Si Sulung Vaja, Si Bungsu Noiri

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Vaja

“Namaku Vaja. Aku adalah raja di keluarga ini.”

Dengan tubuh tambun, aku mengitari meja makan. Saatnya makan yang kelima kali hari ini. Bagi kalian itu masalah? Bagiku tidak. Hei aku harus berpikir lebih banyak dibandingkan kalian-kalian yang ada di dasar piramida, kalian yang dimangsa.

Aku harus menggunakan otakku banyak-banyak tiap kali. Aku harus berargumentasi. Mulai dari mengungkapkan fakta, hingga membungkus kebohongan dengan data dan pencitraan yang mengalihkan fokus utama.

 

Noiri

“Namaku Noiri. Aku adalah…”

Tak tahu sebagai apa aku dianggap. Si kurus yang terus dihisap. Mengepul siang dan malam untuk menghidupi keluarga. Keluarga? Aku si tertindas, lahir dan batin. Aku si bungsu yang baru bergabung belakangan di keluarga ini. Konon leluhurku perlu mengobarkan semangat dan pidato pentingnya aku masuk sebagai anggota keluarga.

Lalu apa? Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Tak hanya mereka yang bermata biru, tapi mereka yang dilahirkan dengan akte wilayah yang sama disini. Mereka yang memuja ‘Vaja, Vaja, Vaja’.

 

Disparitas adalah kata yang menghubungkan si sulung dengan si bungsu. Sementara Vaja terus membusuk dalam obesitasnya, si Noiri meranggas kekurangan nutrisi. Keadilan adalah ilusi. Nasionalisme adalah kata slogan untuk menyembunyikan penindasan.

Dari mana roda ekonomi keluarga ini berasal? Dari kerukan yang terus dikipas dari Noiri.

 

“Aku capek,” kata Noiri di suatu waktu.

“Jangan begitu bungsu,” ujar Vaja membujuk dengan manis.

Ia menggenggam tangannya, membelai punggungnya.

“Kita hidup di keluarga ini bukan untuk kemarin, hari ini, atau esok. Ada jembatan emas yang kita perjuangkan bersama,” ungkap Vaja dengan aroma bawang bombai yang baru saja menjadi bagian makanannya.

“Baiklah,” jawab Noiri dengan bunyi perut mendecit.

 

Noiri

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana. Kami dirangkul, kami dipeluk, kami diguyur dengan insentif dan janji-janji.

Aku adalah si tertindas dengan warna kulit penindas yang rupa-rupa. Bahkan ketika aku harusnya melawan, aku pun bingung melawan dari mana.

 

Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.

Hadir juga di: http://www.facebook.com/groups/kalfa

{fin}

Advertisements

Menulis Membawa Saya Berkunjung ke Sejumlah Daerah

DSC_0159

Agustus 2015 ketika itu saya sedang meliput event Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Palembang, Sumatera Selatan. Sebagai pemateri dalam pembekalan peserta FLS2N tingkat SMP yakni Ahmad Fuadi penulis buku best seller ‘Negeri 5 Menara’. Salah satu perkataan dari Ahmad Fuadi yang berkesan adalah menulis membawanya jalan-jalan ke berbagai negara dan berbagai daerah.

Kalimat tersebut saat itu masuk dan mencantel saja di ingatan. Untuk kemudian saya baru menemukan relevansi kalimat itu di penggalan waktu kemudian. Ya, sebelumnya ketika masih bekerja sebagai ghost writer dan editor, ‘jalan-jalan’ ke sejumlah tempat pun saya lakoni. Saya bertemu dengan beberapa orang politikus baik itu di gedung parlemen ataupun di rumahnya. Banyak kenangan dan pengalaman yang saya dapatkan kala itu. Mulai dari cerita off the record hingga terkagumkan dengan lukisan karya Raden Saleh di rumah salah seorang politikus.

Lalu ketika saya menjadi jurnalis, kesempatan untuk berkunjung ke sejumlah daerah di Indonesia saya dapatkan. Kantor tempat saya bekerja istilah kerennya menjadi media partner dari pemberitaan di Direktorat Pembinaan SMP dan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus. Irisannya bertemu dengan entitas pendidikan baik itu di jajaran SMP dan Anak Berkebutuhan Khusus.

IMG_0685

Dengan bekal kemampuan menulis, saya pun meliput berbagai event yang buat saya worth banget dan membangkitkan optimisme. Ada event Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), FLS2N, Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN), Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN), Festival dan Lomba Literasi PKLK, dan lain sebagainya.

Berbagai kota pun saya kunjungi sebagai konsekuensi logis liputan ragam event tersebut antara lain Palembang, Medan, Pekanbaru, Bali, Jakarta. Saya pun menyelami tekstur sebuah kota, dan merasakan langsung Indonesia.

Menyenangkan, melakukan sesuatu yang saya gemari: menulis. Ditambah lagi bertemu dengan anak-anak bangsa dengan segala keunikannya. Menelusuri daerah di Indonesia yang memiliki pola tersendiri. Ya, menulis telah membawa saya ke berbagai kesempatan dan pertemuan. Bagaimana dengan Anda?

Bawa Aku ke Duniamu

20150502_204616

Bawa aku ke duniamu

Tempat mimpi-mimpi bermekaran

Tempat cahaya jadi nyala

            Langitnya biru, awannya putih

            Hujannya menenangkan jiwa

Bukan kota yang dibekuk senja

Umpatan bertukaran

Menahan beban yang tak seimbang antara jumlah penduduk dan luas wilayah

            Ceritanya membosankan

            Tentang puisi 5 hari yang direngkuh jarak

            Terkutuklah waktu yang tercecer di kemacetan, menunggu, dan bertele-tele

Bawa aku ke duniamu

Tanpa rencana

Tanpa promosi propaganda berlebih tentang zona nyaman

Pejamkan mata,

Rasakan suara,

Alam yang menyapamu,

Membelaimu sebagai warga semesta

            Duniaku dilalui kelu

            Lelah menghinggapi nadi

            Gurat-gurat waktu di wajah kota

Duniaku, sepetak wilayah yang rapuh & rikuh diterpa turbulensi alam

            Duniamu, tempat mimpi & realitas berada di satu garis lurus

Duniaku, yang berebut ruang dan bergelut kata tiap kali

            Duniamu, tempat lapang dimana wacana menjadi kata kerja

Bawa aku ke duniamu

Yang eskapisme di kepala atau nyata ada?

Mereka Mendongeng Abjad Ilusi

P1010714

Akan kuceritakan padamu

Tentang mereka yang tinggal di benteng

Gerendel,

Paranoid di kepala,

Jaring laba-laba memintal mangsa,

Energi negatif menguarkan

            Di meja makan mereka bicara tentang kebajikan harian

            Kerakusan tanpa kata memenuhi orbit pikiran mereka

            Tenggelam dalam lautan api yang membakar nurani

Sulut, ketika ada yang mengusik status quo

Perompak,

Perampok,

Tak tahu diri,

Kalian hanya para sudra yang tak layak menginjakkan kaki di kastil kembang gula

Manis, tapi keropos

Manis, tapi diabetes

Mengidap racun bersama tarikan nafasnya

            Sini, mari kemari

            Mereka mendongeng abjad ilusi

            Tenun fantasi

            Mereka diktekan kebohongan bertabur gula

Bawang merah,

Joker,

Lex Luthor,

Kesemuanya adalah protagonis utama, kata mereka sembari menghidangkan makan malam untuk semesta

Mulai Saja Dulu, Menulis (Lagi) di Blog

DSC_7411

Sudah terlalu lama saya tidak menuliskan esai di blog ini. Ya untuk rutinitas, saya menjangkaunya melalui puisi-puisi. Namun sudah saatnya bagi saya untuk menghidupkan kembali blog ini dengan ragam kemampuan literasi yang saya pikir dimiliki. Banyak cara pandang, artikulasi yang dapat diungkap untuk menyampaikan sebuah pesan. Dan saya akan memilih kembali cara esai, dan ragam cara untuk menjangkarkan hal itu.

Alasan? Ya, tentu beragam alasan dapat didedahkan untuk kegagalan dan kealpaan. Diantara alasan itu adalah equilibrium yang berbeda antara menulis buku dan menulis di media online. Keinginan saya untuk menulis kembali di blog pun tak terlepas dari rekam jejak tulisan yang ternyata telah begitu banyak di masa lalu. Betapa saya berusaha untuk menghidupkan kata. Lalu mengapa tidak meneruskannya?

Sebagai ghost writer di bawah naungan Rakyat Merdeka Books (Maret 2011-Januari 2015), itu adalah era dimana blog ini begitu hidup. Menulis buku ketika itu memberikan saya waktu pengaturan yang lebih leluasa. Dikarenakan saya bisa melakukan riset bacaan, ataupun menuliskannya sesuai skema waktu yang ada. Sedangkan ketika bekerja di media online (Januari 2015-sekarang), waktu seakan begitu cepat berdetak. Sekian menit dalam waktu kerja, diburu oleh tulisan yang siap saji. “Kemewahan” dengan waktu seakan meluruh. Selesai jam kerja pun saya merasa sudah terlampau lelah untuk menulis esai ataupun tulisan genre lainnya. Begitulah kira-kira “logika”, “pembenaran” yang bersemayam di pikiran saya mengenai kealpaan, kemandekan kanal esai, cerpen, novel dalam jejak literasi saya terhitung mulai bekerja di media online.

Namun manusia memiliki pikiran yang dapat menjebaknya sendiri. Dan mungkin itu juga dialami oleh saya dengan “logika” dan “pembenaran” itu. Seiring waktu, saya pun merindu untuk menulis esai, cerpen, novel, dan segala ranah literasi yang perlu dieksplorasi. Saya pun merasa belum optimal menancapkan pengukuhan diri sebagai sosok yang berkecimpung dengan literasi.

Maka disinilah saya, pada suatu dini hari. Mencoba untuk memupus segala mitos ketidakmampuan. Mulai saja dulu. Blog ini dapat diaktifkan kembali dengan rupa-rupa literasi. Bahan? Bukankah saya memiliki isi di kepala, hati, emosi, lapisan pengalaman. Belum lagi tumpukan buku, majalah, koran, penelusuran internet.

Mulai saja dulu. Dan saya pun percaya semangat berbagi memiliki muaranya tersendiri. Mari membuka bidak kata.

Krayon di Tangan

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kapan terakhir kalinya kau berkunjung ke gubuk imajinasi?

Dengan krayon di tangan

Dengan pena tergenggam

            Mewarnai kota dengan rupa-rupa warna

            Tak semuram hitam-putih dalam lencana hati

            Asyik bertekun dengan gambar

            Mengarsir imajinasi

Dengan mimpi yang kau ikatkan di aksara

Gugus kata-kata yang punya warna

            Terkubur di keterusikan waktu

            Kala jemu dengan orbit waktu

            Krayon, pena, serangkai eskapisme di petang yang membosankan

            Atau tentang mimpi-mimpi yang harus kau hidupkan lagi?

Sia-sia

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pernahkah kau merasa sia-sia?

Lembaran bab demi bab dalam hidupmu,

Keahlian, keterampilan yang dirimu miliki

            Ketika pensiun

            Ketika dipecat

            Ketika lamaran pekerjaan tak kunjung berbalas

            Sia-sia menjadi mantra yang kau gumamkan dalam sadar dan diam

Ada masanya ketika era, mengerkah kemampuan yang kau punya

Kau tak berkesesuaian dengan zaman

            Kerja, kerja, kerja

            Ya, orang-orang di sisi itu ingin betul

            Tapi kerja apa?

            Adakah kemampuan yang ada dibutuhkan di ekonomi yang melambat?

            Di era modernisme, kau menjadi homo sapiens tanpa argo waktu kerja

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia, sia-sia

Sia-sia, sia-sia

Sia-sia

            Di hadapan cermin itu kau membenci dirimu

            “Sia-sia,” katamu beresonansi