Kau di Masa Depan Akan Membenci Dirimu di Masa Lalu

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kau akan membenci dirimu sendiri yang tak berani bilang cinta

Kau yang terlalu pengecut untuk memintal kata yang telah membara di cetakan hatimu

Kau ragu

Kau menakar kemungkinan

            Kalimatmu hanya berputar-putar bagai gangsing yang berotasi

            Kau tak berani lewati garis demarkasi dirimu dan dirinya

Kau buat alasan dengan logika dicocok-cocokkan

Kau karang 7 alasan kenapa dirimu gagal menempuh rasa

            Kau peluk diri sendiri

            Sembari membayangkan dirinya

Kau di masa depan akan membenci dirimu di masa lalu

Tulislah 1000 puisi yang kau simpan di loker ingatan

Dia bukan cenayang yang dapat menerka 100%

Apa yang menggelora dan meletup di hatimu

Dia mungkin menunggu kau meniti jembatan kata

            Tapi kau memilih ilusi

            Bukankah ilusi yang membuatmu berani untuk hidup?

Advertisements

Bandar Udara

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bandar udara

Ada yang tanggal bersama waktu

Ada yang tinggal bersama kala

Bagimu yang menggigit bibir

Perpisahan di senja oranye

Kau peluk,

Kau pagut,

Kau seduhkan kesedihan

            Bandar udara adalah narasi sunyi

            Tempatmu pergi dan kehilangan

Lalu lalang orang

7 milyar penduduk bumi

            Ah sepi,

            Membungkusku dalam jubah satu nama

Bandar udara

Kala lepas landas,

Hatiku tandas

Lebaran Senja

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Lebaran senja, kalau kau tahu rumahmu telah padam

Ada yang diberi pagar tinggi lalu sepi

Ada yang meminta pajak finansial barulah kami berikan karpet merah

Ada atap dari bulanan yang telah terlewat

Kau tahu jiwamu pernah singgah di sana

Rasa hangat, secangkir tawa di tengah dingin dunia

Dirimu hanya pengelana yang mengetuk panca indra yang masih bermakna

Hormati Kami, Para Perampok!

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Para pencuri adalah makhluk yang aneh. Mereka mencuri, tapi minta dihormati. Dengan otoritas kuasa mereka kangkangi nilai-nilai keadilan. Mereka tertawa di atas nelangsa.

Maling dengan kata-kata terpilin. Dengan logika yang dibolak-balik, dipertukarkan. Mereka ingin berada di pucuk kasta. Hormati kami, para perampok!

Terenggut

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dia pasti meninggalkan jejak tulisan ini. Kau tahu ketika seseorang yang kau kasihi dan cintai telah meninggal dunia, maka segenap benda, jejak yang terkait dengannya akan coba kau genggam dan tafsirkan erat-erat. Pun begitu ketika 13 Maret 2016 ketika secara raga, saya berpisah dengan Dede Indrawati.

Saya merasakan kehampaan yang begitu berat. Lalu ponsel LG berwarna putih itu tak sekadar menyimpan rangkaian foto kami. Terdapat memo yang menyimpan puisi karya Dede Indrawati. Tarikh di ponsel bertanggal 28 Januari 2016. Secara skema waktu itu berarti setelah operasi ketiga dari istri saya, Dede Indrawati. Operasi ketiga dilakoni tanggal 20 Januari 2016 dan tanggal 28 Januari adalah masa pemulihan di rumah sakit Dharmais.

Operasi ketiga adalah sesi yang berat. Di tengah operasi, Dr.Ajoedi mendatangi saya dan ibunda Dede (Ibu Sariah). Dr.Ajoedi hingga memanggil seorang dokter lainnya. Seorang dokter perempuan. Bersama Dr.Ajoedi dan dokter perempuan itu penjelasan pun datang. Dari kanker usus telah menyebar ke rahim. Sehingga tindakan mengambil salah satu rahim menjadi opsi yang ditanyakan kepada saya dan ibu Sariah.

Tangis dan syok pun menghampiri kami. Keputusan harus diambil dalam hitungan menit. Dan kami bersepakat untuk menyetujui opsi yang diajukan Dr.Ajoedi. Operasi tersebut juga menjelaskan bahwa kanker yang menerpa istri saya telah naik secara stadiumnya, dari IIIB menjadi IV.

Sewaktu divonis menderita kanker usus stadium IIIB secara persentase diungkapkan ada peluang 60%. Probabilitas tentu telah menyusut dengan fakta yang diungkap kala operasi ketiga. Meski begitu bukankah kita mengharapkan keajaiban dan sederet data kuantitatif tersebut menjadi remah fakta yang terenyahkan.

Semenjak pertama kali bertemu kutahu Dede Indrawati adalah seorang yang cerdas. Ia pandai dalam memilah dan memilih kata. Dan puisi ini adalah salah satu bukti nyata kecerdasannya. Aku akan selalu merindukanmu, Dede Indrawati. Dan berikut adalah puisi dari Dede Indrawati seperti tertera di memo ponselnya.

 

Kesehatanku terenggut, dia masih disini.

Kerajinanku terenggut, dan dia masih disini.

Emosi dan amarahku tersulut, dia masih disini.

 

Kini,

Satu rahimku telah terenggut, 50 persen kemungkinan hidupku dalam 5 tahun terenggut, dan dia masih disini.

Karenanya, aku percaya cinta sejati itu ada.

Di saat aku tak punya apa2, aku tak bisa apa2, dan aku tak berpotensi apa2…dia yg selalu ada.

Apakah ketika aku tiada kamu akan selalu ada?

Kau yang Membacaku, Tanpa Aku Harus Bicara

Aku rindu caramu mencintaiku

Menyirami aku dalam tatapan matamu

Kau yang membacaku, tanpa aku harus bicara

            Aku rindu dengan perbincangan kita

            Sayap-sayap pemikiran segala ranah

            Kita kupas, ulas dunia dengan narasi dialog

Aku rindu,

Bahkan ketika kau marah

Kau yang terdiam

Hening saja

Lalu ketika gemuruh di dadamu telah surut

Perlahan bermekaran pertukaran kata antara kita

            Aku rindu dengan genggaman kita,

            Seolah kita akan hidup 1000 tahun lagi di dunia yang kita pertanyakan ini

            Apa pun cuaca, kita akan selalu bersama

Aku rindu kala kita bercanda

Cerdas nian kau menjahit logika humor

Kita tertawa begitu lepas,

Begitu bebas

            Aku rindu dengan petualangan tanpa rencana

            Kita berdebat

            Kita berargumen

            Kita merajuk

            Kita pun tertawa dalam cangkir kehangatan

Di perjalanan kita saling mengintip dan menitipkan pesan

Tersirat dan tersurat

Aku dan kau cinta seutuhnya,

Selengkapnya

            Cinta telah tiba

            Di beranda hati kita

            Dan kita menuainya dengan hati gembira

            Seperti petualang yang menatap rajutan konstelasi bintang di Bosscha sana

Cinta telah tiba

Dan sejak kala itu hingga selamanya kita tahu bagaimana cinta bekerja

Kata Kota

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kau tahu dunia sudah terlalu tua

Renta memikul bebannya yang kentara

Kita adalah sepasang kekasih yang kecewa

Menyiapkan lautan api untuk mengusir kebosanan

Kita sudah terlalu lelah dengan kuldesak tiap pagi

            Kita yang habis percaya pada dunia

            Lara yang mengikat jembatan hati kita

            Bersatu dalam kelabu

Lalu kita bernyanyi bersama tentang revolusi

Tangan kita bergenggaman,

di tangan yang lain auman api bersiap

Musnahlah kata

Musnahlah kota