Aksara

Berita gembira itu datang ketika saya sedang meliput Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) SMP Tingkat Nasional di Yogyakarta. O2SN kala itu diselenggarakan di Yogyakarta pada 16 s.d. 22 September 2018. Istri saya, Arfianingrum Pujiastuti mewartakan bahwa dia hamil. Ia pun memperlihatkan hasil dari test pack.

Seperti “bidan” dari segala karya seni, ada gedoran tersendiri untuk menghasilkannya. Maka ketika saya di atas pesawat udara untuk kembali ke Jakarta pada 22 September 2018, puisi berjudul ‘Aksara’ saya tuliskan di buku catatan dalam goresan pena.

Ya, ketika itu kami telah menemukan diksi ‘Aksara’ untuk nama anak kami. Berbilang beberapa bulan kemudian, tepatnya 11 Mei 2019 pukul 8:13 WIB, Aksara Mardika Danish lahir. Dan inilah puisinya

 

Aksara

Dari atas ketinggian aku memeluk harapan

Aksara, dan mimpi yang berpagutan

Terang, teranglah

Jadilah cahaya mata

            Kau terbentuk dari masa lalu, masa kini, dan masa depan

            Ini kami punya nyala asa

            Ada doa dalam untaian kata

            Dan dunia penuh warna siap memenuhi telaga

Kami bawakan krayon warna-warni untuk selaksa peristiwa

Tenang, tenanglah

Ada nyanyian menjelang tidur

Dan kata penuh harapan di tiupan pagi pertama

            Aksara, kau tahu tentang perjuangan

            Hidup yang seolah tanpa titik

            Dan perjuangan itu nyata

Kau lihat di mata kami

Mengalir di dalam DNA-mu

Labirin kata yang bermuara pada makna

Aksara Jemur

Advertisements

Para Perakit Petaka

Seperti embun pagi yang membesuk dan membekukku

Tiaraplah dan tak perlu berkata-kata lagi

Tiap kita adalah lelehan semesta

Fenomena gunung es dalam skala mikro

Kita para perakit petaka

            Mula-mula adalah laku degil kita sebagai si pucuk piramida rantai makanan

            Omnivora tambun yang mengerkah bumi kala senja, pagi, siang, malam

            Yang merasa paling tahu tentang masa lalu, kini, dan masa depan harus seperti apa

Dengan topeng sok peduli coba padamkan bara yang menapaki dahan dan ranting

Dahan dan ranting terbakar semua

Asap dan pikiranmu terdistorsi

Kau tatap semesta dengan kacamata nestapa

            Revolusi industri, globalisasi tak lebih dari perayaan kapitalisme melibas bumi

            Hingga kempot jiwa planet

            Dan ketika es mencair

            Udara memekat

            Pandangan melekat di pencakar langit

            Kaki kalian menginjak genangan banjir

            Sumpah serapah untuk bumi yang menua dan mengusam

Para pembunuh berwajah tipis

Dengan 3.000 topeng di sakunya

Catatan Harian dan Bergembiralah Bersama Kata-kata

Penyair Taufiq Ismail dengan satire mengungkap ‘Bangsa Indonesia rabun membaca, pincang menulis’. Terkait ‘pincang menulis’, maka hal tersebut bisa terjadi karena sistem yang kurang kondusif bagi penulisan. Mulai dari di sekolah, lingkungan persahabatan, atau pun para warganet. “Penghakiman” terhadap tulisan bisa jadi membuat jeri dan keki. Rasanya begitu berat untuk menggulirkan kata-kata karena telah terbayang ada yang salah nantinya. Entah itu kesalahan penulisan, konsep, dan sebagainya. Belum lagi ketakutan karya tulis dinilai jelek.

Korelasi antara membaca dan menulis bisa jadi terputus. Padahal antara membaca dan menulis sesungguhnya bisa jadi saling terkait dan berkesinambungan. Mereka yang suka menulis, memerlukan membaca dan membaca. Mereka yang banyak membaca, pada satu titik akan muncul gelora untuk menulis. Untuk membagi apa-apa saja yang sudah dibacanya. Namun hal tersebut bisa jadi terputus, dikarenakan segala latar ketakutan terkait menulis seperti yang disebutkan di atas.

Menulis sesungguhnya bisa ‘ringan’ dikerjakan, contohnya ketika menulis catatan harian. Untuk generasi 90-an tiba-tiba terlontar ingatan tentang ‘Catatan Si Boy’. Menulis catatan harian sesungguhnya merupakan latihan menulis yang baik. Memetakan kata-kata dari pengalaman yang ada. Dan sertakan juga intensitasnya yang sering. Hal tersebut ditambah lagi dengan beban pikiran yang berkurang karena notabenenya catatan harian merupakan konsumsi pribadi.

Maka menulis catatan harian bisa menjadi gerbang pembuka untuk menulis hal-hal yang lain. Siapa tahu nasib catatan harian Anda bisa bermuara seperti ‘Catatan Si Boy’ atau ‘Catatan Seorang Demonstran’. Selalu ada langkah pertama untuk segala sesuatu.

Membawa Kata Kerja

Kesibukan memelukmu sejak pagi

Kau tahu ketika telat bangunmu maka berdampak sistemik

Jauhnya rumah dengan tempat kerjamu

Dan kau yang harus bersiap sejak gelap masih menjerat

Sarapan pun kau berakrobat dengan waktu

            Pertanyaannya: apa yang kau cari?

Telahkah kau berangkat dengan kepala berisi kata kerja tiap pagi?

Atau sekadar memenuhi kepatutan zaman

Di kereta itu berapa banyak yang membawa kata kerja ketika bergegas pagi?

Atau sekadar meniupkan keluh dan menanti weekend tiba

            Kau melihat jarum jammu

            Kau menghitung nine to five

            Seberapa banyak jiwamu hidup di waktu itu?

Gurat lelahmu di pantulan kaca kereta

Pernahkah kau pertanyakan: apa yang kau cari?

Dwimuka

SAMSUNG CAMERA PICTURES
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dia adalah dwimuka. Bak dewa Syiwa yang menghancurkan, bak dewa Wisnu yang memelihara. Destruksi adalah kata yang kerap kali terjadi. Ia melakukannya dalam kata-kata dan secara harfiah. Simaklah repihan-repihan barang yang lebur hancur kala amarahnya memuncak. Dengan serta merta ia lemparkan segala barang. Piring, gelas, televisi, pernah menjadi saksi bisu amuknya. Kala dia tersulut bagaikan tsunami, lontaran larva, segalanya menjadi terbenam.

Dia adalah pecinta. Kata-katanya manis memanja. Ia pun tak segan mengirimkan bunga, makanan, atau sekadar kejutan-kejutan ringan. Kala kami berbincang ngalor ngidul, dengan cerkas dia merangkumnya menjadi sebuah hadiah. Suatu waktu aku berbincang dengannya. Kuungkapkan pengalaman kulinerku di Bandung. Seminggu kemudian, dia mengetuk pintu dan menjejerkan cuanki, batagor, mango sticky rice. Simak juga deretan kata-kata amor yang dilontarkannya secara verbal atau pun dituliskannya.

Mana yang benar dari dirinya? Sang penghancur atau pemelihara? Ataukah itu yang akan kau temui selalu dan kerap kali: paradoks. Kau tidak menemui si putih total. Kau tidak menemui si hitam total. Kau akan melihat ambigu-ambigu itu.

“Maka di mana kau letakkanku? Pahlawan atau antagonis?” tanyanya suatu kali ketika sedang di pendulum normal.

Aku menggigit bibir. Entahlah. Tentunya jika mengikuti rasio dan emosi, aku ingin dia terus menjadi si baik. Tapi itukah zona toleransi dari diri? Untuk menerima paket. Ya, saya menerima paket yang tidak sekadar benderang, tapi juga keruh.

 

Hujan menggigiti kota. Orang-orang berjalan tergesa. Mereka yang mengendarai motor berlindung dimana-mana; di bawah jembatan, di halte, di bawah pohon.

Dia menatapku dengan mata dewa Ares. Kota ini harus dibangun dari abu. Ia bersiap menyiram kehancuran.

Tatap mataku berkata jangan. Aku masih menyukai kota ini. Segala sudutnya. Kafe yang menyajikan croissant itu. Ataupun kopi yang membuatku terjaga.

“Bukankah itu tugas kita? Menghancurkan, lalu menjadi penyelamat. Atau di titik lainnya berperan sebagai konsultan, berusaha melakukan paket penyelamatan, tapi sebenarnya racun dalam dosis perlahan,” tuturmu untuk kemudian tertawa pelan.

“Kita adalah dwimuka. Sejak dulu hingga sekarang. Terserah zaman melabeli kita apa,” kataku merangkul partnerku.

Dipadamkan dari Dalam

Kau dipadamkan dari dalam

Mengayuh langkah tapi matamu kosong

Kau berkata, tapi sekadar racauan huruf

            Nyala api

            Nyala mimpi

            Gelora hidup itu susut ditiupkan angin zaman

Matamu tak lagi berkata-kata

Gerakmu tak lagi gesit

            Rancangan tonggak rencana tersiakan

            Kala umurmu bertambah kau tahu mimpimu delusi

            Kau padamkan api itu

            Kau padamkan mimpi itu

Kau padam juga tenggelam

Kau adalah antitesis wine

Keropos dilahap waktu baramu

Runtuh luruh dayamu merakit mimpi

Sirkus Api

Aku menyusuri kelabu dengan topi warna-warni

Masa lalu yang ingin dipeti eskan

Mereka datang tiap Kamis dengan payung hitam

Di sepotong waktu mereka tampak “diam” melawan

            Bukankah ini hanya sirkus api

            Yang dinyalakan tiap kali ada momentum pemilihan

            Kata-kata disusun,

            Kalimat dirapikan,

            Sebagian masih percaya dengan trik asap pengalih perhatian,

            Sebagian sudah bebal dengan konsonan kerontang substansi

Aku menyusuri kelabu dengan topi warna-warni

Terlalu banyak tentakel kuasa yang masih menjerat

Siapa yang bersih?

Siapa sang pembebas?

Atau tak lebih dari bercak-bercak noda masa lalu yang menggenang

            Aku menyusun kelabu dalam alfabet

            Tiap kita adalah jelaga masa lalu yang berkata lantang: Potong satu generasi!