Posted in Essai, Sosial Budaya, Teknologi

Teknologi Substansial

Baiklah saya bukanlah pengikut yang baik bagi segala teknologi yang berkembang. Pada beberapa hal saya merasa seperti orang yang berada dari ceruk waktu masa lalu. Saya menyukai rupa-rupa yang bernuansa oldies. Seakan ada ke-wow-an tertentu dari segala yang bernuansa jadul. Maka disinilah saya dengan segala kesederhanaan teknologi.

Berinteraksi dengan ragam manusia menjelaskan berbagai sudut pandang. Dan saya kerap menemui orang yang mengunggulkan teknologi. Dalam perbincangan, keluarlah segala macam perangkat teknologi terbaru, kelebihannya, dan segala macamnya. Dan kadang mereka berbangga dengan sophisticated dan kecanggihan teknologi tersebut. Saya pun menghadirkan tanya dalam benak: Apakah teknologi itu dapat menunjang karya? Apakah mereka tak lebih dari kelompok yang berbangga sebagai konsumen?

Baiklah apakah segala perangkat teknologi yang canggih itu berkorelasi positif terhadap karya? Saya pikir kehadiran manusia di bumi ini adalah untuk berkarya. Jangan-jangan perangkat canggih itu lebih merupakan prestise, bahkan dapat mengganggu kinerja. Kemudahan untuk berselancar di dunia maya misalnya dapat menjadi distraksi yang handal bagi pengerjaan sebuah karya. Saya pribadi ketika membuat tulisan, kerap ‘memutus’ segala ‘gula-gula teknologi’. Saya abaikan segala sosial media, saya bahkan terkadang memadamkan ponsel. Itu dikarenakan saya berpendapat pada beberapa titik, teknologi dapat mengganggu terselesaikannya penyelesaian karya. Jadi sebelum berbangga dengan segala gemilang teknologi, mari bertanya jujur akankah teknologi tersebut men-support karya atau malahan menjadi distraksi tak perlu bagi produktivitas.

Apakah mereka tak lebih dari kelompok yang berbangga sebagai konsumen? Hanya manusia dan bangsa yang memproduksi yang memiliki karakter. Postur APBN di negeri ini boleh dibilang digerakkan oleh konsumsi dalam negeri. Bangsa ini adalah pelahap dari rupa-rupa produk. Pertanyaannya akankah puas sekadar menjadi bangsa konsumen? Mari beralih menjadi bangsa produsen. Buatlah karya-karya, hasilkan rupa-rupa. Dengan berkarya saya percaya apresiasi terhadap sesuatu akan lebih baik. Nyinyir komentar sinis terhadap suatu karya atau produk dalam pandangan saya tiada terlepas dari sekadar budaya konsumen yang terlampau akut. Beda kiranya dengan ketika menjadi pribadi produsen. Pribadi produsen akan mengetahui sukarnya, terjalnya hingga sebuah produk muncul ke pasaran. Jadi mengapa begitu berbangga dengan buah inovasi ciptaan orang lain? Jadi mengapa begitu berbangga menjadi bangsa konsumen? Mari berbangga dengan produk buatan sendiri. Mahatma Gandhi menggerakkannya dalam narasi bernama Swadeshi. Soekarno menarasikannya dengan berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).

Saya pikir dengan perspektif tersebut maka teknologi akan menemui substansi sejatinya. Teknologi substansial bukan teknologi prosedural. Teknologi prosedural sekadar fisik, perangkat, namun gagal menjiwai hakikat inti dari ide, kreativitas, jiwa dari teknologi tersebut. Sedangkan teknologi substansial ialah dapat menyelami makna, jiwa dari teknologi yang terus tumbuh dan berkembang. Teknologi boleh canggih, namun manusianya juga harus canggih memaknai kehidupan.

Posted in Sosial Budaya, Teknologi

Hari Libur Internet

Pernahkah anda merasa internet seperti black hole? Sekuat anda melawan, berbagai upaya untuk menghindar, namun kembali tertarik pada “magnet” internet. Seperti bertekuk lutut, menyerah kalah pada teknologi yang satu ini. Kemutakhiran era tidak selalu serta merta menghadirkan segala yang positif. Setiap era selalu memiliki derajat permasalahan dan ragam dilema. Kali ini saya mengajukan satu usulan yakni hari libur internet. Hari libur internet ialah satu hari dalam seminggu benar-benar 100% tidak membuka internet. Sebelum saya mewacanakan usul hari libur internet, saya sendiri telah menerapkan hari libur internet. Biasanya saya meliburkan diri dari internet pada hari Sabtu dan Ahad.

Apa pentingnya hari libur internet? Ada beberapa mozaik manfaat yang dapat direguk dengan meliburkan diri dari internet. Berikut beberapa manfaatnya: anda bisa hidup tanpa internet, dapatkan waktu nyata, menghapus kecanduan internet, masih banyak keindahan dan kewajiban hidup.

# Anda bisa hidup tanpa internet

Asumsi modernitas dan setiap harinya anda harus terkoneksi dengan internet merupakan ide yang salah menurut hemat saya. Anda masih tetap bisa hidup kok, walau sehari saja tanpa berinternet. Kehidupan akan tetap berjalan dengan lajunya. Mungkin anda pernah mengalaminya, pergi ke daerah yang tidak mendapatkan layanan penuh internet. Alhasil terpisahlah anda seharian dari internet. Toh dalam hari itu anda bisa tetap survive. Sekali waktu meliburkan twitter, facebook, email. Memberikan jarak antara dunia maya dan dunia nyata.

# Waktu nyata

Ada istilah “Yang dekat menjadi jauh, yang jauh menjadi dekat”. Mari robohkan delusi teknologi. Robohkan tembok destruktifnya. Berikan waktu yang nyata pada orang-orang terdekat, bukan sekedar berada dalam satu ruang tapi berkelana ke dunia maya. Hadapi kenyataan kekinian. Jangan autis dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di real time. Ilustrasi dari video klip Begitu Indah oleh Band Padi menurut saya begitu mengena dengan poin ini. Dikisahkan bagaimana begitu majunya teknologi sehingga sentuhan terhadap daun yang berguguran, bunga yang bermekaran dimungkinkan dengan teknologi. Namun, akhirnya personel Padi, memilih keluar dari segala tawaran teknologi tersebut, mereka keluar dan merasakan langsung bagaimana indahnya daun yang berguguran, bunga yang bermekaran.

Bagaimana kiranya dengan kita? Sedikit banyak internet telah menawarkan delusi keindahan dan persahabatan. Mari jenguk langsung keindahan dan persahabatan. Temui orang-orang terdekat anda dengan bertatap muka, tidak sekedar bersua via dunia maya. Lihat mata mereka, amati gesture mereka, tertawa dengan lepas. Hiduplah benar-benar dengan waktu nyata, berikan atensi pada kehidupan nyata dan orang yang ada di hadapan anda.

# Menghapus kecanduan internet

Dalam 24 jam, bisa jadi pola hidup manusia sekarang begitu terkait dengan internet. Rhenald Kasali memotretnya dengan menyatakan ketika bangun pagi yang pertama dicek ialah notisfikasi di facebook. Kehidupan manusia kontemporer bisa jadi dari bangun pagi hingga menjelang tidur selalu terkait dan terikat dengan internet. Bagaimana dengan anda? Internet bukan saja ketika pagi membuka mata dan malam menjelang tidur, melainkan menyita waktu-waktu di saat jam produktif kerja. Lama kelamaan kecanduan internet terjadi. Internet dan diri merupakan unsur yang tak dapat dipisahkan.

Hari libur internet bagi yang telah dalam fase kecanduan internet merupakan solusi untuk terbebas dari patologi tersebut. Bagi para pecandu internet akan timbul resistensi untuk menerapkan hari libur internet. Saran saya ialah tekadkan diri, kuatkan diri untuk melakukan hari libur internet. Ingat manfaat jika terlepas dari kecanduan internet, ingat tentang bagaimana internet telah membelenggu waktu dan membuat sejumlah pekerjaan terbengkalai. Melakukan hari libur internet berarti menginjeksikan habbit baru. Sebuah pola tradisi terjadi melalui serangkaian kegiatan berulang. Maka untuk menangkal racun kecanduan internet, harus melawannya dengan melakukan pembiasaan berlepas dari internet.

# Masih banyak keindahan dan kewajiban yang harus dipenuhi

Berselancar di internet dapat menyedot waktu dan atensi terhadap segala sesuatu. Nyatanya masih banyak keindahan yang ada di bumi ini. Dibanding mensearching data dan mengangankan suatu tempat, datang ke tempat tersebut lebih indah kiranya. Ada keindahan yang tak dapat didefinisikan dalam perjalanan. Dan kali ini anda punya privilege untuk menikmatinya personal, tanpa harus repot membaginya kepada khalayak. Satu potongan fragmen dalam film The Smurfs (2011) menggambarkan bagaimana ada keindahan yang terlewat. Sementara orang-orang sibuk dengan gadget, sibuk berselancar di dunia maya, Patrick (si tokoh utama) mendapatkan keindahan dari melihat bayi yang bermain dengan orang tuanya.

Seberapa banyak sebenarnya momen keindahan yang terlepas dari mata, padahal keindahan itu nyata adanya. Kita hanya perlu melihat dan sejenak menyisihkan internet. Hari libur internet juga memberi waktu bagi berbagai kewajiban yang belum terlaksana. Saya percaya kewajiban yang kita miliki lebih banyak dari waktu yang ada. Kewajiban dengan pekerjaan yang sekian lama tertunda, kewajiban untuk senantiasa belajar, kewajiban sebagai makhluk sosial, dan sebagainya. Mari putuskan koneksi internet sejenak dari diri kita dan penuhi segala kewajiban yang kita miliki.

Teknologi tidak selalu membantu. Teknologi dapat menjadi entitas yang menjerumuskan dalam kesia-siaan. Mari maknai waktu dan memberi arti pada waktu. Setujukah anda dengan satu hari dalam seminggu tidak berinternet?

Posted in Fiksi Fantasi, Film, Teknologi

Apakah Anda Monster?

Thomas Hobbes pemikir yang lahir dan mengalami proses intelektualisasi dalam situasi sosial politik anarkis abad XVII menuturkan sebuah tesis bahwa manusia akan menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus). Tesis dari Hobbes dilandasi bahwa persaingan akan melahirkan rangsangan-rangsangan alamiah untuk menggunakan kekuasaan dalam diri manusia. Dalam menghadapi persaingan, manusia terdorong untuk menggunakan kekuasaan yang ada padanya. Kecendrungan itu semakin kuat mengingat manusia pada dasarnya adalah makhluk pemburu kekuasaan. Berdasarkan asumsi itu, Hobbes berpendapat bahwa kehidupan manusia akan selalu diwarnai oleh persaingan dan konflik kekuasaan.

Kekerasan menjadi alat paling ampuh yang sering digunakan dalam persaingan dan konflik itu. Tak mengherankan menurut Hobbes bila kemudian secara alamiah manusia akan saling memerangi manusia lainnya. Semua manusia akan berperang melawan semua (bellum omnium contra omnes) (Ahmad Suhelmi:Pemikiran Politik Barat, hal 171-172).

Pada hari Sabtu malam kemarin (8 Oktober 2011), Saya menonton film di Trans 7 yang berjudul How to Make a Monster (2001). Terus terang yang menyebabkan Saya memutuskan untuk menonton film tersebut dikarenakan adanya irisan dengan tema fiksi fantasi. Secara sederhana, dikisahkan ada 5 orang yang dikarantina untuk membuat sebuah game. Imbalan uang sebesar 1 Juta Dollar bagi pembuat game terbaik akan menjadi ganjarannya. Dari deretan pemeran utama, ada dua orang yang Saya kenali mukanya. Yang pertama ialah pemeran Hardcore (Tyler Mane). Tyler Mane merupakan pemeran Sabertooth dalam film X-Men (tahun 2000) (yang bagi Saya benar-benar mengecewakan kualitas dari X-Men). Sosok kedua yang Saya kenali ialah si pegawai magang bernama Laura (Clea DuVall). Clea DuVall pernah bermain dalam film The Faculty (1998) dengan peran sebagai seorang gothic. The Faculty sendiri menurut Saya seru dan menghibur (Anda dapat melihat akting dari Elijah “Frodo Baggins” Wood. Ajaibnya Elijah Wood tetap berwajah muda sejak dulu, apakah dia hobbit?)

Film How to Make a Monster sendiri secara tampilan visual tidak begitu menarik. Latar tempat kebanyakan berada di tempat karantina (kantor). Sehingga penonton hanya akan berpindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Game Evilution yang dirancang oleh para kreator games secara grafis begitu oldies. Mungkin secara tampilan menarik bagi para arkeolog, ataupun mereka yang menyukai sesuatu yang beraroma vintage.

Film How to Make a Monster mengurai tentang relasi persaingan dan persahabatan antara kelima tokoh utama dalam film. Ada Hardcore, Sol, Bug, Drummond, Laura. Hanya Laura satu-satunya dara di tokoh utama. Laura sebagai pegawai magang tampil dengan karakter protagonis. Keluguan, kebaikan, pengabdian dalam pekerjaan ditunjukkannya. Laura-lah yang menyiapkan segala pernak-pernik kebutuhan para kreator game. Mulai dari obat jerawat, anggur antik, memberi makan ikan. Laura ibarat si cantik yang terdampar diantara orang-orang aneh dan freak.

Pada beberapa kasus keanehan para gamers dan pembuat games memang dapat akut. Keakutan tersebut bisa jadi seperti berada di orbit dan dunia yang berbeda dari bumi. Hujaman dari fiksi fantasi telah begitu kuat, sehingga mengaburkan batas antara dunia fiksi dan dunia nyata. Di Jepang misalnya dikenal dengan istilah hikikomori. Hikikomori sendiri menurut bapak blogger Indonesia (Enda Nasution) sebagai Masuk kamar dan tidak keluar lagi. Meninggalkan dan menutup diri dari dunia luar. Kebanyakan menghabiskan waktu dengan bermain game atau musik, atau menghabiskan waktu di depan komputer dan entah apa lagi yang mereka kerjakan di dalam kamarnya (http://enda.goblogmedia.com/hikikomori.html).

Kembali ke film, keberadaan Laura yang terdampar diantara orang-orang aneh dan freak sempat diulas melalui dialog antara Drummond (si pemimpin proyek) dan Laura. Drummond bertanya mengapa Laura bersedia menghabiskan waktu dengan sekumpulan orang aneh dan tidak pergi saja berpacaran dengan pria seperti kebanyakan wanita lainnya. Dan Laura pun menjawabnya bahwa itulah pilihan dia untuk berada diantara orang-orang aneh tersebut serta dirinya ingin belajar lebih banyak.

Tim pembuat game sebenarnya hanya terdiri dari 3 orang yakni Hardcore, Sol dan Bug. Hardcore bertugas untuk mengcover sisi pertarungan. Tak mengherankan selain secara postur tubuhnya tinggi besar seperti pegulat dalam WWF Wrestling, dirinya juga hobi mengkoleksi berbagai macam senjata abad pertengahan seperti pedang, kapak, perisai. Sol bertugas untuk mengatur hardware dan software dalam game. Pria berkulit hitam ini mengatur sistem agar berjalan baik. Sedangkan Bug bertugas pada pengisian suara. Keanehan Bug terlihat misalnya dengan memilih ruang kerja di toilet. Alasannya sih untuk mendapatkan audio suara yang lebih baik.

Saling curiga, persaingan, paranoid, terlihat nyata dari tokoh Drummond, Hardcore, Sol, dan Bug. Hal tersebut tergambar dari tempat kerja yang terpisah (seakan menjadi kuil masing-masing) dan dari gesture kesemuanya. Aksi sabotase misalnya dilakukan Sol terhadap Hardcore, sehingga keduanya sempat adu mulut dan nyaris bentrok fisik. Uang satu juta dollar telah menjadi magnet yang menumbuh suburkan bibit-bibit monster dalam diri manusia.

Waktu di karantina terus melaju, masing-masing dari ornamen bekerja sesuai dengan segmentasi keahliannya untuk membuat game petualangan monster yang menarik. Prototipe dari Evilution (nama gamenya) pun diujicobakan oleh Sally, Hardcore, Sol dan Bug. Gamenya sederhana hanya berpetualang bertarung melawan sekumpulan monster (dalam berbagai bentuk, ada yang tengkorak, ada yang seperti kelelawar) dan mengalahkan monster-monster tersebut. Tagline dari gamenya ialah Membunuh atau Dibunuh. Sebuah tagline yang sudah tersohor dalam dunia pertarungan dan peperangan.

Menjelang waktu 1 bulan masa karantina berakhir, game telah nyaris usai. Namun, sebuah hujan badai menyebabkan terjadinya efek enigma bagi game Evilution. Terjadi arus balik sehingga artificial intelligence dalam komputer mengambil alih. Kecerdasan buatan dalam game kini menyata dalam kehidupan nyata. Jika normalnya baju telemetri dikendalikan oleh model lalu gerakannya diikuti komputer. Akibat dari hujan badai, komputer dengan kecerdasan buatannya mengendalikan baju telemetri.

Sekilas laju film yang tadinya bermuatan fiksi fantasi menjadi cerita horor macam kisah Jason dengan parang dan topengnya. Baju telemetri lalu memburu kelima orang yang berada di dalam karantina. Ingat tagline membunuh atau dibunuh telah terprogram dalam-dalam. Korban pertama dari baju telemetri yang telah dikendalikan oleh komputer ialah Sol. Sol yang sedang mencoba game monster tersebut, tiba-tiba ditarik dari bawah meja dan dialmarhumkan.

Kematian Sol pertama kali ditemukan oleh Hardcore dan Bug. Bug sempat berkeras untuk menelepon polisi untuk melaporkan kematian Sol. Namun, Hardcore mempersuasi bahwa jika polisi datang tempat ini akan ditutup dan game Evilution akan gagal terselesaikan dan uang 1 juta dollar pun melayang. Hardcore memandang kematian Sol sebagai berkurangnya saingan dan kemungkinan pembagian 1 juta dollar. Akhirnya mereka sepakat dan menyembunyikan mayat Sol di lemari sapu. Bagaimana persaingan dan nafsu akan uang telah merasuk dan mengkudeta rasa kemanusiaan.

Baju telemetri lalu mengambil tubuh Sol sebagai bentuk fisik dirinya, setelah sebelumnya hanya berbentuk rangka. Guliran korban berikutnya ialah Hardcore. Hardcore sempat bertarung habis-habisan dengan baju telemetri yang dikendalikan komputer. Tapi, apa daya Hardcore menemui kekalahannya. Hardcore memilih untuk bertarung dalam ruang kerjanya, sedangkan Bug, Drummond, dan Laura berada di luar. Dari kaca pintu adegan berdarah pertarungan terjadi.

Ketegangan memuncak. Lalu ketiga manusia yang tersisa berembuk untuk menuntaskan masalah ini. CD cadangan dan memodifikasi sistem utama merupakan jalan yang dapat menghentikan kegilaan dan kekacauan yang disebabkan oleh artificial intelligence dari komputer game tersebut. Namun, CD cadangan yang memuat game raib. Sehingga Bug dan Drummond (si pemimpin proyek) memutuskan untuk memodifikasi sistem utama yang terdiri dari sistem komputer besar. Bug mengotak-atik sistem utama, sedangkan Drummond mencari tahu keberadaan si baju telemetri. Di sela kepanikan, Bug lalu menancapkan obeng di saklar utama dengan maksud mematikan sistem utama. Namun yang terjadi ialah terkuncinya masing-masing ruangan. Sehingga baik Laura, Bug, dan Drummond terpisah ruangan.

Melewati saluran udara di atap merupakan jawaban untuk berpindah ruangan. Namun, malang bagi Bug, dirinya terjatuh di ruang kerjanya (toilet). Diiringi dengan aneka ragam teror suara dari efek yang dihasilkan Bug untuk game monster tersebut. Hingga tersadarlah Bug bahwa si monster dengan perlengkapan perang lengkap kini (hasil dari memasang sejumlah perlengkapan dari Hardcore. Hmm..nampaknya si monster telah naik level). Babak belurlah Bug dihantam kesana kemari seperti bola pingpong. Sedangkan Laura dan Drummond berusaha membantu dengan menuju tempat kerja Bug lewat saluran udara di atap.

Bug tahu persis dirinya akan mati, namun setidaknya dia ingin membawa si monster ikut mati bersamanya. Dengan menggunakan gas dari kompor yang terurai di udara, Bug menyalakan api. Sehingga muncullah ledakan dan lautan api. Akhir dari riwayat Bug. Laura dan Drummond kemudian berusaha untuk keluar dari tempat karantina. Laura mengacak-acak tumpukan barang yang telah berantakan. Sampai dia menemukan rekaman kamera CCTV. Faktanya menyakitkan dirinya. Ternyata CD cadangan yang dapat mengakhiri si monster dicuri oleh tak lain, dan tak bukan oleh Drummond (si pemimpin proyek).

Laura pun menodongkan pistol sembari mengkonfirmasi kepada Drummond. Drummond sembari terkekeh mengkonfirmasi tentang keserakahan dan ambisinya. Ia berniat untuk menjual game tersebut kepada perusahaan kompetitor pesaing. Sembari melontarkan kalimat retoris Drummond berkata “Why not?” Laura memutuskan untuk menembak kaki Drummond. Meski kesakitan Drummond berusaha menyerang balik dari belakang dengan menggunakan crossbow. Namun, ia tidak menyadari bahwa si monster telah hadir di belakangnya untuk kemudian melakukan gerakan seperti fatality di mortal combat.

Laura sebagai manusia terakhir memilih untuk bertarung dengan si monster. Ia menggunakan kacamata game yang mengingatkan Saya pada video klip Kla Project berjudul Romansa. Pertarungan adu pedang antara Laura dan si monster terus berlangsung hingga berpindah ruang. Tibalah keduanya di akuarium tempat ikan. Laura memutuskan untuk memecahkan kaca akuarium sehingga airnya membanjiri ruangan dan tersetrumlah si monster. Untuk memastikan akhir, Sally menancapkan pedang di jantung si monster.

Scene pun berpindah. Kini Laura telah berpakaian rapi dengan kesan lebih dark (dari semula dirinya yang lugu dan percaya kepada kebaikan manusia). Laura pun meminta bayaran 1 juta dollar atas CD cadangan yang dipegangnya atas permainan Evilution. Dengan mengancam, Laura memainkan kartu politik dan mendapatkan keinginannya.

Scene pun berpindah lagi. Kini Laura sibuk marah-marah persis seperti Drummond si pemimpin proyek yang licik. Laura kini begitu mirip dengan si pemimpin proyek. Arogannya, gaya sombongnya, obsesi uangnya. Lalu, calon pekerja magang datang untuk diwawancara oleh Laura. Dengan tak acuh Laura menanggapi pertanyaan dari si calon pekerja magang. Sampai akhirnya si calon pekerja magang bertanya, Apa rahasia sukses Anda? Laura langsung bertindak serius dan menjawab sepenuh jiwa. Laura menjawab rahasia suksesnya ialah “Jangan bersikap baik. Karena kita hidup di dunia dimana sifat jahat jadi pemenang. Karena di dalam hati kita adalah monster.”

Laura pun teringat dengan memori sehabis dia mengalahkan si monster, terdapat cekungan air di dunia game. Di cekungan air tersebut ketika Laura berkaca, dan yang dia lihat adalah sesosok monster.

Menurut hemat Saya, film How to Make a Monster merupakan sebuah film yang mempertanyakan kemanusiaan kita. Mempertanyakan tentang kerja dunia. Mempertanyakan tentang kehidupan. Bagaimana ambisi dan keserakahan telah membuat manusia dapat saling memangsa. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes di dua alinea pertama artikel ini. Memburu kekuasaan, konflik, persaingan, bisa jadi menghadirkan monster dalam diri manusia. Kemanusiaan yang luhur dan mulia menjadi luntur. Manusia seperti para pencabik pemangsa di puncak piramida dengan leleran darah dan tawa yang menyeramkan. From turning into a monster and eating us alive- seperti lirik lagu monster dari band Paramore. Jadi wajarlah jika Saya bertanya pada akhir artikel ini:”Apakah Saya monster?” “Apakah Anda monster?” Saya pikir masing-masing dari diri kitalah dengan menggunakan hati nurani akan mampu menjawabnya.

Referensi Tulisan:Ahmad Suhelmi:Pemikiran Politik Barat; http://www.imdb.com/title/tt0281919/; Lirik Lagu Monster Band Paramore; http://enda.goblogmedia.com/hikikomori.html; Ask the friend

{fin}

Kalfa (Kaldera Fantasi) ialah komunitas pecinta fiksi fantasi. Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

Posted in Sosial Budaya, Teknologi

Trisula Teknologi

Salah satu permasalahan dari manusia saat ini ialah konsentrasi dan fokus. Mengapa demikian? Karena begitu banyak distraction dalam kehidupan sehari-hari. Ambil contoh dengan adanya televisi, ponsel pintar serta keberadaan internet yang telah semakin melekat menjadi DNA hari kita terhabiskan. Bukan berarti Saya anti terhadap segala perangkat teknologi tersebut, namun perlu kiranya untuk mengirimkan sinyal bahaya terhadap kelekatan terhadap perangkat zaman tersebut. Sinyal bahaya dapat disebabkan karena kelekatan kita akan televisi, ponsel pintar, serta internet.berakibat tersedotnya waktu dalam pusara limbah kesia-siaan.

Bukankah dalam Islam, janganlah menjadi sia-sia, dan menghargai benar waktu. Maka, coba cek, evaluasi, segala laju kehidupan dalam sehari semalam. Apa saja yang telah dikerjakan? Apa saja yang telah dilakukan? Mampukah kita menang? Ataukah ternyata ada begitu banyak ceruk yang terhabiskan di depan televisi, internet, bersama ponsel pintar.
Konsentrasi dan fokus merupakan prasyarat bagi keberhasilan dan usainya suatu pekerjaan. Multi tasking, kerja sambil nyambi, membuat beberapa karya dan kerja tidak optimal. Mari jinakkan teknologi. Jangan mau menjadi budak teknologi.

Kehadiran ponsel pintar dalam kehidupan berhasil menjadikan seolah dunia berada dalam genggaman domain alat komunikasi yang memiliki basis penemuan awal oleh Alexander Graham Bell ini. Mau menelepon bisa, sms mampu, BBM sering, membuka lintas sapa melalui media sosial dapat, menjelajah internet siap. Kemampuan komplet ini dapat membuat yang jauh menjadi dekat, dan yang dekat menjadi jauh. Mulai sekarang mari kendalikan diri. Jangan tercandukan waktu akut akibat ponsel pintar. Bebaskan diri dari budak teknologi.

Berjalanlah selusuri tempat. Bernavigasilah, dan apa yang ditemukan? Suara televisi. Televisi menjadi sobat yang begitu sohib bagi kehidupan. Entah sudah berapa waktu tersedot oleh “black hole” ini. Hanya terpaku bersama kotak segi empat tersebut. Mari renungkan tentang menu hidangan televisi yang sebenarnya tidak menyehatkan bagi pikiran dan jiwa. Apa yang diasup bagi makanan pikiran dan jiwa pastinya akan berpengaruh. Contoh sederhananya ialah dalam percakapan sehari-hari, seberapa banyak keluar “catatan kaki” dari kalimat yang bersumber dari tontonan di televisi.

Pola pikir menjadi tercetak dengan kanal yang meluas dari Sabang Sampai Merauke. Jangan lagi kalah dengan Siren audio visual tersebut. Janganlah jadi budak teknologi. Ada beberapa cara mensiasatinya, batasi tontonan televisi. Bahkan di beberapa daerah, ada program untuk memateni televisi dari ruang keluarga pada jam-jam tertentu, dan digunakan sebagai jam belajar. Yap, pemerintah punya tanggung jawab untuk mencerdaskan dan menyelamatkan masyarakat yang dipimpinnya. Jika pemerintah terlalu sibuk dengan kegaduhannya, maka marilah kita memulainya dengan diri kita sendiri, lalu membagi inspirasi pada orang lain.

Siasat lainnya ialah dengan membuat daftar tayangan layak tonton. Buat list mengenai hari dan jam menonton. Misalnya saja, acara-acara yang bergizi dan berbobot. Acara-acara yang memberikan nilai tambah bagi diri kita, tidak sekedar hiburan heboh kempot makna.Dengan begitu terdata seberapa banyak dalam seminggu menghabiskan waktu di layar kaca yang bermanfaat adanya. Tentu saja cara tersebut tidak berarti membunuh tontonan-tontonan insidental yang mendidik.

Terakhir, internet. Pergunakan berbagai media sosial dengan bijak. Ingatlah bahwa kewajiban kita lebih banyak dari waktu yang dimiliki. Jadi, jangan terhanyut, terlenakan dalam lintas riuh dunia maya. Terus terang, Saya agak terganggu dengan begitu gaduhnya jejalan informasi yang masuk setiap kalinya berselancar di internet. Domain Facebook, misalnya yang diwarnai dengan narsisme, keluhan, yang menurut Saya patut untuk banyak diskip dari arsip waktu kita. Tak semua informasi tersebut berdayaguna bagi diri. Gunakan internet sebagai pintu upaya untuk menambah ilmu.
Tak perlu pasif pula, tapi berikan corak, karakter, dari kehadiran diri di internet. Ada medium blog (yang memungkinkan untuk menjadi arsip intelektual, sekaligus kanal penyebaran ide), ada facebook (dengan aneka fasilitasnya yang cukup mensupport bagi proses persebaran ilmu), ada twitter (berkicau dengan cerdik. Contoh nyatanya ialah kicauan dari Goenawan Moehammad yang telah dibukukan), dan banyak lagi. Dalam istilah Saya, mari menjadi ideolog net. Jangan hanyut, tetapi menjadi arus…

Sebagai penutup artikel, Saya dan Andalah si pemegang kekang kendali teknologi. Mari menjadi manusia modern yang otentik.