Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sejarah

Soekarno Juga Manusia

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar nama Soekarno? Keberaniannya melawan pihak asing dengan mengatakan ‘go to hell with your aid’, nasionalisme dan internasionalismenya, proklamasi yang dilakukannya, orasi pidatonya yang menggelegar. Film Soekarno: Indonesia Merdeka yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo boleh dibilang menempatkan Soekarno sebagai seorang manusia. Selama ini mungkin pesona publik telah sampai pada taraf mengkultuskan sang putera fajar ini. Dari rangkaian spanduk, poster tentang Sukarno, dari salah satu partai besar di Indonesia apakah yang dijual adalah pemikirannya atau sekadar sosok mitologis agungnya?

Jika mendedah secara historis dan keilmuan akan didapatilah bahwa sang putera fajar pengagum tokoh Bima ini adalah manusia biasa. Sepanjang menonton film Soekarno: Indonesia Merdeka sejumlah literatur terkait beliau muncul di otak saya. Sebut saja mengenai hubungannya dengan Inggit Garnasih, maka saya terbetik ingatan pada buku Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno karya Ramadhan K.H. Ketika Soekarno muda belajar orasi, maka saya terbetik ingatan pada buku Sukarno: Paradoks Revolusi Indonesia. Ketika sejumlah wanita penghibur dilokalisasi untuk memenuhi nafsu para tentara Jepang, maka saya terbetik ingatan pada majalah Historia nomor 3 (halaman 35-66) yang membahas Perempuan dalam Cengkraman Jepang. Ketika Soekarno menyampaikan dasar-dasar negara yang dikenal dengan Pancasila, saya pun teringat pada buku Tudjuh Bahan2 Pokok Indoktrinasi.

soekarno

Jika meminjam kalimat dari Goenawan Mohamad maka “sang tokoh akan dianggap telah selesai, tinggal dipuja. Ada yang membeku dalam dirinya.” Maka dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ini maka sang proklamator ini “dihidangkan” kembali ke alam realitas kekinian dengan menghadirkan sisi kemanusiaannya. Soekarno dapat sakit seperti terserang malaria, Soekarno dapat galau terkait cintanya dengan Inggit dan Fatmawati, Soekarno yang berdebat dengan Sjahrir dan para pemuda, dan lain sebagainya.

Dalam kajian ilmu sejarah di luar negara merupakan sudah lazim untuk meneropong seorang tokoh sejarah secara lengkap. Bahkan hingga kisah ranjangnya diungkap. Sedangkan di negeri ini pembelajaran sejarah memang masih kerap terdistorsi. Rezim pemerintahan di masa lalu berkenan untuk menghegemoni makna dan wacana. Seperti diungkap oleh George Orwell dalam novelnya 1984 bahwa Who controls the past controls the future; who controls the present controls the past.

Masyarakat negeri ini juga seyogianya mulai membiasakan diri untuk menerima ragam versi dari sejarah. Masyarakat juga harus mulai menerapkan sikap ilmiah terhadap tokoh sejarah, bukan sekadar memperlakukannya sebagai tokoh yang beku, mitologis, dan tidak dapat diperdebatkan.

1984

Meneropong sosok Soekarno memang bukan merupakan hal yang mudah. Ada multifaset disana. Mana kiranya yang harus dipilah dan dipilih dari sisi kehidupan Presiden pertama Republik Indonesia ini. Maka dipilihlah mozaik ketika Soekarno kecil, Soekarno muda yang memberontak, dipenjara hingga menghasilkan pidato Indonesia Menggugat, masa pengasingan di Bengkulu, masa pendudukan Jepang, hingga mencapai kulminasi pada proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Dibedah secara sisi humanis, Soekarno juga memiliki banyak sisi yang menarik untuk ditelusuri dan diangkat. Pembuat film ini bisa saja tergoda untuk mengulang resep sukses tokoh sejarah yang dipadukan dengan kisah cintanya. Film Habibie & Ainun merupakan contoh otentik dan generik yang merengkuh sukses luar biasa. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka ada kisah cinta, namun rumit. Soekarno yang telah beristrikan Inggit Garnasih, untuk kemudian di masa pengasingannya di Bengkulu tertarik kepada Fatmawati.

Penyambung Lidah

Inggit yang dengan apik dimainkan oleh Maudy Kosnaedi ini memang merupakan sosok yang berperan besar bagi seorang Soekarno. Sebelumnya Soekarno pernah menikah dengan Oetari, lalu kemudian bercerai. Inggit semula adalah ibu kost dari tempat Soekarno bermukim. Perbedaan usia selama lebih dari 1 dekade tiada menjadi halangan bagi Soekarno dengan Inggit untuk memadu kasih. Dalam film Soekarno: Indonesia Merdeka bagaimana dilema disajikan ketika Soekarno terpikat hati yang lainnya, problema dimadu, tiada memiliki keturunan.

Cinta ini rupanya berdampak sistemik bagi Soekarno. Namun hidup harus memilih, dan dengan berat hati Soekarno menceraikan Inggit dan menjemput takdir lainnya yakni bersama Fatmawati.

Bagian lainnya yang sarat kontroversi tentu saja ketika masa pendudukan Jepang. Perlu diingat pilihan Soekarno untuk bekerja sama dengan Jepang memang menuai kecaman dari beberapa kalangan. Kecaman itu digambarkan dengan pelemparan batu rumah Soekarno di Pegangsaan Timur Nomor 56, debat seru dengan Sjahrir.

soekarno-hatta

Soekarno juga terlihat “lemah” ketika harus berkompromi dengan memberikan alternatif dengan menghadirkan wanita-wanita penghibur untuk memuaskan hasrat seksual para tentara Jepang. Pun begitu dengan pengerahan kerja paksa dalam bentuk romusha. Bagaimana Soekarno digambarkan sebagai ikon propaganda dari kalangan pihak Jepang. Tentunya hal ini memerlukan kecermatan sejarah untuk menjawab mozaik masa pendudukan Jepang tersebut. Maka saran saya adalah silahkan sidang pembaca untuk membaca majalah Historia nomor 3 halaman 35-66 yang dimana akan memberikan pengetahuan mengenai para ianfu di masa pendudukan Jepang tersebut. Dengan pengetahuan sejarah tersebut maka akan menghindari penilaian, penghakiman yang tendensius. Seperti disarikan dari pendapat Pramoedya Ananta Toer dalam Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer: “Aku percaya kalian tidak akan suka menjadi korban bangsa apapun. Juga tidak suka bila anak-anak gadis kalian mengalami nasib malang seperti itu. Artinya, kalian juga tidak akan suka bila ibu-ibu kalian –para perawan remaja pada 1943-1945- menderita semacam itu.”

Sisi lainnya yang menarik dari film Soekarno: Indonesia Merdeka ini dalam hemat saya adalah silang pendapat antara Soekarno-Hatta-Sjahrir. Sayangnya Sjahrir yang intelek, diperankan terlalu meledak-ledak, dan terlihat sekilasan sebagai “antagonis”. Meski ketika detik-detik menjelang proklamasi diperlihatkan bagaimana Sjahrir (diperankan Tata Ginting) turut menyokong Soekarno-Hatta, namun kesan meledak-ledak dan “antagonis” belum sepenuhnya luruh. Sedangkan Hatta (diperankan Lukman Sardi) mampu memperlihatkan ketenangan, kehati-hatian, visioner.

chess

Seperti dituturkan oleh Herbert Feith bahwa tipikal Hatta adalah administrator sedangkan Soekarno adalah pembentuk solidaritas. Hatta dengan cermat mengutarakan kekhawatirannya yang terbukti di kemudian hari. Mulai dari bentuk pemerintahan, otonomi daerah, ketimpangan antardaerah, dan sebagainya.

Adapun mengutip pendapat dari Goenawan Mohamad mengenai adminstrator dan pembentuk solidaritas dapat dilihat dalam paragraf berikut (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2, hlm. 479):

Soekarno menciptakan simbol dan menekankan kembali tuntutan mesianis serta janji-janji Revolusi. Hatta menyusun kebijakan administratif dan mendesakkan perlunya realisme. Seorang “administrator” menekankan perlunya legalitas dan terpeliharanya kontrol. Seorang “pembentuk solidaritas” bicara dengan hati bergelora tentang rakyat – tentu saja “rakyat” bukan sebagai kenyataan yang terbagi-bagi, melainkan suatu keutuhan, suatu daya, suatu gairah.

film Soekarno

Saya teringat dengan uraian sejarawan Asvi Warman Adam bahwa tujuan utama penulisan biografi adalah mencoba menangkap dan menguraikan jalan hidupnya dengan lingkungan sosial-historis yang mengitarinya. Tujuan kedua biografi adalah memberi baju “baru” kepada tokoh sejalan dengan simbol yang ingin diperteguh masyarakat untuk menjadikannya sebagai contoh atau kadang-kadang personifikasi dari simbol itu sendiri. Apa peran sesungguhnya dari sang tokoh dalam sejarah. Apakah ia yang menentukan jalannya sejarah, atau ia tak lebih dari figur yang kebetulan berada dalam kedudukan strategis (Asvi Warman Adam, Membedah Tokoh Sejarah “Hidup atau Mati”, hlm. XI-XII).

Maka agar tiada membeku, menjadi kultus tanpa pemahaman, maka film Soekarno: Indonesia Merdeka ini menarik adanya untuk memantik kembali sosok dan pemikiran dari sang putera fajar ini.

Kita ogah – atau kita belum – menampilkan satu potret “antihero”, dalam sejarah kita. Pahlawan nasional bukanlah orang-orang lazim yang bisa dianalisa dengan pisau urai yang tajam. Bayangkan keributan yang terjadi jika seseorang berani menyajikan suatu risalah yang kritis tentang Bung Karno, atau Bung Hatta, Diponegoro, atau Pattimura. Mungkin itulah sebabnya kita terdiam (Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 3, hlm.47). Mungkin begitulah kiranya yang menyibak dan menyebabkan mengapa film Soekarno: Indonesia Merdeka menuai sejumlah kontroversi.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Advertisements
Posted in puisi, sastra, Sejarah

Kenangan

Bangunan kuno sambut ekspedisi ini
Pikiran pun melayang
Jelajahi waktu jauhari
Kala kota ini memainkan lakon berbeda

Sungai-sungai mengalir bening membelah kota
Anak-anak kecil berenang bahagia menyambut senja
Kedai-kedai pendarkan aroma memikat
Cita rasa dalam sarapan pagi
Ataupun menikmati mentari terbenam

Kota ini tuturkan sejarah
Bagaimana etnis yang ada
Lika-likunya
Intrik dan intimidasinya
Desir bisikan rasis
Kematian yang merahkan seisi sungai
Darah yang mewaris dapat menentukan nasib kemanusiaan

Desir pasir membelai terik
Kapal-kapal pengangkut singgahi pelabuhan
Selepas mengarungi laut nan ganas
Jangkar melibas air
Di pesisir ini
Ragam bangsa masuki kota ini
Di sini kita belajar berbagi
Di sini kita belajar mengerti
Di sini para pelancong dari jauh sauhkan jiwa petualangannya
Tempat baru yang menjadi labuhan hati

Menara tinggi tuturkan titik nol kota ini
Tempat tertinggi di masa lampau
Pengawas hilir-mudik kapal
Lambang beragam cerita

Kota ini tuturkan cerita pelaut
Mereka yang arungi derasnya ombak
Pancaroba cuaca
Ancaman kematian di tengah samudera
Bercumbu dengan angin di laut lepas

Kota ini memaparkan perjuangan
Dari majelis-majelis ilmu
Risalah bukan sekadar teks-teks tanpa manifestasi
Risalah pergerakan yang hidupkan ruh-ruh untuk beranjak
Gelorakan semangat tuk tuntut keadilan

Bangunan antik di rimbun petualangan
Pilar-pilar angkuh menatap dari posisinya
Benteng di titik tertinggi
Garda depan pertahanan
Lingkaran sejarah yang terulang

Di stasiun itu
Pertemuan dan perpisahan bertumbukan
Rel-rel bisu dalam perjalanan waktu
Keramik warna-warni warnai konstelasi
Diantara keriuhan manusia
Terselip cerita insan manusia
Lorong di bawah kota
Saksi rebel
Jalan-jalan berkorelasi tanpa suara
Kegelapan berpenerangan obor
Jalan sunyi seolah tanpa ujung
Konflik selalu punya misterinya sendiri

Takzim di sore yang cerah
Menatap pucuk menara
Menara dengan atap langit biru berawan
Dari susunan batu dan pilar kota ini tegak
Dari cerita dan sejarah jalinan ini disulam
Sediakan jendela tuk menjenguk
Suram ceria perjalanan masa lampau

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Politik, Sejarah

Sejarah Dibentuk Para Penguasa

Ada hal menarik dalam kisah The Bartimaeus Trilogy, yakni terkait dengan sejarah. Bagaimana sejarah dibentuk oleh para penguasa. Hal tersebut terkonfirmasi dalam 2 sampel. Sampel pertama ialah mengenai peralihan kekuasaan yang dilakukan oleh Gladstone. Simak apa yang diucapkan oleh guru sejarah dari Kitty Jones (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 66):

“Aku hanya dapat menjawab pertanyaan satu demi satu, Kitty; aku bukan penyihir! Inggris mujur, itu saja. Praha memang lamban dalam bertindak; si kaisar menghabiskan banyak waktu untuk minum bir dan pesta pora. Tapi dia pasti akan mengalihkan pandangan ke Inggris juga akhirnya, percayalah. Untung bagi kita, ada beberapa penyihir di London zaman itu, yang dimintai nasihat oleh para menteri malang yang tak memiliki kekuatan apa pun. Dan salah satunya adalah Mr.Gladstone. Dia melihat betapa berbahayanya situasi kala itu dan memutuskan menyerang terlebih dulu. Ada yang ingat apa yang dilakukannya, anak-anak? Ya—Sylvester?”

“Dia meyakinkan para menteri untuk mengalihkan kekuasaan kepada dirinya, Sir. Dia bertemu mereka suatu sore dan berbicara begitu pandainya sehingga mereka memilihnya sebagai Perdana Menteri saat itu juga.”

“Benar sekali, bagus, Sylvester, kau akan mendapatkan imbalan. Ya, itu Malam Perundingan Panjang. Setelah debat yang panjang di Parlemen, kefasihan lidah Gladstone memenangkan perdebatan dan para menteri dengan suara bulat bersedia mengundurkan diri. Dia mengatur penyerangan defensif ke Praha tahun berikutnya, dan menggulingkan Kekaisaran…”

Dalam kajian ilmu politik, apa yang dilakukan oleh Gladstone tersebut merupakan kudeta. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian memerintah. Mengambil alih pemerintahan dan untuk kemudian mempromosikan para penyihir untuk menempati level-level atas pemerintahan. Dan inilah sisi menarik dari kudeta. Jika gagal, maka pihak yang mengkudeta akan dicap sebagai pemberontak, pesakitan, dan bersalah. Sedangkan jika kudeta berhasil, maka pihak yang mengkudeta akan ditabalkan sebagai pahlawan, perbuatan kudetanya menjadi benar.

Kitty Jones yang merupakan seorang commoner memiliki perspektif tersendiri mengenai pelajaran sejarah. Seperti terungkap dalam nukilan berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 64):

Sejarah mata pelajaran yang juga penting; setiap hari, mereka menerima pelajaran mengenai kejayaan Kerajaan Inggris. Kitty menikmati pelajaran-pelajaran ini, yang berisi banyak cerita magis dan negeri-negeri jauh, namun ia merasakan adanya batasan tertentu dalam apa yang diajarkan kepada mereka. Ia sering mengangkat tangan.

Bagaimana Kitty menggugat bahwa pemerintahan akan baik-baik saja tanpa eksekutif harus dipegang oleh kaum penyihir. Seperti terlihat dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“Tolong, Sir, beritahu kami lagi tentang pemerintahan yang digulingkan Gladstone. Anda berkata pemerintahan kala itu telah memiliki parlemen. Kita punya parlemen sekarang. Jadi mengapa pemerintahan yang lama itu buruk?”

Well, Kitty, jika mendengarkan dengan baik, kau tentunya tahu aku berkata Parlemen Lama lemah. Parlemen itu dijalankan oleh orang-orang biasa, seperti kau dan aku, yang tak memiliki ilmu sihir sedikit pun. Bayangkan itu! Tentu saja, artinya mereka selalu dilecehkan negara-negara lain yang lebih kuat, dan tak ada yang dapat mereka lakukan untuk menghentikannya…”

Nyatanya dalam The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem terdapat stratifikasi yang jelas dimana kaum penyihir berada di lapis teratas. Sedangkan kaum commoner berada di lapis bawah. Hal tersebut terkonfirmasi dengan sikap kedua orang tua Kitty sebagai berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 60):

…Tapi tak lama Kitty bisa menentukan mana yang penyihir dari petunjuk lain: pancaran mata keras para pelanggan, pembawaan mereka yang tenang dan berkuasa; di atas segalanya, sikap ayahnya yang tiba-tiba menjadi tegang. Ayahnya selalu tampak canggung bila berbicara dengan para penyihir, pakaiannya segera kusut karena gelisah, dasinya miring. Ia mengangguk dan membungkuk setuju saat mereka berbicara. Tanda-tanda ini nyaris tak tampak, tapi cukup jelas bagi Kitty, dan ini membuatnya bingung bahkan gelisah, meskipun ia tak tahu mengapa.

Mata Golem

Sampel berikutnya yang menunjukkan bahwa sejarah dibentuk para penguasa ialah dalam melihat Kaisar Ceko. Peperangan antara Inggris dan Ceko pada tahun 1800-an dimenangkan oleh pihak Inggris. Bartimaeus yang pada tahun 1868 berada di pihak penyihir Ceko memberikan sudut pandangnya mengenai Kaisar Ceko (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 20):

Akhirnya kami tiba di teras tempat selama empat tahun ini sang Kaisar memelihara burung-burung dalam sangkar. Sangkar itu besar sekali, dibuat dengan amat halus dari perunggu berornamen, dilengkapi kubah, menara, dan birai tempat memberi makan, juga pintu-pintu tempat sang Kaisar dapat keluar-masuk. Interiornya dipenuhi pepohonan dan semak dalam pot, juga berbagai jenis nuri yang menakjubkan, yang nenek moyangnya dibawa ke Praha dari negeri-negeri jauh. Sang Kaisar tergila-gila pada burung-burung ini; akhir-akhir ini, saat kekuatan London meningkat dan kekuasaan Kekaisaran terenggut dari tangannya, ia suka duduk lama di dalam sangkar, berbicara dengan kawan-kawannya.

Namun lihatlah bagaimana dalam pelajaran sejarah yang diberikan di era modern. Jakob (sahabat Kitty) yang memiliki leluhur dari Ceko disudutkan oleh guru sejarahnya. Sedangkan opini yang dibentuk dan dikreasi adalah Kaisar Ceko merupakan pembunuh burung nan kejam. Simak dalam fragmen berikut (Jonathan Stroud, The Bartimaeus Trilogy: Mata Golem, hlm. 65):

“…Kaisar Ceko memimpin sebagian besar daratan Eropa dari istananya di Praha; dia begitu gemuk sehingga duduk di singgasana beroda dari besi dan emas dan ditarik-tarik di sepanjang koridor oleh seekor kerbau putih. Ketika dia berniat meninggalkan istana, mereka harus menurunkannya menggunakan katrol. Dia punya sangkar burung parkit besar dan menembak seekor, warnanya berbeda setiap malam, untuk makan malamnya. Ya, kalian boleh merasa jijik, anak-anak. Begitulah jenis pria yang memimpin Eropa zaman itu, dan Parlemen Lama kita tak berdaya melawannya. Ia memerintah segerombolan penyihir mengerikan yang amat kejam dan korup, dipimpin Hans Meyrink, diduga vampir…”

Sejarah sebagai kajian ilmu memang terkadang bias. Oleh karena itu ketika rezim berganti, berbagai hikayat sejarah yang berbeda dapat muncul. Hikayat sejarah yang berbeda dengan versi sejarah ala pemerintahan sebelumnya. Penguasa dalam hal ini memang berkepentingan untuk mengkreasi sejarah. Melakukan glorifikasi atas pencapaiannya, memburamkan segala catatan negatif. Disinilah diperlukan kearifan penyikapan dan studi literatur yang solid untuk membenderangkan kisah masa lalu yang terjadi. Dari 2 sampel yang saya kemukakan di atas dari kisah The Bartimaeus Trilogy menurut hemat saya memiliki kesamaan substansi dan makna dengan yang terjadi di dunia nyata. Bagaimana sejarah menjadi medan yang juga harus dimenangkan oleh penguasa. Untuk memenangkan memori kolektif dari publik.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Aku, Essai, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Jas Merah, Janji Merdeka di Kemudian Hari

Dan kau datang lagi dengan ilusi-ilusi indah. Kau hidupkan panel-panel, seolah itu nyata. Kau membual dengan partitur tinggi rendah suaramu. Kau katakan ah ini perkara mudah. Sekadar menganyam dari karya yang sudah lama. Kau katakan kali ini berbeda. Lalu kau coba terbitkan liur kami dengan mengatakan besaran uang tertentu untuk kerja yang katamu simple.

Tapi bagaimana bisa ku percaya lagi kata-katamu? Kau sudah terlalu sering berbohong. Berbohong seperti nafas saja bagimu. Otomatis. Ah mari kita lihat hikayat kata-katamu. Bukankah kata Bung Karno adalah Jas Merah (Jangan Sekali-Kali Melupakan Sejarah). Sejarah kata-katamu adalah sejarah compang-camping. Pecah kongsi antara kata dan perbuatan. Nampak sekali jiwa pelitmu disana. Pelit sebenar-benar pelit. Kuingat ada yang hingga jatuh sakit, merelakan waktu tidurnya hanya menjadi 1 jam dalam sehari, demi memenuhi tenggat ambisi mengatasnamakan itu. Lalu setelah produk selesai, yang ada sekadar namanya yang tertera. Kau tiada memberikan konsesi material kepadanya. Padahal karyanya ada. Padahal ia telah mengupayakan segenap daya.

Ah tahu betul aku dengan gayamu. Berlagak dengan kata-kata santun. Tapi sesungguhnya kata-katamu bajingan. Kau tersenyum, namun senyummu adalah senyum bertaring.

Bisa gila kiranya jika memenuhi segala liur nafsumu. Dipekerjakan dengan cemeti terus menerus. Dipersalahkan terus menerus. Oh iya kau tiada bisa diajak diskusi. Kata-katamu adalah hukum. Kata-katamu adalah fatwa. Kau juga selalu benar dan tidak pernah merasa salah.

Kau mainkan bait-bait emosi, tolong kasihani dirimu. Siapa yang akan mengerjakan semua ini? Kau coba untuk “terlihat mengerti” kesibukan, aktivitas yang ada pada perangkai kata. Hei kau juga menjanjikan bonus, konsesi material. Tapi nyatanya itu seperti janji Jepang pada Indonesia. Janji untuk merdeka di kemudian hari. Sekadar upaya untuk menarik simpati, menarik dukungan, namun kebenaran substansi janji layak dipertanyakan. Maka seperti para pendiri bangsa ini, kemerdekaan itu harus direbut. Kemerdekaan itu harus diperjuangkan.

Jas Merah, dan track record-mu benar-benar compang camping terhadap pemenuhan kata. Janjimu seperti janji merdeka Jepang untuk memerdekan Indonesia di kemudian hari. Menutup lipatan kata ini saya ingin mengutipkan perkataan Soekarno: go to hell with your aid. Maka bolehlah kupinjam khazanah sang Bapak Bangsa untuk diujarkan kepadamu: go to hell with your ambition.

Posted in Buku, Essai, Fiksi Fantasi, Komik, Sejarah, Sosial Budaya

Serba Serbi Komik Indonesia

Ada begitu banyak medium kreativitas yang dapat menarasikan makna. Salah satunya adalah komik. Komik merupakan lini kreativitas yang mendapatkan tanggapan luas dari masyarakat. Sampel sederhananya ialah dengan sudut komik di toko buku yang kerap dipenuhi pembaca muda. Namun minat dan pangsa pasar ini tidak serta merta berkorelasi dengan jayanya komik dalam negeri. Komik Indonesia belum mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Deretan komik yang memenuhi rak buku komik di toko buku relatif dipenuh sesaki oleh komik-komik terjemahan, terutama dari Jepang. Tak mengherankan pada tahun 2001 Masyarakat Komik Indonesia (MKI) melakukan demo di depan kompleks Kompas-Gramedia, memprotes banjirnya buku komik Jepang yang diproduksi salah satu anak perusahaannya yang dianggap mematikan komik Indonesia.

Sejarah Komik

Komik Indonesia memang telah mengalami masa pasang surut dalam perjalanannya. Sebelum berbicara lebih jauh tentang serba serbi komik Indonesia ada baiknya jika kita melihat definisi komik terlebih dahulu. Komik berasal dari kata comic (lucu), karena bentuk baris komik (comic strip) maupun komik satu panel, dalam dunia berbahasa Inggris sejak 1884 (Ally Sloper’s Half Holiday), terdapat pada halaman khusus akhir pekan yang disebut the funnies (yang lucu-lucu), sebagai percabangan karikatur yang kelucuannya bertujuan khusus untuk mengejek kebijakan tokoh-tokoh. Ketika dibukukan (sejak tahun 1934, melalui Famous Funnies) dan dijual tersendiri kemudian disebut comic book (buku komik). Di Indonesia, buku komik lazim disebut sebagai komik saja. Kemudian para komikus membuat buku-buku komik sebagai karya mandiri, tanpa harus dimuat surat kabar atau majalah lebih dulu.

Berbicara mengenai sejarah komik di Indonesia, maka nama Kho Wan Gie layak menjadi pionir. Kho Wan Gie melalui baris komik (comic strip) bersambung di media cetak, yang berjudul Put On sebagai komik Indonesia terawal pada tahun 1931. Sedangkan baris komik Mentjari Poetri Hidjaoe, karya Nasroen A.S., mengisi lembaran-lembaran mingguan Ratoe Timoer sejak 1939.

Di Indonesia, sejarah komik harus berterima kasih kepada bungkus ikan asin. Kenapa demikian? Dikarenakan para kreator komik dalam negeri mendapatkan inspirasi dari kertas bungkus tersebut. Sebut saja Kho Wan Gie, pencipta Put On, yang terpikat seri Bringing Up Father, Zam Nuldyn terpesona karya Harold Foster, Abdulsalam oleh Alex Raymond, Taguan Hardjo oleh serial Li’l Abner dan Walt Disney.

Put On

Komik Citarasa Indonesia

Bagaimana kiranya komik yang benar-benar Indonesia? Pertanyaan tersebut rasanya terus mengemuka di tengah jalan kehidupan komik Indonesia. Marilah kita melihat komik wayang R.A. Kosasih sebagai unit analisa. Komik wayang R.A. Kosasih menurut pendapat dari Seno Gumira Ajidarma adalah bentuk negosiasi dalam pertarungan ideologi di wilayah komik, dengan hasil yang menunjukkan suatu kepercayaan diri, karena bentuk yang memperlihatkan kemandirian dalam identitas. Dikatakan negosiasi karena dalam komik wayang masih dapat dimainkan segala tindak kepahlawanan, yang memberi kepuasan pembaca dalam menghancurkan kejahatan. Meskipun begitu, identitas kepribadian para pahlawan itu secara keliru disebut; tidak menunjukkan pengaruh budaya asing (baca: Amerika). Disebut keliru, selain karena komik itu sendiri merupakan idiom yang berkembang pesat di-dan menjadi bagian dari identitas Amerika, dan karena itu sahih sebagai bentuk pengaruh, juga karena R.A. Kosasih ternyata berusaha setia kepada kisah Mahabharata dari sumbernya di India. Dengan absennya panakawan, dan kesetiaan kepada sumber India, cerita wayang Kosasih sebetulnya berbeda dari yang dimainkan para dalang di Indonesia, tetapi pada saat yang sama tak dapat disangkal merupakan komik dengan identitas Indonesia sebagai anak kebudayaan dunia.

Indonesia sendiri sejak semula merupakan negara yang tak dapat terpisah dari internasionalisme. Soekarno bertutur bahwa nasionalisme dan internasionalisme merupakan konsep yang bergandengan erat satu sama lain. Menurut Soekarno, Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme. Dalam ranah fantasi Indonesia keterbukaan inspirasi dapat ditilik pada era kejayaan komik Indonesia, seperti diakui oleh Djair Warni (pengarang Jaka Sembung) bahwa para komikus Indonesia terinspirasi dari para komikus Amerika (Marvel Comics).

Menarik kiranya mengambil unit analisa lainnya dengan menelusuri hasil bedah terhadap tokoh Doyok yang merupakan sosok komik yang dilabeli kental dengan nuansa Indonesia. Faktor apa saja yang membuat Doyok teridentifikasi oleh pembaca Pos Kota sebagai bagian diri mereka? Berikut uraian pemikiran dari Seno Gumira Ajidarma:

Pertama, busana Doyok yang mengacu pada budaya Jawa, khususnya Yogyakarta (berdasarkan mondolan pada belangkonnya), ternyata selalu berbahasa Jakarta, sesuai dengan karakter urban yang mencari akar kedaerahan meski sudah bertransformasi menjadi warga Jakarta. Kedua, meski berbahasa Jakarta, lingkungan fisik Jakarta dalam kartun Doyok sungguh mengasingkan warga kelas bawahnya itu, dari cara penggambaraannya yang meski penuh gedung dan mobil lebih sering sepi tak bermanusia. Ketiga, topik perbincangannya, yang mengaitkan peranan peristiwa nasional terhadap nasib mereka sebagai rakyat kelas bawah Jakarta, sering berakhir dengan pandangan mata tokohnya menatap kepada pembaca-seperti menariknya ke dalam bingkai untuk terlibat. Keunikan ini ternyata kemudian banyak ditiru.

Berbicara tentang serba serbi komik Indonesia baiklah jika menelusuri apa yang diungkap oleh Arswendo Atmowiloto, bahwa dulu Kho, Nasroen, sampai generasi Taguan Hardjo dan Yan Mintaraga belajar dari komik luar negeri, tapi apa yang dilahirkan masih berbau Indonesia, dan menginjakkan kaki dengan bumi persoalan yang Indonesia. Wajah tokoh-tokoh yang ditampilkan masih bau keringat kita juga, dan anak-anak yang mulai mengenali ketika dewasa tetap mempunyai idiom itu, bukan yang tak bisa dikenali dari mana asal-usulnya, dan dianggap itu satu-satunya yang terbaik. Dengan nada retoris, Arswendo bertanya “masak, sih, untuk berkhayal saja kita didikte negara lain?”

Kreativitas dengan demikian tidak bergerak dari ruang hampa. Kontemplasi ada tentu saja. Inspirasi yang diambil dari karya lain juga telah melalui saringan dan tidak dijiplak mentah-mentah. Inspirasi karya lainnya bagaikan bahan-bahan yang nantinya diracik menjadi senyawa baru. Para kreator yang tidak kehilangan arah dan sekadar turut arus dari apa yang dikonsumsinya. Ia mampu menunjukkan karakternya. Karena dengan berkarya maka ia menunjukkan karakternya pada dunia.

Panji Tengkorak

Masa Keemasan Komik Indonesia dan Format Mendatang

Indonesia pernah mengalami era keemasan komik pada tahun 1968-1973 seperti dituturkan oleh Djair Warni. Era keemasan tersebut ditandai dengan apresiasi dari penggemar serta menggelembungnya finansial para komikus. Dari sisi penggemar, Djair Warni mendapati begitu banyak surat penggemar, sehingga dirinya mengalami kewalahan dalam menjawab surat penggemar. Apresiasi positif dari penggemar begitu kuat dengan menanyakan edisi berikutnya serta sanjungan terhadap karya dari Djair Warni. Kalaupun ada pertanyaan iseng berkisar pada penggambaran misalnya kenapa pohonnya kok tidak ada buahnya, ataupun baju dari para tokoh.

Era keemasan komik Indonesia tersebut diistilahkan oleh Djair bahwa para komikus seperti artis di era sekarang. Selain termasyhur, sisi finansial para komikus juga dapat menjadi sandaran hidup. Sebagai ilustrasi Djair Warni untuk menikah plus bulan madu dan segala macamnya hanya membutuhkan menghasilkan 1 jilid karyanya yang berjudul Si Tolol (64 halaman).

Sedangkan Hans Jaladra sebagai komikus yang karyanya laris, berapa kiranya ia dibayar? Menurut Hans, penerbit pernah membayar 1 naskah komik (64 halaman) dengan harga 1 ons emas.

Menutup artikel ini ada baiknya jika menelaah apa yang diungkap oleh Hans Jaladara yang termasyhur dengan karyanya – Panji Tengkorak. Di tengah arus besar manga, sebetulnya Hans lebih merasa mencoba menggambar untuk meniru film, yakni lebih memperhatikan unsur gerak ketimbang sebelumnya, bukan meniru komik Jepang itu mentah-mentah. Menghadapi krisis komik Indonesia, ia berpendapat komik Indonesia tidak akan kuat bersaing jika langsung terbit sebagai buku, melainkan harus dimuat dulu secara bersambung di koran untuk mendapat popularitas. Ia juga berpendapat, ketika banyak orang menuntut kembalinya komik Indonesia, maka suatu kebijakan perdagangan untuk membuat keberimbangan di pasar harus dibuat peraturannya. Menurut Hans, suatu institusionalisasi bagi komik Indonesia juga mutlak diperlukan, supaya keberadaan komik tidak hanya hadir dalam keluhan, yakni suatu gerakan yang terorganisasi dengan baik untuk menghidupkan kembali komik Indonesia.

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Posted in Essai, Fiksi Fantasi, Film, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Pulang

Bulan puasa telah tiba di negeri ini. Budaya mudik untuk kemudian menjadi tradisi yang membungkus pada akhir Ramadhan. Jakarta pun menjadi sepi ketika akhir Ramadhan dan awal bulan Syawal. Jalan-jalan lenggang adanya. Populasi kota ini menyusut dengan drastis. Di Amerika Serikat tradisi mudik macam begini muncul pada event thanksgiving. Tentunya bagi para perantau kembali ke kampung halaman, tempat diri ketika dahulu kecil memberikan secercah emosi tersendiri.

Pulang. Itulah mungkin salah satu frasa yang terbetik selepas saya menonton film The Lone Ranger (2013). Saya tiada tahu apakah sidang pembaca menonton hingga usai film The Lone Ranger. Saya terbiasa untuk agak lama keluar dari gedung bioskop dan biasanya menjadi penonton terakhir yang bertahan di ruang pemutaran film (para petugas kebersihan biasanya ‘mengusir’ saya dengan tatapan dan gesture mereka). Setelah rangkaian nama, ternyata film The Lone Ranger masih menyisakan potongan gambar. Bagaimana Tonto (Johnny Depp) yang berjalan ke hamparan padang pasir diantara batu-batu yang menjulang. Ia pulang.

Kisah Tonto dalam film tersebut juga merupakan sebuah upaya untuk pulang. Bagaimana Tonto muda yang terkelabui oleh muslihat licik dari Butch Cavendish dan Cole. Dengan barter arloji murahan, Tonto memberikan lokasi tempat bongkahan perak yang luar biasa banyaknya. Ketamakan dua manusia dari Barat itu untuk kemudian membantai, memberangus perkampungan tempat tinggal Tonto. Tonto pun bertekad untuk menuntaskan kedua orang muslihat kata tersebut di tanah kelahirannya, tanah tempat ia kembali pulang.

Namun cerita Tonto adalah kisah kepedihan bagi orang yang merindukan pulang. Ia adalah satu-satunya manusia yang tersisa di perkampungan tempat tinggalnya. Selebihnya musnah. Perkampungannya secara fisik pun telah menjadi bara abu. Pun begitu ketika Tonto dan John Reid ditangkap oleh sekawanan Indian. Sekawanan Indian tersebut melawan dengan gagah berani. Dan mereka mati dengan agung. Mesiu, senapan mesin menjadi “jembatan” yang membawa mereka menuju alam baka. Yang mereka perjuangkan adalah tanah mereka. Tempat kelahiran, tempat mereka pulang.

the lone ranger

Atas nama modernisasi, connectivity, rel kereta dibangun. Ilusi dihidupkan. Suku Comanche dituduh telah melanggar perjanjian dengan menyerang para kulit putih. Yang sesungguhnya terjadi adalah para bandit yang disewa oleh pegawai dari perusahaan kereta api. Bandit itu menyaru menjadi suku Comanche, menjadi Indian. Itu semua untuk memberikan legitimasi aneksasi dari kaum kulit putih terhadap teritori kaum Indian.

Ketika seorang ranger bertanya kepada Tonto sewaktu tertangkap. Percakapan pun terurai.

“Apa kesalahanmu?” tanya si ranger.

“Aku Indian,” jawab Tonto.

Pulang, kata itu akhirnya memang dapat menjadi tafsir politik. Ada politik kekuasaan, ada aneksasi. Maka para pengungsi Sidoarjo telah kehilangan kata pulang. Karena kampungnya kini menjadi daerah semburan lumpur. Maka para perantau yang pulang dari kota akan menemui di desanya relatif yang tersisa para manula dan anak kecil disana. Sebuah potret desa yang kehilangan ceruk usia produktif. Maka para Indian sebagai penduduk asli harus terdepak dari tanah yang semula mereka tempati. Pulang merupakan perebutan terhadap ruang.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.
Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Posted in Essai, Politik, Sejarah, Sosial Budaya

Perang

People have an innate desire for conflict. So what you are fighting is not me, but rather mankind. War, on an industrial scale, is inevitable. I’m just supplying the bullets and bandages. – James Moriarty

Tarikh sejarah menyatakan bahwa Perang Dunia telah terjadi dua kali di bumi ini. Jutaan nyawa harus meregang dikarenakan Perang Dunia. Perdamaian menjadi sesuatu yang diharapkan. Flower generation, PBB, merupakan sederetan sampel yang menunjukkan gerakan perdamaian dan anti perang. Namun benarkah sejatinya manusia bisa benar-benar berhenti berperang?

Konflik fisik yang terjadi di Indonesia sebagai contoh terus menerus terjadi. Darah mengalir secara periodik. Dalam berbagai berita baik di media cetak, maupun elektronik, bentrok fisik menjadi santapan sehari-hari sehingga lama kelamaan kita menjadi resisten dan merasa biasa-biasa saja. Sederetan ajaran cinta kasih, perdamaian pun mengemuka baik dari mainstream agama ataupun berbagai sekte. Namun tetap saja bentrok fisik terjadi dimana-mana. Anggaran pertahanan militer dari suatu negara tetap tinggi. Si vis pacem, para bellum (siapa yang menginginkan perdamaian, maka harus bersiap untuk berperang).

Simak cuplikan kalimat berikut:

Pemerintah kami membiarkan warganya dalam keadaan takut yang terus-menerus, membiarkan kami tunggang-langgang dalam semangat patriotisme yang tak ada habis-habisnya sambil berteriak bahwa negara dalam keadaan darurat. Selalu saja ada musuh jahat di dalam negeri atau kekuatan asing yang sangat mengerikan dan siap memangsa kami bila kami tidak secara membabi-buta berkumpul di belakangnya dengan memberikan tuntutan dana yang sangat tinggi. Walau demikian, dalam refleksinya, seluruh bencana tersebut tak pernah benar-benar terjadi dan sepertinya tak pernah ada. – Jenderal Douglas MacArthur

Perang membuat paranoid dan menciptakan musuh entah itu nyata betulan atau sekadar ilusi. Perang dingin membuat blok Barat dan blok Timur bersiap sewaktu-waktu. Pihak sana adalah musuh. Mari merapatkan diri. Dalam teori konflik memang diperlukan identifikasi siapa kawan, siapa lawan. Namun jika dirunut secara jernih dan tenang, benarkah identifikasi itu dengan utuh mengenai kawan-lawan. Atau jangan-jangan stereotip, labelisasi telah terjadi, lalu kehilangan substansi.

Pasca perang dingin, Huntington meramalkan benturan peradaban. Lagi-lagi yang ada adalah vis a vis. Tengoklah Amerika Serikat dengan pre-emptive strike. Yang membuat mereka menyerang berbagai negara di Timur Tengah dikarenakan kekhawatiran akan radikalisme, senjata pemusnah massal. Hal yang untuk kemudian terbukti merupakan bualan ilusi saja.

Ah mungkin benar adanya John Lennon hanyalah seorang pemimpi.

You, you may say
I’m a dreamer, but I’m not the only one
I hope some day you’ll join us
And the world will be as one