Rumah Pikiran

Suatu Pagi di Bali

Dingin,

Hangat yang hilang dari jiwa

Terasing di bising

            Perayaan,

            Dan kau bertanya apa yang harus dirayakan

Confetti

Menghitung mundur menuju jam 12

Kau tahu ada yang kekal bersama waktu

            Setiap dari kita menyimpan bahayanya masing-masing

            Di ujung senja

            Kau nyalakan memori

            Dan kau tersesat,

            Kau terdampar,

            Kau tak bisa membedakan mana masa lalu, masa kini, dan masa mendatang

Di jalan tiada ujung

Kau terhempas dan terkuras

            Kau mengetuk-ngetuk pintu

            Kau masuki rumah pikiranmu

            Kau terasing dari pikiranmu sendiri

Advertisements

Ragam Purbasangka dalam Novel ‘Murder on the Orient Express’

murder_on_the_orient_express_2017_4k-3840x2160

Sebuah novel ketika dibedah dapat memuat hikayat ilmu sosial yang begitu kaya. Sebut saja novel Murder on the Orient Express, yang termaktub mengenai ragam purbasangka. Bahwa ras tertentu dilekatkan dengan hal-hal buruk dan negatif. Maka di buah karya Agatha Christie yang memiliki latar tahun 1934 ini menarik untuk ditelaah.

Berikut beberapa nukilan dari novelnya yang menunjukkan ragam purbasangka tersebut:

“Dia sudah tinggal cukup lama di Amerika,” ujar Monsieur Buoc, “dan dia orang Italia, dan orang-orang Italia biasanya suka menggunakan pisau! Dan mereka juga pembohong-pembohong besar! Aku tak suka pada mereka.”

 

“…Kejahatan ini sudah dipikirkan jauh-jauh hari dan dirundingkan masak-masak. Itu bukanlah – bagaimana ya menggambarkannya – bukan tindakan kriminal ala Latin – ini adalah suatu kriminalitas yang memakai kepala dingin, akal licik, dan otak yang kejam. Kurasa otak Anglo-Saxon.”

 

“…Sebenarnya sejak dulu saya tak begitu peduli pada orang Amerika – saya tak suka pada mereka.”

Poirot tersenyum, teringat kecaman MacQueen pada watak orang Inggris.

“Tapi saya senang pada orang Amerika yang satu ini. Rupanya dia punya ide aneh-aneh tentang situasi di India. Di situlah letak kejelekan orang Amerika – mereka begitu sentimental dan idealistis.

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Dongeng Si Abu-abu

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Akan kudongengkan kisah-kisah malam

Bukan tentang Cinderella

Atau putri-putri utopis itu yang berharap happily ever after

            Ini tentang kisahmu

            Si abu-abu

            Entah aku harus memanggilmu sang protagonis atau sang antagonis

            Dirimu yang maha pragmatis itu

Kau yang mengintip tiap peluang

Yang bermuara pada keuntungan dirimu

Namun kau baik

Sesekali membantu sesama

Menebarkan jala kebaikan, untuk yang dikenal dan mereka yang “tanpa nama”

            Di sisi lain, kau si pelontar aksara pengkanvas mental

            Kau rubah dan singa itu

            Seperti saran Machiavelli

            Meski terkadang kau bak Robin Hood

            Pencuri yang baik untuk sesama itu

            “Mengguncang status quo kemapanan ekonomi para rakus berperut buncit itu,” katamu sambil menuang anggur dan menata roti keju

Si abu-abu membuka menu makanannya

Wong cilik mana yang “kusantap” hari ini

Si abu-abu menerima panggilan telepon

“Ini ucapan terima kasih dari kami yang telah bapak bantu dengan cara saksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya,” ungkap suara lawan bicara si abu-abu.

            Cermin itu bertanya padaku dan padamu

            Akukah si abu-abu itu?

            Kamukah si abu-abu itu?

            Kita semuakah si abu-abu itu?

            Happily ever after, once upon a time kisah tentang si abu-abu

Fana Kita

jendela pesawat gunung

Waktu,

Apa yang tergenggam dan terlepas

Fana kita

Dan kita mengeja bersama waktu

            Berakrobat dengan detak yang memburu

            Dan pertanyaan-pertanyaan yang silih berganti

            Atau tentang mimpi yang mencumbu dan menyapamu di kala sendiri

Tentang arus manusia dengan egoisme dan kepentingannya masing-masing

Sanggupkah kau terus bertarung?

Lagi dan lagi

            Kau, manusia di ujung senja

            Menatap tanganmu dan warisan dendam apa yang telah kau siramkan

            Unggun angkara yang membubung dan menyisakan amis cerita

Rebahkan kepalamu di titik menjelang malam

Akan kuceritakan kisahku

Tentang tinta propaganda yang kuanyam dengan kuasa

            Kau atau aku yang lebih dulu mati

            Ditikam kebosanan & kesunyian jiwa

            Dan kita masing-masing bertanya fana kita, lalu apa?

Puzzle Sebuah Kota

Suatu Pagi di Bali

Pada putaran matahari kau tiba

Di suatu tempat, di penggalan waktu

Detak sebuah kota

Sudut berbeda yang kau hirup dan intip

            Perspektif, redefinisi

            Kau menyusun ulang puzzle tentang kota itu

            Jembatan pemahaman dan emosi baru

Pada putaran matahari, kau teringat manusia-manusia di jangkar perjalanan

Mereka yang memberi rona pada sebuah kota

Kota, bukan sekadar arsitektur beton yang itu-ini

Dia adalah jiwa bernyawa dan pergulatan kemanusiaan

Abjad Kebajikan

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kemanakah kebaikan itu akan bermuara?

Berakhir?

Menemui hilirnya?

Atau menjadi jejak gaung semesta yang terus ter-echo-kan dengan caranya tersendiri

            Api yang bekerja

            Air yang membasuh pelik bumi

            Apakah api dibalas api – air dibalas air?

Teruslah menyalakan api

Teruslah mengalirkan air

Teruslah menebar abjad kebaikan

            Kebaikan-kebaikan yang tak hirau dengan lampu sorot

            Mereka yang bergerak dalam diam

            Seperti kepundan magma di gunung berapi itu

            Kau rasakan hangatnya,

            Kau rasakan geloranya

Kebaikan-kebaikan “kecil”, mungkin itu yang kita butuhkan untuk meronakan dunia

Titik demi titik langkah nyata dalam karnaval panjang kebajikan,

Pastikan kau tidak tertinggal.

Dasamuka

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dan lihatlah bersama garis waktu sang “pahlawan” telah beralih rupa menjadi dasamuka

Waktu telah mengkorosi kilau gemilangnya

Atau dia selama ini badut oportunis lain yang baru tersingkap topengnya?