Berlayar di Ujung Petang

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Kelam, dan kita berdiam bersama kata

Mendengarkan dongeng-dongeng usang di pangkuan

Nyala abu yang kini kesepian

            Ceritakan aku tentang mimpi-mimpi dalam genggaman tak bernyawa

            Sedari dulu aku tahu,

            tentang dusta yang kau anyamkan di malam menjelang tidur

Berlayarlah di ujung petang

Temui aku yang tenggelam

Normal

SAMSUNG CAMERA PICTURESNormal,

Normalkah dirimu?

Yang mengeluh di awal pagi dan kala malam memagutmu

Kau si gelas terisi setengah

Yang selalu merasa kurang, defisit, kurang untuk menggapai kesempurnaan yang tak pernah selesai

Kebohongan Akan Mengerkahmu dalam Diam

Dusta apa yang kau anyamkan lagi

Berkelit dan berbelit

            Kau putar perspektif seolah dirimu protagonis

            Lalu kami adalah serigala-serigala lapar yang merengek-rengek

Duniamu adalah panggung palsu

Yang kau poles dengan melodi kebohongan

            Kata-katamu adalah komedi omong kosong

            Simpatimu adalah simpul emosi kepalsuan yang terpublikasi

Kau jajakan kisah heroikmu

Seolah dirimu sespartan para pahlawan di mata uang itu

            Bersama garis waktu dustamu meletup lagi dan lagi

            Lalu kau minta kami untuk percaya?

            Lalu kau minta kami untuk menghormatimu?

Seandainya lidahmu bertulang

Tentu dia sudah patah berkali-kali

            26 huruf dalam abjad

            Dan kau hanya mencari celah untuk berkata lancung

Kebohongan akan mengerkahmu dalam diam

Tubuhnya yang Kesepian

Dahulu kala aku adalah sendiri yang melebur dalam kebersamaan. Keluarga. Kami berbagi tawa dimana-mana. Ada canda yang menguar bersama kata. Kami mendongeng tentang kisah keseharian di meja makan. Kami adalah keluarga yang berbahagia. Aku sang sendiri dalam kebersaman.

Namun, hidup adalah sebuah roller coaster. Ia pasti menghadirkan badai yang meluluhlantahkan pertahanan diri dan membuatmu bertanya dan bertanya. Seperti halnya hidup, rona kematian menjatuhkan alamat pada sang kepala keluarga. Equilibrium pun berubah. Aku merasa asing ketika menatap wajahku. Aku merasa asing ketika melihat mereka yang bertalian darah. Badai mencicipi bahtera keluarga.

Seperti seorang petualang, aku pun memutuskan untuk beranjak dari tempat yang kini telah menggerahkan pikiran. Aku tiba di suatu kota yang senantiasa bercumbu dengan hujan. Selamat membuka bab baru dalam hidupku.

Kesendirian dapat menggerogoti diriku. Hingga datanglah kehangatan itu. Aku bertemu dengan seseorang. Aku berhenti bermonolog, aku menemukan dialog.

Dia mengajakku ke rumahnya. Di meja makan bersama keluarganya, aku menemukan kehangatan kekeluargaan. Kami berbagi tawa. Ada canda yang menguar bersama kata. Mereka mendongeng tentang kisah keseharian di meja makan. Hujan di luar, hangat di dalam.

Aku pun teringat dengan petikan puisi Menikmati Akhir Pekan karya Aan Mansyur. Biar kukutipkan untukmu:

Aku senang berada di antara orang-orang yang patah hati. Mereka tidak banyak bicara, jujur, dan berbahaya. Mereka tahu apa yang mereka cari. Mereka tahu dari diri mereka ada yang telah dicuri.

 

Ya, aku tahu dari diriku, ada sesuatu yang telah dicuri. Dan kuharap aku tahu apa yang kucari.

Ada yang Tanggal Bersama Waktu

Ada yang tanggal bersama waktu

Harapan dan mimpi

Pada akhirnya kita sadar bahwa kita terlampau naïf

Menggantungkan harapan setinggi bintang-bintang di angkasa

Kita pun tahu bintang-bintang bisa mati dan memudar

Kita pun tahu jangkauan jemari kita terbatas

            Ada yang tanggal bersama waktu

            Dan kita menyurutkan ekspektasi

            Pada akhirnya kita menjadi sosok-sosok yang membosankan

            Sekadar menjalani hari demi hari

            Lalu bersorak ketika akhir pekan menjelang

            Kita terjebak dalam rutinitas pikiran

Tataplah cermin dan tanyakan pada diri: ada yang tanggal bersama waktu

Tidakkah kau membenci dirimu sendiri?

Ada Tembok di Sekelilingku

Aku membangun tembok di sekelilingku

Kemarilah walau sejenak

Singgah di labirin pikiranku

            Tak sembarang orang yang kuberi enkripsi ini

            Mendengarkan, melihat hikayat masa laluku dan teropong masa depan

Apakah kau lihat badai pasir itu?

Badai yang mengerkahku dari dalam

Meruntuhkan nilai-nilai yang kupercaya

Setelah badai itu, pekat menyodorkan jubahnya

Apalagi yang tersisa dari diriku?

Keputusasaan yang menjenguk bersama cahaya matahari pagi pertama

            Aku membangun tembok di sekelilingku

            Karena manusia adalah homo homini lupus

            Mereka memangsamu saat kau lengah

            Ada yang dengan senyum madu, lalu menyusupkan racun di udara

            Ada yang dengan beringas seperti buldoser mengalirkan kata-kata

Aku menuliskan harapanku di kertas pasir

Terlihat abadi, namun meluruh nyatanya bersama waktu

            Celakanya menjadi pengingat yang ulung adalah mengingat

            Lalu kau dapati kata-kata yang ditaburi gula membusuk di hari kemudian

            Inflasi kata-kata

Karena itu semua, aku membangun tembok di sekelilingku

Untuk kamu sang penggenggam enkripsi

Bantu aku untuk percaya bahwa dunia tidak sepucat ini

Bahwa bumi masih memiliki embun pagi pertamanya yang layak dinanti