Seratus Kurawa & Iri Hati

‘Kurawa’ memiliki arti ‘Keturunan Suku Bangsa Kuru’. Dalam kisah Mahabharata, Kurawa merujuk pada seratus bersaudara yang menjadi musuh bebuyutan Pandawa Lima. Ayah Kurawa adalah Drestarastra, Raja Astina yang buta sejak lahir. Kelahiran Kurawa melalui proses yang ajaib, dilahirkan dalam bentuk gumpalan daging yang merupakan perwujudan iri hati Ratu Gundari terhadap Kunti (Ibu Pandawa). Gumpalan tersebut terpecah menjadi 100 potong, yang akhirnya tumbuh menjadi seratus orang bersaudara. – Garudayana Saga III

Apa yang bisa dihasilkan oleh iri hati? Sengkarut angkara? Iri hati bisa jadi muncul dikarenakan sistem yang dikreasi oleh manusia. Ada ketimpangan yang memang telah disusun secara sistemik. Sebut saja dalam relasi pekerjaan. Adalah ironis melihat begitu besarnya gap pendapatan antara yang satu dengan yang lain. Lalu hal tersebut seolah mendapatkan pembenarannya.

Di kantor saya yang lama, sistem lama yang dibangun memasok iri hati sistemik macam begitu. Bagaimana kue kesejahteraan begitu besar untuk para marketing yang mendatangkan klien untuk dituliskan bukunya. Sedangkan jatah penulis mendapatkan kue kesejahteraan yang relatif jauh hitung-hitungan ekonomisnya dibandingkan porsi marketing.

Lalu “pembenaran-pembenaran” pun disusun. Bahwa marketing-lah yang mendatangkan arus uang masuk. Marketing-lah yang memasok keuntungan bagi perusahaan. Beruntung di kemudian hari, sistem agak terperbaiki dengan adanya porsi tambahan bagi penulis dengan titel uang redaksi.

Meski begitu pengalaman tersebut terpatri erat-erat. Apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?

Lalu terhenyaklah saya dengan situasi di sebuah kantor yang membanderol gaji para marketing-nya dengan kisaran hingga belasan juta. Sedangkan di kantor yang sama gaji para wartawan benar-benar berada dalam taraf minimalis.

Lagi-lagi saya dihadapkan dengan pertanyaan ‘apakah di negeri ini para pengolah kata via omongan jauh dihargai secara finansial dibandingkan pengolah kata via tulisan?’

Penghargaan, apresiasi, keadilan. Mungkin perkara iri hati bersumbu dari ketiga kata tersebut diantaranya. Bagaimana iri hati bukan tumbuh dari ruang hampa. Melainkan dibentuk secara sistemik oleh sistem yang timpang.

Di negeri para pengolah ini, para penjaja proyek menempati kasta teratas. Sedangkan para profesional yang bergelut dengan kapasitas hanya mendapatkan porsi kue kesejahteraan yang kesekian.

Ah, mungkin telah beternak secara eksponensial para Kurawa dikarenakan sengkarut ketidakadilan sistemik macam begini.

Advertisements
Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Humor

Apa yang bisa dijangkau oleh humor? Sekilas humor nampak sederhana. Namun sesungguhnya humor memiliki kerumitan tersendiri. Humor dapat menjadi barometer pertanda sehat atau tidaknya suatu entitas. Katakanlah entitas itu negara atau entitas itu adalah organisasi. Dalam beberapa organisasi yang pernah saya geluti ada sejumlah orang yang dalam istilah saya ‘memakruhkan humor’. Humor dianggap perbuatan sia-sia, pertanda ketidakseriusan dari sang pelontar humor.

Dalam skala negara, humor merupakan sinyalemen daya sensor dan sensitifitas dari penguasa. Pada periode 1990-an saya tergelitik dengan humor-humor dari Bagito Show. Dalam humor-humornya sejumlah lawakan dari acara Bagito Show menyindir pemerintahan yang berkuasa saat itu. Di era reformasi sejumlah laku humor lebih bebas mengartikulasikan diri. Butet Kertaradjasa diantaranya yang mendapat ruang lebih leluasa untuk meniru suara Soeharto dalam sejumlah humornya.

vakansi

Humor juga menandakan kehidupan sosial masyarakat. Apa yang membuatmu tertawa menunjukkan siapa dirimu. Maka ketika sejumlah laku lawakan yang mempertontonkan “kekerasan” dengan mendorong, memukul (sekalipun terdapat keterangan bahwa bahan-bahan tersebut aman, tidak membahayakan), namun yang perlu ditelaah adalah secara psikologis. Jangan-jangan budaya kekerasan tidak masuk dalam negative list perilaku. Malahan sesuatu yang layak untuk ditertawakan dan dihumorkan.

Humor juga dapat bertemali dengan bully. Bagaimana ada sosok yang dijadikan sasaran bully dalam bentuk candaan-candaan. Perlu ditelusuri apakah objek candaan itu menerima, ataukah itu menimbulkan beban baginya. Terlebih bagi yang dalam masa pertumbuhan dan pencarian jati diri. Bully dalam bentuk lelucon dapat menjadikan sosok seseorang menjadi krisis kepercayaan diri.

cat minyak

Humor dalam bentuk stand-up comedy yang semakin mengemuka juga menjanjikan hal tertentu. Ketika comic menjadikan dirinya pribadi sebagai objek lelucon. Hal tersebut menandakan ada kegembiraan dalam melihat diri. Bahwasanya diri sendiri bukanlah sosok superior yang selalu berada di kutub kebenaran. Stand-up comedy juga pada beberapa comic mampu menarasikan kritikan secara cerdas mengenai kehidupan politik, sosial budaya, dan ragam lini lainnya. Mengkritik dengan senyum terkulum bagi penikmat stand-up comedy, begitulah kiranya.

Hidup tak usah serius-serius amatlah. Mari menebar humor. Mari tertawa dengan kadar yang tepat. Seperti diungkap oleh Joker: Why so serious?

Posted in Aku, Essai, Sosial Budaya

Storyteller

Manusia selalu berusaha untuk beradaptasi antara equilibrium yang satu dengan equilibrium yang lain. Dan itulah kiranya yang saya alami. Nyatanya untuk rutin menulis dan membaca secara tekun dibutuhkan kebulatan tekad dan alokasi waktu tertentu. Sudah sekian lamanya saya tiada membuat esai yang baru. Saya lebih banyak mengeluarkan narasi dalam bentuk puisi. Jika boleh menyatakan apologi dengan sekian lamanya absennya esai adalah adaptasi terhadap equilibrium yang baru. Dan dengan esai ini saya berharap esai-esai baru lainnya akan kembali mentas dan mengalir. Ada banyak hal yang ingin saya utarakan dalam bentuk kata. Dan saya harap dapat kembali berkomitmen untuk melukiskan cerita dalam narasi kata.

school a

Menulis nyatanya seperti bercerita. Dan kita dapat mengambil sumbu idenya darimana saja. Kita dapat membagi cerita mengenai serunya suatu buku, film yang memancing otak untuk berpikir, kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Selama dalam masa hibernasi menulis esai, saya menyempatkan diri untuk membaca blog lainnya. Adalah pada storyteller yang menjadi jiwa utama. Sesederhana itu. Namun itulah yang menggerakkan lusinan waktu untuk dihabiskan dalam dunia blog. Dalam hibernasi, saya pun membaca sejumlah tulisan lawas saya. Betapa saya memiliki energi untuk mencatat, merangkai kalimat dengan referensi pustaka. Ada kegembiraan tersendiri ketika cerita itu telah tersaji rapi di ranah blog. Dan energi itulah kiranya yang bergerak di pusat kesadaran saya. Untuk kembali menekuni dunia blog. Untuk kembali menuliskan apa saja yang saya pandang menarik.

pen 2

Melalui karya tulis itulah maka kita dapat menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’. Bukankah melalui ranah blog menjadi medium yang tepat bagi diseminasi gagasan demokrasi. Kita dapat mendefinisikan diri kita. Kita tahu apa yang kita mau. Kita akan diuji oleh sidang pembaca mengenai segala ragam tulisan yang telah kita hasilkan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa negatifisme bahwasanya tulisan kita itu mengecewakan. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itu dapat berupa seleksi, entah itu dari media mainstream ataupun penerbit. ‘Tirani di kepala masing-masing’ itulah kiranya yang dapat membuat daya tutur tersumbat. Alangkah banyaknya informasi, pengetahuan yang batal beredar dikarenakan buah dari ‘tirani di kepala masing-masing’. ‘Tirani di kepala masing-masing’ dapat menyebabkan digantungnya pena, laptop yang tiada menjadi wadah dapur karya, pikiran yang termampatkan dan tidak terbebaskan untuk bercerita.

pen 1

Kita mengenal istilah citizen journalism. Kita mengenal blog. Dan kedua hal tersebut dapat menjadi kanal untuk bercerita. Dapat menjadi kanal untuk mendiseminasi gagasan. Semuanya berpulang pada diri kita. Akankah akan menggunakan momentum demokrasi di Indonesia ini untuk berkembang melalui tulisan ataukah tidak. Dan kita beruntung berada pada kombinasi antara demokrasi dan kemajuan teknologi informasi. Kita dapat lebih utuh menjadi warga negara. Mengungkapkan isi kepala sembari menyebarkannya ke khalayak ramai.

books

Budaya membaca dari negeri ini saya percaya akan meningkat apabila masing-masing dari kita mulai bergiat dalam berbagai skala untuk menulis. Bayangkan banyaknya sebaran ilmu, cerita yang terkodifikasi dengan ragam latar belakang pengalaman, budaya, pendidikan. Saya percaya budaya menulis akan bertalian kuat dengan budaya membaca. Dan tak perlu menunjuk siapa-siapa untuk menyingkirkan ‘tirani di kepala masing-masing’ itu. Setiap dari kita dapat menggagas perbaikan dengan menulis dan berbagi kepada dunia. Selamat menjadi storyteller..

Posted in Essai, Politik, Sosial Budaya

Komunikasi Amarah Para Pemimpin

Acara bagi-bagi es krim di Taman Bungkul Surabaya, Jawa Timur memantik amarah Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Pasalnya taman yang pernah mendapatkan penghargaan dari PBB tersebut menjadi rusak parah.

“Kalian tidak punya izin ngadain ini, lihat semuanya rusak! Kami bangun ini nggak sebentar, biayanya juga nggak sedikit. Kalian seenaknya merusak. Saya akan tuntut kalian!” seru Risma sambil meninggalkan panitia dari perusahaan es krim yang terlihat kaget.
Sementara itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meluapkan amarahnya ketika menemukan praktik pungutan liar di UPT Jembatan Timbang Subah, Kabupaten Batang. Kedua fragmen peristiwa tersebut mengingatkan publik kepada Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Basuki yang akrab disapa Ahok, memang dikenal sebagai sosok yang meledak-ledak bila menemukan tindakan janggal yang dilakukan anak buahnya di pemerintahan.

baca 1

Bila dikaji dalam dimensi keilmuan boleh dibilang terjadi peniruan pencitraan. Personal branding meledak-ledak, emosional, marah-marah telah kadung dilekatkan kepada sosok Ahok. Sama halnya dengan terminologi blusukan yang melekat pada sosok Jokowi. Sehingga jika ada yang memiliki pola serupa, maka akan dipersepsikan sebagai epigon, follower.

Politik memang masalah persepsi. Kita juga mengenal kata elektabilitas. Namun pertanyaan besarnya apakah politik akan sekadar apa yang dicitrakan dan ditampilkan di panggung? Kita mengenal teori dramaturgi Goffman yang menjelaskan kehidupan sebagai panggung teater, lengkap dengan setting panggung dan akting yang dilakukan oleh individu.

Sayangnya menurut hemat saya apa yang ditampilkan oleh Walikota Surabaya Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo kontraproduktif bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Mengapa pula adegan marah-marah yang dilakukan mereka harus disorot    oleh kamera dan layaknya laku acting sinetron. Pesan yang dinarasikan ke publik dapat bermuara bahwa kerja = marah-marah.

creativity b

Padahal pepatah kita mengatakan, “Berkata peliharalah lidah”, yang artinya dalam berbicara atau berkomunikasi kepada siapa pun, haruslah kita hati-hati karena akan menyinggung perasaan orang. Apa jadinya apabila para pucuk eksekutif justru secara eksebisionis mempertunjukkan perilaku yang tidak memelihara ucapan? Laku para pucuk eksekutif ini dapat ditiru oleh para pemimpin di level yang lebih rendah, serta dapat ditiru rakyat kebanyakan. Belum lagi efeknya dapat berimplikasi pada generasi muda yang akan menganggap bahwa hujatan kasar merupakan bagian dari mengelola kepemimpinan.

Bagi generasi muda yang terpapar dengan informasi serta disokong dengan kemajuan teknologi memungkinkan untuk lebih artikulatif dalam menyampaikan sesuatu. Generasi muda dapat lebih reaktif dalam berpolitik. Namun pertanyaan besarnya jangan-jangan generasi muda mendapatkan contoh yang salah dalam menyikapi politik. Mereka mengartikulasikan pendapatnya dengan kata-kata keras, kasar, menghujat sebagai bentuk copy paste dari apa yang mereka lihat, dengar dan saksikan.

Jangan lupakan pula echo yang ditimbulkan dari perilaku Ahok, Tri Rismaharini, Ganjar Pranowo kepada publik luas. Apa yang ditampilkan mereka diliput oleh televisi yang merupakan konsumsi utama dari rakyat Indonesia. Memang ada yang mengatakan bahwa hal yang mereka lakukan merupakan antitesa dari kemunafikan dan kepura-puraan yang ditunjukkan oleh para politisi kebanyakan. Namun saya merasa dan berpikir bahwa segala laku kemarahan yang diekspose tersebut tidak sesuai dengan karakter dasar bangsa Indonesia yang santun, ramah, dan tidak merendahkan orang lain.

school a

Karakter Dasar Bangsa Indonesia

Negeri ini memiliki etika mengucapkan atau menyampaikan sesuatu dengan arif yang merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia. Ucapan yang tidak langsung diungkapkan lewat pantun atau puisi yang bertalu-talu, indah dan mengandung makna. Konon, raja-raja di Indonesia dulu senang mengundang para cerdik pandai (pujangga) atau ulama untuk datang ke istana guna mengajar anak-anak mereka untuk bertutur kata yang sopan dengan orang lain.

Demokrasi yang berkembang dan mengokoh di negeri ini sudah selayaknya agar tidak identik dengan ketidak sopanan dalam bertutur kata. Demokrasi harus disertai kesopan-santunan dalam bertutur kata agar hubungan kita dengan orang lain bisa tetap terpelihara. Dengan demikian perilaku demokrasi yang berkembang adalah demokrasi yang sehat dan konstruktif.

chess

Kajian komunikasi juga memiliki paralelisme dengan sosial budaya serta politik. Ada kecenderungan orang lain akan menghindari seseorang yang kurang sopan dalam bertutur kata, tidak memelihara perasaan orang lain, apalagi sampai tersinggung dan perasaannya terluka karena ucapan yang tidak terkontrol dari seseorang. Hasil penelitian Alwi Dahlan (Cangara, 2013) menunjukkan bahwa orang Indonesia hampir semuanya tidak senang disinggung apalagi di depan orang lain (Cangara, 2013:218).

Komunikasi marah-marah yang dilakukan oleh eksekutif kepada bawahan menurut hemat saya seperti antibiotik. Dipakai bilamana perlu dan dosisnya harus tepat. Dan sakitnya sudah tahap yang cukup berat dan tidak boleh terlalu sering atau selalu dipakai karena nanti jadi imun.

Inilah kiranya sebuah timbang pemikiran bagi para politisi agar menjaga etika dan tata cara komunikasi. Kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja tanpa terkecuali para politisi untuk senantiasa harus eling dan waspada.

Perkataaan diibaratkan lebih tajam daripada sebilah pisau, oleh karena itu berhati-hatilah dalam berkomunikasi. Karena komunikasi para pemimpin dapat ditiru serta menimbulkan dampak sistemik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Posted in Essai, Sosial Budaya

Pemimpin Bermental Pengemis

Apa jadinya jika para pemimpin-pemimpin yang kita miliki bermental pengemis? Apa itu pemimpin bermental pengemis? Pemimpin bermental pengemis merupakan mereka-mereka yang lebih banyak menuntut, meminta. Cobalah ketika berhadapan dengan pengemis, apa yang ada di benak Anda? Ada “intimidasi” tertentu bahwa Anda harus memberi.

Pemimpin bermental pengemis 180 derajat dengan pemimpin bermental memberi. Yang ada adalah kemampuan untuk memberi. Itulah kiranya pemimpin menjadi kuat. Pemberian bukan hanya dalam bentuk materi, melainkan juga dalam bentuk perhatian, semangat, dan support positif.

Pemimpin bermental pengemis yang ada di orbit pikirnya adalah apa yang bisa diberikan, dikontribusikan oleh aparat di bawahnya. Jika tiada dapat memberikan dan mengkontribusi maka semburan makian, kesinisan akan diujarkannya.

Pemimpin bermental memberi yang ada di orbit pikirnya adalah apa yang bisa diberikan, dikontribusikan kepada aparat di bawahnya. Ia mendengar segala lara, keluh kesah aparat di bawahnya. Dia berusaha sekuat daya untuk membantu, memberikan saran. Aparat yang berada di bawahnya merasakan kenyamanan perlindungan, proteksi, dan diberikan jalan keluar.

creativity b

Pemimpin bermental pengemis merupakan orang-orang yang rakus dan egois. Mereka akan berusaha untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya bagi dirinya sendiri. Mereka akan mencari aman sendiri untuk kepentingannya sendiri. Mereka juga tak segan untuk mengorbankan bawahannya. Jangan lupakan bahwa mereka kerap bersilat lidah untuk melindungi ego rakus dan keegoisan yang dimiliki.

Pemimpin bermental memberi merupakan orang-orang yang berpikir untuk kebaikan bersama. Bagaimana kiranya untuk maju secara bersama-sama. Suasana keakraban muncul dikarenakan para bawahan merasakan kontribusi positif dari sang pemimpin. Ada rasa salut dikarenakan pemimpin telah selesai dengan dirinya dan berusaha untuk memikirkan manusia-manusia yang berada dalam area kepemimpinannya.

Pemimpin bermental pengemis akan dimusuhi oleh aparat di bawahnya. Akan terjadi pemberontakan, pembangkangan dengan berbagai cara.

Sedangkan pemimpin bermental memberi akan mendapatkan persahabatan. Hubungan diperluas dalam spektrum kemanusiaan. Sehingga tali temali sosial benar-benar terasa. Pemimpin bermental memberi akan begitu dirindukan ketika pergi dari jabatannya. Sedangkan pemimpin bermental pengemis akan disyukuri bahwa dirinya tiada lagi menjabat. Lantas tipe pemimpin yang manakah Anda?

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Kepompong Intelektual

Menulis memerlukan keheningan tersendiri. Itulah terkadang saya harus berada dalam ‘kepompong intelektual’. Saya terkadang mematikan ponsel. Karena kerap ponsel menjadi distraksi tersendiri dalam menulis. Mungkin itulah salah satu rahasia dalam menulis, yakni fokus. Menulis merupakan lakon yang sulit untuk dilakukan secara multitasking. Fokus saja pada satu segi dalam satu waktu yakni menulis.

Kepompong intelektual merupakan negasi dari perbincangan yang tiada perlu. Kalau mau jujur berapa persen sebenarnya dari perbincangan kita yang bermanfaat? Ada waktu yang tercecer percuma dari perbincangan yang tiada perlu. Maka ketatkan diri, disiplinkan diri untuk berbincang dengan orang-orang yang kiranya dapat menjadi inspirasi dan menghadirkan manfaat. Saya terkadang mengurangi takaran waktu untuk berbincang yang saya sudah tahu isi kepalanya tong kosong. Berbicara ngalor-ngidul tanpa ilmu. Berbicara ngalor-ngidul tapi tiada ikatan substansi ilmu.

school a

Kepompong intelektual juga bermakna pemanfaatan waktu. Cobalah sediakan waktu yang hening, sendiri. Benar-benar fokus pada penulisan. Menggali ide dari diri sendiri, melakukan studi pustaka. Maka setelah sekian waktu lihatlah hasil yang tercapai. Ada output yang nyata-nyata terjadi. Jadikan itu sebagai menu keseharian. Maka ritme produktif akan melekat pada diri.

Kepompong intelektual juga memungkinkan untuk berlindung dari kecepatan teknologi. Sosial media, televisi, internet, seakan menjejalkan informasi yang begitu merentang. Tiada semuanya kita perlu lahap. Lebih baik lahap yang kita butuhkan. Cari kiranya yang konstruktif dalam menyusun intelektualitas dan karya tulis yang sedang dibuat.

Kepompong intelektual merupakan ranah kreativitas. Ada diskusi dengan diri sendiri. Dengan begitu maka diri akan terkokohkan. Memiliki kedalaman pemikiran. Memiliki karya yang terus menerus dihasilkan. Saya percaya sebelum orang memberikan ilmu, maka diperlukan internalisasi dan dialog dengan diri sendiri.

baca 1

Kepompong intelektual memungkinkan untuk melakukan revisi secara tenang. Karya yang disusun setelah melakukan penyempurnaan. Itulah kiranya saya tiada begitu tertarik pada berita-berita yang berseliweran di internet yang mengandalkan pada kecepatan. Bisa jadi terjadi kesalahan disana sini. Bersabarlah. Dalam menerima informasi. Dalam menghasilkan karya.

Kepompong intelektual kiranya berguna untuk mengasah intelektualitas. Diperlukan pematangan intelektualitas. Mematangkan, merenungkan dari apa yang dibaca. Merenungkan dari ide-ide yang bertebaran ataupun menjembatani antaride tersebut. Merenungkan tentang pilihan kata.

Mari menarik diri dari bising yang ada. Berangkat ke kepompong intelektual dan menghasilkan karya demi karya.

Posted in Edukasi, Essai, Sosial Budaya

Menulis, Lamunan, dan Waktu Tertentu

Saya selalu percaya bahwa menulis membutuhkan lamunan dan waktu tertentu. Lamunan itu untuk menghasilkan tema dan menakar perspektif yang digunakan. Itulah kiranya yang membedakan penulis dengan mesin kata-kata. Terdapat sentuhan kemanusiaan. Ini bukan sekadar menggelar data. Namun bagaimana mengolah data, menafsirkannya. Ini juga tentang kemampuan untuk memilah dan memilih data. Ini juga tentang memilah dan memilih artikulasi, diksi, kata, ataupun kalimat.

Menulis yang membutuhkan lamunan juga tiada terlepas dari pertanyaan internal dalam diri. Untuk menyusun tulisan misalnya kadang diperlukan percakapan internal mengenai aneka sudut yang dapat dikupas dari tulisan. Lamunan juga dibutuhkan untuk menyusun peta akan dibawa kemana tulisan tersebut. Oleh karena itu saya percaya menulis adalah momentum personal. Biarkan penulis tenggelam dalam lamunannya. Bercakap-cakap dengan pikirannya. Diperlukan keheningan tertentu, terlepas dari kebisingan perbincangan ataupun distraksi macam-macam.

baca 2

Menulis yang membutuhkan lamunan juga dikarenakan menulis merupakan ranah kerja imajinasi. Menulis bukan sekadar menjejalkan fakta, memuntahkan pengetahuan yang diketahui. Melainkan juga menempatkan “nyawa“ pada fakta dan pengetahuan yang diketahui. Misalnya dalam novel gubahan dari Jonathan Stroud seperti The Bartimaeus Trilogy terdapat sejumlah fakta yang dikemas dalam balutan imajinasi. Pun begitu yang dilakukan oleh J.K.Rowling dalam kisah Harry Potter yang mendedah sejumlah hal terkait mitologi. Bukan sekadar dalam kisah fiksi-fantasi, dalam buku Pemikiran Politik Barat karangan Ahmad Suhelmi misalnya, sidang pembaca diajak untuk melakukan tamasya intelektual ke pemikiran para filsuf dari berbagai era. Kiranya lamunan itulah yang membuat hasil tulisan bukan sekadar aksara yang berderet, melainkan memiliki kemampuan tutur yang memikat.

Saya percaya bahwa menulis membutuhkan waktu tertentu dikarenakan diperlukan cross check, validasi. Dalam menghasilkan tulisan, dari pengalaman saya bukanlah proses yang sekali jadi. Diperlukan pencocokan data, penelaahan mengenai typo, dan segalanya agar hasil tulisan itu sesempurna dan sebaik mungkin. Itulah kiranya saya kerap senewen kalau ada yang menggampangkan tulisan. Baik itu dalam waktu dan kualitas. Pada hakikatnya tulisan adalah menyusun bukti yang sifatnya tertulis, terdokumentasi. Dan bilangan waktu mendatang dapat dicek mengenai segalanya dari hasil tulisan tersebut. Maka adalah sebuah kebodohan besar manakala menulis secara serampangan. Ibaratnya eksebisionis teledor yang menceplokkan bukti otentik dan dapat diverifikasi di masa mendatang.

school a

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu juga untuk mematangkan gagasan. Tulisan perlu untuk “dibiarkan” beberapa lama. Untuk kemudian setelah berbilang waktu ditengok kembali. Dengan demikian sudut pandang, kemungkinan pendalaman juga akan lebih kaya secara pengayaan.

Menulis yang membutuhkan waktu tertentu dapat dikaitkan dengan jam menulis. Jules Verne misalnya menulis setiap habis Subuh. Raditya Dika yang memiliki jam menulis setiap harinya. Haruki Murakami yang memiliki 5-6 jam setiap harinya untuk menulis. Dalam menulis di ceruk waktu tertentu dibutuhkan kepompong perlindungan. Kepompong perlindungan dalam artian terhindar dari segala distraksi yang ada. Disinilah kemajuan teknologi dapat menjadi distraksi tertentu. Kemampuan untuk terhubung kapan saja, dimana saja, waktu kapan saja, dapat menjadi distraksi yang menggoda untuk menulis. Mungkin teramat mungkin ketika daya tulis Anda terlampau lamban, begitu-begitu saja dikarenakan Anda tiada disiplin dalam waktu tertentu untuk menulis. Jika serius untuk menekuni tulisan menurut hemat saya alokasikan waktu tertentu untuk menulis. Buat disiplin waktu tertentu yang digunakan untuk menulis. Singkirkan segala distraksi. Dan saya percaya jika disiplin itu diterapkan maka output berupa tulisan juga akan terlihat.

pen 2

Sejumlah tempat misalnya dapat menyokong lamunan dan waktu tertentu. Keponakan saya misalnya ketika mengerjakan tugas memilih tempat di salah satu gerai kopi terkemuka. Ia biasanya memesan green tea latte, lalu dalam waktu tertentu mengerjakan tugas sekolahnya. View yang bagus, pemandangan yang nyaman, akses internet, membuat waktu tertentu dapat menjadi produktif.

Tentu masih banyak tempat untuk memasok lamunan dan waktu tertentu dalam menulis. Tergantung selera masing-masing. Saya misalnya memilih untuk menulis di rumah. Diantara tumpukan buku, kenyamanan rumah, daya lamunan dan waktu tertentu saya dapat lebih teroptimalkan.

Demikianlah sekelumit tulisan saya. Semoga bermanfaat adanya dalam ranah penulisan. Selamat melamun dan menyediakan waktu tertentu untuk menulis.