Di Depan Restoran Sushi Itu

Aku seperti menyusuri labirin ingatan di tempat ini. Kenangan, dan segala emosi yang membelitnya. Di suatu waktu yang berbeda, kita bisa mengalami slide emosi yang berbeda.

Seperti aku yang tertegun di depan restoran sushi itu. Segala kenangan kegembiraan bersamamu terputar kembali. Kau yang memilihkan menu; karena tentu saja dirimu yang lebih kompeten. Kau bilang tubuhku terlalu kurus dan perlu diisi dengan lebih banyak daging.

Kau tambahkan lagi dan lagi. Dan aku masih ingat senyummu itu.

Bagaimana kita bisa berada di tempat yang sama dengan rona yang berbeda. Dan kini aku terpaku di labirin kenangan tentangmu.

#

Berapa bulan kemudian..

Aku mencoba membuat kenangan baru di tempat ini. Menciptakan kenangan dan segala emosi yang membelitnya. Dia bagaikan fotokopi dari dirimu. Tak sebenderang dirimu, tapi cukuplah.

Aku yang memilihkan menu kali ini. Menu yang persis sama dengan yang kusantap berapa bulan yang lalu. Sosok di depanku membagi sushi jatahnya kepadaku.

“Kau terlalu kurus,” ujarnya singkat.

“Boleh?” tanyaku. Untuk kemudian mengambil sushinya lagi dan lagi.

Dia tersenyum dengan tingkah polahku.

Bagaimana kita bisa berada di tempat yang sama dengan rona yang sebangun. Dan kini kuciptakan kenangan baru beraroma lawas.

#

Seberapa banyak orang yang terbelenggu dengan masa lalu? Hingga kaburlah masa kini dan masa mendatang.

“Dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa,” ujarku berbilang bulan kemudian di depan restoran sushi itu.

Cinta, Kau Sediakan Tali

Cinta, kau sediakan tali

Bukan untuk mengekangku

Atau menjeratku

            Cinta, kau sediakan tali

            Bukan untuk ditautkan di loteng

            Seperti Romeo & Juliet itu

            Yang tak berdamai dengan kematian seorang

Cinta, kau sediakan tali

Untuk menerbangkan layang-layang

Tak mudah memang

Tapi kita berbagi tawa dan luka di tangan

Bukankah itu degup cinta?

Yang berdetak dan meronai harimu

Menyeduh Kata

Aku ingin membuat puisi tentang pagi,

Yang menemanimu membuka mata,

Saat ilermu masih membeceki mulutmu

            Aku ingin merangkaikan kata di kala siang,

            Menanyakan menu makan siangmu,

            Melonjorkan benakmu untuk beristirahat,

            Membuatmu terpingkal

Aku ingin menunaikan tugas untuk menyapamu,

Menyeduh senja dalam kata

            Hei, tak perlu berhitung binatang 1,2,3, …,

            Karena aku akan menemanimu hingga kau terlelap

            Demikian

12 Oktober 2016

Layar televisi ketika saya membuka bidak kata penulisan adalah film ‘Dragonball: Evolution’. Tentu film tersebut berantakan dan kacau adanya. Namun, film itu memantik memori saya pada kata ‘Dragonball’. Di Januari 2016, istri saya (Dede Indrawati) pernah bertanya, “Kalau kamu punya Dragonball mau digunakan untuk apa?” Tanpa pikir panjang saya pun menjawab, “Saya mau minta kamu sembuh.”

Asa itu memang tidak sejalan dengan kenyataan pada akhirnya. Januari 2016 kondisi istri saya, Dede Indrawati memang semakin terasakan sakitnya. Dan ketetapan Allah SWT mentakdirkan 13 Maret 2016 sebagai perpisahan di dunia ini. Istri saya meninggal muda. Umurnya baru 25 tahun ketika itu.

Saya teringat dengan perbincangan di masa lalu. Saya dan Dede sama-sama tahu, kanker usus stadium IIIB merupakan sesuatu yang serius. Kami benar-benar memaknai waktu kebersamaan kami. Dan saya pun terpagut pada kalimat Achilles berikut:

The Gods envy us. They envy us because we’re mortal, because any moment might be our last. Everything is more beautiful because we’re doomed. You will never be lovelier than you are now. We will never be here again. 

Di perbincangan masa lalu tersebut, istri saya pernah membayangkan jika dirinya meninggal lebih dulu, akankah saya menuliskan banyak hal tentangnya?

Meski secara legal formal pekerjaan saya adalah wartawan, namun untuk menulis hal tersebut membutuhkan jarak dan jeda waktu. Ada banyak perasaan yang bertumpuk setelah istri saya meninggal. Saya butuh waktu untuk menertibkan pikiran, menata emosi, serta mengatur ritme hidup lagi.

Seperti layaknya tulisan sejarah, saya pun harus menggali segala arsip. Baik itu yang sifatnya digital, tulisan tangan, ataupun yang tersimpan di ingatan dan menghangat di perasaan. Maka di 12 Oktober 2016 ini, saya pun bertekad untuk memulai kisah itu. Saya percaya dari Dede Indrawati banyak hal yang bisa diteladani dan dipelajari.

12 Oktober 1990, istri saya, Dede Indrawati terlahir di dunia. Saya berterima kasih di antara milyaran manusia, dapat menemukannya sebagai pasangan hidup.

12 Oktober 2016, saya akan mencoba memulai kisah tentang Dede Indrawati dari sudut pandang saya.

Pena Tak Pernah Berhenti di Tanda Titik.

Aku seperti punya mata untuk melihat talenta

Mereka yang berkobar bersama kata

Mereka yang jenak dalam keterpasungan orbit

            Lalu, dari hening mereka mencipta dunia

            Dunia yang memikatmu untuk menari bersama kata,

            Tertawa dipeluk aksara,

            Baper dihanyutkan nelangsa,

            Bengis diprovokasi amarah kata,

            Terdamaikan di titik keberserahan jiwa

Pena tak pernah berhenti di tanda titik.

Ia menjeratmu dalam pesona

(Puisi yang saya buat di tengah acara Lomba Cipta Seni Pelajar Nasional [LCSPN] bidang Cipta Puisi)

Terkunci

Aku seperti becermin pada roda masa lalu

Padang rumput,

Hujan gerimis,

Lukisan mooi indie

            Lalu genggaman kenyataan membuyarkan lamunanku

            Ilusi masa lalu menjeratmu

            Dan kau terkunci di samudera pertanyaan tanpa bekal jawaban

Sudah Dini Hari

Sepi

Dan jam dinding yang menepi

Seisi kepala yang masih bertanya 5W + 1H

Kenapa, kenapa, kenapa

            Kuseduh kopi untuk menenangkan gulana pikiran

            Kubaca buku untuk menemukan aksara yang menerangkan

Sudah dini hari

Mataku masih nyala

Lelapkan ingatan ini

            Aku mendongeng kepadaku

            Kuhitung domba satu demi satu

            Kantuk tak kunjung tiba

            Selamat, insomnia menyampirkan jubah di pundakku