja sampai seorang dari kaum Adam menyatakan rasa kepadanya. Beberapa skema rencana telah kubuat untuk mengutarakan rasa, tapi seketika ketika kami bertemu muka, skema rencana tersebut bubar jalan.

Keesokan Harinya di Taman Suropati

Aku tiba lebih dulu setengah jam dari temu janji dengan Kirana. Aku duduk di bangku taman. Sembari menunggu, Aku mengeluarkan buku sketsaku dan Aku pun mulai menggambar apa yang terlintas di benakku.

“Introvert akut,” ujar seorang muda dengan rambut yang bergelombang.
Aku mengangkat mataku dari buku sketsaku. Dan menatap sosok muda yang duduk di sebelahku sembari memperhatikan pola gambarku. Sosok muda ini selain memiliki rambut seperti gelombang juga memiliki warna mata abu-abu.

“Kau bicara padaku?” tanyaku.
“Tentu saja padamu tuan introvert akut.” Sosok muda itu menjawab sembari mengulum senyum. “Introvert akut, pemalu, memendam berbagai pikiran dan perasaan.” Sosok muda itu mempreteliku tanpa ampun.

“Darimana kau…,” lidahku kelu kali ini. Seingat deret memoriku aku belum pernah bertemu dengan orang muda ini. Lalu darimana dia bisa mengkalkulasi aneka ragam karakterku.
“Dari gambarmu Aku dapat membacamu,” tutur sosok muda itu seolah dapat membaca tanya dalam benakku.

“Bagaimana kalau Aku memberimu keistimewaan dan pada akhirnya kau akan boleh memilih untuk menggunakan atau membuang keistimewaan itu?” sosok muda itu bertanya sembari menatap mataku erat.
“Keistimewaan yang dapat menjadi bifurkasi bagi seluruh hidupmu. Mulai hari ini dan selamanya,” tambah sosok muda dengan warna mata abu-abu itu.
“Siapa kau?” ujarku mengutarakan skeptisme.
Sosok muda itu hanya tersenyum tipis.

“Aku adalah Aku. Meski banyak kesempatan untuk merubah Aku, Aku tetaplah Aku.”.
Hmm…kalian memahami apa yang dimaksudkan sosok muda ini?
“Aku hanya ingin berkata ketika keistimewaan ini telah kuberikan kepadamu, kau akan berada pada labirin probabilita, dilema, dan pilihan. Aku harap akhirnya kau dapat memilih dengan bijak. Keistimewaan ini dapat melahapmu tanpa sisa.”
“Hmm..keistimewaan apa?” tanyaku masih tak mengerti dengan segala ini.
“Kau akan tahu,” tutup sosok muda itu.

Ponselku berdering.
“Udah dimana?” tanya Kirana ceria.
“Bangku taman, deket orang-orang yang lagi main biola rame-rame.”
“Oke 5 menit lagi ya, gw kesana. Jangan ngelayapan kemana-mana ya. Tetap di tempat,” rentet kata dari Kirana.

Dari ekor mataku, Aku melihat sosok muda dengan rambut bergelombang itu berlalu meninggalkanku ketika diriku sedang menerima telepon dari Kirana. Apa gerangan maksud dari segala yang diutarakan sosok muda itu. Namun tebakan katanya seperti melucutiku pada satu kesadaran. Introvert, pemalu, memendam berbagai pikiran dan perasaan. Lamunanku seketika dibuyarkan oleh Kirana yang datang menghampiriku sembari berlari.

“Nih gw bawain donat kampung kesukaan loe,” ceria kata dari Kirana.
“Ngapa loe bengong aja kesambet ya?” Udah boring ama donat? Mabok sayur asem? Mo gw bawain makanan lain?”

Aku sekelebatan mendapatkan dorongan adrenalin dalam tensi tinggi. Segera Aku membuka tasku dan mengeluarkan buku sketsa gambarku yang satu lagi. Buku sketsa gambar yang selama ini tersimpan erat dalam pikiranku dan lorong-lorong harapan. Aku menyerahkan buku sketsa gambar itu pada Kirana.

“Apaan nih? Gambar loe yang lain? Baru gw liat nih buku sketsa?” rentet tanya Kirana.
“Udah lihat aja gambarnya bawel,” tuturku confidence.
Aku pun melahap donat kampung itu pelan-pelan. Sementara Kirana mulai membuka lembar demi lembar buku sketsaku. Perubahan di muka Kirana kentara terlihat ketika dia perlahan membuka halaman demi halaman lembar sketsaku. Reaksinya seperti lembar buku yang terbaca.

“Ini semua tentang loe,” ungkapku memecah hening yang muncul seketika.
“Bagus banget…loe gambar gw dalam satu buku sketsa ini. Penuh, gw merasa seperti putri dalam dongeng,” ujar Kirana dengan mata kekaguman dan keterharuan.
“Jadi, mau ya?” tanyaku cepat.
“Kau jadi putrinya, Aku jadi ksatrianya.”
“Dan kita hidup bahagia selama-lamanya.”

Tapi apakah kalian percaya pada kisah happy ending?

(Bersambung)

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Fiksi Fantasi, novel, sastra

Equilibrium (1)

Keresahan itu selalu mengganggu equilbriumku. Dan kata “keresahan” selalu hadir tanpa prolog dan datang seenaknya di bilangan waktu tak terkira. “Keresahan” itu datang ketika ku dulu mereguk ilmu di bangku sekolah, “keresahan” itu hadir ketika aku berada di lintas perjalanan, “keresahan” itu hadir ketika aku dalam pekerjaan kantoranku, “keresahan” itu hadir tanpa pesan. Jadilah aku terpecah konsentrasi. Jadilah aku sekedar fisik disini, namun jiwa di tempat yang berbeda.

“Keresahan” itu berupa keinginanku untuk menjenguk dunia fiksi fantasi. Kecintaanku pada fiksi fantasi sendiri, entah bermula dari umur berapa. Literatur ilmu sosial berbicara tentang sosialisasi politik, dan kupikir sosialisasi politik yang kualami terhadap dunia fiksi fantasi telah begitu lama dan dalam. Cetakan dasar kepribadianku terlalu kokoh. Aku telah hidup dalam nadi fiksi fantasi.

Dari keluargakah asal “keresahanku” terhadap dunia fiksi fantasi? Hmm..aku pikir banyak benarnya ada pengaruh dari keluarga. Fiksi fantasi adalah resistensiku, kastil imajinasiku, pulau utopisku, proyeksi cahaya dari himpitan. Nanti akan kuceritakan tentang keluargaku yang membentukku menjadi cinta 100% terhadap fiksi fantasi. Kalau kalian mau melihat loker sejarahku maka akan kalian dapati begitu banyak jejakku yang terkait dengan fiksi fantasi.

Loker sejarah itu biar kubuka perlahan halamannya. Halaman awalnya yakni Aku suka menggambar, membuat cerita, aku juga bisa membuat lagu. Tapi jangan kalian katakan, aku orang yang populer selama di sekolah dan kini ketika aku berada di dunia kerja. Aku seperti bayangan dalam komunitas yang kusinggahi. Dalam beberapa kesempatan orang akan lupa siapa namaku. Mereka bahkan kerap lupa bahwa aku hadir dalam suatu temu bersama dengan mereka.

Dan kalian tahu, pada beberapa bagian, aku suka menjadi bayangan. Menjadi bayangan membuatku menjadi enigma. Aku bukanlah buku yang lembar halamannya mudah terbaca. Aku bukanlah facebook yang bebas dan terbuka untuk dilihat oleh siapa saja. Aku adalah teka teki sejati.

Apakah kalian percaya pada keajaiban? Apakah kalian percaya bahwasanya hidup ini dapat berbeda dari yang normal kelihatannya? Apakah kalian percaya pada “kehidupan kedua”? “Kehidupan kedua” yang kumaksud seperti Harry Potter yang begitu terkenal di Hogwarts ataupun dunia sihir; seperti Percy Jackson yang ternyata memiliki genetik super dari Poseidon. Kehidupan kedua yang mampu menjungkir balikkan segala keadaan tepat di titik kita berdiri saat ini. Berpindah kutub secara ekstrem.

(Bersambung)