Keserakahan,
Dahaga yang tak pernah usai
Festival Para Pencerita
Ini adalah Festival Para Pencerita. Prosesnya begini: klien akan bercerita tentang hal yang ingin diceritakannya, Juru Cerita akan mendengarkan, sesekali bertanya. Lalu, dari bahan tersebut, Juru Cerita akan membuatkan klien sebuah cerita. Ada macam-macam Juru Cerita. Ada yang mengetik dengan mesin tik, menggunakan laptop, bercerita secara lisan, dan sebagainya.
Aku pernah mencoba berbagai Juru Cerita tersebut. Rasanya cukup menyenangkan, menenangkan setelah mendapat cerita dari Juru Cerita.
“Seperti sesi konsultasi ke psikolog dengan dimensi berbeda,” promosiku ke kolega-kolegaku.
Juru Cerita di bagian pojok, tak jauh dari toilet, baru kali ini ku lihat. Seorang perempuan dengan kantung mata bak panda. Dibanding Juru Cerita lainnya, lapaknya yang paling sepi dan tidak mengharu biru dengan senyum puas klien.
Ada yang tertegun, menutup mukanya, menangis pelan-pelan – begitu amatanku dari klien yang berkunjung ke area Juru Cerita di pojok itu.
Terdorong ingin tahu, intuisi, aku pun merapat ke Juru Cerita itu. Dia menatapku dari atas hingga bawah, lalu membuka bidak kata.
“Jika kau inginkan cerita yang asal membuatmu senang, bukan di sini. Jika kau inginkan cerita yang memuaskan halusinasimu, bukan di sini. Aku hanya ingin kau melepaskan topengmu. Topeng yang telah begitu melekat, hingga kau lupa wajah aslimu dan senang-senang saja dengan topeng itu,” jelas Juru Cerita perempuan itu dengan suara bagai kodok.
Aku menyetujui syarat itu. Mulailah aku bercerita. Beberapa kali diinterupsi, ia menaikkan alis, ia juga mendeteksi sombongku, halusinasiku, aku yang merasa si paling penting di pusat cerita.
Si Juru Cerita merangkum ceritaku, meraciknya jadi tutur cerita tentang orang biasa-biasa saja yang sok penting, sok asyik, sok unggul rupa-rupa. Dalam cerita, orang itu menyadari menjadi biasa, kebanyakan, membosankan, tak mengapa.
Selepas cerita dari Juru Cerita, aku tertegun, menutup muka, menangis pelan-pelan.
Aku hanya manusia biasa-biasa saja. Tapi tak mengapa kan?
Suara yang Menjerat
Suara-suara memanggil darimana-mana
Dari ponselmu
Sejak membuka pintu
Suara-suara dengan ragam oktaf
Pelbagai diksi
Suara mana yang memikatmu?
Suara mana yang menjeratmu?
Kertas Lecek
Kertas yang lecek,
Dibawa dalam perjalanan,
Terkena hujan,
Tertimpa panas,
Tertempa waktu
Kata-kata yang menggenangi kertas
Luapan,
Letupan
Sepak Bola adalah Sahabat dari Masa Laluku
Mereka mengenangku bak makhluk mitologi. Terang saja, mereka menyaksikanku sebagai asupan tentang sepak bola, perjuangan, serta mimpi-mimpi.
Untungnya, mereka tidak melihatku sekarang. Masa-masa ketika tubuhku tak mampu lagi spartan bermain bola 90 menit, 45 menit, 30 menit, bahkan 15 menit.
“Sepak bola adalah sahabat dari masa laluku,” ucapku pada diriku sendiri.
Bukankah begitu hukum besi dari sahabat? Mereka ada pada fase hidupmu, lalu berpisah jalan, menempuh rutenya masing-masing. Kuucapkan banyak-banyak terima kasih pada sahabar dari masa laluku: sepak bola.
Piala Dunia 2026, namaku kembali beredar pada perbincangan publik. Aku dan teman-temanku dikenang dalam ingatan lawas, menghadapi negara yang paling banyak mengoleksi gelar juara tingkat dunia. Apakah kami naif? Apakah mimpi kami terlalu tinggi?
Manusia perlu hidup dalam imajinasinya. Tak peduli seberapa naif dan tak tergapai itu. Jika tidak, maka sekadar mengisi hari, jam, menit, detik.
Aku senang pernah punya mimpi seliar itu. Bukankah itu digdayanya masa muda?
Lalu, ketika asam garam telah merasuki diri, kau tahu kekalahan demi kekalahan datang. Kelelahan demi kelelahan tiba.
Kalah berkali-kali.
Jatuh berkali-kali.
Dan mimpi, seperti abu dari bara yang pernah membara dan berkobar.
Aku yang berjalan tertatih, tanpa tahu kapan peluit akhir berbunyi.
<><><><><><><><><>
Kalfa (Kaldera Fantasi) merupakan komunitas dengan titik fokus pada fiksi fantasi. Ada beberapa distrik yang kami coba jelajahi yakni: Buku-Film-Games-Japan/Anime-Komik.
Hadir juga di: facebook (groups/kalfa)
{fin}
Magis Piala Dunia
Piala Dunia datang dengan ceritanya. Momen 4 tahunan ini dapat menjadi tembang memori. Bagi saya, ada ingatan menonton bersama bapak. Bapak saya untuk Liga Italia, Liga Inggris, lewat-lewat saja, tapi tidak dengan Piala Dunia. Piala Dunia menjadi tontonan yang dipantenginya.
Hal senada yang coba saya lakukan dengan anak kami. Piala Dunia 2022, 2026. Sejauh ini anak kami hanya mampu fokus, kuat nonton satu babak. Lewat dari 45 menit, sudah blur serta tidak menarik lagi baginya. Melihat para penonton di stadion dengan aksesorinya, juga menjadi hiburan unik bagi kami.
Piala Dunia dapat menjadi jembatan percakapan, Bahasa universal. Membahas hal-hal seru yang terjadi pada gelarannya. Sayangnya di Piala Dunia tahun ini, wajah buruk politik menyeruak begitu pekat. Ada Iran yang diutak-atik di atas lapangan dan di luar lapangan. Ada kartu merah yang “digeser” masa hukumannya karena intervensi POTUS. Ada “anak emas FIFA” yang mencederai prinsip keadilan, fair play.
Piala Dunia juga tentang waktu-waktu yang disisipkan, disiapkan untuk menontonnya, membaca ulasannya, meninjau highlight serta analisa pundit. Waktu-waktu pertandingan Piala Dunia lazimnya berada pada jam-jam tidur manusia Indonesia. Namun, kesukaan pada olahraga si kulit bundar membuat yowislah dibela-belain menonton.
Menonton bola juga merupakan internet rakyat, eh maksudnya hiburan rakyat. Eskapisme? Oase dari sesak tekanan hidup. Dari bola, kita dapat belajar tentang melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya, seperti ditunjukkan Cape Verde, Mesir.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sepak bola adalah permainan beregu di lapangan, menggunakan bola sepak dari dua kelompok yang berlawanan yang masing-masing terdiri atas sebelas pemain, berlangsung selama 2 x 45 menit, kemenangan ditentukan oleh selisih gol yang masuk ke gawang lawan. Namun, nyatanya lebih rumit dari itu. Ada banyak tautan, gerbong yang berkait dengan kata: sepak bola.
Hei…hei…, Siapa Pelakunya?
Kata-kata dihilangkan
Dipoles
Jejak disamarkan
Siapa pelakunya?
Suara-suara di Luar Pagar
Kau, suara yang tidak pernah masuk ke halaman
Kau, suara yang berada di luar pagar
Setelah Kuasa Berlalu
Jika kau berkuasa, orang-orang akan mendengar ocehanmu, seabsurd apapun itu
Tertawa untuk leluconmu yang tidak lucu-lucu amat
Mengangguk-angguk untuk teori dan pendapatmu
Orang akan mendengarkan dan mencoba terhubung denganmu
Berharap cipratan kuasa itu turut membuat mereka wangi
Lihatlah kau kini sekarang
Ketika kuasamu telah lucut, susut, menyusut
Ke mana perginya orang-orang yang sowan, yang meminta pendapat dan menunggu arahan serta buah pikirmu
Waktumu kini lowong, kosong, kopong
Dan kau berteriak keras-keras, hanya gemamu yang kembali meniru
Tak ada yang menyeru, menyanjung, menyorongkanmu
Masamu sudah lewat
Momentummu telah meleset dari genggaman
Kuasa memang dapat secandu itu
Semagnet itu
Seperti taburan gula yang berceceran
Seperti cahaya yang dikerubungi laron-laron
Kau menatap cermin dan tersenyum lemah
Pikirmu, paling tidak kepalamu masih menyatu dengan badan
Kau tidak digantung di alun-alun
Belenggu tidak ada di tangan dan kakimu
Perjalanan Mengejar Bayangan Sendiri
Keluar dari benteng nyamanmu
Lepaskan jangkarmu
Berjalan saja
Jauh..jauh..jauh..
Mengejar bayangan sendiri
Bayangan yang perlahan mengalami perubahan panjang
Bukan tentang tempat tujuan, berlabuh
Melainkan perjalanan
Melihat rupa-rupa manusia
Menilik arsir bangunan di kota
Merasakan bahwa kau adalah bagian dari 10 juta manusia, dari 8 miliar manusia
Bawa buku catatanmu
Siapkan tustelmu
Penanda waktumu adalah bayangan dari sudut matahari
Kau menyerap energi, emosi manusia
Kau merasakan detak sebuah kota
Mungkin, setelah perjalanan demi perjalanan
Kau bisa pulih
Kau dapat mengerti tanya-tanya yang membiak di kepala
Tanya, risau yang membelah dan membedah perhatian
Mungkin saja menatap panjang bayangan, kau menemukan jawab. Atau sesungguhnya kau tak perlu jawaban, melainkan mekarnya tanya-tanya baru
*Terinspirasi diksi: “Keluar dari benteng/Dari tempatmu yang sekarang” dalam lagu Teh Hijau yang dibawakan Tulus